Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Menemani


__ADS_3

"Saya belum bisa mengatakan ia hanya kecapekan di lihat dari keluhannya. Harus ada uji laboratorium dari darah dan lain-lain. Maka dari itu saya sarankan agar temannya di rawat saja dulu." Kata Dokter tersebut.


"Baiklah Dok kalau itu yang terbaik." Kata Arya.


"Karena pasien sudah sudah sadar, kami akan segera memindahkan pasien ke ruang rawat inap." Kata Ibu Dokter.


"Baik Dok, terimakasih." Jawab Arya singkat.


Kemudian Dokter itu meninggalkan Arya dan Aqila, ia kembali kemeja tugasnya. Setelah dokter itu pergi, Arya memandang Qila dengan tersenyum. Gestur memberi semangat pun Arya tunjukan kepada kekasihnya tersebut.


"Semangat sayang, kamu pasti baik-baik saja." Kata Arya.


"Iya Bang, jangan tinggalkan Qila." Kata Aqila dengan suara yang sangat pelan. Tangannya berusaha meraih tangan Arya yang ada di sampingnya.


"Sayang jangan banyak pikiran dulu yaa. Abang nggak akan pernah tinggalkan sayang. Semangat biar sayang cepat sehat." Kata Arya.


Ia menggenggam tangan Aqila dan mengelus rambut Aqila yang terurai di atas bantal. Arya menyemangati Aqila agar kekasihnya tersebut tidak drop kembali. Arya juga selalu tersenyum di hadapan Aqila. Padahal dalam hatinya Arya sangat mengkhawatirkan kesehatan sang kekasih.


Beberapa saat kemudian Tika datang dengan nafas yang masih belum teratur. Ia menyibak gorden pembatas untuk memastikan sahabatnya ada di ranjang mana. Setelah melihat Aqila dan Arya di sampingnya. Tika langsung mendekat dan memeluk Aqila dengan hati-hati.


"Cepat sehat ya Qil, Kami akan menjaga mu." Kata Tika.


"Iya Tik, terimakasih ya." Jawab Aqila.


Tanpa terasa air mata Aqila dan Tika mengalir tanpa di minta. Ikatan kasih antara dua sahabat ini memang sangat kuat.


Arya berdiri dan mempersilahkan Tika yang duduk di samping Aquila. Di ruang UGD memang hanya di beri satu kursi saja untuk orang yang satu pasien.


Tika langsung duduk di kursi, ia terus menggenggam tangan Aqila. Seolah hatinya berkata "Aku tidak akan meninggalkanmu Qila. Demi persahabatan kita."

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Arta meminta agar Aqila beristirahat saja. Meminta kekasihnya itu agar memejamkan mata, agar kesehatannya cepat pulih.


Setelah Aqila tertidur, Arya izin kepada Tika untuk mengurus administrasi apa saja yang bisa ia usahakan. Ia juga akan menelepon orang tua Aqila menggunakan ponsel milik kekasihnya tersebut.


"Tik, minta tolong jagain Aqila dulu ya. Saya akan mengurus administrasi agar Aqila bisa di bawa ke ruang perawatan. Juga saya akan mengabari Om dan Tante orang tuanya Qila." Kata Arya.


"Baiklah Kak, jangan khawatir. Saya akan tetap menjaga Aqila tanpa Kakak minta pun." Jawab Tika.


"Baiklah, saya permisi dulu." Kata Arya.


Arya langsung keluar, ia akan menghubungi orang tua Aqila terlebih dahulu sebelum ke mengurus ke loket jaminan kesehatan. Karena Aqila memang selalu rutin membayar iuran jaminan kesehatan yang di berikan oleh pemerintah.


Dengan begitu Aqila di tangani secara cepat dan tidak perlu menunggu orang tua Aqila terlebih dulu. Orang tua Aqila memang selalu mengingatkan Aqila, jika kurang sehat harus berobat.


Kartu jaminan kesehatan dari pemerintah membuat masyarakat bisa saling tolong menolong guna menjamin kesehatan masyarakatnya. Masyarakat sehat awal dari kesejahteraan dalam sebuah negara.


Arya mencari kontak Mama Tita, Ibunya Aqila. kemudian ia langsung menghubungi kontak tersebut. Beberapa kali berdering akhirnya di angkat juga.


"Saya Arya Tante, maaf saya lancang menggunakan ponsel Aqila. Saya ingin memberitahukan kepada Tante dan Om kalau Aqila sakit sekarang dia ada di UGD rumah sakit Citra Medika. Kata dokter tadi, Aqila harus di rawat inap Tante, karena harus di periksa lebih lanjut." Kata Arya.


"Sekarang bagaimana keadaan Aqila, Nak?" Tanya Mama Tita.


"Aqila sudah sadar Tan, sekarang lagi di jaga oleh Tika." Kata Arya kemudian.


"Tante dan Om akan segera berangkat sekarang juga. Tunggu kami datang dulu yaa Nak, jangan tinggalkan Aqila sendirian. Terimakasih telah menjaga Aqila, anak kami." Kata Mama Tita.


"Sama-sama Tante, kami akan menjaga Aqila sampai Tante datang. Sebentar lagi mungkin Aqila akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Nanti Tante hubungi ke ponsel ini saja, atau bisa tanya ke petugas yang ada di UGD." Jelas Arya.


"Iya-iya Nak. Terimakasih banyak yaa." Kata Mama Tita.

__ADS_1


"Tante Om, Hati-hati di jalan." Kata Arya sebelum mengucap salam dan mematikan telepon.


Selesai menelepon orang tua Aqila. Arya bergegas ke tempat penyelesaian administrasi Aqila, agar secepatnya Aqila di pindahkan ke ruang perawatan.


Benar saja, setelah administrasi di selesaikan. Aqila di bawa oleh perawat yang bertugas ke ruang perawatan menggunakan ranjang dorong khusus pasien. Tika dan Arya mengiringi dari belakang, sambil membawa jaket dan tas Aqila.


Aqila tetap tertidur pulas, mungkin ia sangat lelah. Atau mungkin juga efek obat yang masuk perlahan dari saluran infusnya.


Melihat Aqila yang tidak kesakitan lagi, hati Arya sedikit lega. Meskipun dalam hatinya Arya penasaran tentang penyakit apa yang ada di dalam tubuh kekasihnya tersebut.


Di dalam ruang perawatan, benar saja Tika tidak beranjak sedikitpun dari kursi yang ada di samping Aqila. Sore pun akan berganti malam, Arya tau kalau Tika mungkin saja lapar.


Namun ketika Arya mengizinkan Tika keluar untuk mencari makanan dan memberikan uang, Tika selalu menolak dengan alasan masih kenyang. Arya dengan inisiatifnya sendiri membelikan sebungkus makanan untuk Tika. "Bisa di makannya nanti kalau dia lapar." Pikir Arya.


***


Mendengar Kabar putri semata wayangnya harus di rawat di rumah sakit. Membuat hati seorang ibu yaitu Mama Tita merasa sangat khawatir. Ia segera menjemput suaminya yang membantu memanen kelapa sawit mereka.


Mama Tita langsung memberitahukan kepada suaminya, Pak Pindri tentang keadaan Aqila. Pak Pindri langsung beberes dan membiarkan pemanen yang bekerja dalam memanen sawit mereka tanpa pengawasan Pak Pindri.


Kedua suami istri tersebut bergegas pulang ke rumah dan membereskan pakaian seadanya. Mengunci semua pintu, lalu berangkat menggunakan mobil mereka.


Pak Pindri tidak sempat untuk membersihkan diri seluruhnya. Ia hanya membersihkan tangan dan kaki yang sangat kotor saja, lalu berganti pakaian.


Sedangkan Mama Tita hanya mengganti pakaian dan memasukan dompet dan simpanan uang mereka ke dalam sebuah tas. Lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


Pak Pindri perlahan melajukan mobilnya. Ia seakan enggan untuk berbicara membuka mulutnya.


"Bagaimana keadaan putri kita ya Yah?" Tanya Mama Tita dengan air mata sudah membasahi pipi.

__ADS_1


"Mama yang sabar, Putri kita baik-baik saja." Pak Pindri menenangkan istrinya, namun hatinya sendiri semakin tidak bisa tenang.


"Iya Pa, semoga saja." Jawab Mama Tita.


__ADS_2