Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Ma, Gelap!


__ADS_3

Flashback On


Pagi ini matahari seakan bersemangat menyapa alam dan makhluk hidup yang tinggal di muka bumi. Menampakan wajahnya yang bagaikan malaikat bagi semua penghuni planet yang mengelilinginya.


Di sebuah ruang rumah sakit, pagi ini semua anggota keluarga Ibu Naya sangat bersyukur, karena Sang Ibu tercinta bisa pulang ke rumah berkumpul dengan anak cucu. Mereka membereskan semua barang yang di pakai saat menjaga orang tua mereka.


Kebahagiaan tersebut juga terasa pada Aqila, seorang pasien yang selama ini tinggal di ruangan yang sama deng Ibu Naya. Aqila memberikan senyum terbaik dan ucapan selamat kepada wanita setengah baya tersebut. Mereka memberikan semangat kepada Aqila dan kedua orang tuanya.


"Om Tante, Dek Qila. Ibu sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, kami minta maaf kalau ada salah-salah saat kita bersama. Semoga Dek Qila juga cepat pulang dari sini." Kata Putra salah satu anak Ibu Naya. Ia menyalami Pak Pindri dan Mama Tita.


"Iya, kami turut senang kalau Bu Naya kesehatan Ibu Naya sudah membaik dan sudah di perbolehkan dokter pulang. Semoga Aqila cepat nyusul, pulang juga." Ucap Mama Tita.


"Iya Om, amin." Jawab Putra.


Aqila tersenyum mendengar percakapan dari orang yang bersama mereka dalam beberapa waktu ini. Ia juga senang mendengar kabar baik dari pasien yang telah seperti keluarganya sendiri.


Setelah semua keluarga Ibu Naya pulang. Hanya tertinggal Aqila bersama Ayah dan Ibunya di dalam ruangan, Mama Tita sebisa mungkin menghibur putrinya saat sedang sepi seperti ini.


"Ma, berarti malam ini hanya kita bertiga?" Tanya Aqila kepada Mamanya.


"Iya Sayang, nggak apa-apa." Jawab Mama Tita.


"Sepi Ma, kapan ya kira-kira kita boleh pulang?" Tanya Aqila kembali.


"Sabar ya sayang, menurut Dokter Derwan mungkin seminggu lagi kita bisa pulang." Jawab Mama Tita menenangkan.


"Ma, sebenarnya ponsel Aqila di sita sama Dokter Yosef. Biar nggak main handphone terus kata beliau, Aqila sebenarnya rindu sama Bang Arya Ma." Kata Aqila memasang wajah sendu ketika teringat Arya.


"Iya Kak, Mama tau. Tapi kan kita tidak bisa menghubungi Nak Arya, lagi pula Dokter Yosef benar biar kamu fokus untuk kesembuhan kamu." Kata Mama Tita.


"Tapi Ma, Qila bosan kalau nggak main ponsel sama sekali." Kata Qila lagi.


"Terus ponsel yang kamu masukan dalam tas Mama, itu ponsel siapa sayang? Mama juga nggak perhatikan." Kata Mama Tita.


"Itu ponselnya Dokter Yosef, entah mengapa beliau pinjamkan sama Qila Ma." Ucap Aqila kemudian.


"Mungkin Dokter itu kasian kamu tidak ada kegiatan sama sekali. Takut juga kalau tiba-tiba pikiranmu kosong." Kata Mama Tita.


"Ma, ambilkan ponselnya. Qila mau telepon Tika biar tani Qila di sini." Kata Aqila kepada Mama Tita.


"Iya Sayang, sebentar." Jawab Mama Tita.

__ADS_1


Mama Tita membuka tas tempat serba guna yang di bawanya. Mengambil benda pipi berwarna silver mengkilat dengan balutan silikon berwarna coklat muda. Memberikan dengan lembut kepada putri kesayangannya.


"Ini Sayang." Kata Mama Tita.


Aqila menerima ponsel tersebut dan menghidupkan sambungan data. Ia memang hafal nomor kontak sahabatnya itu, jadi tidak perlu bersusah jikalau handphone miliknya tidak berada di tangan.


Setelah menyimpan nomor ponsel milik Tika di ponsel Dokter Yosef. Aqila segera masuk ke aplikasi hijau dengan logo telepon, ia mencari kontak Tika yang sudah ia beri nama.


Belum beberapa lama sambungan ponsel terhubung, dari seberang sana sudah terdengar suara khas kecerewetan sahabatnya.


"Halo Aqila Putri yang cantik. Apa kabarmu pagi ini?" Sapa suara yang ada di seberang sana.


"Hay Tik, kamu tidak ingat sahabatmu ya. Hampir dua minggu lho nggak kesini." Kata Aqila merajuk.


"Qil, Tika minta maaf ya. Kamu sendiri kan tau kalau otakku nggak seencer kamu, saya sedang bersusah payah menyelesaikan skripsi ini. Empat hari yang lalu saya juga sempat di bawa ke rumah sakit, tepi bersyukur tidak sampai di opname karena hanya kelelahan saja." Kata Tika kepada sahabatnya.


"Maaf Tik, Aqila tidak tau. Maaf ya." Kata Qila merasa bersalah.


"Iya tidak apa-apa Qil. Juga salahmu kepada saya telepon tidak pernah diangkat." Celetuk Tika mengatakan yang sebenarnya.


"Ah, Tik kamu kan tau kalau handphone Qila di ambil Dokter Aneh itu. Lagi pula kalau Qila yang pegang, tidak mungkin nggak angkat telepon kamu." Jawab Qila.


"Qil, sore besok ya Tika datang ke rumah sakit. Tika janji akan nginap dan temani sahabat ku ini." Kata Tika dari sambungan telepon.


"Sudah dulu ya Qil, Gue mau ke kampus dulu." Ucap Tika.


"Iya Tika sayang, semoga cepat kelar kuliah mu." Kata Aqila.


"Gue matikan ya teleponnya." Kata Tika lagi.


"Okee siap, semangat!" Jawab Aqila.


Setelah sambungan telepon berakhir. Aqila menggenggam ponselnya. Ia tersenyum kepada Mama Tita yang setia duduk di kursi samping ranjang tempat Aqila berbaring.


"Sudah selesai sayang?" Tanya Mama Tita.


"Sudah Ma." Jawab Aqila.


"Kamu mau tidur Sayang?" Tanya Mama Tita.


"Iya Ma, tapi Qila teringat terus dengan Bang Arya. Tadi malam Qila mimpi Ma, Bang Arya pergi menjauh meninggalkan Qila. Ceritanya kami sedang berjalan-jalan di sebuah jembatan, jalan kaki sambil bernyanyi. Bang Arya menyelipkan bunga kecil berwarna kuning di telinga Qila.

__ADS_1


Namun belum sempat bunga itu terpasang di telinga Qila, bunga tersebut jatuh ke sungai yang beraliran keruh dan deras. Karena panik dan sangat menghargai pemberian Bang Arya, Qila mencoba menggapai bunga tersebut. Saat sedang berusaha itulah Qila terpeleset dan jatuh ke sungai.


Aqila terbawa arus, sambil terus meminta tolong. Sedang Aqila terus berusaha melawan arus, Qila melihat Bang Arya pergi meninggalkan Aqila. Ia menuruti jalan tanpa menoleh kebelakang. Setelah itu Qila tidak tau lagi karena tenggelam dan terbangun dari mimpi tersebut. Gitu Ma, kenapa ya?" Jelas Aqila Putri menanyakan kepada Mamanya.


"Sabar Nak, kan cuma mimpi." Mama Tita menenangkan putrinya.


Sebenarnya Mami Tita juga sedih mendengar cerita Qila. Namun beliau mencoba memakai logika dan menyingkirkan perasaannya yang lembut terlebih dulu. Ia ingin menguatkan putrinya, lagi pula memang benar, hal itu hanya sebuah mimpi yang sejatinya adalah bunga tidur.


Sebagai orang tua dan sebagai seorang Ibu, Mami Tita sangat mengerti perasaan putrinya. Namun saat ini untuk mengatakan segera jauhi Arya tersebut tentulah tidak muda. Mama Tita dan suami tidak ingin anak semata wayang mereka drop lagi karena tekanan dari mereka.


"Tapi Ma...," Jawab Aqila pelan.


"Nggak tapi-tapian Sayang, kamu harus fokus dulu untuk kesehatan kamu. Besok kan Tika mau main kesini, pokoknya Mama mau lihat Putri Mama yang semangat. Sebentar lagi kita pulang ke rumah juga." Jelas Mami Tita memberikan dukungan untuk kesembuhan Putri tersayangnya.


"Iya Ma, Qila janji." Jawab Aqila Putri.


"Udah istirahatlah Sayang." Kata Mama Tita.


"Bentar Ma, Qila penasaran dengan isi handphone dokter aneh ini." Kata Aqila.


Aqila mengangkat tangannya yang menggenggam ponsel tersebut. Pertama ia membuka galeri foto melihat beberapa potret sang dokter dengan dua orang.


Seorang perempuan dengan wajah khas warga negara lokal dan seorang lagi laki-laki dengan wajah sedikit mirip orang timur tengah. Bertubuh atletis, mungkin sudah dua kali lipat usia Dokter Yosef. Namun wajahnya dan bentuk tubuhnya jauh terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.


Aqila memprediksi mereka adalah kedua orang tua Dokter Yosef. Ia tidak melihat adanya potret seorang wanita muda, ataupun potret pemilik ponsel dengan seorang wanita muda. "Aneh sekali, emang tidak ada seorang pun teman wanitanya." Pikir Aqila dalam hati.


Setelah bosan menggeser foto demi foto sampai habis. Aqila penasaran apa aplikasi pribadi Dokter Aneh tidak dikunci, ternyata memang benar saat Aqila memencet sebuah aplikasi dengan logo biru putih tersebut. Aqila masuk bagaikan penyusup dengan pintu yang tidak terkunci.


Aqila menjelajah ke beranda, lalu melihat ke foto yang telah di upload Sang Dokter. Setelah puas kembali lagi ke beranda. Bolak-balik Aqila menggeser layar sentuh tersebut.


Tiba-tiba mata Aqila tidak sengaja tertuju pada sebuah poto yang di unggah salah satu pemilik akun yang berteman dengan Dokter Aneh. Postingan tersebut memperlihatkan sepasang insan dengan balutan yang mewah. Berpose berdiri dengan senyum mesra.


Postingan tersebut berisikan ucapan selamat kepada pasangan yang sedang bahagia. "Selamat hari engagement Arya dan Monita, semoga langgeng sampai halal." Aqila membaca caption dengan terbata.


Mama Tita kaget melihat putrinya yang langsung meletakkan ponsel. Bersamaan dengan itu tangan Aqila terkulai lemas. Mama Tita memandang wajah putrinya yang menahan air mata.


"Ada apa Sayang?" Tanya Mama Tita.


"Bang Arya Ma, Bang Arya udah bertunangan. Dia benar-benar nggak ingat sama Qila." Ucap Aqila dengan pelan.


"Sayang sabar ya Nak. Dia bukan terbaik buat kamu." Bisik Mama Tita, sedangkan tubuhnya sudah menghambur memeluk Aqila putri semata wayang mereka.

__ADS_1


"Ma, gelap. Kepala Aqila sangat sakit." Kata Aqila. Bersamaan dengan suaranya yang sangat pelan terus Aqila sudah tidak sadarkan diri.


Mama Tita meminta tolong dengan perawat yang berjaga. Kemudian datang seorang dokter dengan dua asistennya. Setelah memeriksa ternyata keadaan Aqila sangat lemah. Kemudian mereka langsung membawa Aqila ke ruang ICU.


__ADS_2