Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Semua Baik


__ADS_3

"Tik, bangun yuk." Aqila menggosok punggung sahabatnya.


"Hem, cepat sekali Qil." Jawab Sartika.


Gadis itu mengucek matanya yang masih sulit untuk terbuka. Cahaya yang masuk ke dalam tenda membuat gadis tersebut berulang kali menutup matanya, ia berusaha mengumpulkan kesadaran agar segera pulih.


"Gue harus pergi ke rumah sakit Tik. Semoga setelah ini gue benar-benar sembuh, agar tidak usah lagi bolak-balik ke rumah sakit." Kata Aqila.


"Semangat sahabatku." Jawab Sartika.


Ia langsung memeluk sahabatnya dengan erat. Tanpa bisa mengelak, Aqila terpaksa pasrah menikmati bau iler Sartika yang belum gosok gigi. Memang sahabatnya ini sangat cantik, namun dia bisa melukis pulau-pulau saat sedang tertidur.


"Ish, acem Tik. Gosok gigi dulu gih sana." Kata Aqila.


"Eh, iya. Maaf." Jawab Sartika melepaskan pelukannya.


"Hahaha, wajahmu seperti itu sekali Tik. Kalau tadi malam Randen melihatmu melukis pulau, bisa jadi ilfil dia." Goda Aqila.


"Randen siapa?" Sungut Sartika dengan wajah bingungnya.


"Apa penyakit lupa mu ini sudah nggak ada obatnya Tik?" Tanya Aqila.


"Biasa, penyakit langkah." Jawab Sartika.


"Itu lho Tik, pria idaman yang ngobrol sama kita semalam. Dia masih tidur tuh di tenda sebelah, sepertinya kalian memang berjodoh. Sama-sama aneh." Kata Aqila.


"Semoga saja." Kata Sartika cengengesan.


Selesai berkemas mereka keluar dari tenda, dengan menenteng tas pakaian mereka. Sartika membawa pasta gigi bejalan ke arah tempat cuci muka. Membersihkan mukanya sebelum kembali ke rumah Aqila.


Randen juga sudah bangun, kedua pria tersebut sudah duduk manis di meja bulat depan tenda. Mereka menikmati kopi yang dengan asap yang masih mengepul.


Sartika mendekat dengan Aqila, ia sudah siap dengan tas pakaian dan tas kecil di punggung nya. Aqila menatap sahabatnya dan menggandeng tangan Sartika.


"Nggak ada yang ketinggalan lagi Qil?" Tanya Sartika.


"Kayaknya nggak deh, yuk kita bayar dulu tendanya." Jawab Aqila.


Mereka mendekat kepada dua pria yang telah menemani mereka dari sore kemarin. Aqila dan Sartika ingin berpamitan duluan pulang dan mengucapkan terimakasih.


"Selamat pagi Kak, kami pamit duluan pulang. Terimakasih atas waktunya." Kata Sartika.


"Duduk dulu dong." Ujar Randen.


"Maaf Kak, tapi Aqila harus kontrol berobat ke rumah sakit pagi ini." Jawab Sartika.


"Kalau begitu ayo kakak antar." Jawab Randen cepat.


Mendengar ucapan adiknya itu, Dokter Yosef tersenyum kecil. Ia baru kali ini melihat Randen berusaha keras mendekati sorang wanita.


"Maaf Kak, tapi kami bawa motor ke sini." Jawab Sartika


"Ya udah kita naik motor aja biar lebih romantis." Kata Randen kemudian.


"Saya sama Qila Kak, gimana? Masa bertiga." Kata Sartika.


Randen melirik ke arah Dokter Yosef, seperti sedang memohon dalam kode yang tersirat. Dokter Yosef pura-pura mengedarkan pandangannya kepada tumbuhan dan orang-orang yang ada di sana.


"Qila sama Abang Osef dulu ya Qil, memohon." Kata Randen menangkupkan kedua tangannya menghadap Aqila.


"Bang Yosef mau pulang, gini aja Kakak iringi kami naik motor." Jawab Aqila.


Mendengar Aqila yang menyebut dirinya ingin pulang sendirian, membuat Dokter Yosef menjadi gemes dengan wanita yang ia cintai tersebut. Bagaimana tidak ternyata gengsi yang ia jaga selama ini ketika berhadapan dengan para wanita, di hadapan Aqila ia harus di turunkan berkali-kali.


Dokter Yosef melirik kepada Aqila yang berdiri mematung tidak jauh dari tempat ia duduk. Dokter muda itu menarik tangan Aqila hingga membuatnya hampir jatuh mengenai tubuh Dokter Yosef.


"Siapa bilang saya mau pulang sendirian hari ini? Saya mau berduaan sama kamu sepanjang hari. Kalau kamu menolak, saya terpaksa meminta kepada Om dan Tante untuk memberi restu menikahi mu." Ancam Dokter Yosef.


"Hem, tidak ada pilihan lain." Jawab Aqila.

__ADS_1


Mereka semua menuju gerbang keluar taman kota, Randen menyelesaikan pembayaran tenda kepada panitia. Sedangkan Dokter Yosef menggandeng Aqila menuju mobil, di tangannya menenteng tas pakaian dia gadis tersebut.


"Tik, kami duluan ya. Selamat menikmati jalan-jalan romantis dengan sang pangeran." Ujar Aqila kepada sahabatnya.


Sartika dan Randen akan pulang ke rumah Aqila dengan mengendarai motor. Sedangkan pakaian mereka di masukan kedalam bagasi mobil dokter Yosef.


"Siap, cepat buka hati ya untuk Pak Dokter." Jawab Sartika.


"Hm, kata-kata lu selalu membuat gue semakin tersudut." Jawab Aqila.


Dokter Yosef membukakan pintu mobil untuk Aqila. Setelah Aqila masuk, Dokter Yosef dengan santai telah berada di depan kemudi. Sedangkan Randen mengiring di belakang dengan menaiki motor Mama Tita yang di pakai putrinya. Terpaksa mobil Randen harus di titip dengan petugas yang ada di taman kota.


Dokter Yosef melajukan mobilnya dengan pelan, sesekali melirik ke arah Aqila yang duduk manis di sampingnya. Ia melihat ada serpihan daun kering nempel di leher Aqila. Dokter Yosef mencondongkan tubuhnya untuk mengambil serpihan daun tersebut.


"Kenapa Dok?" Tanya Aqila kaget.


Tangan Dokter Yosef menjangkau serpihan daun tersebut dengan tangannya. Namun naas benda itu masuk kedalam baju Aqila lewat sela-sela baju dekat leher. Dokter Yosef memberhentikan mobilnya, ia menarik Aqila hingga nafas mereka beradu.


"Nah, ini ketemu." Kata Dokter Yosef.


Ia memperlihatkan serpihan daun yang ia temukan setelah tangannya sedikit menyelinap kedalam baju Aqila. Wajahnya tidak memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun.


"Apaan sih Dok? Nggak sopan!" Kata Aqila.


"Nggak sopan apanya? Tadi memang ada daun kok dileher kamu, saya mau bantu mengambil itu daun. Salah daun itu jatuh, nggak sampai dalam juga. Otakmu aja yang mesum." Jawab Dokter Yosef untuk membela dirinya.


"Oh." Ucap Aqila singkat.


"Lagi pula kalau saya mau, banyak kok wanita yang mau di gitukan sama saya. Cantik, putih, tinggi, idaman deh pokoknya." Kata Dokter Yosef.


"Ya udah, apa hubungannya sama Qila?" Jawab Aqila.


"Nggak sih cuma bilang aja kalau mau. Udah jangan cemberut gitu." Ucap Dokter Yosef.


Pria itu kembali melajukan mobilnya, mereka saling diam sampai tiba di rumah orang tua Aqila. Saat mereka tiba, rupanya Randen dan Sartika sudah ngobrol di ruang tamu bersama Mama Tita. Sedangkan Pak Pindri, ayah Aqila sudah pergi sejak pagi sekali untuk mengawasi orang yang sedang memanen kepala sawit di kebun miliknya.


"Silahkan Nak Dokter, diminum. Memang sengaja Tante udah buatkan sekalian, karena kata Tika tadi kalian juga sudah di jalan dan tidak lama lagi tiba." Ucap Mami Tita.


"Terimakasih Tante." Jawab Dokter Yosef.


Sartika dan Aqila pamit ke kamar untuk mengganti pakaian mereka. Randen melirik ke arah Dokter Yosef yang duduk di sebelahnya.


"Gimana Bang, pulang kita?" Tanya Randen.


"Kamu duluan saja Nden, saya langsung ke kantor." Jawab Dokter Yosef.


"Baiklah kalau gitu." Jawab Randen.


Pria itu menghabiskan minumnya lalu berpamitan dengan Mama Tita. Randen juga telah meminta nomor ponsel Sartika saat di jalan tadi.


"Saya pamit dulu Tante, ini mau kerja juga." Kata Randen.


"Iya, hati-hati di jalan Nak. Lagi rame." Jawab Mama Tita.


"Oke Tante, terimakasih." Jawab Randen.


Aqila dan Sartika kembali keruang tamu, mereka melihat Randen sedang berpamitan juga menyalami pria itu. Mama Tita dan Sartika mengantar Randen sampai pintu depan. Ia memberi kode pada Sartika supaya meneleponnya nanti.


Namun Randen tiba-tiba kaget karena baru sadar kalau mobilnya tadi di tinggal di taman. Randen dengan malu-malu masuk lagi ke rumah untuk memberitahu kakaknya. Ia membisikan sesuatu kepada Dokter Yosef.


"Bang, mobil Anden kan masih di taman kota." Kata Randen.


"Nden, kan bisa pesan taksi. Jangan manja ah, namanya juga perjuangan. Tadi kamu senang sekali saya lihat naik motor. Tiba-tiba mobil di tinggal pusing kan?" Kata Dokter Yosef.


"Ada apa Nak?" Tanya Mama Tita melihat mereka seperti punya masalah.


"Enggak Tante, ini mobil Randen di tinggalnya di hutan kota tadi. Saking senangnya dapat kenalan baru." Goda Dokter Yosef.


"Ah, lho Bang." Jawab Randen.

__ADS_1


Ia memukul-mukul kecil Dokter Yosef. Mama Tita melihat keakraban kedua pria tersebut tersenyum kecil.


"Kalian berteman?" Tanya Mama Tita.


"Iya Tante, Bang Yosef ini kakak saya yang paling menyebalkan. Pinjamin mobilnya ngapa?" Kata Randen seperti biasanya, ia suka merajuk.


"Randen, saya mau ke kantor. Lagian hutan kota itu dekat. Tuh, ojek online yang saya pesankan udah datang." Kata Dokter Yosef.


"Jadi Abang benar-benar pesan ojek online?" Tanya Randen.


"Iya. Udah sana." Jawab Dokter Yosef.


Randen menurut saja, ia permisi keluar untuk menemui ojek online yang telah di pesankan oleh kakaknya. Setelah Randen pergi, Dokter Yosef memperbaiki posisi duduk nya karena ia ingin meminta izin agar Aqila kontrol hari ini bersamanya saja, sekalian dia kerja.


"Tante kalau boleh saya mau minta izin, untuk menemani Aqila ke rumah sakit untuk kontrol kedua. Nanti pulang kerja saya antar Qila pulang." Kata Dokter Yosef.


"Tapi Nak, nanti sore Tika mau pulang juga. Kasian kan kalau kamu nggak ada." Kata Mama Tita melirik Aqila.


"Nggak apa-apa Tante kalau Aqila mau di temani Dokter Yosef kontrolnya. Kalau boleh saya besok saja pulangnya, soalnya Mama Papa pulangnya besok dari luar kota. Saya sendirian di rumah." Kata Sartika memandang Aqila dengan senyum yang sulit diartikan.


"Oh, gitu. Nggak apa-apa sayang, Tante sudah anggap kamu anak sendiri. Mau berapa lama kamu di rumah ini, Tante sangat bersyukur. Rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu sayang." Jawab Mama Tita.


"Terimakasih banyak Tante." Jawab Sartika.


"Kalau begitu nggak apa-apa Nak Dokter. Tante titip Aqila ya." Kata Mama Tita.


"Terimakasih Tante. Kalau begitu kami pamit dulu, sepertinya saya akan terlambat." Kata Dokter Yosef.


"Iya Nak Dokter hati-hati ya." Kata Mama Tita.


Mama Tita mengantar Aqila dan Dokter Yosef sampai halaman rumah. Wanita itu melambaikan tangan saat Dokter Yosef telah melajukan mobilnya dengan pelan.


Hanya butuh waktu setengah jam, mereka telah tiba di rumah sakit. Aqila mengiringi langkah Dokter Yosef dari belakang. Terlihat sudah banyak pasien yang ada di ruang tunggu depan poli saraf tempat Dokter Yosef melakukan pemeriksaan.


Dokter Yosef memanggil satu persatu pasien, berdasarkan urutan mereka. Sedangkan Aqila di lakukan CT-scan di ruang tindakan. Sambil menunggu hasil CT-scan bagian kepalanya dan menunggu Dokter Yosef menyelesaikan pekerjaan.


Aqila juga di ambil sampel darah untuk pemeriksaan labolatorium. Setelah selesai semua Aqila menunggu di tempat duduk, di mana pasien lain menunggu antrian.


Dua puluh orang pasien sudah di berikan resep. Sebentar lagi waktu makan siang tiba. Terakhir Aqila di panggil oleh seorang asisten Dokter untuk masuk ke ruang pemeriksaan.


"Keluarganya mana dek?" Tanya Asisten Dokter tersebut.


"Nggak ada Kak, saya sendirian." Jawab Aqila sambil menunduk.


Melihat Aqila seperti kurang nyaman. Dokter Yosef beranjak dari duduknya. Pria itu memegang pundak Aqila.


"Kenalkan ini Aqila, Nit, Don. Dia calon istri saya." Kata Dokter Yosef kepada asistennya, Nita dan Doni.


"Baik Dok, maaf. Silahkan duduk Kak." Kata Nita.


"Mana rekapannya?" Tanya Dokter Yosef.


"Ini Dok." Jawab Doni menyodorkan berkas rekapan riwayat sakit Aqila.


Dokter Yosef memeriksa lembaran hasil CT-scan dan hasil cek darah dari laboratorium. Dokter Yosef mengamati lembaran tersebut, memahami setiap tulisan dan simbol. Ia juga tidak lupa membandingkan hasil CT-scan yang dulu.


"Hm, oke. Semuanya sudah normal, semuanya sudak baik-baik saja. Selamat ya sayang." Dokter Yosef memeluk Aqila di depan kedua asistennya.


"Dokter bisa romantis juga ya." Goda Doni.


Mendengar candaan Doni, Dokter Yosef segera melepas pelukannya. Ia kembali ke kursi kerja sambil merapikan kertas-kertas yang ada di meja.


"Selesai untuk pagi ini, selamat beristirahat siang." Ujar Dokter Yosef.


"Terimakasih Dokter, kami permisi duluan." Kata Nita.


"Okey, sama-sama." Jawab Dokter Yosef.


Setelah Doni dan Nita telah keluar duluan. Aqila ingin cepat-cepat menyusul mereka, namun tangannya di tarik oleh Dokter Yosef. Dengan secepat kita Dokter muda itu memposisikan tubuhnya di pintu, agar bisa menahan pintu supaya tidak terbuka.

__ADS_1


__ADS_2