Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Di Mana?


__ADS_3

Enam minggu telah Aqila lewati dengan kesabaran dan semangat. Namun semua kembali dengan rencana Sang Khalik. Kesehatan Aqila bukannya membaik, tapi pembengkakan di dalam kepalanya semakin mengkhawatirkan.


Ia juga tidak bisa melakukan tindakan operasi, karena cairan dan pembengkakan tersebut mengelilingi bagian otak sebelah kirinya. Aqila kadang drop dan tidak sadarkan diri dengan tiba-tiba. Berulang kali hal itu terjadi membuat Dokter belum memberikan izin pulang untuk Aqila.


Pagi ini Aqila merasa lebih segar di banding beberapa waktu yang telah ia lewati. Aqila mengajak Mama Tita berjalan-jalan di luar ruangan. Dengan menggunakan kursi roda, Pak Pindri dan istrinya saling membantu membawa Aqila ke taman pekarangan rumah sakit.


Setelah di area hijau rumah sakit yang datar, Pak Pindri berpamitan kepada istrinya untuk tidur sejenak, karena tadi malam beliau menjaga putri mereka sampai larut malam.


"Ma, Ayah istirahat dulu ya. Jaga putri kita, kalau mau kembali ke dalam ruangan minta bantuan perawat atau telepon Ayah." Kata Pak Pindri.


"Iya Yah, tanpa Ayah minta Mama pasti jagain Aqila." Jawab Mama Tita.


"Kamu baik-baik ya Nak. Nggak apa-apa kan Ayah tinggal?" Kata Pak Pindri.


"Iya Yah, tidak apa-apa. Ayah tidur dulu." Jawab Aqila.


Mama Tita dan Aqila memandang orang yang mereka kasihi tersebut, menghilang di balik dinding ruang pendaftaran rumah sakit Citra Medikal. Kemudian Mama Tita mendorong pelan kursi roda Aqila sambil bercerita apa saja yang akan membuat putri semata wayangnya senang.


Dalam proses melewati hari-hari yang berat bagi Aqila. Ia masih tetap berjuang untuk menghubungi kekasihnya Arya yang tidak pernah datang ke rumah sakit setelah malam itu.


Sedikit demi sedikit rasa yang telah di bangunnya selama ini mulai runtuh, tapi bukan Aqila Putri bila ia tidak bisa mempertahankan komitmennya pada janji mereka bersama Arya. Aqila menunggu kekasihnya itu menghubunginya ataupun datang sekedar melihat keadaan dirinya.


Lebih dari satu bulan kekasihnya tersebut tidak menghiraukannya. Padahal jarak dari rumah Arya ke rumah sakit tempat Aqila di rawat kurang dari satu jam mengendarai kendaraan roda dua maupun roda empat.


Dengan perasaan yang sedih, akhirnya Aqila memutuskan untuk bertanya kepada Mama Tita. Ia meminta Mamanya untuk menghubungi Arya, dirinya sangat merindukan kekasihnya tersebut. Kekasih yang adalah cinta pertama Aqila.


"Ma, kenapa ya Bang Arya tidak menjenguk Aqila di rumah sakit?" Tanya Aqila kepada Ibunya.

__ADS_1


"Mungkin dia sibuk bekerja Nak." Jawab Mama Tita.


Sebenarnya Mama Tita juga merasakan apa yang di rasakan putrinya. Ia juga mempertanyakan apa benar Arya teman dekat putrinya tersebut mencintai dengan tulus. Sebulan rasanya terlalu lama mengabaikan putrinya yang setiap hari berharap ada kabar dari kekasihnya tersebut.


"Tapi Ma, ini sudah lima minggu lebih Bang Arya tidak ada kabar sama sekali. Apa Abang Arya nggak sayang sama Aqila, Ma?" Kata Aqila.


Sedang air matanya sudah mengalir saat mengingat Arya. Mama Tita juga berat memikirkan perasaan putrinya ini. Jika di biarkan seperti ini kesehatan Aqila bisa saja terus menurun.


"Iya Nak, mana nomornya Arya? Biar Mama mencoba menghubunginya." Kata Mama Tita.


"Ini Ma, tapi tolong jangan bilang Ayah ya Ma. Aqila takut kalau Ayah marah sama Aqila Ma." Kata Aqila sambil menyerahkan ponselnya. Di layar ponsel sudah tertera nomor kontak Arya dengan nama My Sweety, di beri akhiran emoticon love berwarna merah hati.


"Iya sayang, tapi kalau pun Aya tau beliau tidak akan marah. Ini bukan kesalahan kamu." Mama Tita mencoba menenangkan putrinya.


Ia juga mencoba memahami perasaan gadis nya tersebut. Seandainya saja Arya bukan cinta pertama putrinya, mungkin saja Aqila tidak merasa seberat ini di tinggalkan kekasihnya tersebut.


Namun dulu, Mama Tita dan suami selalu melarang anaknya jika ada yang mendekati dengan alasan masih kecil belum waktunya memiliki teman dekat laki-laki. Ada sedikit penyesalan terbesit dari hati terdalam seorang Ibu.


"Halo, ini dengan siapa ya?" Sapa seseorang dengan ciri khas suara wanita tersebut.


"Halo, maaf benar ini nomor ponselnya Arya?" Tanya Mama Tita.


"Iya, ini benar nomor ponselnya anak saya Arya. Tadi ponselnya ketinggalan saat mau berangkat bekerja. Maaf ini dengan siapa ya?" Tanya orang yang mengaku Orang tuanya Arya dalam sambungan ponsel.


"Ini saya Tita Bu, Mama nya Aqila. Anak kami minta tolong untuk menghubungi Arya, yang menurut mereka ini sedang menjalin kasih. Hanya ingin menanyakan kabar Arya saja." Kata Mama Tita berusaha mencairkan suasana.


"Oh, gitu ya Bu. Nanti setelah Arya pulang dia telepon bali. Atau ada pesan biar saya sampaikan kepada Arya?" Tanya Mami Reni dari seberang.

__ADS_1


"Nanti saja Bu, biar Arya saja yang menghubungi Aqila." Jawab Mama Tita.


"Iya Bu, nanti saya sampaikan." Kata Mami Reni.


Setelah mengucapkan salam, Mama Tita memutuskan sambungan telepon mereka. Beliau kembali mendekat ke arah putrinya.


"Gimana Ma?" Tanya Aqila penasaran.


"Tadi yang angkat Mamanya Arya sayang. Kata beliau Arya nya sedang pergi kerja, ponselnya ketinggalan. Nanti Arya akan menelepon kamu kalau sudah pulang dari kantor." Jelas Mama Tita.


"Iya Ma, terimakasih ya Ma." Jawab Aqila. Ia menghirup napas dalam, setiap detik ketika ia sadar adalah memikirkan kekasihnya tersebut.


"Sama-sama sayang, jangan terlalu di pikirkan. Kesehatan mu lebih utama sayang." Kata Mama Tita.


"Tapi Ma, apa Bang Arya tidak sayang lagi sama Qila?" Tanya Aqila.


Mama Tita kembali terdiam mendengar pertanyaan dari putrinya. Ia mau menjawab apa kepada Aqila. Jika Mama Tita menjelaskan untuk tidak terlalu berharap akan kesetiaan Arya, kemungkinan Aqila akan merasa kecewa dan akan berakibat fatal bagi kesehatannya.


Sedangkan memberi harapan dengan mengatakan Arya pasti setia. Mama Tita takut kalau hal itu akan membuat Aqila lebih lagi berharap kepada pria yang belum tentu mengharapkan putrinya.


Hal lumrah saja jika Arya meninggalkan Aqila. Pertama, Aqila sering sakit dan sudah memakan waktu yang cukup lama di rumah sakit. Kedua, memang belum ada ikatan yang benar-benar dia antara kedua belah pihak.


Walaupun Arya telah mengatakan kepada orang tuannya menginginkan Aqila menjadi pendamping hidupnya di kemudian hari. Tapi kalau hanya kata-kata, terlebih kalau kedua orang tua Arya mengetahui penyakit yang di derita putri mereka. Tentu akan menjadi pertimbangan mereka untuk meneruskan hubungan dengan Aqila.


Mama Tita tidak ingin merusak suasana hati anaknya. Apapun yang ada di dalam pemikirannya di simpan rapat-rapat di dalam hati.


"Sebaiknya kita masuk ke ruangan lagi sayang. Cukup ya berjemur pagi nya." Kata Mama Tita berjongkok agar sejajar dengan putrinya.

__ADS_1


"Iya Ma." Jawab Aqila singkat.


Mama Tita meminta bantuan sorang perawat laki-laki yang melintas di hadapan mereka. Meminta bantuan untuk mendorong kursi roda Aqila kembali ruangan perawatan.


__ADS_2