
Tidak ada lagi kata yang bisa menjelaskan kepada pasiennya ini. Dari sekian banyak pasien yang Dokter Yosef temui, Aqila Putri adalah pasien yang paling menyebalkan. Namun tidak bisa di pungkiri bahwa gadis belia ini telah membuat hati seorang Yosef Rananta. Belum pernah ada wanita yang membuat hatinya seperti ini.
"Aqila sekarang kamu pikirkan dengan baik, kamu mau bersama orang yang tidak mencintai kamu atau bahkan peduli pun dia nggak." Jelas Dokter Yosef mencoba bersabar lebih lagi.
"Tapi Dok, Bang Arya adalah cinta pertama dan Qila mau dia menjadi cinta terakhir sampai Qila mati. Lebih baik Qila mati kalau tidak bersama Bang Arya.
Mendengar ucapan orang yang di cintainya tersebut, Dokter Yosef merasakan dunia runtuh bagi dirinya. Seandainya saja Aqila mau mengatakan hal itu untuk dirinya, Dokter Yosef akan berjanji untuk membahagiakan gadis itu sampai nafas terakhir.
"Ingat ya sekalipun kamu mati sekarang, apa kamu yakin Arya akan mengingat kamu. Kalau kamu mati yang ada orang tua kamu tuh bisa stres, lagi pula kamu anak tunggal." Kata Dokter Yosef lagi.
"Tapi Dok...," Jawab Aqila.
"Apa rasa mata kamu udah buta dan tidak melihat mereka lagi hah? Kalau kamu mau mati sekarang silahkan lompat lah dari sini!" Kata Dokter Yosef sudah memuncak rasa marahnya.
Mendengar Dokter Yosef yang marah seperti itu, Aqila hanya menunduk diam. Air matanya yang tadi sudah tumpah kembali di tahannya, rasa sakit di tinggalkan Arya membuat Aqila benar-benar kehilangan semangat hidup.
"Dok, Saya mau kembali dekat Mama." Kata Aqila pelan. Sebenarnya Ia takut kepada Dokter Yosef. Bisa saja seperti di TV, ada Dokter yang sangat kejam.
"Nggak jadi mau mati?" Tanya Dokter Yosef lagi.
"Maaf Dok, Qila ingat Mama. Qila akan berusaha menjalani hari yang berat ini." Jawab Aqila pelan, air matanya tetap ia tahan. Ia tidak ingin merasa lemah di hadapan Dokter ini.
Dokter Yosef kembali berjongkok, ia mengangkat wajah Aqila dengan kedua tangannya. Membuat gadis itu mau tidak mau menatap ke wajah Dokter Yosef.
"Saya mencintai mu dengan tulus, Mami juga sudah menerima kamu saat Saya beritahu beliau kemarin. Adakah cinta sedikit saja untuk Saya? Saya berjanji akan memeliharanya seumur hidup Saya." Kata Dokter Yosef.
Aqila hanya bisa membisu saat mendengar perkataan dari insan yang ada di depannya sekarang. Aqila tidak berani menjawab karena takut kalau ia tidak bisa mencintai Dokter muda ini. Juga Aqila merasa takut jangan-jangan Dokter Yosef hanya membantu dirinya untuk bisa melupakan Arya. Bisa saja pria di hadapannya sekarang sekedar kasihan dan ingin melihat dirinya sembuh.
Dokter Yosef tidak tahan lagi melihat Aqila menahan kesedihannya sendirian. Penghianatan sang kekasih rupanya sudah mempengaruhi semangat gadis belia ini untuk hidup.
Dokter muda itu tanpa ragu memeluk erat gadis yang selama ini ia cintai diam-diam. Seakan menumpahkan segala rasa, Dokter Yosef rela kalau setelah kejadian ini Aqila membencinya.
"Saya mencintai mu Aqila Putri. Bukan cinta pertama namun inilah cinta yang terakhir Saya berikan untukmu." Bisik Dokter Yosef.
"Tolong lepas, Qila mohon." Kata Aqila pelan.
Aqila tidak ingin meronta karena ia tau kekuatannya belum pulih. Sekalipun berteriak, tidak ada orang yang akan mendengarnya. Ia menjadi sangat takut kepada Dokter Yosef, hingga Aqila hanya bisa menunduk dan berserah kepada Sang Pencipta.
"Baiklah, Saya mencintai mu bukan mu menyakiti mu. Apapun akan Saya lakukan untuk membuatmu bahagia." Kata Dokter Yosef sambil melepas pelukannya.
"Benar Dokter mau melakukan apapun buat Qila?" Tanya Aqila dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Iya, Saya janji." Jawab Dokter Yosef.
"Dokter tolong buat Bang Arya cinta lagi sama Qila. Dokter pasti kenal kan sama Bang Arya, soalnya Qila lihat keluarga Bang Arya berteman di akun facebook Dokter." Kata Aqila kembali meneteskan air mata.
Mendengar ucapan Aqila, hati Dokter Yosef sangat sakit. Ia tidak sanggup melihat Aqila bersama orang lain, apalagi Ia sendiri harus membuat orang tersebut jatuh cinta kepada orang yang di cintainya. Rasanya tidak tidak bisa di terima oleh akal dan logika.
Namun, demi rasa sayang yang telah Ia pelihara hanya untuk Aqila dan janjinya pada gadis tersebut. Dokter muda itu menarik nafas kasar lalu membuangnya kemudian. "Mungkin ini yang di namakan ikhlas asal dia bahagia." Kata Dokter Yosef dalam hati.
"Bagaimana Dok? Dokter mau bantuin Qila?" Tanya Aqila menekankan.
"Saya akan berusaha." Jawab Dokter Yosef. Sebenarnya Ia sendiri tidak kuat melakukannya.
"Terimakasih Dok." Jawab Aqila dengan mata yang berbinar.
"Semoga kamu tetap bahagia." Kata Dokter Yosef.
"Oke, semangat!" Kata Aqila kemudian.
"Iya." Jawab Dokter Yosef.
Dokter muda itu hanya menunduk menjawab perkataan Aqila. Ia tidak ingin terlihat sedih di hadapan makhluk yang telah membuatnya selalu datang pagi beberapa waktu ini. Apalagi saat ini air mata Dokter Yosef tanpa di undang jatuh dengan sendirinya.
"Bagaimana nggak sedih Qila? Saya baru saja mengungkapkan perasaan sayang dan cinta yang Saya miliki untuk kamu. Saya terima kalau kamu belum bisa mencintai Saya seperti mencintai Arya.
Saya juga akan berusaha membantu kamu mendekati Arya lagi, walaupun Saya juga tau dia sudah milik seseorang sekarang. Kamu masih tanya kenapa Saya sedih Aqila Putri? Ah, entahlah, ayo Saya antar nanti Bu Tita mencari juga." Kata Dokter Yosef.
Mendengar pengakuan Dokter Yosef, Aqila ingin sekali meminta maaf dan memeluk Dokter muda tersebut. Aqila sadar bagaimana kalau benar adanya Dokter Yosef mencintainya, bukan seperti yang ia bayangkan selama ini.
"Bagaimana kalau kebaikannya selama ini adalah ungkapan tulus dari hati Dokter ganteng tersebut? Bukan sekedar kebaikan seorang Dokter pada pasiennya." Batin Aqila. Tapi meyakin hatinya yang sangat sakit saat ini, tidaklah muda bagi seorang Aqila. Ia juga belum tau benar bagaimana ciri orang yang memang tulus memberikan cintanya.
Dokter Yosef mengusap wajahnya dengan sapu tangan dari dalam saku celana. Tanpa sengaja benda bulat kecil berwarna rose gold terlempar jatuh pada gaun Aqila kemudian memantul tepat di telapak tangan Aqila. Benda bulat bermata diamond asli tersebut membuat Aqila kaget.
"Dok, maaf ini milik Dokter jatuh." Kata Aqila menyerahkannya pada Dokter Yosef.
"Oh, buang aja. Kemarin Saya belikan untuk calon pacar saya, tapi sayang saya di tolak." Kata Dokter Yosef.
"Tapi Dok, ini sepertinya asli. Kan sayang mahal harganya?" Kata Aqila.
"Itu imitasi, kan bisa saja mirip. Sekarang zaman udah canggih. Udahlah buang saja." Kata Dokter Yosef.
Tanpa sadar Aqila mencoba cincin tersebut kejari manisnya. Memang agak longgar sedikit, tapi sangat cantik di jarinya yang putih bersih. Aqila langsung kaget ketika mengetahui Dokter Yosef memperhatikan dirinya memandang cincin di jarinya tersebut.
__ADS_1
"Kamu suka Qil?" Tanya Dokter Yosef.
"Hem, nggak Dok. Ini cincinnya Dokter." Kata Aqila.
"Kalau kamu suka ambil saja. Kalau tidak Saya mau saya buang, soalnya untuk apa juga cincin wanita imitasi untuk Saya." Kata Dokter Yosef, ia tau kalau Aqila menyukai cincin tersebut.
"Jangan di buang Dok untuk Qila aja." Jawab Aqila cepat.
"Sini Saya bantu pasangkan." Kata Dokter Yosef.
"Cantik sekali, terimakasih ya Dok." Jawab Aqila merasa senang.
"Iya, tapi ada syaratnya Qil." Kata Dokter Yosef.
"Apa Dok?" Tanya Qila serius.
"Tolong kalau bisa jangan panggil Dokter terus, setidaknya kita sudah berteman. Panggil Kakak aja." Kata Dokter Yosef.
"Oke baiklah kalau begitu, terimakasih Kak Yos yang baik." Kata Aqila sumringah.
"Oke sama-sama. Sekarang yuk kita balik, Mamamu nanti cariin." Kata Dokter Yosef.
Dokter Yosef mengantar Aqila kepada orang tuanya yang masih di ruang rawat Aqila. Semua barang sudah siap mereka bawa, hanya menunggu Aqila datang.
"Hay Ma, Ayah. Yuk kita pulang." Kata Aqila bersemangat.
"Iya Sayang. Terimakasih ya Dok." Jawab Pak Pindri.
"Sama-sama Pak, Bu. Semoga Aqila cepat pulih dan tetap semangat." Kata Dokter Yosef.
"Ma lihat, cincin ini di kasih oleh Dokter Yosef loh. Jangan salah paham Ma, tadinya Dokter Yosef mau memberikan kepada pacarnya tapi nggak jadi. Dari pada di buang, Aqila minta deh." Kata Aqila menjelaskan.
"Terimakasih ya Nak Dokter. Pasti pacarnya Nak Dokter cantik sekali, dia beruntung bisa mendapatkan cinta Nak Dokter, orang baik seperti Nak Dokter semoga selalu bahagia.
"Iya Bu, terimakasih. Saya permisi duluan." Jawab Dokter Yosef.
Dokter Yosef membalik badan lalu melangkah. "Tante, memang cincin itu sangat cantik dan memang pacarku sangat cantik. Seharusnya hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi Saya Tante.
Tapi sayang gadis yang beruntung itu telah menolak cinta Saya. Aqila Putri anak Tante orang yang selama ini telah memiliki cinta yang saya punya. Dan cincin tersebut memang saya pesan untuk Putri Tante, Saya mengukur lingkar jari manisnya ketika ia lagi koma di ruang ICU.
Sengaja Saya pesan sedikit longgar, biar kalau Aqila sudah sembuh total dan tubuhnya sedikit berisi. Cincin itu pas di jari manisnya." Kata Dokter Yosef dalam hati, tanpa sengaja air matanya kembali jatuh tanpa seorang mengetahuinya.
__ADS_1