Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Tanpa Sengaja


__ADS_3

Setelah makan malam bersama mami dan papi mertua, Aqila meminta izin untuk beristirahat. Ia ingin menggandeng Sartika bersamanya, tetapi Randen lebih dulu mengajak Sartika pergi ke taman yang tidak jauh dari komplek perumahan pengusaha Roni Rananta.


Akhirnya Aqila sendirian menaiki anak tangga menuju kamar yang di sediakan untuk mereka. Aqila membuka pintu kamar, lalu merebahkan diri karena lelah seharian memikirkan nasib dirinya yang harus menata kehidupan yang baru bersama pria yang baru juga di kenalnya.


Lama Aqila termenung menatap langit-langit kamar yang mendamaikan hati. Warna silver yang di padukan dengan sedikit sentuhan motif berwarna tosca, membuat Aqila terasa mengantuk.


gadis itu berusaha memejamkan matanya, tanpa Aqila sadari ada sosok lain yang membuat dirinya kaget. Bukan makhluk astral atau tak kasat mata, namun kedatangan Dokter Yosef secepat kilat mirip mereka.


Aqila langsung bangun dan agak menjauh dari Dokter Yosef. Pria tersebut menatap Aqila dengan intens dan penuh makna.


"Kenapa sayang kok menjauh?" Dokter Yosef mengangkat alisnya.


"Em, nggak kok." Jawab Aqila gugup.


"Cepat berbaring!" Perintah Dokter Yosef.


"Abang mau apa?" Aqila tidak mengerti.


Dokter Yosef menarik Aqila dengan pelan, membuat gadis itu berbaring telentang. Aqila tidak berdaya menolak jika Dokter Yosef memintanya malam ini. Tidak mungkin juga ia berteriak di rumah orang, "Mesum juga ternyata." Gumam Aqila tanpa sadar.


"Tengkureplah." Dokter Yosef membalikan badan Aqila.


Setelah tubuh Aqila berputar 180°, Dokter Yosef perlahan memijit punggung dan tangan Aqila. Hal itu membuat Aqila malu sendiri dengan prasangka yang berlebihan. Ia merasa otaknya lah yang ternoda dengan pikiran kotor.


"Qila pikir abang mau ngapain?" Ucap Aqila tersipu malu.


"Malam besok sayang, kamu nggak tahan lagi? Ayo kalau nggak tahan lagi?" Ujar Dokter Yosef senyum melihat muka Aqila yang bersemu merah merona.

__ADS_1


Pria itu memijit Aqila sampai tertidur, ia mendengar dengkuran halus dari calon istrinya. Melihat sang kekasih telah tertidur pulas, Dokter Yosef segera keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan-pelan.


Malam berlalu tanpa menunggu, Aqila terbangun setelah Sartika menggoyangkan tubuhnya. Sudah waktunya bagi Aqila untuk membersihkan diri dan di hias.


Dengan wajah yang belum sepenuhnya kembali merona, Aqila masuk dalam kamar mandi untuk membersihkan mukanya. Memang gadis itu susah untuk sadarkan diri jika baru bangun dari tidur.


Aqila hanya mandi dengan sedikit air, rasa dinginnya mengalahkan niat yang sebelumnya ia rencanakan. Dua orang wanita sebagai make up artis datang ke kamar Aqila dan Sartika.


Sekitar pukul 5.00 subuh waktu setempat, Aqila mulai di hias dengan beberapa perlengkapan seperti layaknya pengantin biasanya. Pertama-tama mereka memasangkan gaun yang telah di pesan oleh Dokter Yosef dua hari sebelum hari H ini.


Sedangkan Sartika juga berhias diri, ia akan menemani sahabatnya tersebut sampai mengantarnya ke singgasana kebahagiaan. Sartika sangat bahagia melihat sahabatnya telah memperoleh pasangan hidup mendahului dirinya.


"Masih muda sekali sudah jadi pengantin neng?" Tanya seorang MUA yang sedang mengerjakan rambut Aqila.


"Udah 23 tahun saya mba." Jawab Aqila sambil meniup kuku tangan yang sudah di kasih henna." Jawab Aqila.


Sekitar dua jam pengerjaan, akhirnya selesai juga. Pukul 7.00 pagi waktu setempat Aqila dan sahabatnya Sartika sudah siap dan sangat cantik bagi siapapun yang memandang. Membuat Aqila merasa mereka sedang bersama-sama menjadi pengantin.


***


Seorang wanita sudah siap dengan rencananya, ia tidak tidur satu malaman untuk mewujudkan hal ini.


Wanita tersebut dialah Tiara, mantan kekasih Dokter Yosef yang masih tidak rela kalau pria masa lalu nya bahagia bersama orang lain. ia akan berusaha sekuat tenaga demi untuk kelancaran niat busuknya.


Satu jam kemudian Tiara sudah berbaur dengan tamu yang lainnya, sayang muka Tiara di tutupnya menggunakan masker. Ia tidak mau ada orang mengenali wajahnya nanti.


Pengantin turun dengan anggun di altar yang telah di sediakan. Menjelang pengucapan janji pernikahan, Aqila merasa perutnya meminta untuk segera melepaskan sesuatu.

__ADS_1


Ia meminta izin kepada Dokter Yosef dan Sartika yang ada di tengah-tengah. Sartika menuju kamar mandi dengan terburu-buru, saat Aqila mau keluar dari kamar mandi seseorang mengancam akan membunuhnya jika tidak mengikuti perintah yang wanita tersebut anjurkan.


Tiara memberikan baju ganti kepada Aqila, agar gadis itu bisa meninggalkan pesta pernikahan dengan muda. Dengan wajah yang penuh air mata dan rasa takut yang menyelimuti. Aqila menurut saja apa yang di minta oleh wanita yang tidak ia kenal.


Wanita itu perlahan membawah Aqila keluar dari pintu samping. Ia mengarahkan Aqila agar pergi dengan pelan-pelan lewat pintu belakang kediaman Pak Roni Rasanya, calon mertuanya.


"Jangan mencoba berteriak, nyawa mu dan nyawa calon suamimu ada dalam genggaman saya. Cepat naik mobil atau saya lepaskan peluru ini." Kata Wanita tersebut.


Lagi-lagi Aqila hanya bisa menahan deritanya dengan mengikuti kemauan penjahat. Aqila melewati tembok menuju mobil wanita jahat tersebut. Namun saat Qila ingin masuk ke dalam mobil seseorang menutup mulut Aqila lalu menariknya, atau lebih tepat lagi menyeret Aqila.


Laki-laki dengan pakaian jaket hitam tersebut membawa Aqila masuk kedalam mobil. Ia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga tidak nampak oleh Tiara yang masih berada di balik pagar menunggu seorang temannya.


Wanita itu berpikir Aqila sudah masuk kedalam mobil mereka. Aqila adalah gadis lugu berdasarkan penelusuran Tiara lewat jejaring sosial, maupun saat seseorang di tugaskan untuk mengikuti gadis tersebut.


Karena sangat yakin, Tiara langsung melajukan mobilnya tanpa melihat keberadaan Aqila sebelumnya. Ia tau sahabatnya yang bertugas di dalam mobil juga tidak banyak protes, mereka bertiga pergi begitu saja. Saat sudah keluar dari komplek perumahan tersebut.


"Ra, kita mau kemana? Mana gadis yang ingin kita mainkan malam ini?" Tanya sahabatnya yang berjaga di mobil tadi.


"Lho bukannya sudah sama kamu. Masuk kedalam mobil?" Tiara mengerem kemudinya tiba-tiba.


"Nggak ada, gue pikir kita mau masuk jalan depan makanya keliling komplek." Jawab wanita tersebut tidak mau di salahkan.


"Aduh Ira, bagaimana sih nggak becus!" Ucap Tiara dengan nada tinggi.


"Berarti kalau tidak ada di sini, perempuan soal itu ada di mana? Tidak mungkin kan dia kembali ke pesta dengan pakaian seperti tadi." Ujar Tian, kembarannya Tiara.


"Baiklah kita akan mencari gadis bedebah yang merebut kebahagian saya!" Tiara kembali membanting stir mobilnya, berputar mengelilingi komplek di mana bangunan rumah Pak Roni Rasanya berdiri megah. Mereka mencari Aqila seperti mencari buruan yang berada di dalam hutan.

__ADS_1


__ADS_2