Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Diagnosa


__ADS_3

Berkas cahaya perlahan masuk menembus sela-selah gorden. Pertanda malam telah berganti menjadi pagi. Dua orang petugas kebersihan sudah masuk ruangan membersihkan segala sudut dalam ruangan.


Tidak lupa membuka gorden sehingga cahaya matahari lebih banyak masuk menembus kaca. Juga mereka mengambil bekas piring makan pasien yang di bagikan tadi malam.


Bersamaan dengan petugas kebersihan, makanan pasien pun tiba. Menggunakan seperti rak-rak dorong, yang makanannya pun sudah di sesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien. Tempat makanan dengan pasien dengan kondisi tertentu, akan di beri nama atau tanda.


Sekitar setengah jam setelah pembagian makanan. Seorang perawat memasuki ruangan Aqila dan mendekat kepada Mama Tita.


"Selamat pagi Bu, sebentar lagi dokter yang akan menangani anak Ibu akan masuk. Hari ini ada jadwal pemeriksaan laboratorium." Kata perawat tersebut.


"Iya, terimakasih Bu." Jawab Mama Tita.


Ketika perawat tersebut keluar, seorang dokter laki-laki berumur sekitar 50tahunan muncul bersama tiga orang. Ketiga orang mengikuti sang dokter kemungkinan besar adalah para perawat.


Mereka ada yang membawa buku, kotak obat dan ada yang membawa beberapa jarum suntik serta alat tensi darah.


"Selamat pagi Bu." Kata Dokter yang akan memeriksa Aqila.


"Selamat pagi." Jawab Mama Reni.


Sebelum Dokter tadi datang, Pak Pindri sudah kembali ke rumah sakit. Pagi-pagi Pak Pindri mengantar Sartika pulang kerumahnya, sekalian berterimakasih kepada orang tua Tika, telah mengizinkan putrinya menjaga Aqila.


"Bu Pak, kita akan melakukan pemeriksaan pada pagi hari ini. Saya Dokter Derwan, dokter penanggung jawab anak Ibu dan Bapak disini" Kata Dokter tersebut.


"Baik Pak, tolong lakukan yang terbaik untuk anak kami satu-satunya." Kata Pak Pindri.


Dokter menatap ke arah Aqila, Ia tersenyum melihat dokter memandang kearahnya. Wajah Aqila memang lebih pucat dari biasanya, namun tatapan mata Aqila terpancar semangat keinginannya besar untuk sembuh.


"Selamat pagi gadis cantik. Hari ini kita akan melakukan pemeriksaan awal ya." Kata Derwan.


"Iya Pak Dokter." Jawab Aqila lemah.

__ADS_1


Seorang perawat melakukan tensi darah terhadap Aqila. Kemudian mengambil sedikit darah di lekukan tangan Aqila. Hal tersebut untuk pemeriksaan darah di laboratorium dan hasilnya akan keluar nanti sore.


Saat Dokter Derwan sedang menjelaskan kepada orang tua. Seorang laki-laki dengan pakaian dokter bersama dengan tiga orang berpakaian perawat masuk bersamaan ke ruang Aqila.


Mereka akan melakukan pemeriksaan rutin kepada pasien yang ada di sebelah Aqila. Sama seperti Aqila yang tangani oleh Dokter Derwan. Mungkin saja dokter itu yang menangani Pasien yang bernama Ibu Naya tersebut.


"Selamat pagi Bu, bagaimana perasaannya hari ini?" Tanya Dokter tersebut.


"Sudah Baik Dok, tapi saya masih lemas sekali." Kata Ibu Naya.


Deg


Aqila seperti mengenal suara tersebut, namun ia berpikir ada banyak orang dengan wajah yang mirip bak pinang di bela dua. Apalagi hanya sekedar suara.


Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter yang memeriksa Ibu Naya mencoba menyapa Dokter Derwan. Saat Dokter Derwan masih menjelaskan kondisi Aqila Kepada orang tua Aqila.


"Maaf Dok, boleh pinjam senter LED nya sebentar? Kebetulan saya lupa bawa." Tanya Dokter yang menangani Ibu Naya. Ia mendekat kearah Dokter Derwan dan ranjang tempat Aqila berbaring.


"Ini Dok senternya." Kata Dokter Derwan.


Dokter Yosef juga pernah menabrak Aqila di pintu keluar ruangan dekanat. Sebenarnya bukan sengaja menabrak melainkan tidak sengaja tabrakan.


"Dokter Yosef?" Ucapan yang keluar dari mulut Aqila setelah ia kaget.


"Hay, semoga cepat sembuh ya." Kata Dokter Yosef kepada Aqila.


Dokter Yosef segera kembali kepada pasiennya, Ibu Naya setelah menerima senter LED dari Dokter Derwan. Ia juga mengucapkan terimakasih kepada Dokter Derwan.


Dokter Derwan dan teman-temannya keluar setelah memeriksa Aqila. Begitu juga dengan rombongan dari Dokter Yosef.


Setelah suasana kembali sepi, yang tertinggal hanyalah keluarga pasien. Ada satu dua orang keluarga Ibu Naya yang membesuk. Tapi tidak ada keluarga dari Aqila.

__ADS_1


Orang tua Aqila juga menyadari bahwa keluarga besar tidak ada yang berada di dalam kota ini. Apalagi Aqila baru saja di rawat, tentu mereka semua belum mengetahuinya.


Mama Tita mendekati Aqila, Ayah Pindri juga berdiri samping tempat Aqila berbaring. Mama Tita memandang Aqila dengan senyuman.


"Qil, memangnya kamu kenal dengan dokternya Ibu Naya tadi?" Tanya Mama Tita.


"Enggak Ma, hanya saja Dokter gila itu pernah menghukum Aqila saat di seminar." Kata Aqila malas.


"Oh, sepertinya dokter itu orang baik." Kata Mama Tita.


"Baiklah Ma, itu hanya profesionalitas saja. Masa iya seorang dokter jahat kepada pasiennya. Kalau Mama tau, pasti Mama sepakat sama Aqila Dokter itu sedikit rada stres Ma." Kata Aqila.


Entah mengapa Aqila bersemangat sekali mengatakan Dokter Yosef yang tidak baik kepada Mama nya. Sedangkan Pak Pindri hanya tersenyum melihat perdebatan antara istri dan putri mereka.


"Masa iya sih, dokter setampan itu jahat dan stres? Dari cara dia bertutur dan dari wajahnya yang tenang, tidak menunjukan orang jahat dan stres. Apa psikologi manusia sekarang berbeda dengan yang saya pelajari dulu ya." Gumam Mama Tita membuat Aqila sedikit menyungging bibirnya.


Memang sebenarnya Mama Tita adalah lulusan terbaik dari sebuah universitas, ia lulus dengan gelar sebagai seorang psikolog. Namun kembali lagi dengan pilihan, ia memilih untuk tidak bekerja di luar rumah. Karena mereka berjuang lama untuk mendapatkan buah hati.


Setelah hadirnya Aqila rahimnya juga harus di angkat, membuat Mama Tita harus menjaga Aqila dengan lebih cermat. Sampai saat ini, ia sangat terpukul dengan keadaan Aqila yang menahan sakitnya.


"Papa keluar dulu ya Nak, kamu sama Mama. kalau butuh sesuatu telepon Papa." Kata Pak Pindri.


Setelah Pak Pindri keluar ruangan, Aqila menggenggam tangan Mamanya. Memang selama ini untuk hal yang menyangkut perasaanya, Aqila lebih sering bercerita kepada Mama Tita. Di bandingkan dengan Papanya, Pak Pindri.


"Kenapa Nak?" Tanya Mama Tita yang memahami gestur putrinya.


"Ma, kenapa ya Abang Arya tidak menelepon Qila. Padahal biasanya kalau udah sampai ke rumah telepon atau chat." Kata Aqila.


"Mungkin dia tidak mau ganggu kamu sayang, biar kamu cepat sehatnya. Atau mungkin dia sedang di kantor lagi padat pekerjaan." Kata Mama Tita mengungkapkan beberapa kemungkinan.


"Iya Ma. Kata dokter Aqila sakit apa Ma?" Tanya Aqila pelan.

__ADS_1


"Kata Dokter Derwan, nanti akan di beritahu setelah keluar semua hasil laboratorium. Qila yang sabar ya." Kata Mama Tita.


Ia memandang Mamanya dengan senyuman. Mama Tita membalas dengan elusan di pucuk kepala putrinya. Aqila meletakkan kembali ponselnya ke atas meja di samping ranjang.


__ADS_2