
Jarum jam bergeser tanpa menunggu di minta. Malam semakin larut menemani empat insan yang masih duduk di kursi dengan bentuk lingkaran di taman kota.
"Sudah Qil." Kata Dokter Yosef.
"Iya Dok terimakasih." Jawab Aqila.
Dokter Arya memandang kepada Randen, adiknya. Sebagai adik yang hampir setiap hari bersama, laki-laki itu seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran Dokter Yosef.
"Gimana Bang? Kita pulang atau tidak?" Tanya Randen.
"Terserah, menurutmu gimana?" Randen kembali bertanya.
Sebenarnya ia tau kalau saudaranya sangat berat meninggalkan gadis sang calon kekasih. Begitu juga dengan dirinya, belum mau berpisah dengan Sartika. Gadis yang baru di kenalnya dia jam yang lalu.
"Kita nginap di sini malam ini! Kalau kamu mau pulang, bilang sama Mami saya nginap menemani Aqila." Jawab Dokter Yosef.
"Kalau saya mau di sini juga?" Ujar Randen tidak mau kalah.
"Kamu kasih kabar ke Mami, saya menemui petugas untuk memasang satu tenda lagi." Jawab Dokter Yosef.
"Siap Bos!" Jawab Randen bersemangat.
Sebelum kedua pria itu melaksanakan tugasnya masing-masing. Aqila merasa sangat ngantuk hingga ia meminta izin pada Dokter Yosef untuk duluan beristirahat.
"Maaf, kalau boleh Qila istirahat duluan." Kata Aqila.
Mendengar ucapan Aqila, Dokter Yosef spontan memandang wajah gadis itu. "Boleh dong sayang, atau mau di temani?" Kata Dokter Yosef.
"Nggak usah, terimakasih." Ucap Aqila.
"Abang Dokter mu bercanda aja Qila, iya kali dia benar-benar mau temani kamu bobok." Timpal Sartika.
"Oh, maaf." Aqila tersenyum malu.
"Nggak apa-apa sayang. Saya suka kamu seperti tadi." Jawab Dokter Yosef.
Dokter muda itu beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan mendekati Aqila. Memasangkan sebuah syal dari dalam jaketnya ke leher gadis tersebut.
"Udah bobok sana!" Dokter Yosef mengusap lembut pucuk kepala Aqila.
Aqila tersenyum mendengar perhatian yang di berikan oleh Dokter Yosef. Namun bersamaan dengan itu juga, rasa takutnya muncul membuat Aqila sesegera mungkin menutup hatinya dengan rapat.
Sedangkan Sartika melihat perubahan wajah dari sang sahabat, membuat dirinya kasian dengan Aqila. Mereka masuk kedalam tenda untuk mencoba memejamkan mata.
Dokter Yosef menemui petugas yang ada di pos jaga. Ia meminta memasangkan tenda bagi mereka karena malam ini ia dan Randen akan bermalam di sini juga.
Randen sadar akan tugasnya untuk memberitahu orang tua mereka agar tidak khawatir padaku kedua putranya. Baru saja niat itu ingin ia laksanakan, ternyata Mami Dina sudah menelepon terlebih dahulu. Hanya berdering sebentar, Randen segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Mi, selamat malam." Sapa Randen.
"Malam sayang. Kamu di mana Nak? Apa kakakmu jada bersama mu?" Tanya Mama Dina.
"Iya Mi, Bang Osef ada bersama Anden. Sekalian Mi, kami mau memberitahu Mami. Malam ini kami tidak pulang Mi, mau merasakan tidur di alam terbuka. Kami akan memasang tenda di hutan kota." Kata Randen.
"Lho, kok tadi Abang mu nggak bilang. Nanti kalian sakit gimana? Nggak bawa minyak kayu putih juga. Kalau tau kalian nggak pulang tadi Mami siapkan dulu bekal. Gimana sih kalian ini?" Kata Mami Dina.
__ADS_1
"Iya Mi, maaf." Jawab Randen.
"Halo dek, ini Papi Nak. Kalian kenapa mendadak? Ketemu gadis cantik ya di sana?" Tanya Pak Roni lebih santai.
"Papi bisa saja." Jawab Randen.
"Kalian jaga diri ya di sana. Nggak usah dengar ocehan Mami mu ini. Masa iya sudah besar bawa bekal, malu ya Nden." Kata Pak Roni memberikan dukungan kepada putra mereka.
"Terimakasih ya Pi." Jawab Randen.
"Jaga diri ya Nak kalian berdua. Makanlah makanan yang sehat, ingat alergi mu." Kata Mami Dina mengingatkan.
Suaranya terdengar sedikit jauh, tapi karena suara tersebut sangat melengking, Randen yang mendengarnya masih sangat jelas. Bahkan masih menyakitkan telinga jika ponsel miliknya tidak sedikit di jauhkan.
Randen mengakhiri panggilan teleponnya dengan mengucapkan salam. Kemudian ia segera mendekati sang kakak yang berdiri tegap memperhatikan petugas yang sedang memasang tenda untuk mereka..
"Mami sudah Anden kasih kabar Bang." Kata Randen setelah berada di dekat Dokter Yosef.
"Oke, gimana kata beliau?" Tanya Dokter Yosef.
"Suruh abang pakai minyak kayu putih." Jawab Randen tergelak. Ia tidak bisa lagi menahan tawanya, mungkin salah Dokter Yosef juga yang bertanya di waktu yang tidak tepat.
"Ngapain? Kayak balita saja." Jawab Dokter Yosef.
"Mami lho." Jawab Randen.
"Iya-iya, oke Mami. Biar bisa ngeledek saya." Kata Dokter Yosef.
"Dokter ternyata anak Mami juga." Ujar Randen masih ngeledek Dokter Yosef.
"Diam lah Nden. Nanti ini melayang." Kata Dokter Yosef.
Tidak butuh waktu lima belas menit, akhirnya pemasangan tenda sudah selesai. Petugas menjelaskan tentang tempat masak dan jam berapa tenda akan di bongkar. Setelah selesai memberikan penjelasan, petugas meminta izin untuk kembali ke pos jaga.
Hanya tertinggal Dokter Yosef dan Randen yang masih berdiri di depan tenda. Berjarak hanya sekitar lima meter dari tenda Aqila dan Sartika di sebelah timur. Randen terlihat sudah berat menahan matanya.
"Bang, tidur. Saya sudah ngantuk sekali. Bidadari juga sudah tidur juga, besok pagi kita menyambut bidadari yang cantik." Gumam Randen.
"Oke, tapi awas jangan salah lihat. Aqila milik Yosef Rananta." Goda Dokter Yosef.
"Nggak mungkin lah, Sartika sudah sangat cantik bagi seorang Randen." Jawab Randen.
Kedua pria tersebut masuk kedalam tenda, kemudian terlelap masuk ke alap mimpinya. Entah berapa lama sampai keesokan harinya, mereka terbangun kembali.
***
Keesokan harinya, mentari menyambut dengan sinar yang menghangatkan tubuh. Aqila bangun lalu keluar tenda, lalu duduk di meja bulat sendirian. Ia menguncir rambutnya yang sedikit berantakan.
Aqila memandang tenda yang ada di samping tenda mereka masih tertutup rapat. Ia mencari mie instan yang masih ada di dalam tas mereka.
Menuju meja masak yang telah disediakan, Aqila memasak mie dengan kuah yang menggoda selera. Tanpa di sadari Dokter Yosef telah berdiri tegap di sampingnya.
"Selamat pagi bidadariku." Sapa Dokter Yosef.
"Dokter?" Aqila kaget.
__ADS_1
"Sarapan mie instan kurang bagus untukmu. Sini biar Abang yang makan!" Kata Dokter Yosef meraih mangkok yang ada di tangan Aqila.
"Qila sarapan apa?" Tanya Aqila.
Gadis itu seolah tidak terima kalau makanannya di ambil oleh Dokter Yosef. Dengan cekatan lelaki 29tahun tersebut mengeluarkan dia bungkus roti dari dalam jaket tebalnya.
"Ini khusus untuk mu sayang. Biar kesehatanmu semakin baik." Jawab Dokter Yosef.
Sudah hampir pukul delapan pagi, namun Sartika juga Randen belum beranjak dari tempat tidur. Alarm dari jam tangan yang di pakai Dokter Yosef tiba-tiba berbunyi.
Pria itu melihat ke arah jam tangan yang menyala berkedip. Tertulis di sana AK2 yang artinya Aqila kontrol kedua, namun Dokter Yosef segera memasukan tangannya kembali kedalam saku celana.
Seolah alarm itu tidak penting baginya. Tapi dalam hati Dokter Yosef sangat memperhatikan kesehatan pasiennya tersebut, sekaligus calon pendamping hidup di masa depan.
Handphone di tas kecil Aqila bergetar, tanpa mengucap kata gadis itu mengangkat panggilan yang masuk. Orang tuanya nelepon pagi ini.
"Halo Ma." Sapa Aqila dari sambungan telepon.
"Halo sayang, kamu sudah bangun?" Tanya Mama Tita.
"Iya Ma, Qila udah bangun." Jawab Aqila.
"Nak, kamu tidak lupa kan kalau hari ini harus kontrol lagi ke rumah sakit?" Tanya Mama Tita.
Deg
Memang sebenarnya Aqila melupakan hal itu, karena ia merasa kalau dirinya sudah sebuh total. Aqila tidak mau lagi mengingat masa-masa di rumah sakit.
"I-iya Ma, Qila segera pulang." Jawab Aqila.
"Pengobatan mu yang lumayan mahal sudah di bayar oleh Dokter Yosef, maksud mama sayang kalau tidak di gunakan dengan baik." Kata Mama Tita.
Aqila lebih terkejut lagi setelah mendengar bahwa Dokter yang sedang di hadapannya ini sudah menanggung biaya rumah sakitnya. Aqila memang mengetahui kalau ada orang baik telah suka rela membantu keluarganya. "Tapi kenapa harus dia?" Gumam Aqila dalam hati.
"Iya Ma, Aqila pulang sekarang." Jawab Aqila.
Setelah mengucapkan salam, Aqila mau berkemas untuk pulang. Ia akan membangunkan Sartika terlebih dahulu.
Belum sempat Aqila memutar badan, Dokter Yosef memegang tangannya. Secara mendadak gadis itu diam tanpa kata.
"Mau kemana Qil?" Tanya Dokter Yosef.
"Mau pulang, hari ini jadwal kontrol Qila ke rumah sakit." Jawab Aqila.
"Tengah hari saja ya." Kata Dokter Yosef.
"Nanti Qila terlambat ngambil nomor antrian. Kata Mama harus menghargai kebaikan orang yang sudah tanggung biaya rumah sakit." Jawab Aqila.
"Masa ia terlambat ngambil antrian di jam segini?" Tanya Dokter Yosef.
"Iya, soalnya mau pagi jam berapa pun, biasanya antrian 1-5 sudah duluan di ambil sama keluarga yang punya orang dalam." Kata Aqila menjelaskan.
"Iya udah deh, nggak apa-apa antrian pertama di ambil orang dalam. Kamu kan pemilik dokternya, nggak usah antri. Di periksa siang malam juga boleh, geratis." Goda Dokter Yosef cengengesan.
"Apaan sih nggak jelas banget." Jawab Aqila.
__ADS_1
"Udah, berkemas dulu. Bangunkan Tika, terus kita pulang. Hari ini kontrolnya nggak usah di temani mama, kamu bisa tiduran di ruang kerja abang. Selagi abang periksa pasien yang lain." Ucap Dokter Yosef mengelus pucuk kepala Aqila.
Gadis itu kemudian berlalu masuk ke dalam tenda. Ia membangunkan Sartika sahabatnya, agar berkemas untuk pulang. Sedangkan Dokter Yosef mengerjai Randen dengan menggoreskan sendok makan di telapak kakinya.