
Di sebuah kafe romantis di depan pantai, Randen memarkirkan mobil. Pria berparas bule tersebut membukakan pintu untuk Sartika dan Aqila.
"Silahkan Nona." Kata Randen dengan tubuh membungkuk.
"Terimakasih Kak." Jawab Aqila.
Dokter Yosef yang melihat saudaranya membukakan pintu untuk Aqila. Ia sedikit merasa gusar dan langsung keluar dari pintu yang lain.
"Lain kali biar saya aja yang bukakan pintu untuk Aqila." Kata Dokter Yosef.
"Ini nih, perkara buka pintu saja di permasalahkan. Tumben seorang Yosef Rananta yang selalu cool di hadapan wanita, bisa bucin begitu." Ucap Randen seolah ngeledek.
"Udah, diamlah!" Kata Dokter Yosef.
Melihat wajah sang kakak yang nampak serius, Randen tidak mau lagi membuka suara. Ia menggenggam tangan Sartika, mengajaknya masuk ke dalam sebuah kafe tersebut.
"Ayo, kalian mau masuk nggak?" Kata Randen karena melihat Aqila dan saudaranya itu masih berdiri mematung di samping mobil.
"Iya, duluan lah." Jawab Dokter Yosef singkat.
Randen dan Sartika sudah duduk di kursi yang di sediakan oleh kafe tersebut. Dokter Yosef melirik ke arah Aqila, ia mencoba memegang tangan gadis itu. Belum sempat terjadi Aqila sudah melangkah menyusul sahabatnya.
"Aidah, gagal lagi." Gumam Dokter Yosef.
"Jangan ngedumel terus." Ujar Qila yang bejalan di depannya.
"Habisnya orang yang saya cinta, yang saya sayang, yang saya inginkan. Dia tidak peka! Sudah di tolak tapi saya tetap cinta, ah bodohnya." Dokter Yosef kembali bergumam.
"Bang silahkan duduk dulu, jangan kesal terus. Malu tuh banyak orang, nanti di kira sedikit gila." Kata Aqila.
"Biarlah gila, nanti kalau gila saya akan sebut nama kamu terus. Biar semua orang tau kamu yang telah membuat saya gila." Kata Dokter Yosef.
"Sudah Bang, makan dulu yuk. Terimakasih Kak Randen, makanannya sudah di pesankan." Kata Aqila.
"Iya, mari kita makan. Yuk Sayang, makanlah yang banyak." Kata Randen mencoba memberikan perhatian pada Sartika.
Aqila merasa bersalah pada Dokter Yosef, tapi bagaimana jika hatinya belum bisa menerima dokter muda itu. Perlakuan Dokter Yosef yang sangat baik membuat Aqila merasa nyaman.
Tapi perasaan nyaman tersebut belum bisa menggantikan Arya yang sangat ia cintai. Aqila juga iri melihat Sartika sahabatnya, seakan gadis itu mudah sekali dekat dengan seorang pria.
Jika di lihat, Randen juga nampaknya adalah pria yang baik. Apalagi ia bersaudara dengan Dokter Yosef, pasti didikannya tidak jauh berbeda. Tidak ada alasan Aqila ingin menjauhkan sahabatnya dengan saudara Dokter Yosef tersebut.
"Kakak mau Tika suap?" Tanya Sartika lembut.
"Mau dong, thanks you baby." Ucap Randen.
"Andai saja!" Gumam Dokter Yosef.
Dokter muda itu menjatuhkan pisau dan sendok ke piring. Hingga kejadian itu membuat semua pengunjung semua melirik ke arah mereka.
Dokter Yosef beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi menuju parkiran di mana mobil mereka berada. Aqila hanya bisa berdiam diri tidak tau apa yang harus di lakukan. Hingga akhirnya Randen menyarankan agar Aqila menyusul Dokter Yosef.
"Kok Kakak ipar diam saja? Susul gih Bang Yosef nya." Kata Randen.
"Saya takut Kak, Bang Yosef pasti sedang marah." Kata Aqila enggan menemui Yosef.
"Qil, dia tidak benar-benar marah. Hanya butuh di perhatikan oleh kamu, percayalah." Kata Sartika.
Baru kali ini Sartika tidak mendukungnya, Aqila jadi serba salah. Seperti mereka telah bersekongkol menyalahkannya, membuat dirinya semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Aqila.
Ia beranjak dari tempat duduk, melangkah ke arah Dokter Yosef pergi. Setelah sempat mencari berkeliling di sekitar kendaraan yang tadi mengantarkan mereka ke tempat ini, Aqila belum juga menemukan Dokter Yosef.
Akhirnya Aqila melihat ke dalam mobil dengan mengarahkan cahaya senter handphone di kaca mobil. Memang benar ternyata Dokter Yosef ada di dalam sana.
"Bang, buka pintunya." Kata Aqila sambil menepuk kaca mobil.
Dokter Yosef seakan tidak menghiraukan ketukan dari Aqila. Ia tetap bersandar di kursi dengan mata terpejam. Aqila juga berusaha menghubungi Dokter Yosef lewat ponselnya, ponsel yang ada di dalam menyala dan bergetar, namun pemiliknya tidak sedikitpun menghiraukan benda pipih tersebut.
Aqila sudah putus asa, ia tidak tau kesalahan apa yang telah dia buat hingga membuat Dokter Yosef marah seperti ini. Aqila sudah capek, ia menangis karena tidak tau lagi harus melakukan apa.
Ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat aja ke ponsel milik Dokter Yosef. "Maaf kalau Aqila salah, saya duluan pulang ya." Kata Aqila dalam pesan singkat yang ia kirim ke ponsel ponsel Dokter Yosef.
Gadis itu berjalan menjauh dari tempat parkir pinggir kafe. Ia berniat memesan ojek online untuk kembali ke hutan kota untuk beristirahat. Ia membuka aplikasi berwarna hijau dan putih untuk meminta jasanya, tapi Aqila kurang beruntung karena tiba-tiba kuota datanya habis sehingga aplikasi tersebut tidak bisa di buka.
Aqila juga ingin meminta ojek lewat offline, ada bapak-bapak yang nongkrong di depan rumah. Namun rasa takut Aqila sangat besar, sehingga gadis itu memutuskan berjalan kaki kembali ke hutan kota.
Dokter Yosef memang tidak tidur dari tadi, pria itu hanya sedikit kesal, melihat saudaranya bisa mesra dan hangat seperti itu dengan Sartika. Sedangkan dirinya hanya bisa mencintai tanpa di cintai.
Dokter spesialis saraf itu melangkah kembali ke arah kafe untuk menemui Aqila. Ia hanya melihat sahabat calon kekasihnya tersebut sedang ngobrol santai dengan saudaranya. Dokter Yosef penasaran dia mana Aqila berada.
"Nden, Aqila dimana?" Tanya Dokter Yosef.
"Bukannya tadi nyusul Kakak ke mobil?" Tanya Sartika kaget.
"Tadi memang ke mobil tapi pergi. Saya pikir kembali ke sini." Kata Dokter Yosef.
"Lah kok bisa Bang? Apa Abang nggak tau dia menemui Abang tadi? Atau Abang marahi Aqila?" Tanya Randen jengkel.
Sebenarnya Randen memang tau kebiasaan saudaranya yang selalu berlagak dingin. Padahal kenyataan ia sangat mencintai gadis itu.
"Lah ini, hanya diam saja. Maunya Abang gimana sih?" Emosi Randen memuncak, ia menjadi geram pada Dokter Yosef.
"Sudah sudah, tidak akan menyelesaikan masalah. Sebentar saya telepon Aqila dulu." Kata Sartika menengahi.
Mereka berdua hening tanpa ada yang menyahut lagi. Sedangkan Randen terpesona karena satu tangan Sartika tidak sengaja memegang tangannya, karena memberhentikan saat dirinya berdebat dengan saudaranya.
Sartika menghubungi Aqila beberapa kali, barulah panggilannya di angkat. Sartika langsung memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
"Qil, kamu di mana sekarang? Kami khawatir Qil, kamu kan masih dalam pemulihan." Kata Sartika dengan lembut.
"Qila di jalan Tik, kita berkemah berdua saja ya. Gue tunggu di tenda." Kata Aqila dari sambungan telepon.
"Kamu dimana sekarang Qil?" Tanya Sartika.
"Dijalan." Jawab Aqila.
"Kamu sama siapa Qil?" Tanya Sartika kemudian.
"Sendirian, nggak udah khawatir Tik." Jawab Aqila.
"Share lokasi mu, biar gue ke sana." Kata Sartika.
"Bentar lagi sampai kok, kamu ke sinilah. Qila tunggu Tik, jangan sama Dokter gila itu lagi." Kata Aqila pelan.
Suara Aqila tentu saja bisa di dengar jelas oleh Dokter Yosef dan Randen, karena sejak tadi Sartika memang menekan tanda loudspeaker di ponselnya. Namun Dokter Yosef hanya diam saja, rasa khawatirnya telah membuatnya merasakan sesak di hati terdalam. Perasaan bersalah kepada Aqila telah menyelimuti akal logikanya.
"Oke Qil," Jawab Sartika.
__ADS_1
Mereka bertiga dengan cepat menuju mobil, dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi. Karena jarak antara kafe yang mereka kunjungi dengan hutan kota hanya sekitar 1,5km saja, dalam waktu kurang dari lima menit mereka telah tiba di tempat tujuan.
Sartika dengan sekuat tenaga berlari ke arah tenda. Ia menemukan Aqila sedang duduk menangis di dalam tenda. Sedangkan dia laki-laki tersebut berdiri di luar.
"Qil kamu kenapa? Kamu masih sedih karena Arya? Kamu nggak sendirian Qil, gue juga sudah putus dengan Kak Irwan dia hari sebelum ujian skripsi, Kak Irwan berpacaran lagi dengan orang lain." Kata Sartika.
"Tapi Tik kenapa kamu tidak cerita sama gue. Kenapa kamu sepertinya tidak sedih? Lagi pula tadi salahnya Dokter itu kok, gue udah manggil-manggil sampai capek tapi dia seakan tidak dengar." Sungut Aqila.
"Gue sedih Qil, gue juga sakit kehilangan Kak Irwan. Gue juga bertanya-tanya, kenapa harus ketahuan saat gue butuh support yang lebih darinya.
Tapi gue juga tidak menyesal di jauhkan oleh manusia seperti itu. Syukur Qil kita di perlihatkan sifat aslinya sebelum menikah. Coba lihat di luar sana banyak perempuan menyesal karena tidak mengenal sifat asli orang yang mereka jadikan pasangan seumur hidup.
Coba bayangkan betapa menyakitkan hidup mereka. Apalagi wanita yang sudah memiliki anak, banyak mereka bertahan karena tidak ada pilihan lain." Kata Sartika.
"Tapi kenapa kamu cepat banget akrab dengan Randen yang baru saja kita kenal Tik?" Tanya Aqila.
"Ah, kalau itu biasa aja. Tidak di masukan dalam hati, ngobrol biasa saja. Dia juga asik ngobrolnya." Jawab Sartika.
"Kalian kan sudah panggil sayang. Kok bisa? Udah jadian?" Tanya Aqila.
"Enggak semudah itu Qila. Itu hanya panggilan saja biar lebih seru, nyambung ngobrolnya." Jawab Sartika.
"Hem, tapi Qila tidak bisa seperti itu Tik." Jawab Aqila.
"Jadilah diri sendiri Qil. Tapi jangan cepat marah aja. Coba kasih Dokter Yosef kesempatan mendekati mu, tidak usah pacaran dulu kalau belum bisa.
Setidaknya berteman dan bisa nyambung ngobrolnya. Yuk kita temui mereka,tapi jangan nangis lagi." Kata Sartika.
"Iya Tik." Jawab Aqila.
Mereka keluar dari tenda, lalu mendekat kearah Dokter Yosef dan Randen di meja bulat yang terbuat dari semen tersedia di sana. Melihat kehadiran mereka Dokter Yosef menjadi sedikit gelisah, ia takut kalau Aqila masih marah dengannya.
"Silahkan duduk." Kata Dokter Yosef kaku.
Randen hanya tersenyum melihat saudaranya itu belum juga berubah. Sikapnya yang sangat labil ketika berhadapan dengan gadis yang ia sukai menjadi hal yang lucu baginya.
Sartika dan Randen membiarkan dua insan itu dulu yang bicara. Sedangkan Aqila hanya diam sesekali ia menunduk karena tidak berani menatap mata Dokter Yosef.
"Aqila, saya minta maaf tadi membuat kamu marah." Kata Dokter Yosef.
Ia mencoba menggenggam tangan Aqila. Tanpa menerima dan juga menolak, Aqila tetap berdiam diri. Ia juga menuruti kata sahabatnya, agar bisa belajar membuka hati untuk Dokter Yosef.
"Iya, nggak apa-apa." Jawab Aqila.
"Serius?" Tanya Dokter Yosef.
"Hm, iya." Aqila menghembuskan napas pelan.
Tanpa diduga darah segar mengalir dari hidungnya. Dokter Yosef panik ketika melihat wanita yang sangat ia sayangi tiba-tiba sakit. Ia melepas pegangan tangan mereka dan berusaha mengelap cairan merah yang keluar dari hidung Aqila dengan tangannya. Namun tanpa di sangka Aqila menolak dengan menutup bagian hidungnya dengan tangan.
"Maaf, ini sapu tangan." Kata Dokter Yosef.
"Bang-bang, bantuin lah. Katanya cinta butuh perjuangan, dah tau kakak ipar sakit di kasih sapu tangan aja." Kata Randen keceplosan.
"Diam lah Nden, saya yang dokter disini. Kamu pebisnis mana tau beginian." Jawab Dokter Yosef.
"Siap Pak Dokter. Dokter ya ya ya, Dokter cinta atau budak cinta nie?" Kata Randen kemudian.
Dokter Yosef melirik sedikit ke arah Randen yang terus mengusili dirinya, sambil tangannya masih mengelap cairan merah yang keluar dari hidung calon kekasihnya. Randen menyadari bahwa sedikit lagi akan meledak jika di teruskan, ia memilih untuk diam dan segera mengalihkan pandangan kepada Sartika.
__ADS_1