Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Dia Siapa?


__ADS_3

Sudah seminggu Arya dan Monita kembali dengan aktivitas semula, setelah bulan madu kilat di pulau kecil di seberang kota. Monita sudah kembali dengan kesibukannya di kantor, sebagai wakil direktur di salah satu perusahaan ternama di kota mereka.


Semenjak menikah, Arya di minta untuk tidak bekerja oleh Monita. Ia cukup menyiapkan segala kebutuhan rumah yang di perlukaan. Arya juga harus menyiapkan keperluan Monita saat ia ingin berangkat kerja.


Sebenarnya Arya bosan kalau hanya di apartemen setiap hari. Tapi apa boleh di kata, gajinya memang terbilang sangat jauh dari pemasukan yang di berikan oleh istrinya. Selain itu, Arya merasa cukup karena kebutuhan di ranjang selalu di penuhi oleh wanita tersebut.


Bahkan saat baru pulang kerja pun, istrinya sering meminta jatah dari sang suami. Sering juga Arya di buat lemes oleh kelakuan istrinya tersebut. Hal itu membuat Arya merasa di hargai setiap harinya.


Pagi ini setelah istrinya berangkat kerja, seperti biasa Arya mengerjakan semua tugas rumah. Setelah selesai ia membersihkan diri dan sarapan pagi. Rencananya hari ini Arya akan membeli kebutuhan bulanan mereka ke salah satu pusat perbelanjaan di kota tersebut.


Monita adalah wanita yang sangat selektif dalam hal makanan yang ia konsumsi. Makanya sebelum berangkat wanita itu telah memberikan catatan tentang apa saja yang harus di beli oleh Arya nantinya. Ia juga telah memberikan uang yang cukup untuk kebutuhan rumah mereka dalam satu bulan ini.


Arya menikmati sarapan pagi, kemudian lanjut dengan minum kopi asli yang sudah menjadi candu bagi dirinya. Setelah itu Arya mengecek mobil yang terparkir di garasi. Memang mobil itu milik sang istri yang di khususkan untuk dirinya. Setelah menikah Arya tidak di perbolehkan menggunakan fasilitas dari orang tuanya. Menurut Monita, ia malu kalau harus bergantung kepada mertua.


Namun karena Arya jarang berpergian, atau kalau pun ia berpergian selalu menggunakan mobil kantor milik istrinya. Arya mengelap mobil tersebut sebelum berangkat karena memang sedikit berdebu.


Arya menghidupkan mesin mobil tanpa ada kendala, ia lalu kembali ke dalam rumah untuk mengambil dompet dan catatan yang di berikan oleh istrinya tadi pagi. Kemudian melajukan kendaraan dengan pelan.


Sebelum berbelanja, Arya akan pergi ke sebuah barbershop untuk merapikan rambutnya. Kemudian Arya juga akan mencuci mobil kesayangan sang istri nantinya, biar terlihat lebih terawat.


Arya melajukan kendaraan menuju pusat kota, dimana banyak pilihan barbershop dengan fasilitas lengkap di sana. Memarkirkan mobilnya di depan barbershop yang bersebelahan dengan toko yang menjual berbagai jenis parfum mobil dan ruangan, Arya berniat mengganti parfum mobil Monita yang sudah lama dan keharumannya sudah berkurang.


Arya selesai membeli parfum dan merapikan rambutnya. Terakhir, Arya ingin belanja kebutuhan sehari-hatinya bersama istri.


Dalam perjalanan, Arya tidak sengaja mengedarkan pandangan ke seberang jalan. Dari resto yang ada di seberang jalan, mata Arya tertuju dengan dua orang yang terlihat mesra di sebuah meja.

__ADS_1


Arya merasa sangat yakin kalau wanita tersebut adalah Monita istrinya. Sedangkan laki-laki yang bersamanya, Arya benar-benar tidak mengenali.


Arya tidak mau di katakan kalau ia cemburu buta terhadap sang istri. Kalaupun nanti ia tanya langsung dengan Monita, tentu wanita itu akan mengatakan klien atau teman satu kantor. Jawaban tersebut terkadang tidak membuat Arya puas hati, perasaanya ada yang aneh saat istrinya tidak mengizinkan Arya datang ke kantor.


Arya juga tidak ingin berburuk sangka dulu, sebelum melihat langsung konsisi sebenarnya. "Saya parkir dulu agak jauh, lalu mengikuti mereka." Kata Arya dalam hati.


Sekitar lima belas menit berlalu, orang yang di curigai Arya adalah istrinya beranjak dari kursi setelah selesai mereka menikmati hidangan. Mereka keluar dengan bergandengan tangan, sesekali pria yang bersamanya mencium pucuk kepala sang wanita.


Setelah mereka diparkiran, Arya melihat dengan jelas bahwa wanita yang bersama pria lain tersebut adalah Monita yang masih berstatus istri sahnya. Arya sangat terpukul dengan pemandangan yang ada di depannya saat ini.


Namun sebagai laki-laki, Arya tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Ia berusaha menekan emosinya yang sedari tadi seakan ingin meledak seperti bom yang mematikan ingin banyak orang.


Mobil yang ada sang istri di dalamnya bukanlah mobil Monita yang mengantarkan pergi bekerja tadi pagi. Sekarang Monita ada di dalam mobil lain bersama laki-laki yang sama sekali Arya tidak kenal.


Mobil itu melaju dengan pelan sampai ke bundaran di dekat resto tersebut. Tanpa berpikir panjang, Arya langsung mengikuti ke mana istrinya pergi.


Begitu juga dengan Arya, ia tidak ingin kehilangan jejak. Ia mengiring mobil yang membawa sang istri tidak terlalu jauh dan juga tidak ingin terlalu dekat. Arya tidak ingin kalau sampai Monita mengetahui kalau ia mengikutinya.


Mobil itu masuk ke dalam sebuah hotel yang sangat terkenal di kota mereka. Saat mobil itu masuk dan keduanya sudah berlalu ke dalam hotel. Arya mencoba mendekati resepsionis dan menanyakan tentang tamu yang baru masuk.


Arya mendapati bahwa laki-laki tersebut adalah tamu VVIP hotel tersebut. Ia adalah bos di sebuah perusahaan cabang dari Anugrah Citra, bersama wakilnya.


Dari keterangan resepsionis tersebut, Arya sudah tidak bisa menahan amarahnya. Ia berniat mengajak dua orang temannya untuk membuktikan kelakuan mereka.


"Apa bos PT. Citra Anugrah memesan satu kamar dengan wakilnya?" Selidik Arya.

__ADS_1


"Sepertinya iya, karena mereka sering berkunjung kemari. Maaf Pak, kami tidak bisa memberikan informasi tentang tamu hotel karena itu adalah privasi mereka." Kata resepsionis yang melayani Arya.


"Apa mereka disini menginap mba?" Tanya Arya.


"Sepertinya iya, tapi saya juga tidak tau." Jawab resepsionis tersebut.


Arya semakin geram dengan kelakuan Monita, baru saja ia mulai kembali menanam rasa kepercayaannya yang hampir hilang. Sekarang Monita sepertinya tidak takut lagi kepada dirinya dan wanita itu sudah berani bermain di belakang dirinya.


Arya menghubungi temannya Riki dan Angga, kalau nanti terbukti Arya bisa menjadikan mereka sebagai saksi. Kalau Arya meminta pegawai hotel itu, takutnya mereka akan berpihak kepada kekasih gelap Monita. Secara pria tersebut adalah orang terpandang dan tamu kehormatan di hotel tersebut.


Tidak berselang lama Angga dan Riki sudah berdiri di samping Arya. Mereka sudah siap untuk membantu, Arya meminta seorang pegawai untuk menghantarkan mereka ke kamar yang di maksud dan mengetuk pintu bagi mereka.


Sedikit mengancam, karena pegawai tersebut sebelumnya mengelak. Arya menunjukan buku nikah mereka sebagai bukti.


Arya dan kedua temannya beserta seorang pegawai perempuan memasuki lift untuk tiba di lantai sembilan hotel tersebut. Setelah pintu lift terbuka, mereka menuju kamar yang di maksud.


Benar saja setelah pintu itu terbuka, seorang laki-laki menghampiri Arya dan pegawai hote tersebut. Ia hanya menggunakan boxer pendek, dan Monita istri Arya menutup tubuhnya dengan selimut. Mungkin saja ia sedang tidak mengenakan sehelai kain waktu itu.


"Siapa kalian? Ganggu saja!" Kata laki-laki tersebut.


Ia berusaha menutup pintu kamar hotel tersebut, namun di tahan oleh Angga. Arya melirik sedikit ke arah Monita yang hanya bisa terdiam di tempat tanpa pergerakkan.


"Seharusnya saya yang tanya, kamu siapa?" Kata Arya.


Tanpa ragi Arya masuk dan menarik Monita namun seakan wanita tersebut bertahan duduk di tempat tidur. Mungkin karena tidak mengenakan pakaian atau memang tidak ingin ikut bersama Arya.

__ADS_1


"Jelaskan di rumah dia siapa!" Tanya Arya dengan amarah.


Arya langsung memutar tubuhnya meninggalkan tempat terkutuk itu, diikuti oleh kedua sahabatnya. Arya merasa ia telah salah memilih Monita sebagai istrinya.


__ADS_2