Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Kaget


__ADS_3

Setelah sambungan telepon terputus, Mami nya Arya meletakkan kembali ponsel putranya itu ke atas meja kecil di sudut ruang tamu. Ia akan memberitahu ketika nanti Arya sudah pulang dari kantor.


Mami Reni pergi ke ruang kerja suaminya, ia ingin membahas rencana pertunangan dan pernikahan penerus generasi mereka satu-satunya. Mama Reni mengira kalau orang tuanya Aqila menelepon pasti ingin menanyakan keseriusan putra mereka tentang pernikahan yang di rencanakan kemarin.


Pak David melihat istrinya datang ke ruang kerjanya, pasti ada hal penting yang ingin di sampaikan. Karena biasanya Mami Reni lebih baik pergi keluar bersama teman arisan atau tetangga-tetangga, yang memiliki hobi sama dengan banding menemani suaminya kerja di rumah.


"Ada apa Mi? Kok tumben liat Papi lagi kerja?" Tanya Pak David.


"Iya Pi, mumpung Papi lagi nggak kerja di luar rumah. Ada yang Mami mau sampaikan sama Papi." Kata Mami Reni kepada suaminya.


Pak David menghentikan kegiatan jarinya di atas komputer sejenak. Ia memandang istrinya dengan serius.


"Apa Mi, biasa juga to the point aja kalau minta tambahan uang belanja." Goda Pak David.


"Ini masalahnya bukan uang belanja Pi." Kata Mami Reni.


"Yaah udah apa masalahnya?" Tanya Pak David lebih tenang.


"Tadi orang tuanya Aqila telepon Mami, beliau menanyakan Arya. Sebenarnya sih menelepon ponselnya Arya, tapi ponselnya Arya ketinggalan. Mami bilang saja nanti kalau Arya sudah pulang, dia akan menghubungi Aqila kembali." Kata Mami Reni.


"Masalah nya apa Mi? Kok mbulet saja." Selidik Pak David.


"Masalahnya Pi, apa mungkin orang tuanya gadis itu mau menanyakan soal keseriusan putra kita Pi?" Kata Mami Reni.


"Hem, mungkin saja Mi." Jawab Pak David.


"Terus bagaimana Pi?" Tanya Mami Reni kembali.


"Kita akan mempersiapkan untuk melamar gadis itu. Sekarang kemungkinan dia sudah lulus kuliah atau mungkin saja sebentar lagi lulus. Lagi pula Arya sudah membuktikan kepada kita, kegigihannya berjuang selama ini. Pekerjaannya sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka nanti." Jawab Pak David.


"Iya Pi, lagi pula gadis itu sudah mengubah perangai Arya putra kita. Dari yang sepertinya tidak memiliki masa depan menjadi laki-laki yang pekerja keras seperti yang kita lihat sekarang ini Pi." Kata Mami Reni dengan wajah sumringah.

__ADS_1


"Iya Mi, nanti kalau anaknya tanya dulu. Persiapkan dulu untuk semuanya, apa yang di perlukan dalam acara lamaran."Kata Pak David.


"Iya Pi, nanti Mami tanya sama temen-temen Mami. Apa saja yang di perlukan dalam acara lamaran." Kata Mami Reni dengan semangat tinggi.


"Mami, memangnya penting banget ya cerita ke teman-teman Mami tentang rencana kita ini?" Tanya Pak David melirik istrinya.


"Papi, memang ada yang salah ya sama Mami kalau minta saran kepada teman-teman." Jawab Mami Reni menimpali.


"Iya deh, boleh Mami minta tolong sama teman Mami." Kata Pak David.


Kadang-kadang mengiyakan permintaan istrinya bukan berarti Pak David setuju dengan cara istrinya, yang senang sekali menceritakan rencana keluarga mereka. Namun menolaknya pun serasa akan bertarung di dalam gua singa.


Mami Reni sudah siap menunggu anaknya pulang. Ia duduk dari tadi sekitar satu jam sampai akhirnya Arya datang dengan wajah lelahnya.


Masuk ke rumah tanpa salam, karena memang pintu telah terbuka. Arya tau kalau pintu rumah sudah terbuka lebar itu ada dua kemungkinan. Pertama, kemungkinannya ada tamu yang datang. Kedua, biasanya kalau tidak ada tamu yang datang berarti Mami nya sudah menunggu di dekat pintu.


Benar saja, wanita yang sudah melahirkan dirinya itu sudah ada di hadapan Arya saat satu langkah masuk ke rumah. Dengan senyum ramah Mami Reni menyapa kedatangan putranya.


"Iya Mi, tapi Arya baru saja makan. Di ajak teman-teman mampir sebentar tadi, nggak enak kalau Arya nolak terus ajakan mereka." Jelas Arya kepada Ibunya.


"Iya, nggak apa-apa sayang. Kalau begitu duduklah sebentar di situ Nak." Kata Mami Reni membawa Arya duduk di sofa ruang tamu.


Kemudian ia memanggil suaminya yang masih berada di ruang kerja. Memberitahu bahwa putra kesayangan mereka sudah pulang.


"Pi cepat ke sini, Arya sudah pulang." Mami Reni setengah berteriak.


"Iya Mi, sebentar Papi matikan komputer dulu." Teriak Pak David dari dalam ruang kerjanya.


Arya bingung atas sikap kedua orang tuanya tersebut. Hal penting apalagi yang mereka ingin sampaikan. "Apa mungkin akan mempertanyakan tentang Qila lagi." Pikir Arya dalam hati.


Pak David telah duduk di samping istrinya. Ia memandang kepada Arya, kelihatan dari raut muka putra mereka Arya sangat lelah.

__ADS_1


"Apa nggak sebaiknya di bicarakan nanti saja Mi? Setelah makan malam." Kata Pak David.


"Sekarang saja Pi. Lagi pula putra kita sudah makan dengan teman-temannya baru saja." Jawab Mami Reni.


"Sebenarnya Mami dan Papi mau ngomong apa sih Mi, Pi?" Kata Arya bengong.


Pak David mengatur posisi duduk, nampaknya beliau yang akan memulai pembicaraan. Sedangkan Mami Reni memandang Arya dengan senyum yang sulit diartikan.


"Arya, kamu sudah punya pekerjaan dan membanggakan kami sebagai orang tua. Sekarang kami akan menepati janji kami untuk melamar gadis yang bernama Aqila itu, untuk kamu." Kata Pak David memulai pembicaraan mereka.


"Iya Sayang, Mami sudah menghubungi Tante Lia, Tante Rita, Tante Esti dan masih banyak teman Mami yang lainya. Mami meminta saran kepada mereka seserahan apa saja yang cocok untuk calon menantu Mami yang cantik jelita nantinya." Kata Mami Reni dengan bahagia.


Sebenarnya Mami Reni sudah lama sekali ingin membanggakan putranya kepada teman-teman yang ia kenal. Karena dulu Arya tidak di lirik anak-anak mereka karena menjadi mahasiswa abadi di kampus. Seperti ingin menendang mereka semua, Mami Reni sengaja ingin mengumbar kebahagian putra mereka ke pada semua orang.


Namun pernyataan kedua orang tuanya bagai sebuah hujaman bagi Arya. Bagaimana ia harus mengatakan kalau kekasihnya sekarang sudah lama di rawat di rumah sakit. Hal inilah yang menjadi pemikiran Arya setiap waktu.


Arya mengerti bahwa Mami nya tidak akan menerima begitu saja mengenai hal ini. Apalagi kalau beliau tau tentang sakitnya Aqila yang tidak tau kapan sembuhnya.


"Hey, anak Mami kok ngelamun? Bukannya kemarin kamu semangat sekali ya mau melamar gadis itu, atau jangan-jangan kalian sudah putus?" Selidik Mami Reni.


"Nggak Mi." Jawab Arya.


"Terus kenapa orang tua Aqila menelepon kamu tadi, menanyakan kamu di mana." Kata Mami Reni lagi.


Arya kaget mendengar perkataan Mami nya seperti itu. "Mengapa orang tua Aqila yang menghubunginya? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Aqila?" Banyak pertanyaan yang Arya simpan dalam hati.


"Sebenarnya Aqila sedang sakit Mi, sudah hampir dua bulan ini." Kata Arya menunduk.


"Emangnya sakit apa sampai di rawat lama sekali? Terus kapan sembuhnya?" Mami Reni berupa menjadi sedikit sinis.


"Yeah kita kan tidak tau Mi, yang namanya sakit siapa yang mau. Pi, Mi apa Arya boleh melamar Aqila di rumah sakit?" Tanya Arya.

__ADS_1


__ADS_2