
Dokter Yosef menoleh ke arah sumber suara. Ternyata orang tua Aqila itu sudah ada di belakang dirinya. Dokter Yosef tidak terkejut sedikitpun, ia tetap dengan wajah datarnya.
"Pak, saya bicara sama Aqila. Dia sadar belum lama ini." Jawab Dokter Yosef.
Pandangan Pak Pindri mengarah kepada Putrinya yang masih terbaring lemas. Hati pria itu sangat bersyukur karena putri mereka sudah sadar.
"Sayang, Ayah panggil Mama dulu ya." Kata Pak Pindri kemudian mencium pucuk kepala putri semata wayang mereka.
Ucapan Ayah Pindri hanya di balas senyuman kecil dari bibir Aqila yang masih pucat. Kalau untuk bicara, Aqila masih merasa kaku.
"Dok titip putri kami sebentar ya. Saya mau memanggil istri." Kata Pak Pindri.
"Iya Pak, Saya akan menjaga Aqila." Jawab Dokter Yosef spontan.
Mendengar ucapan Dokter tersebut yang sedikit terdengar berlebihan. Pak Pindri hanya berdiam diri, namun kemudian Dokter Yosef mengulas ucapannya.
"Maaf Pak, sebaiknya mari kita keluar." Kata Dokter Yosef.
"Silahkan Dok." Kata Pak Pindri.
Mereka berdua meninggalkan Aqila, menuju kursi tunggu yang ada di luar. Di kursi tunggu istrinya telah duduk sambil main ponsel.
"Ma, lihat putri kita sudah sadar." Kata Pak Pindri.
Tanpa menjawab ucapan suaminya, Mama Tika langsung terburu-buru mendekati Aqila. Wanita itu detik demi detik memang selalu menunggu kabar baik ini.
"Silahkan duduk Dok." Kata Pak Pindri.
Dokter muda itu duduk di kursi tunggu, sedang Pak Pindri menyusul di sampingnya. Pak Pindri hanya berdiam diri menanti kata yang akan keluar dari Dokter Yosef.
"Begini Pak, jangan salah paham dulu. Saya bisa berkata seperti tadi di karenakan Dokter Derwan sudah melimpahkan tanggung jawab beliau sebagai Dokter dari putri Bapak dan Ibu. Hal itu di putuskan oleh Dokter Derwan karena beliau harus di luar kota dalam waktu yang cukup lama. Surat limpahan tanggung jawab telah di buat oleh Dokter Derwan." Kata Dokter Yosef menjelaskan.
"Oh, gitu Dok. Kami berterima kasih Dok kalau seperti itu." Jawab Pak Pindri.
__ADS_1
"Saya tadi mengecek peralatan medis yang di pasang di tubuh Aqila, tidak sengaja Putri Bapak tersadar saat Saya selesai memeriksa alat-alat tersebut.
Kalau begitu Saya pergi dulu, Saya akan menyuruh perawat memindahkan Aqila ke ruang rawat berdasarkan administrasi yang sudah Mami bayarkan." Jelas Dokter Yosef kemudian.
"Baik Dok terimakasih." Jawab Pak Pindri.
Setelah berpamitan dan bersalaman, Dokter muda itu berlalu meninggalkan Pak Pindri yang masih berdiri mematung. Pak Pindri kemudian menyusul Mama Tita menemui putri mereka.
***
Sudah tiga hari Aqila di rawat dengan fasilitas VIP, ruangan tersebut sudah di bayar oleh orang tua Dokter Yosef semua, juga obat yang terbaik untuk Aqila. Malam ini Aqila sudah di perbolehkan pulang oleh dokter Yosef. Hal yang sangat di tunggu-tunggu bagi Pak Pindri dan Mama Tita.
Berbeda dengan orang tuanya yang sangat bahagia mendapatkan kabar dari Dokter, Aqila justru tidak bersemangat menyambut waktu-waktu ini. Jika di tanya oleh Mama Tita, Aqila menjawab masih teringat dengan Arya yang telah berkhianat kepadanya.
"Ma, kenapa harus begini? Kenapa Bang Arya meninggalkan Qila tanpa pamit? Qila boleh bilang Ma, kalau Qila masih sedih." Kata Aqila.
Ia sudah bisa duduk dan berjalan ke kamar mandi sendiri. Saat ini ia duduk di atas ranjang dengan wajah yang di tekuk tanpa sedikit ada semangat sedikitpun.
"Nak, sudah Mama katakan berapa kali kalau tidak usah berharap kepada manusia. Tapi berserah lah kepada Yang Kuasa." Kata Mama Tita seperti tidak bosan-bosan mengingatkan putrinya.
"Selamat malam Bapak, Ibu. Kami akan memeriksa kesehatan pasien terlebih dulu." Kata Dokter Yosef.
"Baik, silakan Dok." Kata Mama Tita.
"Terimakasih." Jawab Dokter Yosef.
Kedua asisten Dokter tersebut segera melaksanakan tugas. Mereka memeriksa suhu tubuh Aqila, tensi darah dan detak jantung. Mereka mendapati bahwa secara keseluruhan kesehatan Aqila memang sudah baik. Tetapi masih harus rawat jalan, seminggu yang akan datang Aqila di jadwalkan akan kontrol kembali ke rumah sakit.
Setelah selesai melakukan tugasnya, Dokter Yosef memberikan kode agar kedua asistennya keluar dari ruangan. Sedari tadi tanpa Aqila tau, Dokter muda itu telah memperhatikannya. Ia melihat tidak ada semangat yang terpancar dari wajah gadis yang belum lama ini menjadi candunya.
Beberapa waktu kemudian Dokter Yosef memiliki ide untuk memberikan kesan dirinya kepada Aqila. Dokter muda tersebut berpamitan mengajak Aqila keluar dengan kursi roda, Ia ingin memberikan Aqila semangat itulah yang di katakan Dokter Yosef kepada orang tua Aqila.
"Bu Pak, Saya akan mencoba memberikan semangat kepada Aqila sebelum dia pulang. Saya berencana mau membawanya ke taman sebentar." Kata Dokter Yosef meminta izin.
__ADS_1
"Boleh Nak Dokter. Tapi apa tidak kecapekan Aqila nya?" Jawab Pak Pindri.
"Saya akan ambilkan kursi roda, sebentar ya Pak." Kata Dokter Yosef.
Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tua Aqila. Dokter Yosef telah melesat, dan kembali membawa kursi roda yang di maksud.
"Silahkan Gadis Cantik." Kata Dokter Yosef.
Namun Aqila tidak menjawab, mengiyakan atau menolak ajakan Dokter Yosef. Saat Mama Tita memintanya barulah Aqila mengangguk. Ayah Pindri menggendong putrinya ke kursi roda.
"Mohon izin ya Pak, Bu." Kata Dokter Yosef hormat.
"Eh, tunggu Nak Dokter, ini ponsel kamu." Kata Mama Tita kemudian.
"Iya, terimakasih Bu." Jawab Dokter Yosef.
Setelah memasukan ponselnya ke dalam saku celana, Dokter Yosef memutar tubuhnya sambil mendorong kursi roda Aqila dengan hati-hati dan pelan. Ketika hampir sampai di area taman di sebelah timur rumah sakit, Aqila mengeluarkan suaranya juga.
"Dok mana ponsel Qila?" Tanya Aqila.
"Besok Saya antar ke rumah kamu, soalnya lupa Saya bawa." Jawab Dokter Yosef.
"Oke, tapi apa tidak ada telepon dari Bang Arya sama sekali Dok?" Tanya Aqila kemudian
"Nggak ada." Jawab Dokter Yosef singkat.
"Hem. Qila lebih baik di rumah sakit saja kalau seperti ini." Aqila membuang nafas kasar dengan mengangkat bahunya.
Dokter muda itu tidak lagi bersemangat di taman, akhirnya Ia mendapat ide untuk membawa Aqila ke balkon yang luas di lantai paling atas rumah sakit. Ia ingin menunjukan kepada Aqila betapa indahnya alam ciptaan Tuhan.
Sesampainya di atas, Dokter Yosef mengunci kursi roda Aqila. Lalu Ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Aqila.
"Qil, coba kamu lihat bintang di sana jauh lebih indah di banding kamu yang harus terus bersedih. Jangan bersedih lagi!" Kata Dokter Yosef.
__ADS_1
"Tapi, Aqila hanya ingin bersama Bang Arya. Dok Qila mohon!" Kata Aqila menangkupkan kedua tangannya.