Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Rencana Tuhan


__ADS_3

Yosef Rananta seorang Dokter muda mematung saat nada suara Ibunya meninggi. Kepada makhluk Tuhan yang satu ini, Yosef Rananta akan selalu tunduk dan patuh.


"Mami mau ke ruang kerja Osef dulu atau langsung pulang?" Tanya Dokter Yosef.


"Ke ruangan mu dulu. Mau menunggu orang tua Aqila tadi." Jawab Mami Dina.


"Baiklah Mi. Silahkan." Dokter Yosef mempersilahkan Mami Dina masik kedalam ruangan kerjanya.


Setelah mempersilahkan Mami nya masuk. Tiba-tiba saja seorang perawat meminta Dokter Yosef memeriksa kondisi pasien yang ada di ruang UGD, kebetulan dokter yang ada di sana sedang keluar sebentar. Lagi pula pasien yang datang sangar darurat, butuh tindakan secepat mungkin.


Mami Dina duduk di ruang kerja putranya, beliau memperhatikan foto mereka bertiga di meja kerja sang putra kesayangan. Sesekali memainkan ponsel miliknya untuk menghilangkan rasa bosan.


Menunggu sekitar dua puluh menit, Pak Pindri dan Mama Tita akhirnya datang menemui Mami Dina di dalam ruang kerja Dokter Yosef.


"Selamat pagi Bu." Kata suami istri itu menyapa.


"Selamat pagi, silakan duduk." Jawab Mami Dina.


"Maaf Bu, mengapa Ibu memanggil kami?" Tanya Pak Pindri.


"Begini Bapa Ibu, Saya sudah sepakat dengan Yosef untuk membiayai pengobatan putri Bapak dan Ibu mulai saat ini." Kata Mami Dina.


"Benarkah? Tapi mengapa Bu?" Jawab Mama Tita kaget.


"Terimakasih banyak Ibu. Maaf maksud istri saya bukannya pasien Dokter Yosef kan banyak sekali. Mengapa Ibu bisa memilih putri kami?" Tanya Pak Pindri berusaha menjelaskan.


"Ini adalah bentuk kepedulian kami sebagai sesama, lagi pula sudah beberapa orang pasien yang di bantu oleh putra kami." Kata Mami Dina.


"Kalau begitu terimakasih banyak Bu, kami sangat bersyukur Ibu ikhlas membantu kami." Kata Pak Pindri menunjukan kesungguhannya.


"Sama-sama Bapa Ibu, ini hanyalah sedikit bantuan. Bukankah dalam rejeki yang kita Terima ada juga milik orang lain yang di titip kepada kita." Kata Mami Dina.


"Iya Bu, semoga Yang Maha Pencipta melindungi keluarga Ibu." Kata Pak Pindri.


"Terimakasih doanya Pak." Jawab Mami Dina.

__ADS_1


Sedang mereka masih ngobrol di ruangan, Dokter Yosef telah selesai melakukan tindakan operasi bagi seorang pasien dengan keadaan kritis. Sekitar satu jam di ruang yang menegangkan, tidak membuat ekspresi Dokter muda itu berubah. Ia tetap cool dan santai kerena memang sudah pengalaman.


Bagi Dokter Yosef sudah tidak terhitung pasien yang ia pertanggung jawabkan di ruangan tindakan tersebut. Ia masuk ke ruangan kerjanya dengan santai.


Namun ketika melihat orang tua Aqila ada di situ, membuat Dokter muda itu sedikit grogi. Entah mengapa perasaan yang tidak biasa tiba-tiba muncul, bukan saat di dekat Aqila Putri melainkan ketika melihat Mami nya bertemu dan duduk bersama dengan orang tua Aqila.


"Selamat sore Mi, selamat sore Om dan Tante." Sapa Dokter Yosef.


"Selamat sore Dok." Jawab Pak Pindri dan istrinya hampir berbarengan.


"Sudah Mi?" Tanya Dokter Yosef.


"Sudah Sayang, keinginan mu membantu Aqila Putri sudah Mami sampaikan kepada orang tuanya. Dan syukur mereka menerima dengan baik niat tulus kita." Jelas Mami Dina.


"Iya Nak Dokter, kami banyak-banyak mengucapkan terimakasih." Sahut Mama Tita.


"Sama-sama Om, Tante. Saya sudah menganggap Aqila sebagai teman, karena kami saling mengenal." Jawab Dokter Yosef kemudian.


"Kalau begitu kami mohon permisi dulu Bu, Nak Dokter, Aqila tadi gak ada yang jaga." Kata Mama Tita.


Setelah bersalaman, kedua suami istri tersebut berbalik badan meninggalkan dia orang anak dan ibu tersebut. Mereka khawatir putrinya telah terjaga dan melihat tidak ada Mama dan Ayahnya yang menjaga. Suami istri tersebut kembali dekat ruangan putrinya di rawat dengan perasaan penuh haru.


"Ma, baik sekali Dokter Yosef itu ya. Masih muda tapi memiliki rasa sosial yang tinggi." Kata Pak Pindri.


"Iya Yah, memang mereka terlihat sangat bahagia. Ibunya saja sangat mendukung sikap putranya. Memang kalau rejeki yang berkah membuat orang tersebut bersinar." Jawab Mama Tita kagum.


"Kita berhutang budi pada mereka." Kata Pak Pindri.


"Jangan terlalu dipikirkan Yah, semua sudah Tuhan atur. Mungkin pertolongan kita melalui mereka." Kata Mama Tita dengan pelan.


"Ini adalah salah satu jawaban dari doa kita selama ini Ma." Kata Pak Pindri.


"Iya Yah, selalu ada jalan keluar bagi mereka yang percaya." Kata Mama Tita menguatkan suaminya.


Memang sebenarnya orang tua Aqila sedang kekurangan biaya untuk melanjutkan pengobatan putri mereka. Sebagian kebun sawit sudah mereka jual demi berusaha membuat sang anak kembali sehat.

__ADS_1


Namun uang dari penjualan kebun sawit dan hasil panen kebun yang sebagian lagi sudah semakin menipis. Sudah dia bulan penuh Aqila di rawat di rumah sakit ini, dengan keadaan kesehatannya belum stabil. Selain berusaha tentu mereka juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk kesembuhan Aqila.


***


Dokter Yosef akan mengantar Mami Dina pulang ke rumah. Setelah itu rencananya ia akan kembali untuk menemani calon kekasihnya yang masih terbaring di rumah sakit. Meskipun hanya melihat sesekali, Yosef Rananta ingin memastikan dirinya akan selalu ada saat di butuhkan.


Malam ini Dokter Yosef akan menginap di rumah sakit. Ia akan tidur di ruang kerjanya, sesekali akan melihat Aqila diruang ICU. Namun ia terlebih dulu akan mengantar Mami Dina pulang ke rumah, kemudian membersihkan badan.


Saat Dokter Yosef sedang membukakan pintu untuk sang Mami tersayang, tiba-tiba ponsel Dokter Yosef berdering. Dokter Yosef mengambil ponselnya dari dalam saku celana, terlihat kontak Dokter Derwan menghubunginya. Ia terlebih dahulu meminta izin kepada Mami Dina.


"Mi sebentar ya, ada telepon dari Om Derwan." Kata Dokter Yosef kepada Mami Dina.


"Ya." Jawab Mami Dina.


Wanita itu telah duduk manis di kursi mobil bagian depan. Ia memoles wajahnya dengan bedak yang sudah siap di tas. Sambil menunggu putranya selesai menelepon.


"Halo Om." Sapa Dokter Derwan.


"Halo, Yos lagi sibuk nggak? Om mau bicara sama kamu." Kata Dokter Derwan dari sambungan telepon.


"Iya Om, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" Kata Dokter Yosef.


"Yos, Om masih lama di luar kota. Bagaimana kalau pasien Om Aqila Putri, kamu yang tangani. Sepertinya kamu bisa merawat gadis itu sampai sembuh." Kata Dokter Derwan.


Bagai di sambar petir, hati Dokter Yosef berdebar kencang. Ia tidak menyangka bisa menjadi dokter dari pasien yang di cintainya. "Ah, rasanya seperti mimpi. Mana mungkin saya menolak Om." Kata Dokter Yosef dalam hati.


"Bagaiman Yos, kamu bersedia menggantikan Om?" Tanya Dokter Derwan mengagetkan lamunan rekannya itu.


"Hem, S-saya bersedia Om. Saya bersedia." Jawab Yosef Rananta.


"Terimakasih ya Yos, Om yakin sama kamu. Soal surat pengalihan pertanggungjawaban nanti Om buatkan." Kata Dokter Derwan.


"Iya Om." Jawab Dokter Yosef.


Setelah mengucapkan terimakasih, Dokter Derwan memutuskan sambungan telepon. Sedangkan Yosef Rananta kembali ke mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2