Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Baik-baik Saja


__ADS_3

Arya menghembuskan nafas kasar, kemudian menepikan motornya di bangku yang ada di tepi jalan. Di sampingnya ada sebatang pohon untuk berteduh.


"Sayang, kamu terlihat lelah sekali." Kata Arya.


"Sedikit sih." Jawab Qila.


Sebenarnya Arya masih ingin mengajak Aqila jalan-jalan. Tapi karena hari sudah hampir sore, Arya tau bahwa hari ini sangat lelah bagi Aqila. Ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya.


"Sayang, yok Abang antar kamu pulang dulu. Terimakasih sudah mau menemani Abang hari ini." Kata Arya.


"Sama-sama Abang sayang. Ayok!" Ajak Aqila sambil berdiri.


Arya mengantarkan kekasihnya kembali ke rumah. Mereka berencana akan menemui teman Om nya Aqila besok pagi, setelah Aqila akan memberi tahu ayahnya Aqila nanti malam.


Di rumah Aqila tinggal sendirian. Mamanya telah pulang ke rumah mereka yang di desa bersama Ayahnya. Mama Tita berani meninggalkan putri semata wayangnya di karenakan kesehatannya sudah membaik.


Arya mengantarkan tanpa mampir lagi, karena hari hampir gelap. Kekasihnya tentu ingin beristirahat juga.


Sehabis membersihkan diri, Aqila melihat layar ponselnya. Ia selalu membuka kembali isi chat dirinya dengan Arya. Kata-kata manis yang selalu di berikan Arya kepada dirinya lewat chat, membuat hati Aqila berbunga-bunga setiap saat.


Lama Ia bermain dengan ponselnya, tiba-tiba Aqila teringat dengan Ayahnya. Ia sudah berjanji pada Arya, akan berusaha membantu mencarikan kekasihnya itu pekerjaan. Hal itu Aqila lakukan dengan perasaan senang hati, karena hasil dari pekerjaan Arya nantinya yang akan menghidupi mereka berdua setelah menikah.


Angan Aqila seakan terbang bersama hayalannya akan hidup bersama dengan sang pujaan hati. Pikiran melayang membawa dirinya berbulan madu di awan biru.


Aqila mencari kontak dengan nama My Father, itu adalah nama kontak sang ayah. Kemudian Aqila menelpon Ayahnya. Hanya beberapa detik saja saat suara panggilan menyala. Ponsel di sana sudah di angkat oleh seseorang.


"Halo Ayah, Apa kabar?" Sapa Aqila.


"Halo sayang, ini Mama. Papa sedang di kamar mandi, ada apa Nak?" Kata Mama Tita.


"Mama apa kabar?" Tanya Aqila.


"Mama baik sayang, sehat-sehat di sini. Kamu jaga kesehatan ya Nak di sana." Kata Mama Tita

__ADS_1


Saat mereka asik mengobrol lewat sambungan ponsel. Ayah Pindri sudah keluar dari kamar mandi.


"Yah, Putri kita telepon nih. Dia menanyakan kamu." Kata Mama Tika.


"Iya, mana?" Tanya Pak Pindri.


Mama Tika menyerahkan ponsel yang ada di tangan kepada suaminya. Kemudian terdengar Pak Pindri menyapa Aqila.


"Ada apa sayang? Biasanya kalau sudah ngerumpi sama Mama, kamu lupa sama Ayah." Sapa Pak Pindri.


"Iya Yah, Maaf kan anakmu ini Ayah." Kata Aqila.


"Kenapa Nak? Ada kendala apa di sana? Ceritakan sama Ayah." Pinta Pak Pindri.


"Nggak ada masalah sebenarnya Yah. Tapi Aqila mau minta tolong sama Ayah." Kata Aqila.


Ia ragu mengatakan kepada Ayahnya, tentang usahanya sangat ingin membantu Arya mencarikan pekerjaan. Aqila takut kalau Ayahnya berpikiran negatif tentang Arya. Namun, sama-sama berjuang menjadi alasan Aqila ingin bersungguh-sungguh membantu Arya.


"Minta tolong apa sayang? Pasti Ayah akan menolong mu, putri Ayah kan kamu satu-satunya." Jawab Ayah Pindri dari sambungan telepon.


"Oh, begitu. Ayah tidak keberatan untuk membantu orang lain Nak. Apa lagi orang yang meminta bantuan Ayah adalah putri kesayangan Ayah dan Mama sendiri.


Tapi yang membuat Ayah takut adalah perasaan kamu Nak, bagaimana jika antara kamu dan Arya tidak berjodoh. Tentunya akan ada rasa kecewa yang sangat besar di hatimu.


Ayah tau kamu memang anak baik. Jangan sampai niat mu itu, kamu berusaha sekuat tenaga karena di beri harapan dari Nak Arya" Ayah Pindri mengingatkan.


"A-ayah tau dari mana Yah?" Aqila terkejut.


"Mama sudah cerita dengan Ayah." Kata Pak Pindri.


"Ayah, Aqila minta maaf tidak jujur sama Ayah." Kata Aqila merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Nak, bukan masalah besar. Ayah tetap akan membantu menghubungi Arif untuk meminta bantuan dia. Tapi Ayah berharap kamu ikhlas membantu Arya, bukan hanya karena kamu menyukainya saja." Kata Pak Pindri.

__ADS_1


"Terimakasih Ayah. Ayah paling baik sedunia deh pokoknya." Kata Aqila.


"Iya sayang, Sama-sama. Jaga kesehatan ya di sana. Kalau ada apa-apa hubung Ayah Dan Mama." Kata Ayah Pindri.


Setelah sambungan telepon dari putrinya terputus, Pak Pindri menghela napas panjang. Seperti ada beban yang ia rasakan saat putrinya berjuang sungguh untuk orang yang di sayanginya. Ada ketakutan terbesar pada suami istri tersebut jikalau putri mereka satu-satunya disakiti oleh orang luar.


Pak Pindri segera menelepon Arif saudara sepupunya. Ia meminta tolong dengannya untuk menerima ketika ada orang bernama Arya datang untuk melamar pekerjaan. Arif pun mengiyakan permintaan Kakak sepupunya tersebut.


Sedangkan, di sisi lain Aqila tampak bersemangat membanting tubuhnya ke kasur. Ia akan memberitahu Arya nanti ketika sudah selesai makan.


Perut Aqila sudah berbunyi tadi ketika sedang menelepon orang tuanya. Selesai menelepon akhirnya Aqila memutuskan memasak mie instan dengan sayur sawi dan telur. Ia akan bersantap malam meskipun sendirian.


Selesai memasak Aqila menyantap masakan yang telah terhidang di hadapannya. Kemudian ia menelepon Arya, untuk memberitahukan bahwa dirinya di Terima kerja di perusahaan sepupu Ayahnya.


Aqila dan Arya sepakat akan melangkah dari rumah Aqila sekitar pukul 8.00WIB besok hari. Mereka menyudahi obrolannya karena Aqila sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur.


***


Keesokan harinya, Arya sudah dari pagi bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Aqila. Sepanjang jalan ia melihat pemandangan yang bertambah keindahannya. Pandangan tersebut sebenarnya tidak berubah, hanya saja hati Arya yang sedang berbunga.


Setibanya di rumah Aqila, ternyata kekasihnya itu sudah bersiap dan hanya menunggu Arya datang. Karena Aqila sudah siap dari tadi, mereka langsung berangkat menuju kantor cabang milik sepupu Ayah Pindri tersebut.


Benar saja, setelah menghadap seorang manager sekitar lima belas menit. Arya langsung di terima bekerja di kantor tersebut. Sedang Pak Arif memang beliau tidak ada di kantor cabang tetapi selalu stay di kantor pusat.


Merasa senang telah berhasil mendapatkan pekerjaan, kedua orang yang sedang di mabuk cinta tersebut berjalan-jalan menikmati indahnya kota di pinggiran pantai. Kota di mana mereka tinggal sekarang ini.


Arya dan Aqila duduk di kursi milik pedagang makanan yang memang di sediakan di pinggiran pantai. Saat sedang menikmati makanan berupa sate padang dan kelapa muda. Tiba-tiba saja kepala Aqila merasa pusing.


"Bang kok kapala Qila sangat pusing ya?" Ungkap Aqila.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Arya.


"Nggak apa-apa sayang. Biasa masuk angin, nanti juga sembuh." Jawab Aqila.

__ADS_1


Penglihatan Aqila berputar seperti sedang terjadi gempa besar. Seketika itupun ia sudah tidak sadarkan diri.


__ADS_2