
Pagi ini di sebuah apartemen baru yang mereka tempati, sebagai kado pernikahan menjadi saksi kehidupan rumah tangga Arya dan Monita. Selama beberapa minggu mereka lewati, sudah beberapa kali mereka bertengkar.
"Mon, tunggu. Kapan kita jadi pergi?" Teriak Arya.
Wanita itu seolah tidak mendengar teriakan Arya. Ia terus melangkah menuruni anak tangga, langkah demi langkah tanpa menghiraukan suara suaminya.
Tak habis pikir Arya langsung berlari mengejar Monita. Ia menarik tangan wanita tersebut dengan sedikit kasar.
"Kenapa sih?" Tanya Monita.
"Saya hanya mau tanya, kapan kita jadi berangkat?" Tanya Arya.
"Makanya Bang, lain kali jangan datang ke kantornya Monit. Sekali-kali jangan! Nanti ada waktu saya kenalkan abang ke semua teman kantor." Kata wanita itu dengan sangat marah.
"Baiklah, abang minta maaf soal kemarin. Tapi tolong dong mengerti, dompet kamu ketinggalan. Sekalian abang mampir ke kantor kamu sebelum pergi bekerja." Kata Arya mencoba menjelaskan.
"Oke, Monit terima permintaan maaf abang kali ini. Tapi Monit nggak mau kalau abang ulangi lagi datang ke kantor. Sampai nanti Monit sudah siap memperkenalkan abang sebagai suami Monit." Jawab Monita dengan ekspresi muka datar.
"Iya." Jawab Arya singkat.
"Saya ke kantor sebentar, abang siapkan aja dulu pakaian kita. Selesai nanti langsung berangkat." Kata Monita.
"Kita jadi kemana sayang?" Tanya Arya.
Jiwa laki-lakinya bersemangat karena dari hari pernikahan Arya belum pernah merasakan gurihnya daging empuk milik istrinya. Saat Arya meminta menunaikan kewajiban itu, istrinya selalu menolak dengan berbagai macam alasan.
"Ke pulau E, biar nggak ada yang ganggu." Jawab Monita sambil berlalu pergi.
Semakin senang hati seorang Arya, saat-saat yang ia nantikan akan segera tiba. Laki-laki itu berlalu kembali ke kamar mereka untuk menyiapkan segala sesuatu yang mereka perlukan.
***
Hujan telah reda, namun cuaca di pulau E masih sangat dingin. Arya hanya membasahi wajahnya dengan air, selebihnya ia tidak tahan karena sangat dingin.
Monita sudah bersiap dengan ronda malam mereka. Wanita itu seakan sudah terbiasa melakukannya.
__ADS_1
Ia melepas helaian penutup tubuhnya satu persatu, menyisakan bagian penutup gunungan kembar dengan bahan berenda berwarna pink fanta. Juga bagian lembah kenikmatan juga dengan penutup yang senada.
Melihat Arya sudah keluar dari kamar mandi. Monita menarik laki-laki tersebut ke atas ranjang.
"Ini kan yang kamu mau?" Bisiknya.
Ia membuka handuk yang melingkar di pinggang Arya. Hingga membuat benda pusakanya nampak berdiri tegap.
Tanpa ba-bi-bu, Monita mengelus pucuk kanopi pusaka milik Arya dengan lidahnya. Ia menikmati senti demi centi benda tersebut. Menikmati bagai merasakan manisnya permen lolipop.
Membuat Arya merasakan kenikmatan yang telah ia bayangkan selama pernikahan. Mulut istrinya yang maju mundur di barang pusakanya menambah gairah lelaki Arya menjadi luar biasa.
"Enak sayang." Arya menekan kepala Monita lebih dalam.
Ia tidak tahan lagi ingin memuntahkan lahar hangat miliknya. Berkali-kali hentakkan Arya memancarkan lahar hangat miliknya, tanpa merasa jijik Monita menelan habis cairan tersebut dengan nikmat. Ia membersihkan sisa-sisa cairan tersebut dengan lidahnya yang terasa lembut di ujung benda pusaka milik Arya.
"Enak Bang, seperti ini yang kamu mau sampai cemberut beberapa hati ini?" Tanya Monita.
Setelah puas ******* bagian bawah Arya, Monita bergerak ke atas. Menempelkan bibirnya dengan milik Arya, menjelajah ke dalam dengan rasa surga dunia. Bertukar saliva dan saling hisap menjadi poin plus bagi Monita.
Kemudian Monita sengaja memutar tubuhnya, sehingga posisi mereka berlawanan arah. Ia memposisikan lembah kenikmatan miliknya tepat di atas muka Arya.
Laki-laki itu terlihat lemas setelah inti kehidupannya sudah sekali terkuras. Monita sepertinya tidak ingin membuang waktu, karena dirinya masih menggebu-gebu ingin menikmati malam mereka.
Arya melepas benda berbentuk segitiga milik Monita dengan perlahan. Sehingga nampak jelas di dekat matanya lembah kenikmatan milik istrinya tersebut.
Monita menurunkan pinggulnya hingga lembah kenikmatan miliknya jatuh tepat di muka Arya. Melihat Arya hanya diam, Monita memberikan petunjuk bagi suaminya. Pikir Monita mungkin saja Arya belum tau caranya.
Monita memasukan jari tengah miliknya kedalam lebah tersebut. Ia ingin Arya menjelajah menggunakan lidah.
"Bang, gini. Masukan, ehm aduk-aduk. Biar enak." Rancau Monita.
Setelah wanita tersebut menarik jarinya, Arya segera melakukan apa yang di perintahkan oleh sang istri. Dengan pelan sekali ia memasukan lidahnya mengenai bibir milik Monita.
"Aah-ah-ahhh. Lagi Bang!" Monita semakin menekan tubuhnya.
__ADS_1
Perlahan Arya mulai menikmati kembali ritual yang mereka lakukan. Ia menghisap benda sebesar kacang tanah di dalam lembah pusaka tersebut. Memasukan lidahnya sampai sebisa mungkin menjangkau dalamnya.
Menarik ulur seakan tidak mau berhenti, Arya menyadari kalau barang pusaka miliknya telah kembali berdiri.
"Sayang, masukin yuk." Rengek Arya.
"Bentar Bang, Monit mau keluar sekali dulu. Hisap Bang." Kata Monita.
Tanpa menjawab, Arya melakukan permintaan istrinya. Hampir seluruh wajahnya terkena becek dari lembah kenikmatan tersebut. Ia terus mengaduk milik sang istri karena ia belum berhenti meminta.
"Sayang, tambahkan dengan jari Abang dong. Yang dalam kocoknya." Pinta Monita.
Arya langsung memasukan jari tengah dan jari telunjuknya, kemudian ia menjilati sisa-sia cairan yang ada di pinggir milik istrinya.
"Sudah sayang, masukkan lah milik mu biar kita keluar sama-sama." Pinta Monita.
Monita kembali memutar badannya, membuat mereka sejajar berhadapan. Monita memegang benda pusaka milik Arya, lalu menancapkannya ke lembah miliknya.
Setelah benda itu menancap, Monita mencari bibir Arya. Ia menghisapnya dengan penuh nafsu. Memeluk Arya dengan erat, kemudian membawa kepala Arya menuju benda kenyal kembar miliknya.
"Kenyot Bang, masa nempel doang." Kata Monita.
Arya dengan sedikit malu-malu kerena istrinya lebih paham darinya. Ia menyusu rakus menggenjot atas bawah milik Monita istrinya. Lidahnya menelisik ke seluruh bagian leher jenjang milik wanita yang sekarang sudah sah menjadi miliknya.
"Sayang udah mau keluar lagi." Kata Arya.
"Bentar lagi Bang." Kata Monita, ia secepat mungkin merangsang dirinya. Hingga seluruh tubuhnya berdesir hebat, tanda puncak orgasme akan segera tiba.
"Ayok Bang, satu, dua...,"
"Aaaaggghhhh." Teriak mereka bersama-sama.
Dengan lemas Monita masih berbaring di atas tubuh Arya yang sudah lunglai, lemas tak berdaya. Arya meletakkan tubuh Monita pelan di samping dirinya. Gugur sudah keperjakaannya malam ini.
"Terimakasih Sayang." Kata Arya.
__ADS_1
"Lemas sekali, tidurlah. Sore besok kita pulang Bang. Soalnya banyak kerjaan yang sudah menunggu." Kata Monita. Wanita itu memasang kembali pakaian yang telah berserakan.
"Iya sayang, kamu juga tidurlah." Jawab Arya sambil memejamkan matanya.