
"Sayang, sayang bangun. Jangan buat Abang semakin khawatir, bangunlah sayang." Arya menepuk muka Aqila.
Arya tidak tau apa yang harus ia lakukan pada hitungan detik ini, selain menatap kekasihnya dengan nanar. Harus bagaimana menolong Aqila agar bisa terbangun.
Arya memeriksa tas Qila, ia temukan minyak kayu putih di sana. Dengan segera Arya mengoleskan minyak tersebut di sekitar hidung Aqila. Ia juga mengoleskan minyak di ujung kaki kekasihnya tersebut yang terasa dingin sekali.
Dalam keputusasaannya, Arya menghadang mobil siapa saja yang lewat. Mungkin saja ada orang baik yang mau menolong, pikir Arya saat itu.
Setelah beberapa mobil ia berhentikan, sebuah mobil pick up bersedia membantu Aqila. Istri pemilik mobil tersebut juga bersedia memangku Aqila di pahanya. Arya memutuskan untuk mengantar kekasihnya ke rumah sakit terdekat.
Setelah menggendong Aqila masuk kedalam mobil. Arya mengambil tas Aqila yang msih ada di samping ia duduk tadi. Kemudian Arya langsung mengiringi mobil tersebut dengan menaiki motornya. Perasaan khawatir dan cemas bersatu saat itu.
Sesampainya di rumah sakit. Arya langsung memanggil petugas yang ada di ruang UGD, dengan cepat mereka membawa ranjang dorong untuk Aqila. Ibu muda pemilik mobil membantu Arya menurunkan Aqila dan mengikuti mereka sampai ke ruangan UGD.
Aqila dengan cepat di tangani oleh para perawat dan dokter umum. Untuk pernafasan Aqila diberikan alat bantu. Juga di tangannya seorang perawat terlihat sedang memasang saluran infus untuk memasukan obat dan cairan.
Kemudian ibu itu keluar, Arya mengikutinya dari belakang. Arya akan memberikan sedikit uang sebagai ucapan terimakasih telah membantunya.
"Maaf Kakak, Abang. Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Abang yang telah iklhas membantu kami. Ini sedikit rejeki buat Kakak dan Abang." Kata Arya sopan.
Namun, kedua orang suami istri tersebut menolak pemberian dari Arya. Mereka mengatakan kalau ikhlas dalam membantu.
"Maaf Bang, tapi kami ikhlas membantu." Kata Suaminya.
"Kalau begitu, saya mengucapkan terimakasih. Semoga Abang dan Kakak di lancarkan rejekinya." Kata Arya.
"Kami permisi dulu." Kata yang punya mobil.
Setelah mobil itu berputar dan menghilang di jalan raya. Arya kembali masuk ke ruang UGD untuk menemani Aqila. Ia di tanya dengan dokter yang bertugas bagaimana mulanya Aqila bisa seperti sekarang.
Arya menceritakan dari awal aktivitas hari ini, sampai makanan apa saja yang Aqila konsumsi. Baginya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dokter yang sedang menggali informasi tentang pasien pun bingung. Karena kemungkinan Aqila bukan pingsan di sebabkan kelelahan ataupun di sebabkan oleh makanan.
"Baiklah, untuk peninjauan lebih lanjut. Kita akan merawat pasien ini, ia juga sampai sekarang belum sadarkan diri. Kalau sampai sepuluh menit lagi belum sadar juga, kami akan bertindak cepat. Dan memindahkan ruangan pasien segera."
__ADS_1
"Terimakasih." Kata Dokter tersebut.
"Kamu keluarganya? Ada administrasi harus di selesaikan." Kata Dokter kembali.
"Saya temannya. Keluarganya dalam perjalanan Dok, administrasinya segera kami urus, yang paling penting lakukan yang terbaik." Kata Arya.
Arya telah berbohong dengan mengatakan bahwa keluarga Aqila sudah dalam perjalanan. Kenyataannya Arya belum memberitahu orang tua Aqila.
Bukan tidak mau secepat mungkin mengabari, namun Arya ingin memastikan dulu Aqila sudah di tangani atau belum. Karena ada beberapa pasien yang di rumah sakit yang pernah Arya lihat. Jika tidak ada keluarga yang terus mengingatkan, petugas seakan lengah dalam memperhatikan sebagian pasiennya.
"Baiklah." Jawab Dokter tersebut.
Beberapa perawat dan dua orang dokter mengelilingi Aqila yang belum sadarkan diri. Ketika Arya sudah buntu pikiran, Arya membuka tas Aqila dan mengambil ponselnya. Ia memang sudah di kasih tahu kode sandi oleh pemiliknya.
Arya saat itu tidak ingin meninggalkan Aqila sebentar saja. Tapi ia berpikir bagaimana harus mengurus administrasi jika tidak ada yang menjaga Qila dalam waktu secepat ini.
Ia melihat deretan kontak yang ada di ponsel milik kekasihnya itu. Arya tertuju pada nama Tika yang di kasih emoticon hati dan setangkai bunga. Arya berpikir sejenak, kemudian ia memutuskan minta bantuan kepada Tika sahabatnya Aqila.
"Halo, Hai Qila mau mau main ke rumah ya. Gue jemput ya? Jangan lupa ya empek-empek di kulkas mu bawak." Kata Tika langsung berkicau.
"Maaf ini bukan Qila." Kata Arya dari sambungan telepon.
"Kak Arya?" Tika menebak.
"Benar Tika, sekarang apa kamu tidak sedang sibuk? Aqila masuk rumah sakit sekarang. Bisa minta tolong ke sini sampai orang tuannya datang. Nanti kalau saya di panggil dokter, takut Aqila sendirian." Kata Arya panjang lebar.
"I-iya Kak, rumah sakit mana? Ruangan Mana? Tika seger kesana sekarang." Jawab Tika.
"Rumah sakit Citra Medika, masih di UGD." Kata Arya singkat.
"Baik Kak, Tika berangkat sekarang." Jawab Tika.
"Iya, terimakasih." Kata Arya singkat.
__ADS_1
Sebelum Tika tiba, Arya tidak ingin meninggalkan Aqila sejenak pun. Ia juga belum menelpon orang tua Aqila. Arya ingin menelepon orang tua kekasih nya di luar ruangan saja, nanti setelah Tika datang.
Arya duduk di samping Aqila yang belum sadar dengan banyak peralatan di tubuhnya. Ia menggenggam erat tangan Qila yang tidak terpasang jarum infus.
Kondisi Aqila sangat memprihatinkan. Ia baru saja mengalami sakit tadi siang, tapi terlihat dari wajahnya seperti ia telah menahan sakit yang cukup lama.
Baru sekitar empat menit dari waktu observasi dokter. Dengan wajah yang pucat dan badan yang dingin, Aqila tiba-tiba membuka matanya dengan perlahan.
Membuat dada Arya berdegup kencang, rasa syukurnya kepada Sang Pencipta terucap dari bibir saat itu.
Air mata Aqila mengalir saat pandangan mereka terpaut tanpa kata. Arya dengan lembut menghapus air mata tersebut dari pipinya.
"Jangan nangis sayang." Bisik Arya.
Ucapan Arya hanya anggukan kecil oleh kekasihnya. Ia masih lemas ketika itu, namun Arya dengan lembut menunjukan kasih sayangnya kepada Aqila.
"Sayang, sebentar ya Abang kasih tau Dokter dulu." Kata Arya.
Kali ini tanpa jawaban dari Aqila, Ia telah menemui Dokter yang berada sekitar lima meter saja dari tempat Aqila berbaring. Meja para petugas itu masih dalam satu ruangan dengan pasien.
Hal tersebut wajar saja karena orang yang masuk melewati UGD adalah pasien yang sakitnya mendadak. Dengan diagnosa beragam pula.
"Dok, teman saya sudah sadar." Kata Arya.
"Baiklah, sebentar saya cek." Kata seorang dokter perempuan setengah baya.
Dokter tersebut segera beranjak kearah ranjang Aqila dengan beberapa alat di tangannya. Sedangkan Arya mengiringinya dari belakang.
"Bagaimana perasaanmu Nak? Di bagian mana yang sakit?" Tanya Dokter tersebut.
"Nggak ada yang terlalu sakit Dok. Tapi badan Aqila susah di gerakan dan kepala sedikit pusing." Kata Aqila.
Ia berkata sangat pelan, sehingga butuh konsentrasi pendengarnya. Namun sang dokter yang telah pengalaman tersebut sangat mudah memahami pasien seperti Aqila.
__ADS_1