
Matahari sudah memancarkan sinar yang lembut di pagi hari. Begitu juga alam menyambut dengan riang, ditandai dengan bunga yang segar bermekaran. Membuat siapapun yang hidup di bumi pertiwi menjadi makhluk yang paling beruntung.
Suasana rumah kediaman Roni Rananta sedikit berbeda dari hari yang lain. Kedua suami istri telah sepakat untuk melangsungkan acara lamaran untuk putra mereka, walaupun terkesan mendadak pagi ini. Tidak ingin nama baik sang putra tercemar adalah dorongan yang paling kuat bagi mereka sebagai orang tua.
Sedangkan Yosef Rananta masih menggulung dirinya dengan selimut. Sedikit keraguan ada dalam hati pria yang berprofesi sebagai dokter dan psikolog tersebut, ia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak mencintainya. Meskipun dirinya rela memberikan separuh jiwa karena sangat mencintai. Memaksakan kehendak tentu tidak pernah terpikirkan oleh Dokter Yosef sebelumnya.
Lama menunggu putranya bangun rupanya tidak membuahkan hasil bagi Mami Dina. Saat yang lain sudah siap berangkat pun, Yosef putranya belum kelihatan membuka pintu kamarnya.
"Mau diapakan lah anak ini?" Gumam Mami Dina saat mereka semua menunggu Yosef di ruang tamu.
"Sudah Mi, bangunkan dulu." Pak Romi menenangkan istrinya.
Wanita itu beranjak dari tempat duduk, ia berjalan menuju kamar putranya di lantai atas. Beberapa kali mengetuk pintu kamar sang putra, barulah pintu di bukakan.
"Mami?" Yosef Rananta seakan tidak tau kalau hari ini ia harus melamar Aqila.
"Osef kenapa lagi belum siap-siap? Benar-benar mau berhenti menjalani tugas kamu? Buat orang tua kecewa, sedih Mami." Mami Dina tidak mengerti jalan pikiran putranya.
"Mi buat apa di paksakan?" Yosef berjalan kembali ketempat tidurnya.
"Apanya yang di paksakan Osef? Bukannya kamu yang ngotot bilang sangat mencintai gadis itu." Mami Dina mengikuti Yosef, ia duduk di pinggir ranjang tempat tidur sang anak.
"Iya Mi, Osef cinta sama dia. Kalau dia nggak cinta sama Osef gimana Mi? Ahh, sudahlah Osef nggak mau." Ucap Yosef Rananta.
"Kalau dia nggak cinta, kenapa mau melakukan hal tidak terpuji sama kamu. Apa kamu memberi bayaran yang besar?" Mami Dina terpancing emosi.
__ADS_1
"Astaga Mami, tidak di sangka ternyata pikiran mami tentang wanita pilihan Osef begitu buruk ya Mi?" Ucap Yosef lembut tapi penuh penekanan.
"Bicara wanita ni ya Sef, kalau ia tidak berteriak atau melawan saat melakukannya. Itu tandanya wanita tersebut mencintaimu, karena biasanya mereka tidak mau mengungkapkan perasaan mereka secara terang-terangan." Mami Dina menurunkan ego demi kebaikan.
"Tapi Mi, Osef tau Aqila." Jawab Yosef dengan sedih.
"Sudahlah sayang, siapa tau dia menerima kamu. Mami janji tidak akan memaksa keputusan gadis itu nanti, demi kamu Nak." Janji Mami Dina.
"Baiklah, semoga Sang Khalik beserta kita dalam memutuskan hal ini." Jawab Yosef.
"Mandi lalu ganti baju, Mami tunggu di bawa. Jangan lama-lama ya, Papi dan Randen sudah lama menunggu." Mami Dina mengingatkan.
Tanpa menunggu jawaban putranya, nyonya Roni Rananta tersebut keluar. Ia turun kebawah untuk menunggu di ruang tamu dan mengecek segala perlengkapan yang di butuhkan.
Benar saja, tidak lama mereka menunggu. Yosef turun dari kamar. Menggunakan kemeja berwarna coklat muda dan celana hitam dengan sepatu yang senada di tambah jam tangan. Membuat ketampanan Dokter Yosef bertambah bagi siapa pun melihatnya, terlebih kaum hawa yang tidak ada ikatan darah.
Yosef hanya diam tanpa menjawab satu katapun pada adiknya. Padahal mereka paling heboh ketika ada kesempatan bersama, baik di rumah maupun sedang menghabiskan waktu di luar rumah.
Mami Dina melirik kearah Yosef, tidak ada terpancar semangat dari wajahnya. "Udah Nden, ayok anak Mami kita berangkat sekarang." Kata Mami Dina.
Mereka semua berangkat hanya menggunakan sebuah kendaraan yang di kemudikan oleh Randen. Di samping kemudi duduk Pak Roni dengan jas abu, menambahkan kesan formal.
Sedangkan Yosef duduk di kursi belakang bersama Mami Dina. Ia menggulung tubuhnya dengan selimut yang memang selalu berada di mobil mereka. Berusaha menghilangkan kegalauan hatinya walau sebentar saja.
Lebih kurang satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah orang tua Aqila yang ada di kota tersebut. Mereka belum pulang ke desa, karena masih melihat kondisi kesehatan Aqila.
__ADS_1
Yosef keluar dari mobil dan mengetuk pintu rumah, tidak berapa lama kemudian. Pak Pindri membuka pintu dan menyalami semua tamu. Walaupun kaget dengan kedatangan tamunya, Pak Pindri berusaha bersikap biasa saja.
"Selamat datang di rumah kami yang sangat sederhana ini, Bapak Ibunya Nak Dokter. Silahkan masuk." Ucap Pak Pindri mempersilahkan tamunya.
Setelah semua tamu duduk, Pak Pindri pamit untuk memanggil istri dan putri mereka yang ada di kebun pekarangan belakang rumah. Kemudian kembali ke ruang tamu bersama istri dan anaknya.
Dokter Yosef memandang Aqila yang sedari tadi menunduk. Ia tidak kuasa jika Aqila di salahkan atas perbuatan yang murni kesalahannya. Mami Dina meletakkan di atas meja beberapa bawaan dalam kotak yang terlihat mewah.
Pak Roni membuka pembicaraan dan mengungkapkan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Ia sebelumnya memperbaiki duduk agar terlihat lebih berwibawa.
"Bapak, Ibu kami kemari bermaksud melamar putri Bapak." Ujar Pak Roni setelah membuka pembicaraan.
"Terimakasih Pak, Bu. Tapi kenapa mendadak sekali, kami belum tidak pernah mendengar putra putri kita berteman dekat. Setau kami hubungan Nak Yosef dan Aqila hanyalah sebatas pasien dan seorang dokter saja." Jawab Pak Pindri.
"Kita saja yang tidak tau Pak, tapi nyatanya anak kita telah melakukan hal yang di luar batas. Di rumah sakit pula, hal itu akan menjadikan nama putra Kami buruk di mata umum dan pekerjaannya terancam. Maka dari itu kami meminta untuk mereka segera di nikahkan." Jelas Mami Dina.
Mendengar penjelasan dari orang tua sang dokter membuat Pak Pindri dan Mama Tita merasa malu. Mereka melamar putrinya semata-mata untuk menyelamatkan nama dan karir putra mereka.
Tapi untuk menolak juga Pak Pindri tidak mungkin karena anak mereka perempuan adalah pihak yang lemah. Merugikan bagi Aqila jika membatalkan permintaan dari keluarga Dokter Yosef karena atas nama kehormatan putrinya.
"Pak Bu, ini tidak seperti yang orang tua kita semua pikirkan. Ini murni kesalahan saya, dan tidak akan mengurangi sedikitpun kehormatan putri bapak dan ibu.
Jadi, Aqila boleh menerima ataupun menolak lamaran dari keluarga saya. Keputusan saya serahkan kepada Aqila sepenuhnya." Ucap Dokter Yosef seolah membantah ucapan Mami Dina.
"Bagaimana sayang?" Tanya Mami Tita. Wanita itu menggenggam tangan putri mereka sebagai kekuatan.
__ADS_1
"Iya Mi, Qila nggak apa-apa. Qila menerima lamaran Dokter Yosef demi kebaikan bersama." Jawab Aqila dengan wajah sedikit memucat.
Mendengar pengakuan dari Aqila, orang tua Dokter Yosef bisa bernapas lega. Namun tidak dengan Yosef Rananta sendiri, ia takut kalau pernikahan mereka hanya akan membawa derita.