
Dokter Yosef terus memperhatikan Aqila saat mereka sedang berhadapan. Para orang tua sudah beralih obrolan mengenai tanggal dan hari pernikahan akan di laksanakan.
Tanggal pernikahan mereka telah di tentukan, senin depan. Jika di hitung hari, hanya tinggal enam hari lagi karena hari ini sudah hari selasa dalam pekan ini.
Melihat Aqila yang hanya berdiam diri dan menunduk. Ada rasa bersalah dalam diri seorang Yosef Rananta, ia merasa kalau pernikahan ini membuat calon pengantinnya tersebut merasa tertekan.
"Om Tante, kalau boleh izin sebentar ngobrol sama Aqila di luar." Ucap Dokter muda itu.
"Boleh Nak, silahkan." Jawab Pak Pindri.
Aqila beranjak dari tempat duduknya, kemudian Dokter Yosef mengiringi langkah gadis pengisi relung hatinya dengan langkah pasti. Setelah keluar dari pintu utama, Dokter Yosef mengajak Aqila berjalan ke arah samping rumah. Di sana terdapat bangku panjang yang terbuat dari kayu di bawah pohon jambu.
Dokter Yosef telah memantapkan diri duduk di atas bangku tersebut. Melihat Aqila masih berdiri di depannya, Dokter Yosef menarik pelan tangan Aqila.
"Duduklah, sini dekat Abang." Ucap Dokter Yosef pelan.
Sebenarnya seperti candu, bibir Dokter Yosef ingin sekali bertukar saliva dengan calon istrinya tersebut. Namun Dokter Yosef berusaha menahannya, di tambah lagi dengan sang junior perkasa sudah meronta karena terlalu lama di dalam penjara segitiga.
Ia berusaha menutupi dengan tangan yang sedang memegang ponsel. Aqila perlahan duduk di samping Dokter Yosef, ia nampak canggung.
"Abang mau ngomong apa?" Tanya Aqila.
"Sebenarnya tadi Abang mau minta cium." Jawab Dokter Yosef to the point.
Aqila sedikit bergeser menjauh dari Dokter Yosef. Entah mengapa rasa nyamannya selama ini, bukan sebagai seorang kekasih. Ia selalu membayangkan wajah Arya walaupun sedang bersama Dokter Yosef.
Kadang Aqila merasa bodoh sendiri, ada kalanya juga Aqila merasa dirinya buta. Dari segi apapun Dokter Yosef lebih, namun hatinya seakan tertinggal pada Arya.
Dokter Yosef berdiri, ia sepertinya merasa sangat menyesal ingin menikahi Aqila. Jangankan untuk memberi ia kemesraan lebih, baru perkataan saja tubuh gadis itu sudah menolak.
"Baiklah kalau tidak mau, saya akan membatalkan pernikahan ini. Saya tau kamu tidak nyaman saat bersama saya. Bagaimana nanti setelah kita benar-benar menikah? Saya tidak ingin rumah tangga terasa seperti neraka." Ungkap Dokter Yosef.
Aqila melihat Dokter Yosef benar-benar membalik badannya ingin menuju ke dalam rumah. Gadis itu dengan cepat meraih tangan dokter muda tersebut. Ia berdiri karena tubuhnya tidak terlalu kuat menahan Dokter Yosef yang ingin melangkah.
__ADS_1
"Duduk lah dulu Bang, saya minta maaf kalau Abang tersinggung." Kata Aqila.
"Sudahlah Qil, hati mu bukan untuk saya. Saya sudah berusaha membuat kamu nyaman saat kita bersama, tapi nampaknya memang tidak ada tempat sedikitpun untuk saya di hati kamu." Ungkap Dokter Yosef.
Mendengar pengakuan tersebut, Aqila merasakan kesedihan mendalam. Ia tau rasanya ketika cinta yang dimiliki begitu besar, namun orang yang di cintai malah mencintai orang lain.
"Bang." Ucap Aqila.
Air matanya perlahan membasahi pipinya, ia tidak bisa juga melarang Dokter Yosef kalau ingin menggagalkan pernikahan mereka. Namun membayangkan hari-hari tanpa orang menyebalkan seperti dia, membuat hati Aqila terasa nyeri.
Betapa memalukan kalau Dokter Yosef mengatakan alasan kenapa pernikahan mereka di batalkan. Aqila berpikir keras untuk membuat Dokter Yosef bisa duduk kembali.
"Nggak usah nangis juga, Qil. Saya akan tetap menyayangimu, sekuat tenaga saya akan menjagamu layaknya seperti saudara perempuan." Jawab Dokter Yosef.
Sakit rasanya jika benar demikian, Aqila tidak bisa membayangkan jika ia yang berkata seperti itu kepada orang yang ia cintai, Arya. Hancur itulah yang Aqila dapatkan dari sorot mata Dokter Yosef.
"Duduklah dulu sebentar saja Bang." kata Aqila seraya memohon.
Aqila merasakan sakit kembali di kepalanya, namun ia berusaha sebisa mungkin untuk menutupinya. Sebagai seorang dokter, Yosef tentu tidak muda di bohongi, hampir seluruh tubuh Aqila nampak memucat. Ia tau kalau keadaan Aqila sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa lagi Qil? Kamu belum puas menyakiti hati saya, atau kamu dendam dengan Arya lalu mau balas kepada say? Maaf sudah cukup Qil." Dokter Yosef seolah acuh dengan kondisi Aqila.
Aqila duduk kembali di samping Dokter Yosef, kepalanya sangat pusing hingga penglihatannya menjadi kabur. Semua seolah kembar dan berbayang di matanya. Namun, Aqila menguatkan diri agar tidak jatuh. Ia tidak ingin di kasihani selamanya.
Saat kepalanya sangat pusing, Aqila merangkul leher Dokter Yosef. Ia tidak ingin lagi membuang waktu, rasa malunya di buang ia buang jauh-jauh saat ini.
Aqila menempelkan bibir miliknya, menunggu kalau saja Dokter Yosef membalas ciumannya. Namun, hal tidak terduga dokter muda tersebut memalingkan muka.
Aqila dengan cepat menarik wajah Dokter Yosef, lalu menenggelamkan di dalam wajahnya. Menikmati setiap inci bibir dokter muda tersebut. Aqila menerobos masuk dan menikmati saliva milik Dokter Yosef dengan bergairah. Memainkan lidahnya walaupun dokter muda itu tidak membalas ataupun menolak.
Aqila mengakhiri permainannya karena Dokter Yosef sedikit mengelak. Terakhir Aqila memberikan kecupan kilat diantara bibir atas dan bawah milik sang dokter.
Aqila seperti sudah ahli dalam melakukan hal tersebut. Padahal ia baru pertama kali memberikan ciuman pada seorang laki-laki dan ciuman kedua seumur hidupnya.
__ADS_1
Aqila merasa sangat merendahkan diri saat laki-laki tersebut seperti menolaknya, tapi Aqila tidak peduli. Ia tidak ingin kehilangan seseorang yang menjengkelkan itu setiap hari. Terlepas cinta atas hanya pelampiasan. Aqila merasa Dokter Yosef hanya menguji dirinya yang sebenarnya laki-laki itu hanya kasihan.
Aqila melepaskan pelukannya pada Dokter Yosef, ia kembali memberi jarak. Aqila melihat wajah Dokter Yosef yang kurang suka.
Dokter muda itu mengelap mulutnya menggunakan punggung tangan. Ia hanya berdiam diri tanpa satu kata pun di ucapkannya.
"Maaf ya Bang kalau tidak suka. Kamu jijik ya, sampai di lap gitu." Ucap Aqila.
Dokter Yosef masih tetap diam, ia juga tidak melihat sama sekali kepada Aqila. Gadis itu merasa benci dengan dirinya sendiri. Sudah nekad merendahkan diri agar laki-laki tersebut memaafkannya. Namun, ia merasa jika Dokter Yosef hanya memancingnya meminta ciuman tadi. Terbukti laki-laki tersebut tidak membalas pemberiannya.
"Oke, kalau bukan kesalahan kemarin. Mungkin dokter tidak akan datang melamar Qila, iya kan? Gini aja kalau nggak, dokter bisa bayar kedua asisten Dokter Derwan itu untuk nggak buka mulut, di atas materai. Dokter kan banyak uangnya." Kata Aqila.
"Kamu pikir uang saya untuk dipergunakan seperti itu?" Tanya Dokter Yosef.
"Ya sudah, saya hutang dulu sama dokter. Saya janji setelah ini akan bekerja meskipun belum lulus. Saya cicil untuk menebus kesalahan kemarin." Jawab Aqila.
"Berapa sih gajimu kalau bekerja? Cukup buat tutup mulut orang itu?" Dokter Yosef melirik sedikit ke arah Aqila.
"Aqila pusing kalau seperti ini, saya akan berbicara langsung kepada Om dan Tante untuk membatalkan pernikahan ini. Benar-benar, hidup saya tuh udah rumit ya dok, jangan nambah-nambah beban. Saya mati biar kamu puas." Aqila putus asa.
Melihat Aqila semakin pucat, Dokter Yosef merasa sangat bersalah. Ia hanya ingin menguji Aqila, adakah sedikit perasaan takut kehilangan dirinya dalam hati gadis itu. Walaupun belum di cintai, setidaknya ada perasaan Aqila takut kehilangan dirinya itu cukuplah untuk sekarang.
Dokter Yosef merangkul tubuh Aqila mendekapnya erat dengan penuh perasaan. Ia mencium pucuk kepala gadis itu dengan perasaan cinta yang teramat besar.
"Sayang kamu tuh sakit, saya nggak mau membuatmu sakit. Tadi saya meminta ciuman saat bibir kamu segar, kita melakukannya dengan perasaan sayang. Bukan hanya gairah karena takut kehilangan." Kata Dokter Yosef.
"Jadi Abang nggak marah?" Tanya Aqila pelan.
"Abang nggak bisa marah sama kamu sayang. Sebenarnya...," Ucapan Dokter Yosef terputus.
"Sebenarnya apa Bang?" Selidik Aqila.
"Sebenarnya tadi Abang sekuat tenaga menahan. Ciuman mu mantap juga sayang, kayak udah terlatih." Goda Dokter Yosef tertawa kecil.
__ADS_1
Aqila tersipu malu, ia sendiripun tidak tau di mana ia mendapatkan keahlian di bidang itu. Gadis muda itu membenamkan wajahnya di dada bidang milik sang dokter.