Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Pertunangan


__ADS_3

Pagi yang cerah menambah semangat bagi semua makhluk hidup yang ada di planet berwarna biru. Semua yang nampak terlihat sangat indah ciptaan Sang Pencipta Alam Semesta.


Begitu juga dengan sebuah keluarga besar, mereka telah siap dengan dandanan yang rapi. Menampakan kesan gagah dan cantik menambah kesan mewah kalangan atas bagi mereka.


Hari ini adalah hari yang telah di tentukan kedua belah pihak, sebagai hari di mana Arya akan melamar Monita Ardenla putri dari Bapak Hendrix Ardenson dan Ibu Maya Lestari.


"Arya kamu sudah siap sayang?" Panggil Mami Reni kepada putranya setengah berteriak.


"Bentar lagi Mi, yang lain udah siap Mi?" Tanya Arya balik.


"Udah, semua udah pada ngumpul di sini." Kata Mami Reni.


Tidak berselang beberapa menit, Arya sudah turun dari kamarnya. Menggunakan jas berwarna hitam memakai dalaman putih dipadukan dengan sepatu warna senada, menambah kegagahan dari seorang Arya.


"Wah ganteng sekali Abang kami ini." Celetuk Sari, salah satu sepupu Arya.


"Iya dong, Abangnya siapa dulu. Adiknya juga cantik sekali." Goda Arya, gadis remaja itu tersipu malu.


"Ayoklah, nanti kita terlambat." Kata Pak David.


Semua masuk kedalam mobil masing-masing. Tidak lupa satu mobil penuh terisi berbagai macam jenis hantaran. Nantinya akan di berikan kepada pihak perempuan. Sedang iring-iringan di mobil paling adalah Arya dan kedua orang tuanya beserta sorang supir pribadi mereka.


Hanya butuh waktu kurang lebih satu jam, kendaraan mereka semua sudah berjejer rapi di parkiran khusus. Acara lamaran dan pertunangan tersebut di laksanakan di sebuah gedung yang telah mereka sewa sebelum hari H. Pihak calon besan menyambut rombongan Pak David dengan senyuman terbaik mereka.


"Silahkan masuk Bapak Ibu, Silahkan duduk di kursi yang telah kami sediakan." Kata salah seorang panitia laki-laki.


"Terimakasih Pak." Jawab Pak David.


Mereka semua menuju tempat duduk yang telah di sediakan. Sedangkan Arya telah di jemput Monita untuk naik ke singgasana mereka.


"Selamat datang di momen yang tak terlupakan Sayang." Ucap Monita yang tersenyum sumringah di samping Arya.


"Iya Sayang, Abang sangat beruntung bisa memiliki kamu." Kata Arya.


"Terimakasih sayang." Jawab Monita.


"KAh, detik-detik menegangkan. Berapa menit lagi Sayang acara intinya di mulai?" Tanya Arya.


"Masih lima belas menitan lagi Yang, sabar ya." Jawab Monita.

__ADS_1


"Abang deg-degan nih." Kata Arya.


Monita hanya membalas dengan elusan di dada Arya. Hiburan terus berlangsung, para keluarga dan tamu undangan bergantian menyumbangkan lagu terbaik yang mereka sukai sebagai ucapan selamat kepada Arya dan Monita. Mereka juga mengundang dua orang penyanyi artis lokal dari provinsi tetangga.


***


"Yoseffff." Teriak seorang wanita. Ia buru-buru masuk ke kamar putranya.


Beliau adalah Vedina, wanita yang telah melahirkan Yosef Rananta. Sekaligus adalah wanita hebat yang telah melahirkan seorang Dokter hebat di sukai banyak orang, baik di kalangan pasien yang telah bertemu dengannya. Maupun teman sekerja dan pemerintah daerah yang telah banyak memberikan apresiasi mereka.


Namun pribadinya yang mendapat pujian demi pujian yang terlontar di luaran sana, sungguh berbanding terbalik dengan pribadi seorang Yosef Rananta ketika kembali ke rumah.


Pribadi yang manja dan doyan makan tersemat pada dirinya. Di tambah lagi kebiasaan tidurnya yang susah di bangunkan serta dengkuran keras yang di hasilkan ketika terlelap membuat Mami Dina kadang berteriak.


Tentu kebiasaan buruk dari Dokter muda ini hanya di ketahui oleh orang-orang terdekatnya, bahkan Yosef tidak pernah mau jika harus tidur bersama orang lain. Selain kedua orang tuanya.


"I-iya Mi." Kata Yosef Rananta mengusap mata yang enggan terbuka.


"Ingat kan Nak, kamu janji apa sama Mami." Kata Mami Dina lembut tapi bagaikan singa yang menyeringai.


"Eh, iya Mi. Bentar, sabar ya Mami ku sayang." Kata Yosef mencoba memfokuskan penglihatannya.


"Acaranya di mulai lima belas menit lagi Osef, Tega sekali kamu sama Mami." Kata Wanita tersebut. Ia duduk di pinggir tempat tidur putranya dengan gelisah.


"Iya Mi, ini sudah selesai. Let's go." Kata Yosef.


Ia menggandeng tangan Mami Dina. Wanita tersebut sempat bingung, putranya ini secepat kilat berganti pakaian menjadi seperti ini.


"Cepat sekali Osef ganti pakaiannya begitu." Mami Dina mengeluarkan unek-uneknya.


"Mami aja yang ngomel sampai lupa waktu." Jawab Yosef.


"Silahkan masuk Mami sayang, nanti Mami bilang juga cepat sekali sudah sampai di dekat mobil. Nah, kan kita berjalan nurunin tangga sambil dengan omelan Mami, iya kan Mi?" Tanya Yosef kepada Mami nya.


Ia melajukan mobil dengan pelan. Kemudian setelah keluar komplek kendaraan mereka melaju dengan kecepatan bertambah dia kali lipat.


"Iya juga ya, kadang kalau lagi ngomelin kamu tuh suka lupa waktu. Tapi kamu nya sendiri suka minta di kok." Kata Mami Dina melakukan pembelaan.


"Iya Mi, tapi Mami nanti cepat tua. Kasian loh Papi kalau istrinya nggak cantik lagi. Ingat Mi kecantikan dari dalam mempengaruhi kecantikan yang ada diluar. Hehe." Kata Yosef mencoba memberi sugesti Maminya tersayang.

__ADS_1


"Iya Deh Mami minta Maaf yah." Kata Mami Dina.


"Iya Mi, nih kita sudah sampai." Kata Yosef.


"Oh, ayo kita masuk." Kata Mami Dina.


Mereka masuk setelah Mami Dina tanda tangan pada buku tamu. Panitia memberikan bingkisan yang berisi sovenir. Ketika mata Yosef mencari pasangan yang sedang bahagia di hari pertunangan mereka. Dadanya berdebar saat melihat pria yang malam itu bersama Aqila Putri, pasiennya di rumah sakit.


Sekalipun bukan ia yang mengalami, hati Dokter muda itu merasa teriris saat melihat kenyataan. Memang hatinya senang karena bisa mendekati Aqila dengan tanpa hambatan.


Namun jauh lebih dalam ia merasa sakit melihat penghianatan ini, entah apa yang akan terjadi bila ia ada di posisi Aqila. Yosef masih berdiri mengepalkan tangannya.


"Kenapa Sayang? Kamu iri ya? Ayo duduk Nak." Goda Mami Dina.


"Ah, nggak Mam." Jawab Yosef dengan cepat.


Mami Dina dan putranya duduk sebentar di kursi tamu. Kemudian Mami Dina mengajak putranya berpamitan setelah selesai acara inti. Ia akan kembali kekantor karena masih banyak yang harus di kerjakan untuk hari ini.


"Osef, yuk ikut Mami menemui Jeng Maya sebentar." Kata Mami Dina.


"Oke Mi, siap. Hari ini untuk Mami." Bisik Yosef.


Mami Dina menggandeng putranya menemui Maya orang tuanya Monita. Maya pernah menjadi teman satu kantor Mami Dina saat Yosef masih kecil. Dari situlah mereka pertama kenal dan menjadi teman.


"Selamat ya Jeng atas pertunangan putrinya Jeng Maya." Kata Mami Dina.


"Terimakasih Jeng, Si ganteng ini kapan?" Tanya Ibu Maya kemudian.


"Belum tau Jeng, belum ada calonnya." Jawab Mami Dina.


"Ah, masa. Seganteng putra Jeng yang namanya udah terdengar di mana-mana belum ada calon. Terlalu pilih-pilih paling." Kata Ibu Maya.


"Hem, Jeng Maya bisa saja." Mami Dina merendah diri.


Setelah itu Mami Dina berpamitan kepada tamannya itu. Mami Dina berjalan ke depan diikuti oleh Yosef untuk memberikan selamat kepada sepasang kekasih yang baru saja bertunangan.


"Selamat ya Monita." Kata Mami Dina. Beliau kemudian menyalami Arya juga.


"Selamat ya," Kata Yosef kepada Monita.

__ADS_1


"Parah kamu Bro. Kekasih Aqila Putri kan?" Bisik Dokter Yosef dengan menggenggam erat tangan Arya.


__ADS_2