Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Kalian Cantik!


__ADS_3

Sepuluh menit di perjalanan, mengantarkan Aqila dan Sartika ke gerbang hutan kota. Setelah memarkirkan motor, mereka berdua menemui panitia yang berjaga.


"Maaf Bang, saya Sartika dan ini sahabat saya Aqila. Rencananya kami ingin bermalam di sini. Mohon sediakan tenda dan peralatan masak." Kata Sartika.


"Saya Edi, petugas disini. Baik, silahkan tunggu dulu Neng." Jawab petugas bernama Edi tersebut.


"Terimakasih Bang, nampaknya malam ini akan cerah. Apa ada pengunjung yang menginap juga?" Tanya Sartika kemudian.


"Banyak Neng, sebagian mereka yang membawa keluarga." Jawab Edi.


Setelah berpamitan, Sartika dan Aqila masuk ke are kawasan hutan kota tersebut. Suasana yang di buat sealami mungkin, membuat siapapun yang berkemah di sana merasakan keindahan alam yang sangat natural.


Terlihat di sana juga sudah ada beberapa keluarga yang sudah bersiap-siap menata barang mereka. Sebagian mereka telah mendapat tenda, juga sebagian masih menunggu tenda di pasangkan oleh petugas.


Begitu juga dengan Aqila, mereka memilih tempat yang tidak terlalu sepi dan tidak juga terlalu ramai. Aqila meletakkan tas pakaian mereka di tempat duduk, ia duduk di sebelah Sartika.


Sebentar lagi senja berganti malam, tiba saatnya tenda mereka di pasang oleh petugas. Baru kali ini Aqila merasakan suasana malam di luar rumah. Kunang-kunang dan lampu warna-warni telah menambah pesona malam.


Wangi natural dari bunga lavender yang ada di tepi danau sebelah timur hutang kota, menambah suatu malam yang cerah. Bintang dan bulan seakan bersemangat menghibur Aqila yang sedang patah hati.


"Silahkan Neng, tendanya sudah selesai. Alat masaknya sudah ada di atas meja kecil di samping tenda. Kalau adau apa-apa silahkan temui kami di gerbang utama maupun gerbang yang ada di sebelah sana.


Kalau seandainya ada hal yang sangat berbahaya silahkan tekan bel yang ada di dalam tenda. Maka semua petugas dan pengunjung akan mendengarnya." Kata petugas Edi.


"Terimakasih Bang." Jawab Aqila.


Sartika dan Aqila meletakkan barang barang mereka di dalam tenda. Setelah itu mereka duduk di bangku menghadap kolam yang airnya sengaja di buat berwarna-warni.


Sekeliling kolam terdapat bangku-bangku berukuran sekitar satu meter. Sudah banyak pengunjung yang berada di sana, nampaknya ikon kolam tersebut adalah salah satu yang diminati oleh pengunjung.


Di bangku sebelah Aqila dan Sartika, seorang laki-laki muda sedang bermain ponsel dan menikmati sebotol minuman susu rasa buah.


Pria tersebut berperawakan tinggi dan sangat tampan, wajahnya yang khas bule dan kulitnya yang putih sudah menjelaskan bahwa laki-laki tersebut bukanlah pria lokal. Bisa jadi setidaknya ia adalah blasteran lokal dan import.

__ADS_1


Sartika memperhatikan pria yang sedang duduk tidak jauh dari mereka. Sedangkan Aqila memperhatikan ikan dalam kolam yang berwarna-warni akibat cahaya lampu.


Diperhatikan Sartika rupanya pria tersebut mengetahuinya, ia mendekat ke arah Sartika dan Aqila.


"Hay, boleh gabung?" Tanya Pria tersebut.


"Boleh silahkan." Jawab Sartika.


Pria tersebut membentangkan kursi lipat yang sengaja ia bawa. Aqila yang tadinya fokus kepada ikan-ikan, kaget melihat oda orang lain mendekati mereka.


"Saya Randen, saya tinggal di komplek Asri Jaya." Kata Pria tersebut memperlihatkan kartu tanda penduduk, seolah ingin menegaskan bahwa dirinya bukanlah orang jahat.


"Saya Sartika, dan ini sahabat saya Aqila." Kata Sartika memperkenalkan diri.


Sartika bersalaman dengan pria tersebut, begitupun Aqila. Ia berusaha senyum karena Sartika nampaknya semangat sekali berkenalan dengan pria baru ini. Aqila tidak ingin merusak suasana hati sahabatnya.


"Wow kalian gadis paling cantik yang pernah saya temui." Puji Randen.


"Benarkah?" Tanya Sartika yang muda ke ge-er an saat mendapatkan pujian.


Berbeda dengan Sartika yang senang di puji Randen, pria yang baru berkenalan dengan mereka. Aqila justru merasa risih, ia takut pria tersebut bukanlah pria yang baik-baik.


"Tik, hati-hati." Bisik Aqila.


"Sttt, nanti dia dengar lho Qil. Nggak enak." Jawab Sartika.


"Kalian bermalam di sini Baby?" Tanya Randen kemudian.


"Iya, kalau tidak hujan kami rencananya bermalam di sini." Jawab Sartika.


Saat mereka ngobrol, tiba-tiba saja ponsel Randen bergetar. Ia meminta izin untuk mengangkat telepon kepada Sartika.


"Sebentar ya, telepon dari sepupu saya." Kata Randen.

__ADS_1


"Silahkan angkat dulu Kak." Jawab Sartika.


Tanpa menjauh Randen mengangkat panggilan masuk tersebut. Randen tau yang menelepon adalah sepupunya, biasanya sepupunya tersebut hanya menanyakan keberadaannya saat belum pulang.


"Halo, ada apa Bang?" Kata Randen menyapa lawan bicara.


"Dimana kamu Nden? Belum pulang, Mami nanya tuh." Jawab seseorang dari sambungan telepon.


"Lagi nongkrong Bang di taman kota, sendirian." Jawab Randen.


"Benar kamu di taman kota? Tumben juga sendirian? Mami tuh khawatir Randen." Kata Pria tersebut.


"Iya-iya Bang, tolong bilang Mami sebentar lagi Randen pulang. Sebenarnya nggak sendiri juga sih, ada cewe cantik di sini. Baru kenalan." Jawab Randen.


"Pantas betah ya." Jawab pria dari sambungan telepon.


Randen meminta panggilan beralih ke video call, pada intinya ia ingin memamerkan bahwa ia sedang bersama wanita cantik. Pria yang menelepon Randen tidak lain adalah sepupunya yaitu Dokter Yosef.


Saat panggilan video call berlangsung, Randen mengarahkan kamera ponselnya kearah Sartika. Sartika memang tidak terlalu hafal dengan wajah Dokter Yosef, apalagi memang cahaya di kamar Dokter muda itu sangat redup.


Saat ponsel Randen mengarah ke Sartika, Dokter Yosef seakan percaya atau tidak dengan apa yang dilihatnya. Di samping Sartika, gadis yang sangat ia cintai menunduk tanpa menghiraukan suasana di sekitarnya.


Dokter Yosef sangat kenal dengan postur tubuh Aqila. Di tambah boneka kecil dalam pelukan gadis itu membuat hati Dokter Yosef kasihan. "Pasti dia kedinginan." Gumam Dokter Yosef.


"Siapa yang dingin Bang? Abang perhatian sekali dengan adikmu ini." Kata Randen.


"Ish, ngadi-ngadi kamu Nden. Cukup Mami aja ya yang takut kalau kamu kedinginan di luar. Saya sih nggak Nden, kalau kamu di tengah laut mungkin saya khawatir. Ini di taman dengan wanita masih kedinginan. Matikan kameranya!" Kata Dokter Yosef kesal.


Sebenarnya Dokter Yosef tidak lagi fokus dengan Randen. Ia hanya memikirkan kesehatan Aqila." Seandainya kamu mau menjadi kekasih saya Qil, pasti saya temani kamu di sana." Kata Dokter Yosef dalam hati.


"Bang, saya pulang dulu ya." Kata Randen.


"Biar saya jemput!" Jawab Dokter Yosef.

__ADS_1


"Ini dekat lho Abang, lagi pula masih sore ini. Pukul 19.30 juga. Abang mau ngeledek Randen penakut?" Randen tidak percaya kalau kakak sepupunya tersebut berniat untuk menjemputnya.


"Tunggulah di sana, jangan ke mana-mana. Saya berangkat sekarang." Kata Dokter Yosef dari sambungan telepon. Tanpa meminta persetujuan ia mematikan sambungan telepon.


__ADS_2