Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Menyambut Hari H


__ADS_3

Arya memandang punggung Dokter Yosef yang telah menjauh darinya. Arya menghela nafas dalam karena ia mengingat perjuangan Aqila, seharusnya Arya berhutang budi pada gadis itu.


Mengetahui sekarang Aqila sudah sehat, ada sedikit penyesalan dalam hatinya telah meninggalkan kekasihnya tersebut. Namun apa boleh di kata nasi sudah menjadi bubur, semua suda terjadi. Sekarang Arya harus fokus pada tunangannya Monita.


Bagaimanapun ia telah menentukan pilihan pada saat ini. Kalaupun nantinya Arya menyesal, itulah jalan takdir yang ia pilih. "Ah, sudahlah." Gumam Arya menghembuskan napas kasar.


"Hey, ada apa Sayang?" Tanya Monita.


Wanita dengan tubuh proporsional tersebut mendekati calon suaminya yang terlihat bengong, setelah bertemu dengan anak teman Maminya. Monita mencoba bertanya mengenai hal apa yang di sampaikan oleh pria tadi, mengingat wajah mereka sangat tegang.


"Enggak, Beliau adalah dokter yang memeriksa saat Abang kecelakaan dulu. Beliau meminta Abang cek up ulang, namun Abang menolaknya." Kata Arya berbohong.


"Oh, begitu. Kenapa nggak di cek aja dulu Sayang? Kan lebih baik." Monita mencoba memberikan perhatiannya.


"Nggak usah Sayang. Ini udah nggak sakit lagi kok." Arya meyakinkan dengan menekan bagian siku tangan kirinya. Ia berpura-pura pernah mengalami kecelakaan.


"Ya udah kalau nggak mau. Yuk kita lihat kesana." Monita menggandeng tantang Arya.


Arya hanya mengikut saja permintaan tunangannya tersebut. Ia sambil mencoba menormalkan kembali detak jantungnya.


Monita dengan semangat membantu menyusun dekorasi menurut yang dia sukai. Namun Arya seakan sudah tidak semangat, dari dalam hati yang paling dalam ada sedikit perasaan bersalah kepada Aqila. Tapi gengsi dan kepatuhan kepada Mami dan Papinya membuat Arya memilih Monita.


Sebenarnya Arya juga lebih merasa nyaman saat bersama Aqila. Gadis itu memiliki hobi dekat dengan alam sama seperti dirinya. Berbeda sekali dengan Monita yang mirip dengan sebagian besar wanita pada umumnya.


Monita menyukai ruangan yang ber AC, suka belanja, suka makanan yang tidak sama dengan yang diinginkan lidah Arya. Membuat banyak sekali perbedaan diantara mereka.


Hal itulah membuat Arya terkadang sedikit menyesal dengan pilihannya meninggalkan Aqila. Kepalanya juga merasa pusing kalau sudah mengingat gadis manis tersebut.


"Dari tadi ngelamun saja. Apa Abang kurang sehat?" Tanya Monita.


"Sepertinya masuk angin. Kita pulang aja yuk." Kata Arya.


"Baiklah." Jawab Monita.


Wanita muda itu mengambil tas yang tadinya ia letakkan di atas meja. Kemudian berjalan mengikuti langkah Arya yang sudah duluan memutar badannya menuju mobil mereka.


Tanpa menunggu Monita dan tanpa membukakan pintu buat calon istrinya, Arya sudah duduk di depan kemudi. Ia menunggu Monita di dalam mobil, perasaan Arya sangat kalut setelah mendengar pernyataan Dokter Yosef tadi.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Monita.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, sedikit pusing. Boleh Abang istirahat di rumah dulu? Lusa kan hari H, jangan terlalu capek. Kita percayakan saja dekorasi gedung sama mereka ahlinya." Kata Arya mencoba memberikan alasan pada Monita.


"Abang benar juga. Ayo kita pulang." Jawab Monita.


***


Di tempat yang berbeda Dokter Yosef mempercepat laju kendaraan. Ia ingin sekali melihat Aqila, walau gadis itu sudah jelas menolak pernyataan cintanya. Setidaknya Dokter Yosef telah menepati janji, membuktikan bahwa ia sangat mencintai gadis itu.


Dokter Yosef ingin datang ke rumah Aqila ingin mengambil sementara ponsel miliknya. Dokter Yosef tidak ingin Aqila mengetahui hari pernikahan Arya dari sosial media.


Sekitar setengah jam, mobil Dokter Yosef telah terparkir dihalaman rumah Aqila. Pak Pindri sudah siap di dalam mobil menunggu istrinya yang ingin belanja ke pasar. Pria tersebut langsung turun dari mobil ketika melihat ada tamu yang datang.


"Selamat sore Nak Dokter, silahkan masuk dulu." Kata Pak Pindri.


"Terimakasih Pak." Jawab Dokter Yosef.


Pria muda itu masuk ke rumah mengiringi langkah Pak Pindri. Ayah Aqila tersebut mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa yang telah tersedia di ruangan itu.


Pak Pindri berpikir tidak mungkin Dokter spesialis yang sangat sibuk seperti Dokter Yosef datang mampir tanpa tujuan. Ia memanggil Mama Tita yang sedang bersiap di dalam kamar.


"Ma, ada Nak Dokter." Kata Pak Pindri.


Tidak lama kemudian wanita itu keluar, setelah menyapa dan bersalaman dengan Dokter Yosef. Mama Tita izin kebelakang, ia ingin membuatkan minum untuk tamunya.


Sedang Mama Tita pamit ke dapur, Pak Pindri dengan perlahan menanyakan maksud kedatangan Dokter Yosef ke rumah mereka. Namun sepertinya Dokter Yosef mengetahui isi hati Pak Pindri.


Sebagai seorang psikolog tentu sedikit banyaknya Dokter Yosef tau mengenai gestur tubuh dan raut wajah orang yang sedang berhadapan dengannya. Ilmu psikolog bukan berarti juga ilmu meramal tapi mempelajari.


Melihat kegelisahan Pak Pindri Dokter Yosef segera menyampaikan tujuannya bertamu ke rumah calon mertuanya tersebut. Sebelum berbicara Dokter Yosef mengatur duduknya terlebih dahulu, dari yang tadinya terlihat santai menjadi lebih serius.


"Pak, Saya meminta izin kalau boleh melihat sebentar ponsel yang di pakai Aqila putri Bapak, karena ada data saya yang tertinggal." Kata Dokter Yosef.


"Oh, boleh Nak. Bentar ya, saya panggilkan Aqila." Kata Pak Pindri.


Pak Pindri segera memanggil Aqila yang sedang asik bercerita dengan sahabatnya, Sartika. Aqila pamit sebentar dengan Tika, ia mengajak Sartika ke ruang tamu. Namun gadis itu menolak dengan alasan tidak mau ganti baju lagi, karena baju yang mereka berdua kenakan saat di dalam kamar kurang sopan jika di bawa keluar.


Akhirnya mau tidak mau Aqila keluar sendirian dari kamar, setelah melapis celana pendeknya dengan yang lebih sopan. Aqila keluar kamar dengan malu-malu, ia kemudian duduk di samping Ayahnya.


"Kenapa Yah?" Tanya Aqila.

__ADS_1


"Nak, kasihkan dulu handphonenya pada Dokter Yosef, Sayang." Kata Pak Pindri.


Sebelum Aqila memberikan ponsel tersebut kepada Dokter Yosef, Mama Tita datang membawa dia gelas teh hangat. Ia menyuguhkan kepada tamu dan suaminya. Lalu duduk di samping putri mereka.


"Ini Dok." Kata Aqila.


"Silahkan di minum Nak Dokter." Kata Mama Tita.


"Terimakasih Bu." Jawab Dokter Yosef.


"Memangnya kenapa Yah?" Tanya Mama Tita.


"Dokter Yosef pinjam ponselnya sebentar karena ada data yang tertinggal." Kata Pak Pindri menjelaskan.


"Oh, begitu. Yah ayo nanti keburu malam, nggak ada lagi sayuran yang segar." Rengek Mama Tita.


Pak Pindri melihat Dokter Yosef sedang serius dengan handphone tersebut. "Kemungkinan Dokter muda ini masih lama." Pikir Pak Pindri dalam hati.


"Nak Dokter, nggak apa-apa kan di tinggal sebentar? Saya mau antar istri sebentar ke pasar." Kata Pak Pindri.


"Iya-iya Pak, tidak apa-apa. Saya palin sedikit lagi selesai." Jawab Dokter Yosef.


Kedua suami istri tersebut meninggalkan Aqila dengan Dokter muda tersebut. Sedang Dokter Yosef tidak memperhatikan Aqila yang salah tingkah, ia akhirnya berhasil mengeluarkan seluruh akun media sosial miliknya di ponsel tersebut.


Dokter Yosef bukannya takut kalau media sosialnya di ketahui Aqila. Namun yang ia takutkan, kalau sampai acara pernikahan Arya masuk di beranda media sosial miliknya. Karena Maminya Monita adalah teman Mami Dina. Secara otomatis berbagai postingan akan masuk ke dalam beranda akun Dokter Yosef.


Meskipun tangannya terus memainkan layar ponsel, namun sudut mata Dokter Yosef selalu mencuri pandang kepada Aqila yang duduk tepat di hadapannya. Ia memperhatikan gadis itu yang makin hari semakin menggoda bagi dirinya. Di tambah cincin darinya tetap melingkar indah di jari manis Aqila.


"Hem, apa nggak rindu?" Goda Dokter Yosef.


"Rindu siapa?" Tanya Aqila tanpa ekspresi.


"Kalau saja rindu sama Dokter Yosef yang keren ini." Kata Dokter Yosef.


"Ish, amit-amit." Jawab Aqila.


Mendengar jawaban Aqila, Dokter Yosef mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Aqila. Ia semakin gemas melihat tingkah Aqila yang masih mempertahankan cintanya untuk Bang Arya yang sudah jelas berkhianat dan sebentar lagi akan menikah.


"Awas nanti jatuh cinta beneran lho. Pulang dulu ya Beb." Dokter Yosef secepat kilat mencium pipi Aqila yang masih mematung.

__ADS_1


__ADS_2