Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Keputusan


__ADS_3

Pak Roni pulang ke rumah dengan wajah sumringah. Betapa tidak terduga ternyata produk dari perusahaannya sangat di minati, karena itu juga pemasukan perusahaan meningkat drastis dalam dua bulan terakhir.


Jika pemasukan bertambah, hal tersebut pasti membuat hati sang istri yang sangat cantik bertambah cantik oleh senyum lebarnya.


"Mi, Mami. Osef, Anden. Dimana kalian?" Pak Roni memanggil orang yang ia sayangi.


"Iya Pi, mami di sini. Sepertinya Papi sedang bahagia sekali?" Tanya Mami Dina.


"Papi ada kabar baik Mi, tadi tutup buku untuk bulan ini dan ternyata pemasukan perusahaan sedang meningkat drastis. Papi bahagia sekali.


Ini Mami kasih kepada anak-anak sebagai reward mereka karena doa kita semua, Papi bisa memajukan perusahan Mami dengan lancar. Sisanya sudah di transfer ke rekening Mami, sudah Mami lihat di handphone Mami?" Ucap Pak Roni menyerahkan beberapa paper bag yang berbeda warna.


Pak Roni paham sebagai kepala keluarga ia sangat sibuk menunaikan tanggung jawabnya memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga. Walaupun sebenarnya kedua anak mereka suda mandiri dan bisa di katakan sudah tidak bergantung lagi kepada mereka berdua sebagai orang tua.


Namun sebagai suami dan seorang ayah yang tidak sering menemani anak dan istri di rumah. Ia memberikan perhatian dengan memberikan hadiah-hadiah kecil sebagai bukti bawah dirinya selalu mengutamakan keluarga. Kadang hadiah itu tidak ia beli, tapi ia dapatkan atau buat sendiri dengan tangannya yang menghabiskan waktu hingga lembur.


Sebagai kado pernikahan, pernah Pak Roni membuat lukisan mereka sekeluarga. Ia harus mengerjakannya waktu malam hari, karena siang hari penuh dengan kesibukan di kantor.


"Wah, cantik sekali." Puji Mami Dina saat menempelkan dress pemberian sang suami untuknya.


Wanita itu juga membuka dia paper bag untuk kedua putranya. Sebuah jam beker yang unik dan terlihat tua dan sebuah jam tangan yang terlihat mahal.


"Ini pasti untuk Osef dan ini untuk Anden." Kata Mami Dina menunjukan hadiah tersebut ke arah Papi Roni.


Jam beker untuk Randen karena putranya yang satu itu susah sekali bangun tepat waktu. Sedangkan jam tangan untuk Randen karena ia sangat tepat waktu dalam segala hal. Ia juga tidak perlu dibangunkan di waktu pagi hari, dan tidak pernah terlambat bekerja jika jam tangan ada bersamanya.


Wanita itu memandang suaminya yang nampak lelah, walaupun berusaha tetap segar dan semangat. Mami Dina tidak tega jika harus memberikan kabar kurang menyenangkan dengan keadaan suaminya sekarang.


"Iya Mi, Mami pasti sudah tau." Jawab Pak Roni.

__ADS_1


"Papi mandi dulu gih, nanti Mami temani makan." Mami Dina mengelus pundak sang suami. Ia juga memberikan ciuman kilat di pipi suaminya sebagai pelepas lelah setelah bekerja.


"Oke Mi. Jangan lupa letakkan di kamar putra kita." Pak Roni berujar sambil berlalu ke kamar mereka.


Mami Dina menuju kamar Randen dan meletakkan paper bag yang berisi jam tangan di atas meja kamar putra bungsu mereka. Kebetulan sang putra belum pulang ke rumah setelah tadi pagi berpamitan untuk berangkat bekerja.


Kemudian Mami Dina beranjak menuju kamar Yosef yang bersebelahan dengan kamar Randen. Ia melihat putranya tersebut tidur berselimut tebal dengan posisi seperti pistol. Mami Dina tau bagaimana perasaan putranya sekarang.


Ia juga sangat mengenal putranya yang hampir tidak pernah melakukan kesalahan yang fatal. Tentu kesalahan yang di dilakukannya kali ini secara tidak langsung akan mempengaruhi pikirannya.


Mami Dina berusaha berbicara pelan dengan Yosef, karena Mami Dina tau kalau hati dan perasaan putranya sangat lembut. Mami Dina tidak ingin menambah beban yang di terma oleh putra mereka.


"Osef ini hadiah dari Papi." Ucap Mami Dina.


"Iya Mi, terimakasih." Dokter Yosef menjawab Mami Dina dengan suara yang di tahan.


"Mami letak di meja, ya sayang." Mami Dina meletakan paper bag yang ada di tangannya ke atas meja.


Ketika keluar dari kamar sang putra, Mami Dina telah melihat suami tercinta sudah duduk di meja makan. Ia juga terlihat sudah menikmati secangkir kopi yang artinya laki-laki tersebut sudah membuat sendiri kopi yang sedang beliau nikmati.


"Papi udah selesai membersihkan diri?" Tanya Mami Dina.


"Sudah Mi, buktinya Papi sudah ada di sini." Jawab Papi Roni.


"Pi, ada yang mau Mami ceritakan sama Papi." Wanita itu menjatuhkan dirinya ke kursi yang ada di sebelah sang suami.


"Apa Mi? Sepertinya serius sekali. Ceritakan aja." Kata Pak Roni.


"Tapi Papi tarik napas dulu." Kata Mami Dina.

__ADS_1


"Memangnya ada apa sih? Cerita lah Mi." Pak Roni telah membenarkan tempat duduknya, melihat sang istri sepertinya akan mengatakan hal penting.


Kemudian Mami Dina menceritakan semua permasalahan yang dilakukan oleh putranya. Ia juga menyampaikan kalau Osef telah meminta maaf kepada Papinya tersebut.


Dengan gusar Pak Roni mengusap wajahnya, Ia nampak berpikir keras untuk hal yang tidak terlintas di benaknya selama ini. Tapi bagaimanapun semua orang bisa salah dan khilaf, tanpa terkecuali putranya sendiri yang di mata masyarakat bak malaikat turun ke bumi karena kemuliaan hatinya.


Lagi pula sebagai orang tua, ia tidak mungkin hanya menerima anaknya ketika mendapat predikat terbaik saja. Walaupun kesalahan yang di perbuat Yosef tentu tidak bisa di benarkan dari segi apapun.


"Nggak apa-apa Mi, kita hadapi bersama-sama. Saling bergandengan tangan, jangan terlalu menekan Yosef. Anak kita sudah tertekan dengan masalah ini, jangan sampai ia kembali ke rumah pun merasa tidak nyaman." Ujar Pak Roni menengadah kan wajahnya.


"Iya Pi, terimakasih atas kebijaksanaan Papi. Kemurahan hati Papi, mengenai hal ini jujur Mami jatuh cinta berulang kali sama Papi." Kata Mami Dina terharu.


"Jadi kapan Dengan mau datang kemari?" Tanya Pak Roni.


"Mami dengar dari Yosef sih hari ini." Jawab Mami Dina.


Mereka mengobrol di ruang tamu, juga hal tersebut di ceritakan dengan Randen yang baru pulang bekerja. Pria berusia 25 tahun itu pun menerima dengan baik saran dari orang tuanya. Setelahnya Randen berpamitan masuk ke kamar.


Lama suami istri tersebut berbincang, mereka melihat mobil Dokter Dengan perlahan parkir di halaman rumahnya. Sepertinya umur panjang, baru saja di bicarakan orangnya benar-benar datang.


Mami Dina dan Pak Roni menyambut kedatangan tamunya dengan biasanya mereka. Dokter Derwan pun sudah menganggap Mami Dina dan Pak Roni sebagai keluarga, saudaranya sendiri.


Mulai dari obrolan ringan seperti bertanya kabar dan tentang pekerjaan. Pada akhirnya Dokter Derwan perlahan membuka dan menceritakan kejadian yang dilakukan oleh Dokter Yosef di ruang pemeriksaan pasien. Ia juga sudah memberitahukan kemungkinan yang terjadi di kemudian hari.


"Jadi bagaimana ini bang? Apa yang harus kita lakukan demi anak kita ini?" Pak Roni mencoba meminta pendapat.


"Sebaiknya segera kita nikahkan saja mereka berdua. Lagi pula sepertinya Yosef sangat mencintai gadis itu. Saya melihat bagaimana Yosef memegang erat tangan gadis tersebut dan melepaskan almamater yang ada ditangannya. Mungkin itu refleks, namun itulah yang di sebut bahasa tubuh. Sedangkan bahasa tubuh keluar dari hati nurani." Jelas Dokter Derwan.


"Kalau itu yang terbaik, tinggal kita atur tanggal dan lebih cepat lebih baik. Bukan begitu bang?" Ujar Pak Roni.

__ADS_1


"Iya-iya, saya juga berpikir begitu." Jawab Dokter Derwan.


Mereka mengobrol santai dan menikmati kopi sampai habis. Setelah itu Dokter Derwan berpamitan pulang.


__ADS_2