
Wajah Arya memerah mendengar ucapan Dokter Yosef kepadanya.Dokter muda tersebut berlalu dengan mengepalkan tangan. Ada perasaan sakit di dalam hati kecilnya.
Tanpa menoleh dan memberikan senyum, Dokter Yosef langsung meninggalkan sepasang kekasih yang ada di singgasananya.
Ia bersama Mami Dina masuk kedalam mobil mereka. Tanpa banyak bicara Yosef melajukan mobil tersebut dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Eh, kamu kenapa sayang? Mami lihat wajahmu di tekuk begitu." Kata Mami Dina.
"Mami nggak tau saja lelaki brengsek itu." Kata Yosef menggebu.
"Lelaki yang mana sayang? Di sana lho tadi banyak sekali laki-laki." Kata Mami Dina kemudian.
"Itu Mi, calon menantu Tante Maya teman Mami." Kata Yosef.
"Kenapa dengan Nak Arya?" Kata Mami Dina dengan muka menyelidik.
"Arya itu pacarnya pasien Saya Mi, kesehatannya terus menurun karena memikirkan kekasihnya itu." Kata Yosef mencoba menjelaskan.
"Tapi kenapa anak Mami bisa sekesal tadi Sayang?" Tanya Mami Dina tidak mengerti.
"Yosef kesal Mi, pasien Yosef itu menunggu Si Arya kampret setiap malam. Menunggu Arya datang menemuinya, menunggu Arya menghubunginya. Hampir dua bulan ini dia di rawat di rumah sakit Mi." Kata Yosef.
"Hem, kelihatannya kamu sangat membela gadis itu. Siapa sih namanya Sayang? Mami jadi ingin tahu." Kata Mami Dina.
"Iya Mi, Mami marah tidak kalau Yosef menyukai gadis tersebut?" Tanya Yosef hati-hati.
"Mami gak pernah marah kamu suka sama siapapun. Tapi yang pasti dia perempuan." Kata Mami Dina.
"Tapi Mi, sekarang dia masih sakit. Yosef pasti berjuang untuk kesembuhannya, sebenarnya dia adalah pasien Om Dengan. Yosef hanya diminta sebagai konselor psikologinya saja." Kata Dokter Yosef.
"Siapa nama gadis itu Nak? Mami bersyukur kamu mulai membuka hati setelah di tinggalkan Tiara." Kata Mami Dina.
"Namanya Aqila Putri. Ia adalah salah satu mahasiswa yang mengikuti seminar dari kami Mi. Nanti Mi, saya bawa Mami berkunjung dengan Mami. Tapi Yosef mohon sama Mami, jangan pernah bicara yang tidak baik padanya.
Kalaupun Mami keberatan Yosef mendekati Aqila, Mami bisa bicara langsung dengan Yosef Mi. Takutnya kesehatannya kembali drpd, lagi pula Yosef belum mengungkapkan perasaan ini." Jelas Yosef.
__ADS_1
"Pasti Nak, Mami yakin kamu punya pilihan yang terbaik. Mami tidak ingin mengatur hidup kamu. Dari kecil Mami selalu memberikan kepercayaan sama kamu, asal kamu bisa bertanggung jawab jika di kemudian hari ada kerikil yang harus di lewati." Kata Mami Dina.
"Terimakasih Mi, Yosef bangga memiliki Mami." Kata Yosef menggenggam tangan Mami nya.
Mobil melaju dengan cepat, Yosef dan Mami Dina berdiam diri. Seakan hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Tidak lama kemudian mereka tiba di pintu gerbang rumah kediaman keluarga Roni Renanta, orang Yosef Renanta.
"Silahkan Mi." Kata Yosef membukakan pintu mobil untuk Mami Dina.
"Terimakasih Sayang, Mami masuk dulu ya. Nanti sore Mami mau berkunjung ke rumah sakit." Kata Mami Dina.
"Emangnya kenapa ke rumah sakit Mi? Siapa yang sakit?" Tanya Yosef dengan mata terbelalak.
"Mami pengen kenalan dengan calon menantu Mami. Boleh Kan?" Tanya Mami Dina dengan tatapan penuh arti.
"Mami serius?" Tanya Yosef tidak percaya.
"Udah ah, sana gih istirahat dulu. Mami juga mau rebahan sebentar." Kata Mami Dina.
Mami Dina masuk kedalam rumah, sedangkan Yosef masih mematung antara percaya atau tidak dengan kata-kata Mami nya. Meskipun Yosef tau Mami nya adalah orang yang paling baik menurutnya, belum. pernah beliau mengekang hidup putranya itu.
Pertama, mengenai pendidikan antara Dokter Yosef dan Aqila yang terpaut dia strata. Di lagi sekarang Aqila sedang sakit dan sudah lama di rawat di rumah sakit.
Yosef sadar dan beranjak dari tempat ia berdiri mematung. "Semoga Mami bijaksana dalam menghargai perasaan yang di berikan Sang Pencipta kepada putranya. Lagi pula, tidak ada yang kebetulan mengenai perasaan ini. Sudah banyak perempuan cantik mendekati, sudah banyak pula pasien muda yang Saya tangani. Tidak pernah ada perasaan seperti kepada Aqila." Gumam Dokter Yosef.
***
Sore hari sebelum matahari benar-benar tenggelam, Mami Dina menggoyangkan tubuh Yosef untuk membuka mata dari tidur.
"Memang kebiasaan susah di rubahnya Nak, semoga nanti pasanganmu bisa sabar seperti Mami." Gumam Mami Dina.
Wanita itu membuka penutup mata yang biasa di gunakan putranya saat tidur. Dokter muda itu langsung kaget berdiri dan berusaha menghindar.
"Apa sih Mami? Ganggu Osef lagi tidur saja. Lagi mimpi indah Mami bangunin." Yosef bangun dengan bersungut-sungut.
"Osef yang manja kesayangan Mami, katanya mau ajak Mami ketemu calon menantu." Kata Mami Dina mengingatkan.
__ADS_1
"Oh iya Mi, Osef sampai lupa. Tunggu sebentar ya Mi." Kata Yosef Rananta.
Dalam sekejap putra dari Roni Rananta tersebut menyulap dirinya menjadi pria yang terkesan cool dan berkharisma. Jauh sekali dengan penampilannya saat di dalam rumah kediaman orang tuanya.
Nyonya Roni Rananta tersebut sudah berpakaian dengan elegan. Wajahnya yang sedikit di poles dan dengan balutan lipgloss yang memberi kesan lebih muda dari umur yang sebenarnya. Mereka berangkat tanpa menggunakan sopir pribadi.
"Sudah sampai Mi, silahkan berjalan duluan." Dokter muda itu memperlakukan Mami nya bagaikan ratu dan Ia sebagai pelayannya.
Yosef melangkah mengarahkan Mami Dina ke ruang perawatan Aqila. Namun setelah mereka tidak ruangan tersebut kosong tanpa ada seorang pasien. Memang ketika Dokter muda tersebut masuk perawat yang berjaga sedang makan di lantai ruangan, membuat Dokter Yosef tidak ke kerja perawat terlebih dulu.
"Lho kok Aqila nya dimana?" Kata Dokter Yosef terlihat gusar.
"Mungkin sudah pulang Sayang." Jawab Mami Dina.
"Tidak mungkin Mi, Om Dengan sendiri nggak masuk hari ini. Terus siapa yang bertanda tangan surat bisa rawat jalannya?" Kata Dokter Yosef.
Ia berbalik ke arah meja perawat, Dokter Yosef bertanya kemana pasien yang bernama Aqila Putri. Mengenai Ibu Naya memang sudah di berikan surat bisa rawat jalan oleh Dokter Yosef lewat aplikasi berwarna hijau tadi pagi.
"Permisi." Kata Dokter Yosef kepada perawat tersebut.
"Maaf Dok, kami tidak melihat kedatangan Dokter. Kami beristirahat makan sebentar." Kata perawat perempuan tersebut.
"Oh, iya tidak apa-apa. Pasien Dokter Derwan yang bernama Aqila Putri di mana ya?" Tanya Dokter Yosef gemetar.
"Aqila Putri sedang di rawat di ruang ICU Dok, tadi beliau kembali drop dan belum sadarkan diri sampai sekarang ini." Kata perawat Sintia.
"Terimakasih ya." Jawab Dokter Yosef.
Ia mengusap kepalanya dengan gusar, Dokter Yosef menyesal tidak masuk hari ini. Ia menunduk sejenak lamanya, sampai kemudian Mami Dina mengusap pundak putranya.
"Kamu sayang sekali ya dengan Aqila, Nak? Sabar ya Nak, Mami akan bantu sebisa mungkin untuk kesembuhan gadis itu. " Kata Mami Dina berbisik.
"Iya Mi, terimakasih support nya." Kata Dokter Yosef.
"Ayo, kita ke ruangan ICU Nak." Mami Dina menggandeng putra semata wayangnya.
__ADS_1