Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Hasil


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, Aqila telah tiba di ruangan CT-Scan. Ia hanya terbujur tanpa bergerak sedikit pun. Bajunya telah di lapisi dengan baju khusus di sediakan oleh rumah sakit.


Para petugas memindahkan Aqila ke tempat tidur ruangan tindakan. Sedang Mama Tita dan Pak Pindri hanya melihat putri mereka dengan pembatas dinding kaca.


Di ruangan tersebut, dengan pelan tempat di mana Aqila tertidur bergerak maju dan mundur. Sehingga sinar-x dua kali melewati tubuh Aqila. Setelah itu, para perawat yang bertugas mengeluarkan Aqila dari ruangan tersebut.


"Sudah selesai Pak, Bu. Hasilnya kita lihat aja sekitar dua jam kemudian. Nanti Dokter akan menjelaskannya kepada Bapak dan Ibu." Kata Seorang perawat.


"Baik Pak, terimakasih." Kata Pak Pindri.


"Karena anak Bapak dan Ibu belum juga sadarkan diri, kami tetap memasang alat bantu pernafasan. Nanti kalau delapan jam belum juga sadar, kami akan menambah kan alat bantu untuk memasukan makanan." Kata perawat tersebut.


"Baik Pak." Jawab Pak Pindri.


Aqila kemudian diantar kembali kedalam ruang perawatan. Suami istri itu memandang putri mereka dengan suasana hati yang gelisah.


Detik demi detik seakan lembat berlalu. Harapan mereka hanya satu putri mereka segera sadar dan sehat kembali. Tidak terasa air mata seorang Ayah jatuh juga setelah lama di tahannya.


"Nak, sadarlah sayang." Kata Mama Tita.


Namun kembali tidak ada jawaban. Sekitar setengah jam kemudian, mata Aqila terbuka dengan perlahan. Membuat rasa bahagia yang tidak terukur bagi Mama Tita dan Pak Pindri.


"Ma, ha-us." Kata Aqila dengan suara seperti tertahan.


"I-iya Nak." Jawab Mama Tita.


Ia memberikan air minum kepada putri mereka menggunakan sendok. Sedikit demi sedikit akan membasahi tenggorokan Aqila.


"Udah sayang?" Tanya Mama Tita.


Aqila hanya membalas dengan anggukan kecil. Meskipun putrinya belum bisa ceria kembali, setidaknya ada kebahagian bagi Mama Tita karena Aqila sudah sadar.


Mungkin karena senangnya, membuat mereka berdua lupa memberitahu perawat bahwa putri mereka sudah sadar. Beberapa menit kemudian barulah Pak Pindri menemui perawat di ruangan sebelah.


"Permisi Bu, Saya memberitahu kalau putri kami sudah sadar." Kata Pak Pindri kepada salah satu perawat perempuan yang bertugas hari itu.

__ADS_1


"Iya Pak, Kami akan segera periksa." Jawab perawat tersebut.


Tiga orang perawat bergegas menemui Aqila di ruangan. Mereka mengecek tensi darah, suhu tubuh dan bola mata Aqila.


"Kondisi kesehatan putri Bapak dan Ibu sudah sedikit membaik." Kata salah satu perawat tersebut.


"Hem, Kira-kira kapan Bu bisa di ketahui penyakit putri kami? Hasil laboratorium dan CT-Scan tadi." Tanya Mama Tita.


"Sebentar lagi Dokter datang kemari, beliau lah yang berhak menjelaskan kepada Bapak dan Ibu nantinya." Kata Perawat tersebut.


"Baiklah Bu, sekali lagi kami berterimakasih." Kata Mama Tita.


"Sama-sama.Kami permisi dulu." Kata Perawat itu, mereka kembali keruangan tugas.


Aqila hanya berbaring lemas, matanya terbuka namun wajahnya sangat pucat. Wajar saja tensi darahnya belum naik dari tadi pagi. Kedua orang tuanya seakan enggan meninggalkan Aqila walau hanya sebentar saja.


***


Panggilan berdering dari tadi, membangunkan seorang Yosef dari ranjang kemalasannya. Di sebut ranjang malasnya karena ketika sudah di tempat tidur tersebut, ia bisa berhari-hari berbaring tanpa merasa bosan. Makan dan minum pun ia bawa ketempat tidurnya.


Om Derwan, tertulis di layar ponsel milik Dokter muda tersebut. Dengan malas Dokter muda itu menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Halo Om, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Yosef dengan suara masih serak.


"Halo Yos, ini penting mendadak sekali. Pasien saya yang atas nama Aqila Putri, sekarang dia drop dan tidak sadarkan diri. Saya mohon kamu segera ke rumah sakit sekarang, karena Om baru tiba di kota B. Om minta tolong ya Yos." Kata Dokter Derwan melalui sambungan telepon.


Mendengar nama Aqila Putri di sebut. Hati Yosef berdegup kencang, membayangkan gadis mungil tersebut terbaring lemah. Ada perasaan ingin menyelamatkan dia dengan sekuat jiwa dan raga. Melihatnya tersenyum ceria dan meledeknya seperti hari lalu, membuat hati Dokter Yosef sedikit rindu.


Namun mengikuti kata hatinya adalah kekonyolan bagi logika. Dokter muda itu menekan emosi nya sebelum menjawab permintaan Dokter seniornya, yaitu Dokter Derwan.


"Baik Om, saya akan menggantikan Om. Tapi untuk hari ini saja Om, besok saya harus mengisi seminar sampai 3 hari ke depan." Kata Dokter Yosef.


"Baiklah, terimakasih Yos. Tadi pasien sudah di CT-scan dan hasil laboratorium sudah harus keluar sore ini. Tolong sampaikan hasil diagnosa kepada keluarga pasien dengan terbuka." Kata Dokter Derwan mengingatkan.


"Baik Om." Jawab Yosef.

__ADS_1


Setelah mengucap salam dan sambungan ponsel telah di putuskan oleh dokter Derwan. Yosef Rananta dengan cepat mencuci mukanya tanpa membersihkan seluruh tubuh, ia mengambil baju kebesarannya dan tas kerja.


Dokter muda itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia juga tidak sempat berpamitan kepada orang tuanya maupun orang yang bekerja di rumah mereka.


Sekitar lima belas menit dari Dokter Derwan menghubunginya. Dokter muda Yosef Renanta telah tiba di depan rumah sakit Citra medikal. Memasuki ruangan dan mengecek hasil diagnosa penyakit pasien atas nama Aqila Putri.


"Selamat siang Pak. Ini surat hasil pemeriksaan pasien." Kata Seorang perawat yang bertugas.


"Baiklah." Jawab Dokter Yosef.


Ia pertama kali membuka surat hasil dari laboratorium. Melihat dari atas dan kebawah lembaran kertas tersebut, tidak ada yang membahayakan. Memang ada virus di dalam darahnya tetapi virus itu sudah tidak aktif.


Dokter muda tersebut membuka hasil CT-Scan kepala pasien. Ia memperhatikan dengan saksama. "Aish, bahaya sekali ini." Gumam Dokter Yosef. Akhirnya terjawab sudah masalahnya, ada cairan di sekeliling otak bagian sebelah kiri. Membuat gambar dari hasil CT-Scan nya, otak sebelah kiri terlihat lebih besar.


"Menurut petugas laboratorium, ada masalah di otak pasien. Untuk pendalamannya mereka masih mempelajarinya." Kata perawat tersebut.


"Saya sudah mengerti. Kalian ikut saya ke ruangan pasien." Kata Dokter Yosef.


"Baiklah Dok." Kata perawat tersebut.


Dokter Yosef dan dua perawat mengiringinya, masuk ke ruangan di mana Aqila di rawat. Dari jauh Dokter sudah memperhatikan wajah Aqila yang sangat pucat. Kasihan, mungkin itu yang terpatri di hati seorang dokter yang jarang bergaul itu.


"Selamat sore Pak Bu, saya disini menggantikan Dokter Derwan. Beliau lagi ada di luar kota sekarang." Kata Dokter muda itu menyapa keluarga pasien.


"Selamat sore Dok." Jawab Pak Pindri.


Dokter Yosef mendekat ke arah Aqila, Ia memeriksa suhu tubuh gadis itu. Juga melempar senyuman termanisnya.


"Selamat sore putri, semangat ya. Kata orang hati yang gembira adalah obat yang manjur. Ini untuk kamu." Kata Dokter Yosef.


Ia memberikan setangkai mawar putih ke tangan Aqila. Perasaan Aqila senang sekali saat itu, namun seorang perawat menimpali membuat Aqila tidak ingin berharap lebih.


"Dokter Yosef ini memang baik Pak Bu, semua pasien pasti di beri perhatian khusus loh." Kata Seorang perawat.


"Oh iya, salah satu Bapak atau Ibu mari ikut keruangan saya. Ada hal yang saya mau sampaikan." Kata Dokter Yosef kepada orang tua Aqila.

__ADS_1


__ADS_2