Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Pernikahan


__ADS_3

Pagi ini Monita sedang di sulap menjadi ratu untuk sehari. Wajahnya yang cantik khas blasteran Timur Tengah dan tubuhnya yang semampai membuat siapapun terpesona melihatnya


Gaun pengantin berwarna putih dengan sulaman mutiara asli yang begitu banyak, menambah kesan mewah di tubuh Monita.


Sedangkan Arya mengenakan stelan jas Wana silver dan dalaman putih, berpadu sepatu mengkilat warna senada. Membuat Arya terlihat sangat gagah di depan semua mata yang memandangnya.


Tamu berdatangan memenuhi kursi undangan yang ada di dalam gedung. Banyak yang datang, beberapa juga ada yang berpamitan karena kesibukan lain.


"Setengah jam lagi akad akan segera di mulai." Kata Mami Reni berbisik kepada Arya.


"Iya Mi." Jawab Arya singkat.


Monita tidak berhenti tersenyum menyapa setiap tamu yang ingin memberikan selamat kepada mereka. Ia merasa sangat beruntung bisa mendapatkan Arya, yang ketampanannya di atas rata-rata menurut Monita. Hal itulah yang membuat Monita akhirnya mau di jodohkan oleh Mami Maya, wanita yang telah melahirkan dirinya.


Di tempat yang berbeda, Dokter Yosef sudah mengetahui bahwa hari ini adalah hari dimana Arya akan menikah. Dokter muda itu sengaja ingin pergi sebelum Mami Dina meminta untuk menemani ke pesta pernikahan putri temannya tersebut.


Dokter Yosef pelan-pelan membuka pintu kamar, ia ingin mengisi perutnya sedikit sebelum berangkat. Tapi tiba-tiba saja Mami Dina sudah ada di belakangnya, menarik jaket yang ia kenakan.


"Mau ke mana Osef?" Tanya Mami Dina.


"Nggak Mi, ini mau ngambil sarapan." Jawab Yosef Rananta.


"Ya udah, hari ini nggak ada jadwal kerja kan? Temani Mami dan Papi ke acara pernikahan putri Tante Maya." Kata Mami Dina.


"Tapi Mi, Os...," Kata Yosef.


"Nggak ada tapi-tapi. Dari pada kamu tidur seharian di rumah." Jawab Mami Dina memotong pembicaraan putranya.


"Okelah Mi." Kata Dokter Yosef.


"Nah gitu dong." Jawab Mami Dina semangat.


"Lagi pula Mami nggak kasih pilihan kan?" Kata Dokter Yosef.


"Oh iya, ajak aja calon pacar mu itu. Kan siapa tau bisa lebih akrab." Kata Mami Dina.


"Uhukk Uhuk." Dokter Yosef seketika batuk. Makanan yang hampir masuk kedalam perutnya kembali keluar.


"Kenapa Sef? Kok terkejut kayak gitu?" Tanya Mami Dina.


"Nggak Mi, di rumah Aqila ada temannya menginap. Osef nggak enakan ngajak dia." Jawab Yosef Rananta berbohong.


"Oh, ya udah. Mami panggil Papi dulu." Kata Mami Dina.

__ADS_1


"Osef ganti baju dulu Mi." Kata Yosef.


"Nggak usah, cukup segitu aja sudah ganteng kok." Kata Mami Dina sambil berlalu.


Dengan wajah terpaksa Dokter Yosef mengikuti Mami Dina. Dirinya dan Papi Roni tentu akan menurut saja jika itu adalah kemutlakan bagi Mami Dina, apalagi wanita itu meminta dengan sedikit merajuk.


Bagi Dokter Yosef Maminya orang yang paling cerewet di dunia. Namun juga adalah orang yang paling pengertian, hal yang sama juga di rasakan oleh Papinya, Pak Roni.


Papi Roni membukakan pintu mobil untuk ratu kerajaan tanpa mahkota. Sedangkan Dokter Yosef telah duduk di depan kemudi, setiap melakukan perjalanan ia akan menjadi sopir keluarga.


Setelah mobil melaju dengan stabil, Papi Roni mencoba menggali informasi tentang gadis yang di sukai putranya. Karena selama ini putra mereka, Yosef Rananta sangat selektif dalam memilih pertemanan apalagi calon kekasih.


"Gimana Sef?" Tanya Pak Roni.


"Apanya yang gimana Pi?" Tanya Yosef balik.


"Ceritanya sudah memiliki incaran baru? Apa sih keunggulannya gadis itu?" Tanya Papi Roni.


"Cerita dari Mami ya Pi?" Tanya Dokter Yosef.


"Hem, iya Sef." Jawab Pak Roni.


Mami Dina hanya tersenyum, putranya menatap dari kaca mobil seolah akan menjatuhkan penghakiman. Hanya saja Mami Dina tau putranya tidak benar-benar marah padanya.


"Mi bisa nggak sih, sekali saja nggak ember?" Tanya Dokter Yosef.


"Iya deh, Mami minta maaf." Kata Mami Dina.


"Sebenarnya secara umum tidak ada yang sangat spesial dari sosoknya Pi. Dia hanya lah seorang mahasiswi tingkat akhir, dia juga masih cuti karena sakit dan di rawat. Dia adalah salah satu pasien Osef Pi." Yosef Rananta menjelaskan.


Dokter Yosef menceritakan awal pertemuan mereka. Dengan terutama kecil Dokter muda itu mengingat wajah Aqila. Wajahnya, cara nya bicara dan juga lenggangnya saat berjalan.


"Cinta memang buta, tapi hati pasti memilih. Kamu tau yang terbaik Sef, yang jelas hati mu harus bahagia." Kata Pak Roni memberikan semangat kepada putranya.


"Iya Pi terimakasih. Yosef merasa rindu dengan ocehannya Pi. Papi kan gitu sama Mami? Pusing dengar cerewetnya Mami, tapi nggak ketemu setengah hari saja udah rindu kan Pi?" Tanya Yosef pada Papinya.


"Iya juga sih, kok bisa ya Papi suka sama Mami dulu. Padahal Mami waktu itu hanya anak SMA sedang Papi sudah magister waktu itu. Perasaan yang ngincar Papi kan banyak ya, secara Papi adalah dosen muda yang paling ganteng pada masanya." Kata Papi Roni dengan penuh percaya diri.


"Hem Papi bilang Mami nggak layak?" Tanya Mami Dina.


Pak Roni spontan melirik istrinya yang duduk di belakang kemudi. Perkataannya seperti kekuatan elektromagnetik yang sebentar lagi akan menjadi petir menyambar ke segala arah.


"Nggak gitu Mi." Kata Papi Roni.

__ADS_1


"Terus gimana maksudnya? Kamu mau membanggakan Riani mantanmu yang sekarang sudah menjadi direktur itu?" Mami Dina semakin menjadi.


"Mami Osef yang cantik, dengar Osef dulu Mi. Maksud Papi tadi nggak seperti itu sebenarnya. Papi memilih Mami karena kebaikan hati Mami, cinta yang tulus dari Mami telah mengalahkan semua wanita yang mendekati Papi waktu dulu.


Begitu juga dengan Osef memilih Aqila, Mami tetap yang terbaik dan paling bijaksana bagi Osef dan Papi. Senyum dulu dong Mi, gitu aja kok ngambek. Nanti make up nya luntur lho?" Kata Dokter Yosef.


"Nah tuh dengar Mi. Putra mu sendiri yang bilang, kalau Papi yang bicara Mami pasti nggak percaya." Kata Papi Roni.


"Iya deh, kalian benar. Mami pasti berusaha yang terbaik untuk kalian berdua." Jawab Mami Dina terharu.


Wanita itu tanpa terasa meneteskan bulir bening dari matanya. Ia sangat bersyukur memiliki keluarga yang sangat tulus menyayangi dirinya. Bagaikan di jadikan ratu oleh suami dan putranya sendiri.


"Mi jangan nangis lagi, kita sudah sampai." Kata Yosef.


"Udah-udah kayak A-B-G saja. Papi sayang sama Mami." Kata Pak Roni.


Pria yang sudah memiliki umur di kepala empat tersebut membukakan pintu bagi istrinya. Setelah orang tuanya turun, Dokter Yosef mencari tempat parkir mobil yang tidak susah jika ingin keluar.


Setelah mobil terparkir, Dokter Yosef menyusul kedua orang tuannya untuk masuk ke dalam gedung. Ia duduk di meja yang sama dengan kedua orang tuanya.


Saat mereka tiba, ternyata acara akad nikah sudah selesai di laksanakan. Mereka telah memasuki acara hiburan dan acara resepsi.


"Kamu nggak mau segera duduk di singgasana seperti itu Sef?" Tanya Mami Dina.


"Nanti lah Osef pikirkan Mi. Menurut Mami apa laki-laki itu baik?" Tanya Dokter Yosef.


"Laki-laki yang mana Sef?" Tanya Mami Dina.


"Suaminya putri Tante Maya." Jawab Dokter Yosef.


"Sepertinya anak baik-baik Sayang, ganteng juga." Puji Mami Dina.


"Sepertinya." Jawab Dokter Yosef.


Mami Dina dan Pak Roni mengajak Yosef untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai yang sedang berbahagia. Namun Yosef benar-benar tidak beranjak dari kursi sampai mereka kembali ke rumah.


***


Aqila mengambil ponselnya, ia tidak bisa lagi mengakses akun Dokter Yosef seperti biasa. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Aqila, karena memang Dokter Yosef berhak untuk menghapus akunnya.


Aqila mencoba masuk dengan akun lamanya. Setelah berjuang mencocokkan beberapa e-mail yang pernah ia buat, akhirnya akun facebook Aqila bisa di buka.


Aqila memperhatikan setiap pemberitahuan yang ada. Mencoba mengintip beranda akunnya, untuk melihat perkembangan dari teman-teman mereka. Tiba-tiba saja Aqila terkejut, hingga membuat handphonenya terjatuh.

__ADS_1


"Qil, ada apa?" Tanya Sartika.


Sartika yang tadi berbaring di ranjang Aqila sambil bermain ponsel. Ia meloncat turun dari tempat tidur, ketika melihat handphone Aqila jatuh di sisi ranjang.


__ADS_2