Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Bertanya-tanya


__ADS_3

Ketika semua tamu sudah pulang. Pak Pindri berpamitan untuk menghisap gulungan kecil berisi nikotin, karena ada larangan di setiap sudut ruangan dalam bahasa Inggris.


"Ma, Ayah keluar sebentar." Pamit Pak Pindri.


"Iya Yah, jangan lupa bawah ponsel. Takut ada yang perlu di beli keluar." Kata Mama Tita.


"Ini sudah Ayah bawa." Pak Pindri mengeluarkan benda pipih tersebut dari dalam kantongnya.


Kemudian Ayah Aqila itu sudah menghilang di balik pintu ruangan. Di dalam ruangan, Tika sahabatnya Aqila dan Mama Tita menemani sambil bercerita hal-hal yang memberikan support bagi Aqila. Supaya putrinya tidak berpikir terlalu berat, yang akan menghambat pemulihan bagian otaknya.


Namun, Mama Tita ingin menyampaikan keputusan mereka bersama dosennya tadi. Bahwa untuk sementara waktu Aqila harus mengambil masa cuti dahulu sampai benar-benar sembuh.


"Tika mungkin capek Nak, kalo mau tidurlah di kasur yang Mama bawa kemarin." Kata Mama Tita.


Mama Tita sengaja membawa sebuah tempat tidur yang bisa di pompa. Biasanya setiap malam Pak Pindri la yang tidur di sana, namun kalau Tika datang ia akan tidur di sana. Mama Tita telah menganggap sahabat putrinya itu seperti putri mereka sendiri.


"Iya Tante, tapi Tika mau menemani Aqila dulu. Nanti Tika tidur di sana." Jawab Tika.


Mama Tita menatap putrinya untuk sedikit menjangkau situasi hatinya. Ia ingin putrinya tidak kecewa dengan keputusan mereka dengan dosennya tersebut.


"Qil, Mama mau ngomong Nak. Tapi janji ya jangan marah, jangan stres nanti kondisi Qila drop lagi." Kata Mama Tita.


"Ada apa Ma?" Tanya Aqila.


"Tapi janji, Qila jangan marah ya Nak." Kata Mama Tita kemudian.


"Nggak Ma, Qila Janji." Jawab Aqila. Ia menggenggam tangan Mama Tita yang berdiri di sampingnya.


"Nak. Untuk kebaikan kamu agar cepat kembali sehat, Mama dan Ayah meminta tolong kepada dosen kamu mengurus izin cuti dan mereka mau membantu." Kata Mama Tita.


Ia sebenarnya takut kalau putrinya kaget dan menolak keputusan mereka. Mama Tita berusaha meyakinkan putrinya, jika keputusan tersebut sudah yang terbaik. Mama Tita tau bahwa Aqila tidak ingin ketinggalan pembelajaran walaupun sedikit saja.

__ADS_1


"Iya Ma, tidak apa-apa. Aqila sudah pasrah kalaupun harus terlambat wisuda." Kata Bela tanpa ekspresi.


Tika menyadari bahwa sahabatnya tersebut sangat bersedih hati. Ia sebisa mungkin berusaha memberi semangat kepada sahabatnya tersebut.


"Iya Qil, nggak apa-apa kamu cuti sebentar. Wisuda tahun ini atau tahun depan kan sama saja, kamu pasti akan cepat dapat kerja setelah lulus. Nilai kamu bagus semua, beberapa penelitian juga pernah kamu menangkan. Tidak akan susah kamu nantinya mendapatkan pekerjaan." Kata Tika.


"Iya Tik, Qila tidak apa-apa. Kamu semangat ya Tik." Kata Aqila.


Sebenarnya Aqila sangat tau kemampuan Tita jauh di bawa dirinya. Sering kali Tika meminta bantuan kepada Aqila mengerjakan tugas-tugasnya. Satu kelebihan sahabat Qila ini, yaitu Sartika Sari adalah mahasiswi yang tekun dan rajin. Sehingga ia tidak pernah ketinggalan dalam pembelajaran.


"Kamu semangat ya Qil, jangan dulu memikirkan yang lain-lain. Fokus dulu sama kesehatanmu, ingat jangan dulu terlalu di pikirkan Abang mu itu." Kata Tika.


"Nah, benar kata Tika Qil, jangan terlalu banyak pikiran dulu." Kata Mama Tita.


"Iya deh Tik, Qila janji." Jawab Aqila kemudian setelah beberapa detik berdiam diri.


Aqila mengulurkan tangannya dan mengacungkan jari kelingkingnya, yang kemudian Tika menyatukan kelingking mereka seperti mengikat janji. Memang hal itu sering mereka lakukan untuk mengucapkan janji atau tanda keseriusan dalam perkataan persahabatan mereka.


***


Hal itu telah di ceritakan Arya kepada orang tuanya saat santai week end kemarin sore. Orang tua mana yang tidak senang melihat penghasilan anaknya meningkat, begitu juga dengan Mami dan Papi Arya. Mereka berdua sangat mendukung pekerjaan Arya saat ini.


Mami Reni sudah menyiapkan makan malam yang spesial malam ini. Sebagai perayaan atas keberuntungan Arya dalam pekerjaannya.


Menunggu sekitar setengah jam, akhirnya putra mereka pulang juga. Mama Reni menyambut Arya di depan pintu setelah mendengar suara motor anaknya datang.


"Selamat sore Mi." Arya meraih tangan oreng yang telah melahirkannya tersebut.


"Selamat sore sayang, mandi dulu gih sana. Selesai itu kita makan malam bersama, ada yang Mami ingin bicarakan sama kamu." Kata Mami Reni.


Mendengar perkataan orang tuanya sangat serius, Arya tidak ingin membantah lagi. Dirinya yang sudah lelah bekerja di kantor, sangat melelahkan jika harus berdebat lagi dengan Maminya.

__ADS_1


"Baik Mi, Arya mandi dulu." Jawab Arya.


"Mami tunggu di meja makan ya, Sayang." Kata Mami Reni.


"Siap Mami." Jawab Arya.


Ia masuk ke kamarnya yang ada di lantai atas. Membersihkan diri, kemudian berpakaian kaos yang sudah menjadi ciri khas pakaian Arya ketika berada di rumah. Kemudian ia turun untuk menikmati makan mala bersama kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Arya sudah terlihat menunggu di bawah. Mereka sepertinya hanya menunggu putra mereka untuk menikmati hidangan.


"Yuk, duduklah Nak." Kata Mama Reni. Wanita itu menarik kursi yang akan di duduki putra mereka.


Arya duduk di samping Mami Reni. Sedangkan Pak David ada di hadapan mereka. Keluarga tersebut menikmati makan malam hingga selesai.


Setelah menikmati makan malam. Dua orang asisten rumah tangga membantu membereskan sisa makanan yang ada di meja.


"Hem, apa yang mau Mami bicarakan tadi?" Tanya Arya.


Ia menanyakan duluan karena badannya telah capek seharian bekerja. Ia ingin beristirahat setelah mendengarkan hal yang ingin di sampaikan orang tuanya.


"Begini Nak, kamu kan sudah memiliki pekerjaan yang bagus. Dan juga calon yang kamu perkenalkan kemarin Mami rasa sidah hampir selesai juga kuliahnya. Mami ingin kalian segera menikah atau bertunangan juga tidak apa-apa." Kata Mami Reni.


"Iya Arya, Papi juga ingin melihat cucu Papi sebelum tua. Kepada siapa lagi kami memintanya, kamu adalah penerus kami satu-satunya." Kata Pak David.


Mendengar permintaan kedua orang tuanya, Arya bingung berpikir dan mempertimbangkan. Arya tau Aqila belum akan sembuh total dalam waktu yang dekat. Ia juga tau tabiat orang tuanya yang tidak mau menerima alasan apapun, kalau alasan itu tidak tepat bagi mereka.


"Bagaimana Nak? Kamu belum putus kan sama Aqila. Mama lihat kamu tidak pernah mengajaknya kemari setelah pertemuan kita saat heri wisuda kamu." Kata Mama Reni mengintrogasi.


"Belum Ma, Arya belum putus sama Aqila. Nanti Arya pikirkan dulu untuk keputusan menikah." Jawab Arya.


"Baiklah, jangan lama-lama ya. Kasian Papi yang ingin sekali menimang cucu cantiknya." Kata Mami Reni.

__ADS_1


"Iya Mi, sekarang Arya capek sekali. Arya tidur dulu ya Mi." Kata Arya.


Tanpa menghiraukan ekspresi kedua orang tuanya yang bertanya-tanya. Arya segera memutar badan menuju kamar. Hal tersebut ia lakukan untuk menghindari banyak pertanyaan dari Mami nya yang terbilang cukup senang berkicau.


__ADS_2