
Sartika langsung mengambil ponsel Aqila yang sudah jatuh di lantai. Tanpa sengaja ia menyentuh layar ponsel tersebut, terlihat Arya sedang di pelaminan. Pengantin perempuan mengenakan gaun pengantin yang terlihat anggun dan mewah. Pria itu juga nampak tersenyum ke arah kamera yang memotret mereka.
Sartika tau alasan kenapa handphone ini jatuh begitu saja dari tangan Aqila. Ia juga tau betapa sahabatnya sangat mencintai pria yang berada dalam foto tersebut. Namun sulit bagi Sartika membuat sahabatnya move on dari lelaki pujaannya, karena Sartika sendiri tau kalau Aqila sudah menyayangi sesuatu barang ia akan sulit menggantinya. Apalagi Arya adalah cinta pertama Aqila.
Perasaan lembut sang sahabat membuat Sartika harus berhati-hati dalam berbicara maupun bertindak, ia tidak ingin Aqila tersinggung olehnya. Sartika memandang Aqila yang berbaring telentang dengan air mata yang mengalir.
"Qil, boleh Gue bicara?" Tanya Sartika hati-hati.
Aqila tidak mengeluarkan suara satu kata pun. Hanya anggukkan yang menjadi jawaban untuk memperbolehkan sahabatnya berbicara. Sartika mengelus kepala Aqila dengan lembut, begitulah kedua sahabat ini saling memahami perasaan satu sama lain.
"Qil, kamu tidak boleh seperti ini terus. Kamu harus sadar kalau memang Kak Arya bukan jodoh kamu, dia sekarang sudah menikah.
Di negara ini ada berjuta orang pria Qil, dari kulit hitam sampai kulit seperti tepung aci ada, dari rambut lurus sampai keriting kayak mie kremes pun ada.
Qil menurut Gue, kamu harus belajar lupakan Kak Arya. Lihat kedua orang tua mu, mereka tulus mencintai mu Qil tanpa syarat dan sampai kapanpun mereka akan tetap menyayangimu.
Apa kamu tega menyakiti mereka karena orang yang baru kamu kenal? Sudah mengkhianati mu juga. Apa kamu tega melihat mereka menangis setiap hari kalau kamu sampai drop lagi? Saat kamu di ruang ICU Que lihat sendiri Qil, Tante Tita terus menangis berharap kamu segera sadar.
Apa kamu masih kurang membuat mereka menderita? Bagaimana pun caranya kamu harus move on Qil." Kata Sartika berusaha menyadarkan sahabatnya.
Tanpa terasa bulir bening yang hangat akhirnya jatuh juga dari sudut mata Sartika. Rasa sayang yang tulus membuat ia tidak ingin melihat Aqila terus memikirkan pria yang jelas-jelas sudah berkhianat padanya. Bahkan sudah resmi menjadi milik wanita lain.
Sebenarnya Sartika sedikit bersedih sekarang karena dua hari sebelum menghadapi ujian, Irwan kekasihnya memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Hubungan pacaran yang baru dua bulan mereka jalani harus berakhir karena terang-terangan Irwan mengatakan kalau sudah memiliki kekasih baru.
Namun bukan Sartika kalau harus bersedih hanya karena orang yang baru ia kenal. Gadis ini memiliki sifat dan mental yang sedikit kuat di banding Aqila. Mungkin saja karena penampilannya yang selalu terlihat santai.
"Tapi bagaimana caranya Tik?" Tanya Aqila pelan.
Lama berdiam diri tidak menghiraukan perkataan Sartika sahabatnya. Akhirnya Aqila bersuara juga, logikanya membenarkan apa yang di ucapkan oleh sahabatnya tersebut. Namun hatinya masih terasa sangat sakit untuk menerima kenyataan.
__ADS_1
Tapi Aqila juga menyadari, kalaupun Arya masih mencintainya dan ingin kembali. Bukankah sudah mustahil mereka bersama. "Baiklah, Aqila pasti bisa melupakan mu Bang Arya. Selamat tinggal Bang dari hati ini." Batin Aqila.
"Sabar ya Qil, kamu pasti bisa. Hem, bagaimana kalau kita berkemah saja dekat hutan kota. Kan banyak orang di sana, mereka yang mau menikmati suasana malam hari di luar rumah." Kata Sartika menyampaikan idenya.
"Apa nggak takut Tik?" Tanya Aqila.
"Ini nih, kalau anak Mama yang setiap harinya di rumah. Di tinggal nikah malah mewek. Di sana tuh ya banyak anak kecil juga lho Qil, jadi mereka yang sudah berkeluarga memilih tempat yang nyaman dan nggak jauh-jauh. Apalagi di pintu gerbang ada pos keamanan juga." Kata Sartika menjelaskan.
"Iya deh, Qila mau. Nggak ajak Mama?" Tanya Qila.
"Nggak usah Qil, kita menikmati malam berdua di sana. Minum kopi dan memasak mie instan kayaknya seru juga." Kata Sartika lagi.
"Baiklah saya ikut. Kita siap-siap dulu." Kata Aqila.
"Minta izin sama Om Tante dulu, nanti nggak mereka izinkan." Jawab Sartika.
Mama Tita sedang memasak semur ayam untuk makan malam, ketika mereka menemuinya. Aqila mendekat dan memeluk Mamanya dari belakang, air mata gadis itu ingin keluar. Namun Sartika memberi kode untuk sebisa mungkin menahannya.
"Ma, boleh nggak kalau kami berkemah di hutan kota?" Tanya Aqila sambil melepas pelukannya.
"Memangnya kalian sama siapa kesana?" Tanya Mama Tita.
"Berdua saja Ma, sama Tika." Kata Aqila.
"Kalian yakin Sayang? Boleh Nak, tapi jangan matikan handphonenya ya. Tika juga ya Nak." Kata Mama Tita.
"Iya Tante, hutan yang ada di tengah kota saja." Kata Sartika menjelaskan.
"Iya Sayang. Nanti kalau hujan, Om dan Tante jemput kalian." Kata Mama Tita.
__ADS_1
"Baik Tante terimakasih, kamu bersiap dulu." Kata Sartika.
"Iya Nak, kalian mau Tante antar? Tante siapkan bekal dulu ya." Kata Mama Tita.
"Bekal nya mau Ma, tapi nggak usah di antar. Kami mau naik motor saja sama Tika, kan hanya 10 menitan dari sini." Jawab Aqila.
Kemudian gadis itu kembali kedalam kamar untuk membawa peralatan. Mereka menyiapkan selimut dan tikar kecil juga masing-masing jaket tebal. Membawa dua stel pakaian ganti, kalau saja di perlukan nantinya.
Mengenai tenda dan peralatan masak sudah tersedia di lokasi. Peralatan tersebut sudah di siapkan panitia, biasa nya ketika pengunjung datang mereka akan langsung memasang tenda. Mereka tinggal di wajibkan membayar sewa saja.
Hutan kota tersebut sebenarnya tempat kumpul dan bersantai. Namun banyaknya peminat yang ingin merasakan suasana menghabiskan malam di luar rumah, membuat pihak penyedia jasa bekerja sama dengan pemerintah provinsi untuk kemudian memberikan fasilitas.
"Sudah siap Qil? Satu aja ya tempat pakaian." Kata Sartika.
"Tas kecil bawa kan?" Tanya Aqila.
"Iya bawa, masing-masing aja untuk tempat handphone." Jawab Sartika.
Setelah mereka selesai bersiap. Aqila dan Sartika menemui Mama Tita untuk meminta bekal yang telah di siapkan. Mereka berpamitan kepada Mama Tita, wanita itu mengantar putrinya dan sahabat sampai depan rumah.
"Ma, kami berangkat dulu." Kata Aqila mencium tangan Mamanya.
"Iya Sayang, hati-hati ya." Jawab Mama Tita.
"Kami pamit dulu Tante." Kata Sartika mengikuti Aqila bersalaman.
"Iya Nak." Jawab Mama Tita.
Sekitar pukul 17.00 waktu setempat dan Pak Pindri belum pulang dari kebun mereka. Aqila dan Sartika berangkat menuju hutan kota.
__ADS_1