Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Sugesti Diri


__ADS_3

Semua pengunjung yang tadinya ramai meneriaki Dokter Yosef dan Aqila. Mereka telah bubar secara perlahan meninggalkan ke empat insan yang masih berdiri di sana.


Aqila yang kaget melihat api kompor yang masih menyala, dia segera melepas pelukan Dokter Yosef. Dengan cepat mematikan kompor karena bau hangus sudah terendus oleh indera penciuman.


Dokter Yosef menarik Randen agak menjauh dari Aqila dan Sartika. Ada sesuatu yang tidak biasa dari sikap seorang dokter berkepribadian dingin tersebut. Randen menyadari bahwa ada pembicaraan yang akan saudaranya sampaikan, dan tidak ingin di dengar oleh orang lain selain mereka berdua.


"Kenapa Bang?" Tanya Randen setelah melihat ke kiri dan ke kanan. Ia memastikan aman.


"Sekarang kamu jujur sama Abang. Tadi benda yang kamu keluarkan, itu barang apa? Abang tau kalau orang-orang bubar karena kamu mengeluarkan benda tadi." Tanya Dokter Yosef.


"Hanya lempengan perak campur sedikit emas putih." Jawab Randen santai.


"Berhenti bercanda Nden. Kamu tau kan Abang tidak tanya bahan pembuatnya. Itu arti kode di benda tadi apa?" Tanya Dokter Yosef sedikit emosi.


"Randen Rananta." Jawab Randen singkat.


"Nama kamu, terus kenapa mereka takut?" Selidik Dokter Yosef.


"Gak tau juga Bang." Kata Randen berbohong.


"Sudah kalau kamu nggak mau cerita sama Abang sekarang. Tapi ingat jaga diri baik-baik, jangan sampai salah teman bergaul.


Kita ini hanya berdua Nden, Abang berharap kita akan selalu saling melindungi dan saling menyayangi walaupun Mami Papi telah tiada nanti. Abang juga berharap kamu bisa cerita sama abang. Jangan di paksa jika belum siap sekarang, lain waktu saja." Kata Dokter Yosef.


"Iya Bang, terimakasih sudah menganggap saya seperti saudara kandung. Terimakasih juga karena Mami dan Papi sudah sangat menyayangi Randen." Kata Randen dengan haru sampai air matanya perlahan jatuh.


"Nden, Nden. Kapan kamu di perlakukan tidak seperti anak kandung? Saya Tanya kapan Nden? Sejak kamu bersama kami di rumah mami waktu kita masih kecil, Mami selalu gosok-gosok punggung kamu sebelum tidur. Nggak ada lagi tuh saya yang di perhatikan. Juga mainan, seingat saya pasti kamu yang di dahulukan.


Sekarang Mami selalu ingat kamu kalau sore belum pulang ke rumah. Apa sih yang kamu minta dari Mami belum di belikan? Atau perhatian apa yang belum Mami Papi kasih. Bahkan makanan kesukaan kamu aja Mami masakan setiap hari. Bahkan kadang Mami masak hanya untuk kamu.


Tapi setiap di ajak Mami ikut jalan bersama keluarga kamu seperti menghindar. Atau jangan-jangan malah kamu yang nggak anggap kami sebagai keluarga? Ingat Nden orang tua kita sekandung, dan lagi saya tidak ada saudara selain kamu." Kata Dokter Yosef menunduk.


"Bang maaf kan saya. Ternyata Randen salah selama ini." Kata Randen menangis tersedu.


Dokter Yosef memeluk adiknya tersebut. Mereka menangis hari dan bahagia.


"Sudah, kasihan nona baru mu melihat pangerannya menangis." Bisik Dokter Yosef.

__ADS_1


Pria berparas bule tersebut segera melepas pelukan mereka. Ia lupa kalau wanita yang di sukainya sejak satu jam yang lalu memperhatikan mereka.


"Hm, saya hampir lupa kalau ada mereka. Abang juga kan, lihat foto di layar utama ponselmu. Gadis itu kan? Selera mu unik juga, unlimited. Untung nggak saya gebet tadi." Ucap Randen menggoda Yosef.


"Ini nih, baru saja sadar. Udah mau kurang ajar, ingat yang sopan sama kakak ipar, bisa kualat lo." Balas Dokter Yosef.


"Siap Bos, ampun-ampun." Ucap Randen cengengesan.


"Ayo kita kesana." Ujar Dokter Yosef kemudian.


Mereka berdua menyudahi perdebatan itu dan kembali menghampiri Aqila dan Sartika yang duduk di bangku depan tenda.


"Hay." Sapa Randen.


"Udah Kak?" Jawab Sartika dengan senyuman manisnya.


"Tik, kalian belum makan kan? Yuk kita makan di sekitar sini." Ajak Dokter Yosef.


"Kalau saya sih oke aja Kak. Coba saya tanya Qila dulu ya Kak." Jawab Sartika.


Sartika menatap Randen dan Dokter Yosef secara bergantian. Sartika tidak mau memaksakan kehendaknya kepada sang sahabat. Kesepakatan menjadi keputusan yang mutlak bagi mereka berdua.


Melihat Aqila yang masih berdiam diri dengan wajah menunduk. Akhirnya Dokter Yosef berjongkok, mensejajarkan diri dengan Aqila. Dokter Yosef tidak ingin wanita pujaannya bersedih karena sikapnya tadi yang kerang menyenangkan.


"Hei, kok diam saja. Saya minta maaf Aqila atas insiden tadi. Saya khilaf dan Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi.


Tapi please, yuk kita makan keluar sebentar saja. Mie kamu kan gak bisa di makan lagi, nanti jadi sakit." Kata Dokter Yosef menangkupkan kedua telapak tangannya sebagai tanda dirinya memohon.


"Iya Qil, kita kan belum makan dari tadi sore. Mau ya?" Ucap Sartika merengek.


Aqila menarik kepala Sartika, mendekatkan telinga gadis itu padanya. Sartika lantas bergeser mendekat dengan sang sahabat.


"Tapi bilang jangan jauh-jauh, nanti kita di culik Tik." Bisik Aqila.


Meskipun Aqila berbicara dengan pelan, namun Dokter Yosef mendengar dengan jelas ucapan Aqila. Kepolosan gadis itu sangat menggelitik hati bagi Dokter Yosef.


"Hem, ada takut di culik nih. Kalau mau culik kamu kenapa nggak dari kemarin Nona. lagi pula untuk apa saya menculik kamu, seperti saya nggak memiliki pekerjaan yang lebih penting saja. Kalau mau sekalian saya telepon orang tua kamu, biar nggak takut." Ujar Dokter Yosef.

__ADS_1


"Maaf Dokter yang terhormat, kalau anda memiliki banyak pekerjaan penting. Silahkan anda kerjakan, kenapa dokter masih di sini?" Kata Aqila.


Randen menarik Sartika untuk duduk menjauh dari insan berdua yang sedang berdebat. Randen tau kalau saudaranya sangat mencintai gadis itu, ia ingin memberikan sedikit waktu untuk mereka berduaan.


"Kenapa Kak? Nanti Aqila takut sendirian." Kata Sartika.


"Alamak, ternyata memang kalian sahabat yang sejati. Kita menjauh sedikit untuk memberi ruang bagi mereka Sartika. Apa yang di takutkan? Disini juga banyak orang." Kata Randen.


"Ish, laki-laki memang nggak peka." Gumam Sartika.


"Perempuan memang aneh." Bisik Randen sangat dekat di telinga Sartika, hingga hembusan nafasnya membuat Sartika berdesir.


Aqila tetap diam dan menunduk, Dokter Yosef seperti kehabisan akal dalam membujuk Aqila. Akhirnya ia mendapat ide untuk membujuk calon kekasihnya itu. Dokter Yosef masih berjongkok agar bisa menatap wajah calon kekasihnya.


"Gini aja deh, kita makan dulu. Habis itu kita ke mal, saya kabulkan apa saja permintaan kamu malam ini. Baju, tas, sepatu, perhiasan atau apa saja." Ucap Dokter Yosef.


Aqila dengan spontan menatap Dokter Yosef, ia tersenyum mendengar ucapan laki-laki yang sedang berada di hadapannya sekarang. Karena sangat bahagia Aqila tidak sadar memegang tangan Dokter Yosef.


"Dokter janji mau memberikan apa yang Aqila minta?" Tanya Aqila dengan penuh semangat.


"Saya janji. Kamu minta apa Sayang?" Tanya Dokter Yosef.


"Qila pengen bunga lavender sama kunang-kunang." Jawab Aqila.


Seperti di sambar petir otak dan jantung Dokter Yosef. "Ternyata bukan hanya tingkahnya saja yang unik, sakitnya langkah, permintaannya pun jauh lebih susah. Sepertinya semua wanita hobi jika belanja perhiasan atau barang pakaian. Lah ini? Matilah kau Yosef!" Teriak Dokter Yosef dalam hati. Dokter Yosef menghembuskan nafas yang sengaja ia tahan.


"Iya Sayang, lavender kita cari nanti. Kalau kunang-kunang besok kita buatkan kandang yang besar." Jawab Dokter Yosef.


"Janji ya Dok, Qila pengen sekali memiliki kebun bunga lavender sama kunang-kunang. Sayang Bang Arya sudah nggak ingat lagi sama Qila." Gumam Aqila.


Entah mengapa dalam hati, Dokter Yosef merasa cemburu jika Aqila mengingat bahkan menyebut nama mantan kekasihnya itu. Ia merasa tidak rela jika Aqila terus memikirkannya. "Jangankan kebun bunga Qil, pulau pun akan saya beli untuk kamu buat menjadi kebun lavender." Ucap Dokter Yosef dalam hati.


Namun ia tidak ingin mengatakannya, takut Aqila kembali tersinggung. Orang-orang banyak yang tidak tau kalau kakek Dokter Yosef memang orang paling kaya di negaranya, namun karena kematian orang tua Randen seakan ingin mengubur kenangan orang tua Mami Dina bertolak meninggalkan negeri tercinta. Mereka hidup sebagai orang pendatang dan merintis dari awal.


"Qil, saya akan mengabulkan permintaanmu. Saya janji akan memberikan kamu kebun bunga lavender asal kamu mau makan malam ini." Kata Dokter Yosef.


"Baiklah, Qila mau kalau gitu." Jawab Aqila sumringah.

__ADS_1


Dokter Yosef memberi kode kepada Randen untuk beranjak dari duduknya menuju mobil. Randen melajukan kendaraannya mencari tempat makan malam yang nampak romantis.


__ADS_2