
Pak Pindri mengikuti langkah Dokter Yosef menuju ruang kerja Dokter muda tersebut. Dengan perasaan yang tidak bisa di katakan, Pak Pindri hanya berharap putri semata wayang mereka sehat dan ceria seperti sediakala.
Hingga tanpa sadar mereka telah tiba di depan pintu ruangan Dokter Yosef. Dokter muda tersebut bersama dengan seorang perawat wanita.
"Silahkan masuk Pak." Kata Dokter Yosef mempersilahkan.
"Terimakasih." Jawab Pak Pindri.
Pak Pindri langsung duduk di hadapan Dokter muda tersebut. Ia telah menyiapkan mentalnya menerima peryataan dan kenyataan yang harus mereka hadapi.
Dokter Yosef dengan rinci dan detail menjelaskan tentang sakitnya Aqila. Membuat Pak Pindri tak kuat menahan air mata.
"Bapak dan Ibu yang sabar ya, kalau saya sarankan putri Bapak dan Ibu tidak melanjutkan perkuliahan untuk sementara waktu sampai putri Bapak benar-benar sembuh. Berpikir keras akan membuat dirinya merasakan sakit tiba-tiba.
Hal tersebut di sebabkan, karena otak kiriman yang berfungsi berfikir. Logikanya kalau bagian yang sakit tersebut di paksakan bekerja, selain akan orangnya yang akan merasakan sakit yang luar biasa. Bisa juga akan memperparah kondisi otak Aqila Putri.
Sekali lagi saya sarankan agar Aqila tetap harus merasa rileks, supaya bisa membantu pemulihan otak bagian kirinya. Kami juga akan berusaha memberikan obat yang terbaik di rumah sakit ini." Jelas Dokter Yosef panjang lebar.
"Baiklah Dok, terimakasih." Kata Pak Pindri.
"Ini saya berikan resep obatnya, nanti bisa Bapak ambil di apotik. Sebagian harus di tebus di luar rumah sakit. Atau bisa juga di rumah sakit swasta yang ada di tengah kota." Kata Dokter Yosef.
"Baik Dok, sekali lagi terimakasih. Saya permisi keluar." Kata Pak Pindri sopan.
"Baik silakan." Kata Dokter Yosef sambil menyalami Pak Pindri.
Sepeninggalnya Pak Pindri, di dalam dada Dokter muda tersebut kembali berdebar. Ia merasa ingin sekali duduk di samping gadis yang sedang terbaring lemah itu. Ia ingin meledek Aqila dan memberinya setangkai mawar putih.
Membuatnya ceria kembali dan melihat kekonyolannya, seakan ada kerinduan di hati dokter muda, Yosef Rananta. Ia memang sering memberikan hadiah-hadiah kecil untuk pasien dengan berbagai penyakit. Dari pasien anak-anak sampai pasien yang sudah lansia pun tak luput dari perhatian Dokter dengan sejuta talenta tersebut.
Hadiah yang ia berikan juga beragam, mulai dari bunga, jam tangan, perhiasan, buku diari, ikat rambut, pakaian pun ia berikan. Tergantung benda apa yang pasiennya sukai, terkadang juga tak jarang Dokter Yosef harus bertanya dulu kepada keluarga pasien tentang benda atau barang apa yang di sukai pasien.
__ADS_1
Dokter Yosef juga biasanya memberikan langsung kepada pasiennya. Tapi dari mana datangnya keinginan di hatinya, ia hanya ingin memberikan Aqila setangkai bung mawar putih. Bahkan jika tidak menjaga profesionalitas dari seorang dokter, Dokter Yosef ingin memberikan setangkai mawar putih setiap hari kepada Aqila.
Dokter Yosef keluar dari ruangan, Ia melajukan mobilnya keluar dari parkiran. Mobil itu menuju ke arah pusat kota. Dokter muda tersebut ingin membeli setangkai mawar putih di toko bunga langganannya.
"Saya memang baik dengan semua pasien, Heh... Gadis kecil, jangan ke ge-er an yaa. Saya hanya kasian ya sama kamu." Kata Dokter Yosef bicara sendiri di dalam mobilnya yang sedang melaju kencang.
Kurang dari lima menit, mobil Dokter muda tersebut sudah parkir di depan sebuah toko bunga. Dokter Yosef memilih setangkai bunga mawar putih dan sebuah buket bunga berwarna-warni.
Buket bunga itu akan Dokter Yosef hadiahkan kepada Ibu Naya, pasiennya wanita setengah baya yang mengidap penyakit diabetes komplikasi dengan ginjal sebelah kirinya.
Setelah membayar bunganya dan menerima kembalian uang yang ia berikan. Dokter itu kembali masuk ke dalam mobil dan meletakan kedua bunga tersebut di kursi mobil tepat di samping kemudinya. Ia akan segera kembali ke rumah sakit.
***
Pak Pindri datang dan menjelaskan kepada Mama Tita tentang kondisi kesehatan Aqila. Bersamaan dengan itu tanpa mereka sadari, Arya telah ada di samping Pak Pindri dan istrinya.
"Selamat malam Tante, Om. Maaf saya kemari tidak mengabari, saya takut mengganggu kesehatan Aqila." Kata Arya menyalami ke dua orang tua Aqila.
"Memang apa kata Dokter tentang sakit Qila Tan?" Tanya Arya.
Pak Pindri menceritakan tentang penyakit Aqila kepada orang yang sedang dekat dengan putrinya sekarang. Mereka tidak ingin merahasiakan tentang putrinya karena mereka telah menganggap Arya seperti anak mereka sendiri. Selama ini Arya sudah baik kepada Aqila.
"Jadi begitulah Nak, kemungkinan sementara ini Aqila harus cuti kuliah." Kata Mama Tita menimpali.
"Memang sebaiknya seperti itu Tante, untuk kebaikan Aqila." Kata Arya.
Mama Tita mendekati Aqila yang sedang tidur, ia mengelus pucuk kepala putrinya. Mama Tita ingin membangunkan Aqila kerena Arya orang yang telah di nanti-nantikan nya datang berkunjung.
"Nak, ada Arya nih datang. Kamu belum mau bangun?" Tanya Mama Tita.
"Bang Arya?" Tanya Aqila setengah sadar. Ia sangat bahagia mendengar kekasihnya datang menjenguk.
__ADS_1
"Iya Qil, ini Abang." Kata Arya tersenyum.
Arya duduk di kursi yang ada di samping Aqila. Dengan perasaan bahagia Aqila terus memandang kepada kekasihnya tersebut.
"Bang, walaupun Qila sering sakit. Abang nggak akan tinggalin Qila kan?" Tanya Aqila dengan mata sayu dan wajah terlihat pucat.
"Nggak sayang, makanya Aqila semangat ya berusaha cepat sembuh." Kata Arya.
"Qila mohon ya Bang. Kalau bukan Aqila meninggal, Abang janji nggak ninggalin Qila." Aqila menangkupkan kedua tangannya.
Arya belum menjawab permohonan Aqila. Ia hanya menatap gadis itu dengan tersenyum.
"Iya sayang, kamu cepat sembuh ya." Kata Arya.
Bersamaan dengan itu Dokter Yosef masuk kedalam ruangan, ia melihat Aqila sedang menangkupkan kedua tangannya kepada seorang pria di hadapannya.
Entah mengapa perasaan Dokter Yosef tidak bisa di gambarkan. Ia sangat kasihan kepada gadis itu, namun dia juga bukan siapa-siapa mereka. "Andai saya Kakaknya, udah ku tendang pria itu! Ehh, jangan Kakaknya juga." Gumam Dokter Yosef.
Dokter muda itu mengepalkan tangan di depan pintu ruangan. Salah satu keluarga Ibu Naya mengagetkan Dokter Yosef.
"Hem, Apa Pak Dokter mau memeriksa Ibu?" Kata Putri Ibu Naya tersebut sambil menggendong anaknya.
"Em, iya... Apa sudah ada perubahan lebih baik?" Tanya Dokter Yosef berusaha mencairkan suasana hatinya.
"Sudah Dok, ini semua berkat kebaikan Dokter Yosef." Kata Wanita itu.
"Ibu Naya, ini saya bawakan sebuah buket bunga untuk Ibu. Cepat sehat ya Bu." Kata Dokter Yosef.
"Eh, Itu mawar putihnya untuk siapa Dok? Untuk pacarnya ya?" Tanya Putri Ibu Naya tersebut.
"Hem, iya Kak. Saya permisi dulu." Jawab Dokter Yosef.
__ADS_1
Ia tidak mau memperpanjang waktu di sini. Hatinya merasa panas melihat gadis itu bersama kekasihnya. "Saya kan hanya kasian, tidak lebih." Gumam Dokter Yosef setelah keluar dari ruangan.