Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Meminta Izin


__ADS_3

"Oh, iya salam kenal. Kami orang tuanya Arya." Kata Mami Reni.


"Saya David, Papinya Arya." Papi nya Arya mengulurkan tangan.


"Silahkan duduk dulu, kita menunggu antrian tidak lama lagi." Kata Mami Reni.


"Terimakasih Tante." Jawab Aqila sopan.


Aqila duduk di kursi tepat di samping Mami Reni duduk. Sedang Arya hanya berdiri karena di dalam maupun di luar studio sangatlah padat oleh keluarga para wisudawan.


Arya sekali-sekali melirik ke arah Qila, ia menatap wajah Qila sedikit pucat. Walaupun masih tertutup make up. Namun sebagai orang yang dekat Aqila dan sering memperhatikannya, Arya tau bahwa Aqila sedang tidak fit hari ini. Bahkan cenderung masih lemas.


Setelah hampir setengah jam menunggu, tibalah saatnya giliran Arya untuk berfoto bersama keluarga besarnya. Seorang fotografer mengambil shot yang bagus, dengan di bantu dua orang yang bertugas masing-masing menata background ruangan dan memperbaiki aksesoris yang di kenakan mereka yang akan di ambil fotonya.


Pertama, Arya sendirian dengan berbagai pose dari berdiri hingga duduk. Kemudian bersama orang tua sebagai keluarga inti dan setelahnya bersama keluarga besar.


Aqila yang hanya duduk di kursi, kemudian di gandeng Mama Reni untuk berfoto bersama. Qila pun menerima ajakan tersebut dengan senang hati.


Ketika semuanya sudah selesai, Arya menarik tangan Aqila pada latar dinding yang berbeda. Ia sejenak bercakap dengan fotografer dan memintanya untuk memotret mereka berdua. Juga mengatakan agar foto mereka di cetak dengan ukuran besar serta langsung di beri bingkai.


Setelahnya, mereka semua segera meninggalkan tempat foto studio dan mendekati parkiran di mana kendaraan mereka berada. Mereka akan bersantai sejenak tempat wisata pantai pinggiran kota tersebut.


"Qila, kamu ikut yaa." Pinta Mami Reni.


"Iya, tante." Jawab Aqila singkat.


"Mi, nanti setelah ini. Arya mau ajak Qila ke rumah, soalnya ada yang ingin Arya sampaikan sama Papi Mami." Kata Arya menyela perkataan Mami nya.


"Iya, nanti sayang." Jawab Mami Reni.


Mami Reni kemudian memutar badannya menuju ke mobil yang di kendarai oleh mereka saat pergi tadi pagi. Beberapa anggota keluarga telah masuk kedalam mobil masing masing.


Arya tidak lupa membukakan pintu mobil untuk sang kekasih. Dengan anggun Qila masuk kedalam mobil di hiasi senyuman manis dari bibirnya, membuat Arya semakin gemas akan pemandangan di depan netranya.


"Terimakasih Bang." Kata Qila


"Iya, sama-sama sayang. Kamu belum makan? Lapar yaa?" Selidik Arya.


Arya menepikan mobilnya sejenak di depan sebuah toko roti. Sebenarnya nanti di pinggir pantai orang tuanya telah menyewa kafe dan resto khusus untuk mereka hari ini. Namun Arya takut Qila yang baru pertama bertemu keluarga besarnya sungkan menikmati hidangan sampai kenyang.


"Qila sudah makan Bang sebelum ke sini." Tolak Aqila halus.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan perkataan Aqila, Ia sudah melesat kedalam toko tersebut. Tidak berselang beberapa menit, Arya telah kembali membawa apa yang ia cari dan sebotol air mineral di tangannya.


"Ini sayang, makanlah jangan sampai kamu kelaparan." Kata Arya.


Ia membukakan bungkus roti tersebut dan tutup air mineral dari segelnya. Kemudian menyuapkan roti tersebut kepada Aqila.


"Abang baik sekali." Jawab Qila.


Ia berkata seperti itu sebelum mengambil roti yang hampir menyentuh bibirnya tersebut. Ia masih malu jika harus di suap oleh Arya.


Tapi hal yang tidak terduga dari ekspresi Arya adalah ia memasang muka cemberutnya. Dan hanya berdiam diri tanpa menyalakan mesin mobil.


"Abang kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Qila.


"Emang pernah yaa? Saya berprilaku tidak kepada kamu?" Tanya Arya masih dengan muka di tekuk.


"Oh, masalahnya Qila bilang Abang baik tadi?" Tanya Qila balik.


"Entah, cari tau sendiri." Jawab Arya.


"Hem, iya deh Qila minta maaf sama Abang. Udah jang cemberut lagi, yuk kita jalan. Nanti rombongan sudah menunggu." Kata Qila dengan lembut.


"Kamu kena hukum!" Kata Arya tiba-tiba.


"Hukum? Kenapa?" Tanya Qila bingung.


"Nih,..." Arya menunjuk pipinya.


"Apa?" Qila tidak mengerti.


"Cium. Baru kita jalan." Jawab Arya.


"Ish deh, nggak-nggak. Ayo jalan!" Kata Aqila lembut tapi tegas.


Mendengar kekasihnya sangat tegas dalam berbicara, Arya langsung melajukan mobilnya tanpa komentar.


Kurang dari setengah jam, mereka telah sampai luasnya hamparan pantai. Mereka memberhentikan mobil tepat di depan sebuah resto yang telah sengaja di pesan oleh keluarga Arya.


Mereka menikmati hidangan resto dan berfoto bersama. Mereka juga bernyanyi di kafe tersebut, sebagian anak-anak ada yang bermain pasir.


Matahari telah hampir tenggelam di uduk barat. Suasana pantai hampir gelap, akhirnya keluarga besar datang satu persatu berpamitan pulang ke rumah mereka masing-masing.

__ADS_1


***


Tinggal mereka berempat lagi yang masih di sekitar kafe tersebut. Mami Reni menghampiri Arya yang sedang menerima telepon. Ia berada agak jauh dari Qila duduk.


Kesempatan untuk berbicara sama putranya tersebut. Mami Reni sungkan kalau harus bicara di depan Aqila, takutnya ia salah paham.


Arya tiba-tiba kaget ketika melihat orang yang telah melahirkannya itu berdiri mematung tepat di belakangnya. Namun Arya berusaha untuk tenang dan bertanya dengan baik.


"Ada apa Mami kesini?" Tanya Arya.


"Nak, apa tidak lain kali saja pacar mu ke rumah? Bukannya Mami tidak senang, tapi kamu tau kita semua sudah capek." Kata Mami Reni.


"Tapi Mi, Saya...."


"Mami dan Papi sudah ngobrol tadi. Kami mengundang kekasih mu makan di resto lain di sekitar sini, sekalian kami akan mendengarkan apa yang kamu mau sampaikan tadi." Kata Mami Reni menjelaskan.


"Oh begitu Mi, nggak apa-apa kok. Aqila pasti mengerti." Jawab Arya.


"Itulah yang ingin Mami sampaikan." Kata Mami Reni.


Wanita itu meninggalkan Arya, kemudian Arya juga berbalik badan. Tetapi bukan mengikuti Mami nya melainkan menemui Aqila yang masih duduk di kursi tamu kafe.


Arya menjelaskan alasan kenapa mereka mengubah rencana untuk mengajak Aqila ke rumah mereka hari ini. Ya, alasan yang masuk akal adalah semuanya telah lelah hari ini. Apalagi Arya harus mengantar Qila lagi nanti pulangnya.


Aqila tidak keberatan, lalu mereka berdua menuju mobil mereka yang terparkir. Sedangkan orang tua Arya sudah duluan menuju resto yang di maksud.


Hanya butuh lima menit, mereka telah sampai di depan resto. Kemudian Arya menggandeng Qila masuk dan duduk di meja yang telah di orang tuanya.


"Nak Qila, jangan tersinggung. Mungkin belum hari ini, tapi rumah om selalu terbuka kapan kamu mau main." Kata Papi nya Arya.


"Silahkan minum dulu sayang." Kata Mami Reni dengan lembut.


"Iya Tante." Jawab Aqila.


Mereka ngobrol yang ringan-ringan, untuk mengakrabkan suasana. Setelah itu Mami Reni langsung menanyakan apa yang akan di katakan oleh putranya.


"Nak, apa yang mau kamu sampaikan kepada kami?" Tanya Mami Reni.


"Mi, saya mau menikah dengan Aqila." Jawab Arya.


"Hah,..." Jawab meraka hampir berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2