
Melangkah dengan perasaan tidak karuan. Hatinya sangat sedih mendengar kalau calon kekasihnya tersebut harus lebih menderita lagi. Biasanya untuk sekarang setelah pengobatan ini, Aqila tidak pernah drop lagi kecuali terlalu keras memikirkan sesuatu.
Dokter Yosef takut kalau kesehatan Aqila sering menurun, hal yang paling fatal terjadi yaitu kehilangan nyawanya. Tidak bisa di bayangkan oleh Dokter Yosef jika sampai Aqila tidak selamat.
Dirinya merasa gagal menjadi seorang dokter, menjadi seorang psikolog, terlebih menjadi seseorang yang berusaha mendapatkan hati kekasihnya. Dokter muda itu mengusap kasar pucuk kepalanya, menandakan hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Sedangkan Mami Dina setia menggandeng putranya menuju ruangan ICU. Ia paham sekali mengenai pribadi Dokter Yosef yang sangat halus. Ia hanya ingin memberi sedikit kekuatan kepada manusia yang telah lahir dari rahimnya tersebut.
"Mi, kenapa ya Osef sangat takut kehilangan Aqila? Walaupun belum tau juga apa dia menerima Osef atau tidak. Osef lebih ikhlas Mi kalau Aqila bersama orang lain di banding harus menderita seperti ini." Kata Dokter Yosef.
"Itulah namanya cinta yang tulus Sayang. Lagi pula Aqila pasti senang kalau kamu menyatakan cinta untuknya. Kamu itu hampir sempurna sayang, pekerjaan pasti, pendidikan apalagi, dan di tambah anak Mami ini ganteng lho." Mami Dina mencubit Pipi Dokter Yosef.
Mungkin bagi orang yang belum tau siapa Mami Dina dan Dokter Yosef, akan mengira mereka adalah sepasang kekasih yang tak lazim. Memang Mami Dina sangat akrab dengan putranya, ia menempatkan diri sebagai sahabat ketika hati putranya sedang tidak baik-baik saja.
Mami Dina tau walaupun putranya sangat ramah dang baik sekali kepada setiap orang yang di kenalnya. Tetap untuk masalah pribadi putranya ini sangat tertutup.
Sering sekali Mami Dina takut kalau putranya itu tidak bisa menyelesaikan sendiri masalah pribadinya, dan ia memilih untuk tidak bercerita kepada siapapun. Namun jika di lebih di perhatikan lagi, buah hatinya tersebut sedari kecil tidak pernah memiliki masalah yang serius.
Ia berteman dengan mereka yang sama-sama enjoy. Di bangku sekolah juga tidak pernah ketinggalan pembelajaran. Apalagi di rumah tidak akan kekurangan kasih sayang. "Mendekati sempurna kehidupannya. Yah, semoga mendapatkan pendamping hidup yang bisa membahagiakannya." Mami Dina membatin.
"Tapi lho Mi, bukankah Mami juga pernah bilang. Cinta itu tidak memandang semua yang di katakan Mami tadi?" Kata Yosef setelah beberapa menit mencerna ucapan Mami nya.
"Iya sih Mami bilang seperti itu, tapi kan biar anak kesayangan Mami ini lebih semangat dan lebih percaya diri. Lagi pula kalau di lihat-lihat putra Mami lebih ganteng dari putra Jeng Maya." Kata Mami Dina menghibur.
"Iya Mami Osef, tapi nanti bilang saja kalau kita kebetulan lewat untuk membesuk saudara yang sakit juga. Kalau ketemu orang tua Aqila Mi." Kata Dokter Yosef.
"Kenapa Sayang?" Tanya Mami Dina.
"Tidak mau saja mereka yang memberi tau perasaan Saya, Mi. Saya akan mengungkapkannya sendiri ketika sudah tepat waktunya." Jawab Dokter Yosef.
"Wah, hebat anak Mami ternyata. Gentleman." Kata Mami Dina.
__ADS_1
Mereka telah sampai di depan ruangan Aqila di rawat. Dokter Yosef melihat kedua orang tua Aqila duduk di tikar dan beberapa orang duduk bersama mereka.
"Selamat Sore Bapak, Ibu." Sapa Dokter Yosef.
"Sore Dokter." Jawab orang tua Aqila.
Mereka menyalami Dokter Yosef dan Mami Dina. Dan mempersilahkan mereka duduk di kursi yang telah di sediakan pihak rumah sakit.
"Silahkan duduk Ibu, Mami nya Dokter Yosef ya? Masih muda sekali ya Bu, cantik." Puji Mama Tita.
"Terimakasih Bu." Kata Mami Dina.
"Saya ingin melihat kondisi Aqila sebentar." Kata Dokter Yosef. Terlihat Mami Dina beranjak dari duduknya mengiring Dokter Yosef.
Saat Dokter muda itu masuk kedalam ruangan tempat Aqila berbaring. Mami Dina hanya berdiri di depan dinding yang terbuat dari kaca transparan.
Melihat kondisi gadis yang di cintai putranya tersebut. Mami Dina merasa kasihan, Ia tidak ingin putranya patah hati jika sampai kehilangan gadis ini.
Mami Dina melihat putranya menunduk lama setelah memeriksa kabel yang ada di tubuh Aqila. Meskipun beliau hanya melihat bagian belakang dari sosok putranya, Mami Dina tau kalau putranya sedang merasakan kesedihan.
Di dalam ruangan tersebut, setelah Dokter muda itu memeriksa Aqila. Ia meletakan setangkai mawar putih di tangan gadis itu.
"Aqila bangun, Saya rindu melihat kamu ngeledek saya lagi. Saya rindu kamu yang keras kepala. Nanti saat kamu sudah bisa mencintai saya, pasti kamu akan bahagia. Saya akan tetap menunggu hari itu, sabar ya." Kata Dokter Yosef.
Kata terakhirnya itu untuk Aqila atau untuk dirinya sendiri, Dokter Yosef pun tidak mengerti. Setelah menenangkan dan mengendalikan hatinya terlebih dahulu. Dokter Yosef membalikkan badan dan keluar dari ruangan.
"Bagaimana putri kami Dok?" Tanya Mami Tita. Wanita itu bersandar di bahu suaminya dengan menahan tangis.
"Aqila pasti kuat melewati semua ini, demi orang tuanya." Kata Dokter Yosef.
"Amin, terimakasih ya Dok atas perhatiannya. Dokter memang baik kepada suatu pasien." Puji Mama Tita.
__ADS_1
"Iya terimakasih Bu. Begitulah tugas dan kewajiban, kalau baik itu memang pilihan." Kata Mami Dina.
"Kami permisi dulu ya Pak, Bu." Kata Dokter Yosef.
"Iya Dok, terimakasih kunjungannya." Jawab Pak Pindri.
"Bapak Ibu kami tunggu ya setengah jam lagi di ruangan anak saya. Ada yang mau saya sampaikan." Kata Mami Dina.
"Hem, ada apa ya Bu? Baiklah Saya dan sui akan menemui Ibu nanti." Kata Mama Tita menunduk sedikit tanda terimakasih.
Mami Dina memutar badan lalu melangkah. Sedang Dokter Yosef mengiringi Mami nya. Dokter Yosef penasaran apa yang akan di katakan oleh wanita yang telah melahirkannya itu. Ada rasa sedikit khawatir kalau saja Mami Dina akan mengatakan hal yang tidak Ia inginkan terjadi.
Menepis dugaan tersebut, Dokter Yosef tidak ingin berprasangka buruk apalagi kepada wanita paling baik sedunia yang pernah ia kenal. Akhirnya Dokter Yosef memberanikan diri bertanya langsung kepada Mami Dina.
"Mi, kenapa Mami mengundang orang tua Aqila keruangan Osef?" Tanya Dokter Yosef.
"Pasti udah berprasangka buruk ya pada Mami?" Tanya Mami Dina kemudian.
"Sedikit Mi, lima persen selebihnya prasangka baik deh." Dokter Yosef menyunggingkan senyumnya, masih penasaran.
"Mami ingin membayar semua kebutuhan rumah sakit gadis itu." Jawab Mami Dina.
"Serius Mi?" Dokter Yosef terperangah berjongkok menggenggam tangan Ibunya.
"Ini tempat umum Osef bukan rumah!" Mami Dina tegas mengingatkan agar putranya menjaga sikap.
"Iya Mi, maaf kelepasan deh, hehe. Tapi kenapa Mami lakukan?" Tanya Dokter Yosef.
"Karena Mami sayang sama kamu, dan kamu menyayangi gadis itu kan? Mami pun akan menyayangi dia. Karena apa yang berharga bagi anak, itu pun menjadi berharga bagi orang tua. Mama akan lakukan yang terbaik untuk Aqila, doa dan dukungan materil." Kata Mami Dina.
"Mami, Osef ingin peluk. Terharu." Kata Dokter Yosef.
__ADS_1
"Osefff, tetap di situ!" Kata Mami Dina melihat kelakuan putranya.