
Aqila memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk. Hal itu mungkin juga di karenakan efek dari obat yang di minumnya.
Sedangkan Dokter Yosef masih memastikan pasiennya ini benar-benar tidur. Setelah itu ia berpamitan keluar ruangan. Dokter Yosef juga menelepon sopirnya untuk mengambil jaket dan selimut yang masih ada di atas bangku. Kemudian memintanya mengantar jaket dan selimut tersebut ke laundry terdekat.
"Tolong jaga setiap pasien, jangan sampai hal yang tadi kembali terjadi." Kata Dokter Yosef ketika tepat di meja perawat.
"Baik Dok." Jawab mereka bertiga.
Dokter Yosef berlalu meninggalkan bangunan yang bertingkat lima tersebut. Ia kembali ker rumah dengan mengendarai motor, sebenarnya tadi sopir pribadinya membawakan mobil. Tapi Dokter Yosef mau menikmati angin dini hari, dan juga antara rumah ke rumah rumah sakit tempat ia bekerja tidak terlalu jauh.
***
Pagi ini Arya masih berbaring di tempat tidurnya. Matahari pagi sudah masuk menembus kaca bening jendela. Ia merasa bersalah kepada Aqila dengan tidak pernah menemuinya lagi di rumah sakit. Namun bagi Arya orang tua adalah uang nomor satu, apalagi mengenai kehendak Sang Mami.
Dengan rasa malas Arya masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hari ini Mami Reni mengajak Arya menemui Monita anak dari Maya, salah satu teman arisannya Mami Reni. Jika Arya cocok, rencananya Mami Reni ingin menjodohkan anak mereka. Monita sendiri adalah pewaris tunggal beberapa aset dan bisnis sang ayah.
"Sayang, sudah bangun belum. Mami udah siap nih." Mami Reni setengah berteriak. Ia mengetuk pintu kamar putranya.
"Bentar Mi, Arya masih ganti pakaian." Jawab Arya tanpa membukakan pintu.
"Oke, Mami tunggu di bawa ya." Mami Reni kemudian.
"Iya Ma." Jawab Arya.
Arya turun dengan menggunakan kaos berwarna toska di padukan dengan celana semi Jean berwarna navy. Ia mengenakan jam tangan menambah gagah penampilan Arya.
Ia turun menemui Mami Reni, meminum susu dan sedikit menikmati nasi goreng sebagai sarapan sebelum mereka berangkat. Arya memasrahkan semua kepada Mami Reni tentang penilaiannya terhadap gadis yang akan menjadi istrinya di kemudian hari.
"Udah selesai sayang?" Tanya Mami Reni.
__ADS_1
"Sudah Ma, ayo kita berangkat." Jawab Arya.
"Yuk, jangan sampai Monita yang menunggu kamu." Kata Mama Reni.
Arya mengeluarkan mobil dari garasi. Kemudian ia membukakan pintu mobil untuk Mami Reni. Sedangkan Pak David, ayahnya Arya sudah pergi bekerja sedari tadi pagi.
"Silahkan Mi." Kata Arya.
Mereka menuju sebuah kafe yang telah di pesan oleh Mami Reni khusus untuk pertemuan putranya dengan putri Maya yaitu Monita. Lebih kurang sekitar lima belas menit mereka telah sampai di depan kafe bernuansa serba merah seperti khas Tionghoa tersebut.
Mami Reni menggandeng putranya menuju tempat VIP yang sudah ia pesan. Saat mereka tida di sana, Maya dan putrinya Monita belum datang. Mami Reni bisa bernapas lega, kemudian sekitar lima menit menunggu akhirnya tamu yang di tunggu datang juga.
"Hay Jeng, maaf kalau lama menunggu. Tadi kami terjebak macet.
Kata wanita setengah baya, sekitar seumuran Mami Reni. Tapi mungkin karena sering menjaga makanan dan olahraga membuat perempuan tersebut terlihat lebih mudah dari usianya.
Di samping Tante Maya berdiri seorang gadis dengan tinggi sekitar 170cm, dengan rambut pirang yang di buat bergelombang, hidung yang mancung dan memiliki bola mata coklat dengan sorot mata yang tajam. Sebenarnya wanita ini berbanding terbalik dengan sosok Aqila yang seratus persen mirip wanita lokal. "Wow cantik juga, setidaknya enak kalau di ajak ke pesta teman-teman." Jiwa liar Arya berbisik.
"Cantik sekali Jeng, kok bisa ya produk kalian berbeda sekali dengan Jeng Maya." Kata Mami Reni memuji Monita.
Mami Reni mengulurkan tangan kepada Monita. Uluran tangan Mami Reni di Terima baik oleh gadis setengah bule tersebut.
"Iya Jeng, dia nggak mirip sama saya. Mirip Papanya yang import." Kata Tante Maya sedikit berbisik dan ketawa kecil.
"Oh iya, perkenalkan ini putra Tante Nit. Arya namanya." Kata Mami Reni.
Arya mengulurkan tangan kepada Monita. "Wah, ganteng sekali." Kata Monita menerima uluran tangan Arya dan memberinya pujian.
"Terimakasih, kamu juga cantik." Jawab Arya.
__ADS_1
"Terimakasih." Ucap Monita malu-malu.
"Nampaknya putra putri kita cocok Jeng. Ayo-ayo silahkan duduk." Kata Mami Reni mempersilahkan tamunya duduk.
Mereka memesan makanan sesuai dengan pilihan masing-masing. Kemudian Mami Reni dan Tante Maya sibuk membahas tentang banyak rencana mereka di kemudian hari.
Arya yang sudah mendapat sinyal dari hadirnya Monita, ingin mengajak gadis tersebut pergi berjalan-jalan di taman sekitar kafe. Arya dan Monita seperti pajangan saja ketika orang tua mereka sibuk dengan banyak bahasan dunia mereka sendiri.
"Mi Tan, kalau boleh Arya mau mengajak Monit jalan ke taman sekitar sini dulu, sekalian ngobrol." Pinta Arya.
"Boleh dong sayang, masa iya nggak boleh. Tante senang kalau kalian saling menyukai." Jawab Tante Maya. Arya dan Monita salin berpandangan, lalu tersenyum.
"Permisi ya Mi, Tante." Kata Arya.
Arya menggenggam tangan Monita dengan erat. Membawa gadis tersebut duduk di bangku taman. Duduk sambil berpandangan, seakan hanya mereka yang merasa bahagia saat ini. Arya sudah benar-benar melupakan Aqila yang saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit.
"Mon, saya benar-benar mau serius sama kamu. Umur kita udah cukup dewasa dan juga saya anak satu-satunya. Mami sudah mau menimang cucu dari saya." Kata Arya langsung pada intinya.
"Saya juga terpesona saat pertama kali tadi memandang Abang. Sepertinya Monita sudah jatuh cinta kepada Abang." Jawab Monita malu-malu.
"Kalau begitu sekarang kita resmi sebagai sepasang kekasih ya. Senang sekali bisa memiliki mu yang cantik jelita." Kata Arya menggenggam tangan Monita lalu menciumnya.
"Sayang, saya punya sesuatu untuk kamu. Semoga kamu dengan senang hati mau menerimanya." Kata Arya.
Ia mengeluarkan sebuah kota berbentuk love dari saku celananya. Arya kemudian berjongkok membuka kotak kecil berwarna merah tersebut dan menghadap Monita kekasih barunya. Sebuah cincin berkilau terlihat di dalam kotak yang di pegang Arya.
"Wow, ini untuk saya?" Tanya Monita ragu.
"Iya sayang, ini untuk kamu. Semoga suka dan kita langgeng sampai ke pelaminan." Ucap Arya.
__ADS_1
Saat Arya hendak memasangkan cincin ke jari manis Monita. Saat itu juga seorang laki-laki melihat mereka dari kejauhan. Memperhatikan mereka dengan mengepalkan tangan. Tadinya pria itu hanya ingin membeli makanan di kafe tersebut. Namun saat ia melihat Arya yang sekilas di kenalnya, ia pura-pura bermain ponsel di dekat mobilnya yang sudah terparkir.