
Mami dan Papi Arya sangat terkejut mendengar pernyataan dari putra semata wayang mereka. Namun Aqila tidak kalah terkejut dari kedua orang tua itu.
"Bang, apa ini benar? Apa nggak salah Qila tidak salah dengar?" Aqila mencoba menekankan pertanyaannya.
"Tidak Qil, saya sudah sangat mencintai kamu. Saya sudah memutuskan ingin melamar kamu. Atau kamu tidak mencintai saya?" Tanya Arya dengan sungguh.
Aqila diam sejenak untuk berpikir, ia juga menghirup nafas panjang sebelum mengeluarkan jawaban. Sebenarnya ia juga sangat mencintai Arya, tapi akan sulit meminta izin kepada sang mama karena ia masih belum lulus kuliah.
Jika dirinya menolak, ia takut Arya akan marah dan meninggalkannya. "Yaa Tuhan, apa yang harus saya katakan kepada mereka?" Aqila membatin. Ia juga tidak tau kalau hal ini yang mau di katakan oleh sang kekasih kepada calon mertua.
"Qil, kamu baik-baik saja? Arya ini memang suka memberi kejutan." Kata Mama Reni pelan.
"Hem... Oh iya Tante, Qila memang sedikit kaget. Soalnya Arya tidak memberi tahu sebelumnya, dia hanya mengajak Qila ke rumah Tante saat selesai acara." Jawab Aqila jujur.
"Tapi kamu juga suka sama Abang kan?" Tanya Arya.
Arya mendekat ke tempat di mana Aqila duduk. Ia menggenggam tangan Aqila, matanya tersirat memohon agar di terima.
"Iya Tante Om, saya memang menyukai Bang Arya. Tapi kalau untuk menikah sekarang kemungkinan orang tua Aqila agak berat melepas putrinya. Pertama, saya belum tamat kuliah. kedua, Bang Arya baru lulus juga dan belum bekerja." Kata Aqila mencoba menjelaskan.
"Tapi Abang akan berusaha sayang, lagi pula tidak mungkin orang tua kita membiarkan anak-anaknya terlantar. Iya kan Mi?" Arya meminta pembelaan dari Maminya.
"Nak, benar kata Qila. Kamu tidak bisa mengandalkan kami sebagai orang tua ketika kamu sudah membangun keluarga baru. Tanggung jawab akan sepenuhnya akan jatuh kepada mu. Mama belum setuju kalau kamu menikah sekarang." Kata Mama Reni.
"Tapi Arya takut kehilangan Qila Mi." Kata Arya menunduk.
"Nak, kalau jodoh tidak akan kemana. Lagi pula kalian belum lama saling mengenal, belum tau sepenuhnya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalian masih muda dengan ego masih tinggi." Kata Mama Reni menasehati.
Wajah Arya yang tadinya sumringah, semangatnya yang tadi menggebu dan rencana untuk melamar pujaan hati di hadapan orang tuanya. Hal tersebut telah di tolak secara halus oleh kekasihnya, dan orang tua tidak mendukung keinginannya.
Sekarang ia merasa telah gagal kali ini. Namun karena besar rasa cintanya kepada Aqila, dalam hati Arya siap menunggu setahun ke depan sampai kekasihnya itu lulus kuliah juga.
__ADS_1
"Baiklah Qil, Abang akan menunggu mu selesaikan kuliah. Juga akan mencari pekerjaan untuk kehidupan kita nanti." Kata Arya meyakinkan.
"Buktikan sama Mami dan Papi kamu sanggup Arya. Selama ini kamu hanya main-main menghabiskan uang dengan berfoya. Papi akan bangga kepada mu jika kamu ingin berjuang." Kata Papinya Arya.
"Baiklah Pi, Arya akan berusaha menjadi seperti yang Papi inginkan." Kata Arya.
Kegantengan dan cap brandal di kalangan teman-temannya, akan selalu luluh jika sudah berhadapan dengan kedua orang tuanya ini.
Kalau Arya melawan sedikit saja, banyak sekali cara mereka untuk menaklukan dirinya. Mulai dari mencabut fasilitas sampai kepada kekerasan, juga pernah menyuruh orang untuk berbohong dengan mengatakan orang tua Arya sudah bangkrut.
Arya membayangkan satu tahun kemudian, ketika ia telah memiliki modal untuk melamar kekasihnya. Ia juga membayangkan bagaimana bahagianya calon mertua ketika mendengar calon menantu melamar putrinya pada hari di mana ia sedang mengenakan toga kebanggaannya. "Tapi masih lama, apakah Qila bisa setia kepadanya?" Tanya Arya dalam hati. Ia sedikit khawatir.
"Hem, Arya kamu baik-baik saja?" Tanya Mami Reni melihat anaknya terus menunduk.
"Iya Mi, Arya baik-baik saja." Jawab Arya.
"Ya udah, kita makan dulu. Mari nak Qila, silahkan menikmati." Kata Papinya Arya.
Mami Reni mengangguk tanda setuju dengan ajakan suaminya. Aqila yang dari tadi telah was-was jika bunyi perutnya terdengar oleh orang lain, sekarang bisa bernafas lega.
Mereka menikmati makanan yang telah terhidang dengan lahap. Sepertinya baik Arya dan kedua orang tuanya itu juga sudah merasa lapar. Tidak butuh berlama-lama, makanan mereka hanya tertinggal mangkok dan piringnya lagi.
Setelah mengobrol ringan sehabis menikmati makanan tersebut. Aqila ingin berpamitan untuk pulang.
"Om Tante, terimakasih untuk hari ini telah mengundang Aqila. Saya pamit untuk pulang duluan." Kata Aqila.
Aqila menyalami kedua orang tua dari kekasihnya tersebut. Ia sebenarnya sudah gerah sekali, karena belum mandi dari tadi dengan suhu pantai yang menyengat hingga sore hari.
Ia juga mengulurkan tangan kepada Arya dan di sambut dengan senyuman. Setelah bersalaman, Aqila ingin pulang sendiri dengan menggunakan taksi. Arya dengan cepat mencekal tangan Aqila.
"Abang antar, masa pulang sendiri." Kata Arya.
__ADS_1
"Qila bisa naik taksi Bang." Aqila menolak harus.
"Nggak Nak Qila, biar Arya saja mengantarkan mu. Biar lebih aman, karena hari sudah malam." Mami Reni mengingatkan.
"Terimakasih Tante perhatiannya." Kata Aqila santun.
Mendengar perkataan Mami nya Arya, Aqila tidak bisa lagi menolak. Ia hanya bisa tersenyum sebelum berbalik badan. Sedangkan Arya dengan wajah berbinar mengikuti Qila dari belakang.
"Silahkan Tuan putri." Kata Arya.
Ia membukakan pintu mobil untuk Aqila dengan sedikit menunduk. Perlakuan Arya itu membuat Qila seperti ratu yang di perlakukan oleh pelayannya.
Dengan pelan Arya melajukan mobilnya, sesekali Ia mencuri pandang menatap Aqila. Aqila yang menghadap ke depan melihat Arya menatapnya di kaca mobil.
"Kenapa Bang? Kok lirik-lirik terus?" Tanya Aqila.
"Kamu cantik." Kata Arya singkat.
"Kayaknya biasa saja." Jawab Qila.
"Biasanya juga kamu cantik kok." Kila Arya.
Aqila hanya membalas pujian kekasihnya dengan senyuman. Maklum saja ini adalah pertama kalinya Aqila jatuh cinta dan merasakan namanya pacaran.
"Terimakasih Bang." Qila dengan muka bersemu.
"Sayang, apa kamu serius mau menikah sama Abang kalau sudah lulus nanti?" Arya memastikan.
"Iya Bang, Qila sudah mantapkan hati. Lagi pula Abang kan cinta pertama Aqila. Setidaknya nggak ada mantan yang akan mendekati Qila. Kalau orang baru rasanya susah untuk memulai dari awal perkenalan." Jelas Aqila yakin.
"Terimakasih ya sayang, semakin cinta Abang sama Qila yang manis ini." Kata Arya.
__ADS_1
"Iya Bang, Qila juga percaya sama Abang." Jawab Qila.
Mereka kemudian berdiam diri dengan pikiran masing-masing. Bermain dalam pikiran sendiri akan indahnya hari nanti.