Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Ponsel


__ADS_3

Dokter Yosef berjalan mendekati ranjang Aqila. Gadis itu rupanya tidak menghiraukan ketika ada orang yang datang. Ia hanya berdiam diri sambil memainkan sebuah pena. Memang, menurut Dokter Yosef pena tersebut di jual satu juta dengan mata uang dalam negeri.


"Hem." Dokter Yosef berusaha membuat Aqila menoleh ke arahnya. Tapi tetap tidak berhasil.


Dokter Yosef berdiri di samping ranjang Aqila. Namun gadis itu tidak juga menghiraukannya. Bersamaan dengan itu, Mama Tita datang dari kamar luar ruangan.


"Pak Dokter, sudah lama?" Tanya Mama Tita mengulurkan tangan.


"Belum Bu, saya datang untuk melihat keadaan Ibu Naya. Kebetulan melihat anak Ibu sedang sendirian, saya mencoba menyapanya." Kata Dokter Yosef.


"Mari Dok silahkan duduk dulu." Kata Mama Tita.


"Iya Bu." Dokter Yosef mengikuti orang tua Aqila tersebut.


"Ada yang Saya ingin ceritakan sama Dokter, entah kenapa Aqila putri kami yang dulunya ceria menjadi seperti ini. Ia hanya berdiam diri dan tidak mau bicara kalau bukan Saya yang duluan. Itu pun jawab seadanya." Kata Mama Tita menahan air mata.


"Sejak kapan dia menjadi seperti ini Bu?" Tanya Dokter Yosef.


"Baru Dok, sejak pacarnya tidak pernah datang ke sini lagi. Kalau bisa kami minta tolong Dok, apa harus di bawa ke psikolog?" Tanya Mama Tita.


Bagai tersambar petir di dada Dokter Yosef. Sebuah kesempatan untuk dokter muda itu untuk mendekati Aqila. Walaupun berkedok terapi psikologi, "Saya akan membuatmu menjadi ratu yang paling bahagia." Kata Dokter Yosef dalam hati.


"Kalau boleh saya bisa pelan-pelan ajak dia ngobrol. Kebetulan saya juga merangkap psikolog, tapi sayang hanya lulusan strata satu untuk psikologi." Kata Dokter Yosef.


"Tolong ya Dok." Kata Mama Tita memohon.


"Iya Bu, Saya juga akan meminta izin kepada Dokter Derwan. Agar beliau tidak salah paham, beliau tetap menangani sakit medisnya putri Ibu Tita. Saya hanya melakukan terapi kejiwaan saja semampu saya." Kata Dokter Yosef.


"Iya Dok, terimakasih Dokter sudah baik sekali sama kami." Kata Mama Tita..


Dokter Yosef merasa memang Tuhan mengarahkannya untuk lebih memperhatikan gadis ini. Terlepas dengan keinginannya mendekati Aqila Putri, gadis yang hampir saja menjatuhkan wibawanya di depan ratusan orang peserta dan pengisi acara seminar waktu yang lalu. "Hem, awas saja kamu sayang. Gadis kecil Dokter Yosef, hehehe." Gumam Dokter muda itu menyunggingkan bibir atas nya.

__ADS_1


"Saya coba ya Bu, mengajak putri Ibu ngobrol." Kata Dokter Yosef beranjak dari duduknya mendekati Aqila.


"Hey, kok ngelamun?" Kata Dokter Yosef kepada Aqila yang masih bengong.


"Ada apa Dok? Mana ponsel saya?" Tanya Aqila.


"Nggak bakalan hilang kok ponsel jelek mu itu. Nih selimut kamu kemarin." Kata Dokter Yosef.


"Itu kan selimut Dokter, kenapa di kasih sama saya?" Tanya Aqila.


"Selimut itu belum saya pakai, lagi pula saya biasa menyimpan barang-barang untuk di berikan kepada pasien sebagai hadiah. Jadi jangan Ge-er duluan." Kata Dokter Yosef sukses membuat Aqila sewot.


"Eleehh, siapa juga yang kege-eran dengan Dokter gak jelas." Jawab Aqila.


"Awas nanti bisa jatuh cinta loh, kecewa nanti kalau saya sudah punya cewe lain." Kata Dokter Yosef cengengesan.


"Amit-amit gak mungkinlah, setengah mustahil. Sini mana ponsel saya?" Tanya Aqila.


"Itu kan memang ponsel saya! Tapi, eh ya Dok. Ada nggak Bang Arya telepon di ponsel Qila?" Tanya Aqila.


"Nggak ada. Mungkin udah bahagia kali dengan cewe lain." Kata Dokter Yosef.


"Ih, iri aja bawaannya. Makanya Dok sekali-sekali punya pacar dong! Biar nggak ngenes." Jawab Aqila tidak mau kalah.


"Biarin aja, dari pada punya pacar. Tapi nggak di hubungi berbulan-bulan wehhh." Kata Dokter Yosef senang mengejek Aqila.


Aqila kemudian menunduk terdiam. Perkataan Dokter Yosef cukup membuat hati Aqila runtuh seketika. Dalam hati Aqila membenarkan perkataan Dokter muda tersebut. Apa guna memiliki kekasih yang tidak peduli kepadanya. Bahkan menghubungi pun Arya tidak pernah lagi.


Sedang Mama Tita memandang dari jauh, beliau tetap duduk di sofa bersama keluarga yang menjaga Ibu Naya. Wanita itu merasa bahwa Dokter muda itu tulus ingin membantu penyembuhan Aqila.


"Dokter benar, tapi Bang Arya cinta pertama Qila. Saya sudah berharap Bang Arya yang menjadi suami Aqila nantinya." Kata Aqila.

__ADS_1


Air matanya di tahannya sebisa mungkin. Aqila tidak mau terlihat lemah oleh Dokter tidak berperasaan ini. Tiba-tiba saja ponsel yang khusus kepentingan kerja Dokter Yosef berbunyi.


"Halo, ada apa Sel?" Tanya Dokter Yosef.


"Dokter harus ke ruangan perawatan sekarang. Pasien Dokter yang bernama Irma harus segera di berikan tindakan." Kata Sela kemudian.


"Baik, Saya segera kesana. Persiapkan semua yang biasa Saya gunakan." Kata Dokter Yosef.


Dokter muda itu memandang kepada Aqila yang masih terlihat sedih dan sewot kepadanya. Dokter Yosef merasa ingin lebih lama di dekat gadis kecil itu. Namun tugas dan keselamatan nyawa pasiennya lebih dari penting untuk sekarang.


"Masih cemberut? Maaf deh, udah senyum dong." Kata Dokter Yosef menggoda Aqila.


"Hem, jadi Dokter tiba bisa baik sedikit saja kenapa? Handphone di sita, ngeledek iya. Kalau Dokter seperti ini semua bisa-bisa semakin stres para pasien." Kata Aqila ngedumel.


"Saya seperti ini hanya sama kamu sayang! Mereka semua tau kok kalau saya baik hati. Buktinya Saya Dokter teladan sampai hari ini, di rumah sakit bahkan di kota ini." Kata Dokter Yosef dengan pelan.


"Ter-serah Dokter sadis." Kata Aqila.


"Saya mau ke bawa dulu, tangani pasien. Ini ponsel Saya pegang lah untuk kamu nonton di sana. Saya pergi dulu." Kata Dokter Yosef sambil berlalu.


Dokter Yosef memberikan ponsel miliknya, Ia tidak ingin melihat Aqila semakin bosan melewati hari tanpa hiburan. Tapi menyerahkan ponsel Qila, Dokter muda itu tidak ingin Aqila Putri mengingat kembali kekasihnya yang brengsek.


Aqila memandang punggung Dokter aneh tersebut, Ia memegang Handphone Dokter Yosef di tangannya. Ketika Dokter Yosef pergi, barulah Aqila menyadari bahwa Mamanya tidak ada menemani.


"Ma, Mama di mana sih dari tadi?" Panggil Aqila.


"Apa Sayang, Mama disini ngobrol dari tadi." Kata Mama Tita.


"Mau makan Ma. Oh Iya, kenapa sih Dokter itu senang sekali ganggu. Mana ponselnya di titip sama Qila, Mama tau ponsel milik Qila di ambilnya Ma sama Dokter itu. Katanya biar nggak main handphone lagi, terus kenapa handphonenya di kasih sama Qila? Kan aneh Ma." Kata Aqila.


"Ah, jangan terlalu di pikirkan. Nih, kamu makan dulu sayang." Kata Mama Tita menimpali.

__ADS_1


__ADS_2