Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Izin Pulang


__ADS_3

Mobil suami istri Pak Pindri dan Mama Tita terus melaju dengan cepat. Mereka berdua sudah tidak sabar melihat keadaan putri semata wayang mereka.


Membayangkan putrinya sedang terbaring lemas membuat Mama Tita berkali-kali mengurai air mata. Suaminya yang selalu menenangkan, sebenarnya lebih cemas dan khawatir. Namun begitulah jiwa seorang laki-laki yang kuat menahan air mata, tapi tidak dengan hatinya.


Ia sangat sedih ketika mendengar kabar bahwa putri mereka harus di opname. Tetapi Mama Tita lebih luwes mengeluarkan seluruh perasaan sedihnya melalui air mata.


Satu jam lebih sedikit, mereka berdua telah tiba di depan ruang UGD rumah sakit Citra Medical seperti yang di katakan Arya.


Pak Pindri segera memarkirkan mobil mereka di tempat parkir khusus keluarga pasien. Tempat parkir itu sengaja di dalam kawasan rumah sakit, agar keselamatan kendaraan dan barang-barang lainnya lebih terjaga.


"Ma, ayo tanya saja kepada petugas yang ada di UGD." Kata Pak Pindri.


"Iya Yah." Jawab Mama Tita singkat.


Ia terus melangkah menuju meja petugas kesehatan di dalam ruangan UGD tersebut. Pak Pindri berjalan di belakang istrinya. Mama Tita langsung menanyakan di mana ruangan tempat Aqila, putrinya di rawat.


"Maaf Kak, kami mau nanya. Pasien atas nama Aqila Putri di rawat di ruangan mana ya?" Tanya Mama Tita.


"Sebentar kak, kami cek dulu." Jawab seorang perawat yang sedang bertugas piket tersebut. Ia lalu mencari nama Aqila di sebuah buku besar milik mereka.


"Aqila Putri umur 21tahun, di rawat di ruangan Kenanga Kak. Kakak lurus aja dari sini sampai mentok, nanti langsung belok kanan. Nah, di atas pintu ruangan ada tulisan Kenanga." Kata perawat tersebut.


"Baiklah, terimakasih ya Kak. Kami ke sana dulu." Jawab Mama Tita.


Setelah mengucapkan terimakasih, Mama Tita langsung bergegas. Ia melangkah secepat mungkin karena ingin segera bertemu dengan putrinya.


Mereka tiba di ruangan yang berisi dua orang pasien. Aqila dan satunya lagi terlihat wanita setengah baya. Tika sahabat Aqila tertidur di kursi yang ada di samping Aqila dengan tangannya terus menggenggam tangan Qila.


Sedangkan Arya tidur di sofa sederhana yang di sediakan pihak rumah sakit. Itupun ia juga bersebelahan di satu sofa tersebut dengan seorang laki-laki dari keluarga pasien yang sekamar dengan Aqila.


Mama Tita sebenarnya enggan membangunkan mereka. Karena sekarang sudah pukul 22.18 waktu setempat. Mama Tita mengelar tikar setelah mengelus kepala putrinya yang sedang tertidur pulas.


Pak Pindri melepas jaket dan duduk di atas tikar tersebut. Ia juga membuka botol kopi yang telah di seduh sejak dari rumah tadi.


Tidak berapa lama, Tika menggeliat dan melihat orang tua Aqila sudah datang. Ia menghampiri ke dua orang tua tersebut dan mengucap salam kepada mereka.


"Maaf Om, Tante. Tadi Tika ketiduran." Kata Tika masih menggosok-gosok matanya. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya dan menguatkan tulangnya yang sedikit lemas.

__ADS_1


"Terimakasih Nak, kalian telah menjaga Aqila dengan baik." Kata Mama Tita.


"Iya Tante, kita sudah seperti keluarga. Aqila sudah Tika anggap seperti adik dan kakak Tika sendiri. Maklum Tika dan Qila sama-sama anak tunggal." Kata Tika.


"Bukan seperti lagi Nak. Kita memang sudah keluarga." Kata Pak Pindri menegaskan.


"Oh iya Nak, Kamu sama Nak Arya sudah makan? Ini kami bawakan makanan tadi beli dijalan. Maklum gak sempat lagi Tante masak." Kata Mama Tita.


Ia memberikan dua kotak yang di bungkus deng plastik transparan bertulisan selamat menikmati. Tika sebenarnya ingin menolak karena mereka sudah makan tadi sekitar pukul delapan malam. Sedangkan Aqila sudah makan nasi yang di bagikan oleh pihak rumah sakit.


"Sebenarnya Kak Arya sudah membelikan makan untuk Tika, Tante. Tadi kami sudah makan. Aqila juga sudah Tika kasih makanan yang di bagikan oleh pihak rumah sakit tadi." Kata Tika menolak halus.


"Nggak apa-apa Nak, nanti kalian makan saja kalau Nak Arya sudah bangun." Kata Mama Tita.


Mereka kemudian ngobrol santai, Pak Pindri menanyakan tentang suka duka yang Tika alami selama menempuh masa perkuliahan. Sedangkan Mama Tita sudah duduk di kursi yang ada di samping ranjang Aqila. Ia kadang terlihat mengelus rambut anaknya tersebut.


Sedangkan Arya sudah tertidur pulas dengan posisi bersandar setengah tidur. Mungkin karena kecapekan, karena biasanya laki-laki ketika tidur susah untuk tiba-tiba bangun. Apalagi hanya suara kebisingan kecil.


Setelah jam dinding bergeser, Sartika juga merasa sangat mengantuk. Ia memutuskan untuk menginap di rumah sakit malam ini. Ia tidur dengan beralaskan tikar dengan bantal tas tempat baju Mama Tita. Sedangkan Pak Pindri mencari kursi-kursi di luar ruangan untuk sekedar beristirahat.


Sentuhan lembut itu membuat seorang ibu dengan cepat terbangun. Mama Tita langsung memandang wajah putrinya dengan senyuman.


"Kamu sudah bangun sayang? Selamat pagi." Sapa Mama Tita.


"Iya Ma, Mama sudah lama datang?" Tanya Aqila pelan.


"Iya sayang, sekitar jam sepuluh malam. Ayah ada di luar." Kata Mama Tita.


"Ma apa Tika sudah pulang?" Tanya Aqila kemudian.


"Itu Tika sedang tidur beralas tikar sayang, mungkin baru satu jam atau dua jam ia tertidur. Kamu harus bersyukur sayang punya sahabat seperti dia, keluarga belum tentu bisa seperti itu." Kata Mama Tita.


"Iya Ma, Tika memang sangat baik. Oh iya ma, Arya apa sudah pulang?" Tanya Aqila.


"Sepertinya kamu khawatir sekali sama dia?" Goda Mama Tita.


"Enggak Ma, Qila belum mengucapkan terimakasih soalnya." Dalih Aqila.

__ADS_1


"Itu orangnya, panjang umur langsung bangun." Kata Mama Tita.


Mama Tita tersenyum ke arah Arya yang sedang mengumpulkan fokus dan tenaganya. Setelah membalas senyum yang di berikan oleh Mama Tita. Arya langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan mukanya.


Setelah selesai dari kamar mandi, Arya menghampiri ranjang di mana Aqila terbaring di atasnya. Ia tidak lupa menyalami Mama Tita.


"Sudah lama datang Tante? Maaf saya ketiduran." Kata Arya.


Ia merasa bersalah karena tidak mengetahui kapan orang tian Aqila datang. Namun, Mama Tita sangat maklum kalau Arya kelelahan dan tidak menyadari ketika mereka berdua datang.


"Tidak apa-apa Nak, kamu kelelahan. Sebaiknya kamu makan dulu. Tante tadi bawa makanan. Terimakasih sudah menjaga Aqila." Kata Mama Tita.


"Sama-sama Tante. Kami sudah makan tadi malam, sekarang belum lapar Tan. Saya mau pamit pulang dulu Tante, kalau tidak ada halangan besok saya ke sini lagi." Kata Arya.


"Iya Nak. Kamu harus bekerja juga, mumpung belum jam tujuh. Takutnya kena macet." Kata Mama Tita.


Arya mendekat dengan Aqila. Ia akan pamit dulu untuk pulang dan berganti pakaian. Hari ini juga Arya belum bisa ke rumah sakit karena Ia harus bekerja.


"Sayang, Abang pulang dulu ya


Kalau tidak ada halangan besok Abang akan ke sini lagi." Kata Arya.


"Abang nggak akan tinggalin Qila kan? Karena Aqila sakit." Tanya Aqila pelan.


"Nggak sayang, cepat sehat ya." Kata Arya.


"Bang, Abang mau nggak kalau kita menikah? Qila nggak mau kehilangan Abang." Keluh Aqila. Matanya sudah di penuhi embun dari mata indahnya.


"Iya sayang, makanya Qila sehat dulu ya. Sekarang Abang pulang sebentar, kan mau kerja juga." Kata Arya.


Ketika Arya berbalik badan dan meninggalkan tempat itu. Cairan bening mengalir dari mata Mama Tita tanpa sengaja.


"Ma, kenapa Mama menangis?" Tanya Aqila.


"Nggak Nak, Mama bersyukur kamu nggak kenapa-kenapa." Kata Mama Tita.


Entah mengapa dalam relung hati seorang ibu. Ia merasa putrinya akan merasakan kecewa jika terlalu dalam mencintai seseorang.

__ADS_1


__ADS_2