
Setelah keluar dari ruangan pasien, Dokter Derwan duluan mencatat segala keluhan Aqila juga berdasarkan ciri-cirinya. Begitu juga dengan Dokter Yosef yang mau memberikan data progres yang di alami oleh pasiennya Ibu Naya.
Mereka berdiri bersebelahan di depan meja perawat. Dokter Yosef mengembalikan senter yang tadi ia pinjam.
"Ini Dok senternya, terimakasih." Kata Dokter Yosef.
Ia meletakkan senter tersebut di hadapan Dokter Derwan, di atas meja perawat. Dokter Derwan membalas dengan anggukkan dan menoleh sekilas.
"Pak Yosef mengenal pasien saya?" Tanya Dokter Derwan.
"Pasien Dokter, diagnosa awalnya apa sih Dok?" Tanya Dokter Yosef.
"Kemungkinan ada masalah di bagian kepalanya. Karena dari pemeriksaan awal, tidak ada menunjukan dia hanya demam atau sekedar kelelahan." Kata Dokter Derwan.
"Oh, begitu." Jawab Dokter Yosef.
"Kamu belum jawab loh pertanyaan saya? Kamu mengenal sama gadis itu?" Tanya Dokter Derwan.
"Tidak juga, Dia salah satu mahasiswa peserta seminar saya beberapa bulan yang lalu Dok. Saya ingat wajah dia kerena sempat ribut dan saya panggil maju ke depan untuk di beri sanksi. Bukan saya yang memberi sanksi, tapi dia yang menasehati saya dengan kata-kata ngelantur. Lucu sih." Kata Dokter Yosef.
"Wah, Pak Yosef sangat mengingatnya. Atau jangan katakan Pak Yosef menaruh rasa dengan gadis itu." Goda Dokter yang berambut separuh putih tersebut.
"Mulai nih, ngajak perang Om, tunggu kita lagi nggak pakai baju kebesaran." Kata Dokter Yosef sambil cengar-cengir.
Ia tidak menggunakan bahasa formal lagi. Sebenarnya antara orang tua Dokter Yosef dan Dokter Derwan bersahabat. Juga Niko, putranya Dokter Derwan sangat akrab dengan Dokter Yosef. Namun di kantor dan memakai seragam dokter, mereka tetap saling menghormati.
"Tapi kalau di lihat-lihat gadis itu cantik juga. Cocoklah untuk kamu, yang sedingin kutub utara." Dokter Derwan tidak berhenti menggoda dokter Yosef. Malahan semakin memanasi Dokter Yosef.
"Saya kerja dulu ya Om." Kata Dokter Yosef.
Ia langsung meninggalkan Dokter Derwan. Ia sebenarnya sangat jengkel kepada gadis bernama Aqila putri tersebut, hampir saja di buatnya malu di hadapan banyak dosen dan mahasiswa. "Tapi lucu juga ya, ada mahasiswi seberani itu." Gumam Dokter Yosef.
Dokter Derwan hanya memandang langkah pria muda tersebut dengan menggelengkan kepala. Lalu Ia pergi juga setelah berbicara sebentar dengan perawat yang sedang bertugas di sana. Ia melangkah berlawanan arah dengan dokter Yosef untuk memeriksa pasien yang lainnya.
__ADS_1
***
"Ma, Mama." Panggil Aqila pelan.
Ia menggoyangkan tangan Mamanya yang ketiduran di samping dirinya. Pukul sekitar 15.20 waktu setempat.
"Ada apa sayang?" Tanya Mama Tita.
"Mam, kepala Qila kok sakit banget ya Ma." Kata Aqila.
"Perlu Mama panggilkan perawat sayang." Tanya Mama Tita.
"Nggak Ma, Ayah kemana?" Tanya Aqila.
"Ayah baru saja keluar sebentar Nak. Mau Ibu telepon kan?" Tanya Aqila.
"Nggak Ma, Tolong ambilkan HP Qila Ma." Pinta Aqila.
Setelah menerima ponselnya, ia segera mengecek chat dari aplikasi biru bergambar telepon yang sering di pantau nya tesebut. Ia melihat dua buah chat yang salah satunya dari orang yang sangat di rindukannya.
Chat itu adalah dari Arya, "Apa kabar Sayang? Sudah makan? Abang besok ya ke rumah sakit." Kata Arya lewat chat nya. Juga di ujung kalimat di beri emoticon love berjejer seakan lagi ngantri untuk di lirik.
Aqila membaca pesan dari kekasihnya itu dengan tersenyum sendiri. Kemudian Aqila terlihat mengangkat sedikit ponselnya untuk mengetik.
Ketika sedang mengetik satu kata 'iya', tiba-tiba ponsel yang di pegang Aqila terjatuh. Seketika itu juga Aqila sudah tidak sadarkan diri.
Mama Tita yang melihat langsung ponsel Aqila terjatuh dan tangan Aqila terhempas lemas. Ia langsung memeluk putrinya dan menggoyangkan tubuh Aqila.
"Nak, bangunlah sayang. Mama cemas kalau kamu seperti ini, apapun sakit mu kita coba lewati bersama." Ucap Mama Tita dengan air mata mengalir tanpa sadar.
Tentu saja ucapan dari Mama Tita tidak di jawab oleh Aqila yang hanya terlentang. Dengan lutut yang seakan mau lepas dari tempatnya, Mama Aqila berlari menuju meja perawat yang ada di ruangan sebelah Aqila di rawat.
"Tolong cepat, putri kami kembali drop." Kata Mama Tita kepada beberapa orang perawat di hadapannya.
__ADS_1
"Baiklah Bu, Ibu tenangkan diri dulu. Kami akan melakukan tindakan sebaik mungkin." Kata salah satu perawat menenangkan Mama Tita. Sedangkan dua orang perawat yang lain sudah bergegas ke arah ranjang Aqila.
Mama Tita dan satu perawat tadi menyusul dengan tergesa. Ia membawa alat tensi dan senter LED.
Perawat senior tersebut langsung melakukan tindakan awal. Ia memeriksa tensi pasien dengan muka serius. Ia juga melihat mata Aqila dengan menggunakan senter LED khusus.
Mukanya sangat serius, menandakan kondisi pasien sangatlah serius. Ia memerintahkan salah satu dari mereka untuk mengambil tabung oksigen dang memasangnya.
"Di, tolong bawa tabung oksigen dan pasang alat bantu pernafasan pada pasien. Tolong agak cepat ya Di." Kata Seno perawat yang lebih senior dari mereka.
"Baik Kak." Perawat yang bernama Ardi itu langsung mengambil tabung oksigen.
"Sera, tolong hubungi Dokter Derwan." Kata Seno.
"Baik Kak." Jawab Sera.
"Sinta, tolong catat. Tensi pasien 70/60, kelopak mata pasien sangat pucat serta bagian putih mata kekuningan pucat." Kata perawat yang bernama Seno tersebut.
"Baik Kak." Jawab perawat Sintia.
Mama Tita dari tadi hanya mengelus kepala Aqila. Ia baru sadar kalau belum memberitahu suaminya di luar. Ia meraih ponsel dan menelepon Pak Pindri. Tidak butuh waktu satu menit, suaminya telah berada di samping putri mereka juga.
Perawat Ardi telah memasang alat bantu pernapasan buat Aqila. Sedangkan Sera datang ketika Ardi telah selesai memasang alat bantu pernapasan.
"Kak, kata Dokter Derwan tad segera persiapkan pasien agar di CT-Scan walau dalam keadaan darurat. Minta petugas di sana segera, Katakan saja Dokter Derwan yang meminta.
Beliau sedang di luar kota, nanti Dokter Yosef akan menggantikannya kemari. Sebelum Dokter Yosef tiba, kita sudah di minta beliau menangani pasien. Ini chat dari beliau." Kata Sera kemudian.
"Baiklah, putri Bapak dan Ibu akan segera di lakukan tindakan berupa CT-Scan. Harap jika ada perhiasan putri Ibu, tolong di lepas terlebih dahulu. Nanti Dokter Yosef akan menggantikan Dokter Derwan datang ke rumah sakit sore ini di karenakan Dokter Derwan lagi di luar kota." Kata perawat Seno.
"Baik, terimakasih Pak." Jawab Mama Tita.
Semua persiapan di lakukan, anting dan gelang Aqila sudah di lepas oleh Mama Tika. Aqila di pindahkan oleh beberapa perawat ke ranjang dorong rumah sakit. Mama Tika mengiringi petugas tersebut dengan gelisah mencemaskan putri mereka.
__ADS_1