Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Khawatir


__ADS_3

Hampir sebulan Aqila keluar dari rumah sakit. Keadaannya sudah sangat membaik, pagi ini rencananya Aqila akan ke kampus hanya untuk melepas rasa rindunya. Aqila Juga ingin sekali menemani Tika yang ujian skripsi tepat di hari ini juga.


Aqila ingin memberikan suprise kepada sahabatnya tersebut. Ia sudah membelikan Tika buket bunga dan boneka beruang warna pink sesuai warna kesukaan sahabatnya Sartika.


"Wah besar sekali bonekanya, pasti Tika suka." Kata Mama Tita.


"Iya Ma, Qila akan memberikan suprise kepada Tika." Jawab Aqila.


"Hati-hati ya Nak. Ayah udah nunggu di halaman." Kata Mama Tita.


"Iya Ma, daahh." Aqila memeluk wanita yang telah melahirkannya tersebut.


Pak Pindri sudah menunggu putrinya di dalam mobil. Beliau belum yakin melepas Aqila berangkat sendirian menggunakan taksi ataupun angkutan kota.


Pak Pindri takut Aqila kecapekan dan drop lagi, sebenarnya Ia dan istri belum ingin putrinya ke mana-mana dulu. Tapi Aqila yang sudah merasa sehat menjadi bosan kalau hanya berdiam diri di rumah.


Ayah dan anak tersebut melaju, kurang lebih lima mereka sudah sampai di parkiran tempat Aqila berkuliah. Aqila turun dari mobil setelah mencium tangan Ayahnya.


"Aqila masuk dulu Yah." Kata Aqila.


"Iya Nak, nanti kalau sudah selesai hubungi Ayah atau Mama ya. Jangan pulang sendirian." Kata Pak Pindri mengingatkan putrinya.


"Sia Ayah." Jawab Aqila.


Lalu gadis itu memutar badan, menjauh dari mobil Ayahnya. Aqila berjalan kaki menuju kantin yang sangat ia rindukan. Buket dan boneka yang ada dalam plastik besarnya tadi sudah Aqila titipkan di tempat penitipan barang mahasiswa. Jadi ia merasa aman sampai nanti kira-kira Tika sudah selesai ujian skripsinya.


Saat Aqila tiba di kantin, Ibu kantin yang sudah mengenalnya menyapa dengan sumringah. Beliau merasa ikut bahagia melihat Aqila salah satu mahasiswi yang menjadi pelanggannya sekarang sudah sembuh.


"Wah udah sembuh total ya Neng? Mau makan apa?" Tanya Ibu Ningsih.


"Iya Bu, syukurlah. Qila pesan nasi goreng ayam bakar aja Bu." Jawab Aqila.


"Sebentar ya Neng, Ibu buatkan. Silahkan duduk dulu." Kata Ibu Ningsih.


Sambil menunggu Ibu Ningsih membuat pesanannya, Aqila mencoba membuka ponselnya. Sebenarnya ini masih ponsel Dokter Yosef, karena keesokan hari ketika Aqila pulang ke rumah. Dokter itu benar-benar datang untuk mengantar ponsel Aqila.


Namun dengan alasan ponsel Aqila tersebut lupa tempat meletakkannya. Akhirnya Dokter muda itu memberikan ponsel miliknya dengan kartu perdana masih nomornya. Dokter itu memang sedikit aneh bagi Aqila. "Tapi ya sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan." Kata Aqila dalam hati.


Di layar ponselnya sudah terlihat lima panggilan tidak terjawab, semuanya dari Dokter Yosef. Membuat Aqila bertanya-tanya, mengapa Dokter Yosef meneleponnya. Selama satu bulan ini hanya sekali Dokter itu menghubungi Aqila saat jadwal kontrol kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


Aqila ingin menghubungi balik, tapi gengsi membuatnya mengurungkan niat tersebut. Saat itu juga pesanan yang di pesan Aqila datang, tanpa berpikir panjang Aqila meletakkan ponsel yang di tangannya kemudian menikmati hidangan yang ada di hadapannya.


Lama Aqila menunggu, sedikit berharap Dokter muda itu kembali menghubunginya. Hanya karena Aqila penasaran apa yang ingin di sampaikan oleh Dokter Yosef pada dirinya. Tapi kenyataan ponsel itu tidak memperlihatkan tanda apapun, hingga Aqila memasukannya kembali ke dalam tas kecil miliknya.


Setelah membayar makanan yang telah habis. Aqila beranjak dari bangku kantin sambil berpamitan kepada Ibu Ningsih. Aqila kemudian menuju ke arah kampus bagian depan dan memutuskan duduk di bangku are depan gedung rektorat.


Gadis itu mengeluarkan ponsel kembali dari tas kecil. Ia ingin menghubungi sahabatnya Tika, Aqila pura-pura akan menanyakan apakah sidang skripsinya berjalan dengan lancar atau tidak. Aqila akan mengaku kalau sekarang ia sedang berada di rumah.


Tidak butuh waktu lama, hanya berapa detik setelah ponsel Aqila berdering. Sambungan telepon sudah terhubung.


"Halo Qil, apa kabar? Sehat kan?" Kata sang sahabat dari sambungan telepon.


"Hay Tik, Qila sehat kok. Kamu apa kabar? Udah selesai belum ujiannya?" Tanya Aqila.


"Hem, syukurlah Qil ujiannya berjalan dengan lancar." Jawab Sartika.


"Selamat ya Tik atas gelar barunya. Sekarang udah pulang?" Tanya Aqila lagi.


"Belum nih, baru mau keluar ke depan kampus kita, masih dalam ruangan. Emangnya kenapa Qil? Habis ini Gue langsung ke rumah kamu ya Qil." Kata Sartika tanpa titik koma.


"Enggak Tik, kamu mau ke sini?" Tanya Aqila meyakinkan bahwa ia masih ada di rumah.


"Mau dong." Jawab Aqila.


Setelah menutup sambungan telepon, Aqila dengan cepat menuju tempat penitipan barang mahasiswa. Ia akan menunggu Sartika sahabatnya keluar dari gedung yang biasa di pakai untuk ujian skripsi.


Buket bunga dan boneka beruang dengan ukuran panjang 75 cm tersebut telah di gendongnya. Aqila duduk tidak jauh dari pintu masuk utama gedung tersebut.


Sekitar sepuluh menit menunggu, Sartika muncul dari dalam. Mengenakan pakaian putih hitam, gadis itu nampak sumringah menerima kemenangannya. Ia terlihat bercanda beberapa teman yang berbaju sama dengannya.


"Surprise." Aqila mendekati Sartika.


"Aqila? Hem, kok di sini?" Sartika sangat terkejut.


"Rindu, Selamat Ya." Kata Aqila menyerahkan barang bawaannya.


"Lucu banget terimakasih Qil." Kata Sartika heboh, ia berkali-kali memeluk Aqila.


Teman-teman yang lain terlihat menyerbu Aqila. Mereka terharu juga melihat Aqila yang telah kembali sehat. Mereka memeluk Aqila bersama-sama, kecuali Adi dan Danu yang hanya nyengir melihat teman perempuan mereka.

__ADS_1


"Selamat ya kalian." Kata Aqila kepada semua temannya.


"Terimakasih ya Qila, semoga kamu cepat nyusul." Jawab mereka hampir berbarengan.


Selesai melepas rindu, teman-teman satu persatu berpamitan untuk kembali ke rumah. Hanya tinggal Aqila dan Sartika di depan pintu utama gedung biru tersebut.


"Qil, kita ke rumah kamu yuk. Gue capek nih." Kata Sartika.


"Oke, tapi kita minta jemput sama Ayah saja ya. Qila takut kena marah kalau naik angkot, masih takut kena debu." Jelas Aqila.


"Iya Qil, yuk kita tunggu Om Pindri di sana." Kata Sartika.


Ia menunjuk sebuah kursi taman yang ada di sebelah gedung biru tersebut. Lalu Sartika menuntun Qila menuju kursi taman. Ia tidak lupa menghubungi Ayahnya untuk minta di jemput.


Kedua sahabat itu asik ngobrol sambil menunggu jemputan. Tiba-tiba saja ponsel yang ada di dalam tas kecil Aqila bergetar


"Lihat dulu Qil." Kata Sartika.


"Bentar ya Tik." Jawab Aqila.


"Siapa?" Selidik Sartika melihat ekspresi wajah Aqila yang sulit di mengerti.


"Dokter Yosef." Jawab Aqila.


"Kenapa dokter telepon? Mau kontrol lagi ya." Tanya Sartika.


"Mungkin Tik, Qila angkat dulu ya." Jawab Aqila.


Gadis belia itu tanpa menjauh dari sahabatnya. Ia mengangkat panggilan dari Dokter Yosef tersebut.


"Halo Dok, ada apa?" Tanya Aqila.


"Hay cantik, nggak hanya khawatir saja. Kamu sehat-sehat kan?" Tanya Dokter Yosef.


"Saya sehat dan nggak akan sakit lagi." Jawab Aqila cuek.


Dokter Yosef bisa sedikit lega karena apa yang ia takutkan nampaknya beli di ketahui Aqila. Ia harus cepat mengambil ponsel yang ada pada wanita yang di cintainya tersebut.


"Nanti sore Saya kesana, mau ngambil ponsel yang kamu pakai." Kata Dokter Yosef. Ia memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu Aqila menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2