Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Pesona Malam


__ADS_3

"Wah, baru kali ini loh kedatangan saya di anggap pengganggu." Kata Dokter Yosef santai.


Dokter muda itu sedikit memahami suasana gadis yang ada di sampingnya saat ini. Meskipun ia seorang dokter spesialis saraf, namun ia pernah sedikit mempelajari tentang psikologi umum dan psikologi remaja.


Dokter Yosef menemani gadis di sampingnya agar bisa sedikit memberikan support. Terlintas juga kalau manusia yang satu ini ingin melakukan hal yang tidak di inginkan malam ini. Betapa menyesalnya ia jika harus mengabaikan keberadaan gadis yang sedang sedikit terkoyak mentalnya. Karena hal apa, itu masih menjadi pertanyaan bagi Dokter Yosef.


"Hem, tapi memang ganggu." Jawab Aqila singkat.


"Iya juga sih. Tapi ngapain kamu malam-malam di sini, nanti kesehatan kamu menurun lagi gimana? Kasian lah orang tua kamu." Kata Dokter Yosef.


"Saya lagi nunggu telepon, Dokter tau Ibunya janji dia akan menghubungi saya sore ini." Kata Aqila dengan polosnya.


"Tapi kan ini sudah malam Aqila Putri?" Tanya Dokter Yosef tidak habis pikir.


"Iya, mungkin saja dia sibuk kerja. Belum sempat hubungi Aqila sore tadi, bisa jadi malam ini." Jawab Aqila dengan kekeh.


Dokter Yosef menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis ini bodoh atau memang terlalu setia. "Seandainya saja Tiara dulu seperti gadis di sampingnya sekarang. Jangan kan nunggu sampai berjam-jam, Saya hubungi pun dia tidak mau angkat. Tapi memang ternyata ia sudah ada pilihan lain." Kata Dokter Yosef dalam hati.


Dokter muda itu menghela napas beratnya. Rasanya tidak muda menyadarkan gadis di sampingnya untuk mengatakan berhenti menunggu, nanti kamu kecewa dan sakit hati.


"Mungkin, hal itu mungkin saja. Tapi orang yang mementingkan kita, akan tetap memberi kabar sesibuk apa mereka. Contohnya saja orang tua kita, iya kan?" Kata Dokter Yosef memberi sedikit pengertian.


"Terus bagaimana kalau Bang Arya sudah nggak sayang lagi sama Aqila. Bagaimana kalau ia nggak bakalan datang lagi untuk ketemu Aqila? Buktinya saja nomor ponsel Qila sudah di blokir nya." Kata Aqila tersedu menutup matanya dengan kedua tangan. Ia menunduk tanpa memperdulikan lagi jarum infus yang masih bersarang di tangannya.


Mendengar cerita Aqila, Dokter Yosef semakin mengagumi gadis tersebut. Perasaan ingin melindungi dan memberikan kasih sayang yang tulus. Membuat dadanya bergetar hebat, andai saja gadis itu adalah kekasihnya. Dokter Yosef ingin sekali membawa Aqila dalam pelukan.


"Kalau dia sayang sama kamu, pasti dia datang kok. Tapi kamu nggak boleh seperti ini, kamu harus semangat untuk diri sendiri dan orang tua mu." Kata Dokter Yosef meluruskan pandangan bagi Aqila.

__ADS_1


"Hem, entahlah Dok. Saya juga tidak mengerti." Jawab Aqila. Ia tersenyum sedikit menoleh kearah Dokter Yosef.


Melihat Aqila tersenyum sedikit seperti ini saja, hati Dokter Yosef sudah meleleh. Ia seperti merasakan sakit juga ketika melihat Aqila bersedih. Hal yang belum pernah ia rasakan, saat mendekati seorang wanita.


Aqila mengisap air mata nya yang mengalir mengenai bibirnya yang pucat dan merona dengan balutan lip gloss berwarna pink kemerahan. Sehelai rambut menempel di bibir Aqila, membuat Dokter Yosef nervous saat ingin mengambil rambut yang menempel tersebut.


Pelan sekali pria itu mengulurkan tangannya. "Ingin sekali Saya merasakan kehangatan bagian merona mu sayang, ingin Saya katakan kalau Yosef Rananta siap menjagamu. Bahkan bertahun pun jika harus di sini bersama mu, Saya sanggup." Kata Dokter Yosef dalam hati.


"Maaf, ada rambut." Kata Dokter Yosef.


Aqila hanya mematung. Ada atau pun tidak orang di sampingnya saat ini, tidak mempengaruhi suasana hati Aqila. Hanya Arya yang bisa mengobati kerinduannya.


Hampir setengah jam Aqila berada di luar. Pukul sudah menunjukan 21.45 waktu setempat. Angin semakin berhembus, karena jarak antara lokasi rumah sakit dan pesisir pantai hanya sekitar satu kilometer saja.


"Sebaiknya kamu istirahat saja, ini sudah malam. Tentu pacarmu itu tidak akan menghubungi mu malam ini, kemungkinan besok pagi. Kalau mau saya antarkan ke dalam ruangan." Kata Dokter Yosef menawarkan diri.


"Keras kepala! Mending tidak usah berobat, kalau lebih senang sakit." Dokter Yosef terpancing emosinya.


"Baiklah, kalau tidak boleh berobat di sini lagi. Besok boleh kasih surat untuk pulang, bilang sama Dokter Derwan. Atau Bisalah Dokter uruskan sendiri." Jawab Aqila.


"Kamu tuh di kasih tau, pacarmu itu tidak akan menghubungi mu atau jangan-jangan ia sudah tidur juga. Memang bandel." Kata Dokter Yosef.


"Udah, Qila mohon Dokter pergi saja dari sini. Nanti kalau orang lihat Dokter bersama saya gimana?" Kata Aqila.


"Saya itu Dokter, kamu pasien saya. Terus apa ada yang salah?" Kata Dokter Yosef kemudian.


Dokter muda itu melepas jaket yang melekat di badannya, lalu mengenakannya ke pundak Aqila. Dokter itu pergi berlalu begitu saja tanpa berpamitan dengan Aqila.

__ADS_1


Sepeninggalnya Dokter Yosef, memang suasana dari tadi sudah lebih dingin. Kepala Aqila terasa sangat berat dan pusing. Dari hidungnya seperti ada cairan yang keluar. "Mungkin ingus." Pikir Aqila. Ia tidak sengaja mengusapnya dengan jaket milik Dokter Yosef. Ternyata darah segar yang mengalir dari hidungnya Aqila.


Sekitar tiga menit Dokter itu kembali, membawa sebuah selimut dan bantal. Ia kembali kepada Aqila yang menutup bagian wajahnya dengan lutut.


"Hey, kenapa? Kamu nangis lagi? Ini Saya bawakan selimut, kalau-kalau kamu mau menunggu kekasih mu itu disini semalaman." Sindir Dokter Yosef.


"Iya terimakasih." Jawab Aqila hanya bibirnya saja yang bergerak.


"Mobil saya bannya pecah, jadi mau pulang mengendarai motor. Nanti saya jadi sakit, sini jaket saya." Kata Dokter Yosef.


Aqila tidak menjawab, ia masih menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia takut Dokter itu marah karena jaketnya sudah kena cairan merah saat Aqila tak sengaja mengusapkannya tadi.


"Ini, maaf jaketnya saya tidak sengaja." Aqila menyerahkan jaket tersebut dengan wajahnya masih menunduk.


Betapa Dokter Yosef terkejut melihat darah segar banyak menempel di jaketnya. Bukan memikirkan soal jaket, namun ia mengkhawatirkan kesehatan Aqila dan dari mana cairan segar itu keluar.


"Aqila, hei kamu kenapa? Kamu apakan jaket saya?" Tanya Dokter Yosef.


"Maaf nanti saya cuci. Jika Dokter nggak mau, anti Aqila ganti jaket Dokter." Jawab Aqila.


Tubuhnya sangat lemas, namun ia harus bertahan. Aqila takut kalau sampai nanti ia tidak sadarkan diri, Arya menghubunginya.


"Aqila!" Panggil Dokter Yosef, ia emosi melihat gadis yang keras kepala. Tapi hatinya merasa ingin memberikan pelukan untuk gadis ini.


Dokter Yosef berjongkok, mengangkat kepala Aqila. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat mini daster yang tadinya berwarna nude, sekarang berubah menjadi merah dan basah di sekitar dada dan lehernya.


"Maaf ya Qila nggak sengaja mengenai jaket Pak Dokter." Kata Aqila hampir menangis.

__ADS_1


__ADS_2