
Flashback Of
Siang sudah berganti senja, namun hal itu tidak terlalu berkesan bagi mereka yang sedang menanti kesembuhan di rumah penantian ini. Begitu juga dengan kedua orang suami istri yang sedang menjaga putri tercinta mereka.
Detik berganti menit, jam pun sudah bergeser. Namun sang putri tidak menampakkan tanda-tanda akan tersadar di pembaringannya. Melihat dari kaca kondisi anak yang terbaring tanpa bisa mendengarkan, tanpa bisa mengatakan satu kata saja, tanpa sadarkan diri. Hati Mama Tita luluh, air matanya sudah mengalir untuk kesekian kalinya.
Di tempat yang berbeda Sartika sedang bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Ia akan menemani sahabatnya malam ini. Bercanda dan memberi semangat kepada sahabatnya tentulah menjadi berkesan baginya.
Sartika hari ini akan datang bersama orang tuanya. Mama dan Papa Sartika akan membesuk sebentar, setelah itu mereka akan meninggalkan putrinya bersama sang sahabat.
Lebih kurang empat puluh lima menit, keluarga kecil tersebut akhirnya sampai di rumah sakit. Sartika dan kedua orang tuanya segera menuju ruangan Aqila di rawat. Namun mereka terkejut setelah meminta izin membesuk kepada perawat yang berjaga di sana untuk beberapa ruangan
"Permisi Kak, kami ingin membesuk pasien yang bernama Aqila Putri." Kata Ayahnya Sartika.
"Maaf Pak, Aqila Putri sedang di rawat di ruang ICU." Kata salah satu perawat yang bertugas.
"Iya Kak, terimakasih. Kami kesana dulu." Jawab Ayahnya Sartika.
Mendengar penjelasan dari perawat yang bertugas membuat jantung Sartika seakan berhenti berjalan. Bercanda bersama Aqila sahabatnya setelah ia datang, seperti yang telah di bayangkan sebelum berangkat tidak akan menjadi kenyataan.
Sartika terdiam mematung dalam waktu yang cukup lama. Ia seakan meminta sekali lagi penjelasan dari Sang Ayah. "Ayah apakah ini benar terjadi?" Pertanyaan tersebut telah berada di tenggorokan Sartika, namun lidahnya seolah kelu untuk berkata.
"Sayang ayo, Qila sedang di rawat di ruang ICU sekarang." Kata Ayahnya.
"Yok lah sayang, jangan sedih seperti itu." Tempat Mamanya.
Dengan di gandeng Sang Mama, Tika akhirnya berjalan bersama kedua orang tuanya untuk mencari ruang ICU yang di maksud. Setelah berapa kali bertanya kepada petugas yang berpapasan, akhirnya mereka menemukan tempat Aqila di rawat.
Benar saja, kedua orang tua Aqila ada di dalang ruang tunggu yang di sediakan di sebelah ruangan khusus pasien. Sartika dan kedua orang tuanya menghampiri Pak Pindri dan Mama Tita.
__ADS_1
"Selamat Malam Bang." Sapa Ayahnya Sartika.
"Selamat malam, yuk silahkan duduk seadanya." Kata Pak Pindri.
Pria itu mengulurkan tangannya kepada Ayahnya Sartika. Kemudian kepada Mamanya dan Sartika sahabat putri mereka.
"Eh, ada Nak Tika. Kamu udah sembuh sayang?" Kata Mama Tita sambil memeluk Sartika.
"Sudah Tante, kenapa Aqila bisa begini lagi Tante? Dari sebelum berangkat Tika sudah membayangkan untuk bercerita dengan Aqila." Kata Sartika dalam pelukan Mama Tita.
Gadis belia itu mencurahkan isi hati, air matanya telah luruh bagaikan awan yang telah lama membendung tetes hujan. Dengan tiba-tiba langsung turun dengan derasnya.
"Tante juga tidak tau kenapa Sayang. Qila terlihat lemas setelah selesai menghubungi kamu kemarin Tik." Jelas Mama Tita.
"Sabar ya Kak, kami selalu mendoakan Aqila." Mamanya Sartika menimpali.
"Iya, terimakasih Kak." Jawab Mama Tita membawa Sartika duduk.
Sedang Sartika berdiri menempelkan wajah dan tubuhnya di kaca yang menjadi pembatas ruangan mereka dengan Aqila yang sedang terbaring. "Bangunlah Qil, katanya kamu mau cerita. Ini Gue udah datang Qil, ada Mama sama Papa juga mau berkunjung sama kamu. Qil bangunlah." Kata Sartika sambil menangis.
Mengetahui sahabat putrinya menangis pilu, ia sendiri tidak tega melihatnya. Mama Tita mendekati gadis itu lalu membawanya ke dalam pelukan kembali.
"Sabar Sayang, sebentar lagi Qila sadar dan bisa main sama kamu lagi." Kata Mama Tita memeluk gadis yang tulus hati tersebut.
Malam semakin larut, tanpa terasa mereka mengobrol lebih dari dua jam lamanya. Orang tua Sartika ingin berpamitan kepada Pak Pindri dan Mama Tita. Namun, Sartika tidak bergeming tetap berdiri mematung menatap Aqila dalam pembaringannya.
"Tik, bukannya Tante menolak kamu menemani Qila malam ini. Tapi sebaiknya kamu pulang sama Papa Mama, kan Aqila juga belum sadarkan diri. Nanti kalau Aqila sudah sadar, pasti Tante kabari." Kata Mam Tita.
"Tapi Tante, Tika sudah janji sama Qila akan menginap malam ini."Jawab Sartika keberatan saat dirinya di suruh pulang.
__ADS_1
"Qila juga pasti mengerti sayang." Kata Mama Tita kembali.
"Iya Nak, kamu juga kan baru sembuh. Nanti kalau Aqila sudah sadar, kamu bisa main ke sini lagi. Dan semoga saja Qila cepat pulang ke rumah lagi." Kata Mamanya Sartika.
"Baiklah Ma, Tante Tika pulang dulu." Kata Sartika mencium tangan Mama Tita.
Sartika kembali menempelkan wajahnya pada dinding kaca tempat Aqila berbaring. " Qil, Tika pulang dulu. Nanti kalau kamu udah sadar Tika janji langsung kesini lagi, Takutnya Tika juga sakit lagi. Daah, Gue pulang dulu ya." Kata Sartika sambil menahan air mata.
Pak Pindri dan Mama Tita mengantar keluarga sahabat putrinya tersebut ke depan ruangan. Sartika melambaikan tangan kepada orang tua sahabatnya tersebut saat hendak meninggalkan rumah sakit.
Saat Pak Pindri dan Mama Tita di luar, kebetulan Dokter Yosef masuk ruangan tempat Aqila di rawat. Dokter Yosef telah mengucapkan salam, namun tidak ada yang menjawab. "Mungkin merek sedang di luar." Pikir Dokter Yosef.
Dokter muda tersebut masuk ke dalam ruangan di mana Aqila berbaring. Ia memeriksa beberapa kabel, guna memastikan keamanan semua alat kesehatan di tubuh calon kekasihnya.
Setelah semua aman, Dokter Yosef hendak keluar dari ruangan. Tiba-tiba saja ada suara dari belakangnya.
"Qila haus." Suara yang sangat pelan.
Jantung Dokter Yosef seakan tersengat aliran listrik yang cukup kuat hingga membuatnya lemas. Dengan sepenuh keyakinan ia kebalik badan mencoba memastikan apa yang ia dengar barusan.
Menjadi orang pertama yang menyaksikan seseorang sadar dari tidur lamanya, tentu akan berkesan bagi seseorang. Walaupun dia adalah seorang Dokter, yang tentu saja kejadian ini mungkin hanya kebetulan saja.
"Sebentar ya, tapi sedikit saja ya." Kata Dokter Yosef semangat.
"Dokter jagain Aqila juga?" Tanya Aqila lebih pelan.
"Tenanglah saya tadi mengecek alat medis yang kamu pakai. Kamu pasti kuat, mulai saat ini." Kata Dokter Yosef.
Tanpa Dokter muda itu sadari, Mama Tita dan Pak Pindri ada di luar ruangan sedang memperhatikan dirinya. Mereka mengira Dokter muda itu hanya bicara sendirian, kemungkinan Aqila merespon. Mereka saat itu belum tau kalau Aqila sudah sadar.
__ADS_1
"Dokter bicara sama siapa?" Tanya Pak Pindri.