
Aqila duduk sendirian di bangku tunggu, ia akhir-akhir ini setelah kesehatannya kemarin kerang baik. Mama Tita tidak mengizinkan sang putri untuk berangkat ke kampus dengan mengayuh sepeda.
Aqila harus menunggu angkot untuk mengantar dirinya sampai ketempat menambah ilmu. Juga kemudian untuk kembali ke rumah, Aqila harus kembali menggunakan angkutan kota tersebut.
Tiba-tiba saja ada seorang yang membuyarkan lamunannya dari belakang. Ia menutup mata Aqila, hingga akhirnya Aqila berhasil menoleh.
"Hay sayang."
"Abang," Kata Aqila dengan cemberut.
Benar saja yang datang adalah Arya, kekasih Aqila yang hampir seminggu ini tidak menemuinya. Namun Arya hampir setiap hari menghubungi Qila lewat ponselnya.
"Kenapa Abang bisa kemari? Harusnya Abang nggak usah ke kampus Qila, kan bisa tunggu di rumah." Jelas Aqila.
"Tadi sudah ke rumah kamu, tapi tidak ada orang. Yaa, Abang susul aja ke sini." Kata Arya.
"Ayo, kita pulang Bang. Qila sudah dari tadi menunggu angkot soalnya." Kata Qila.
"Yuk."
Arya menarik tangan Aqila untuk membantunya berdiri. Belum sempat mereka membalik badan. Dari arah barat kampus terdengar Tika memanggil nama Aqila. Spontan gadis tersebut menoleh ke arah sumber suara. Meskipun dia sudah yakin itu adalah suara sahabatnya.
Benar saja saat Aqila menoleh, Tika sedang berlari kecil mendekat ke arah mereka berdua. Aqila menunggu sahabatnya tersebut dengan posisi masih berdiri.
"Ada apa Tik? Kok seperti di kejar sapi ngamuk?" Selidik Aqila.
"Aduh Qil, pusing deh pokoknya." Kata Tika ngos-ngosan.
"Memangnya ada apa Sartika?"
"Qil, Gue salah bawa skripsi. Tadinya sudah benar sih, tapi ketika ganti tas malah masukan yang ini." Kata Tika dengan tumpukan kertas di tangannya.
"Terus bagaimana Tik? Pulang dulu?" Tanya Aqila.
"Gimana ya, mana dosen pembimbing gue sudah di ruangan." Tika nampak bingung.
"Gini aja Tik, biar elu nya gak terlalu capek. Bagaimana kalau kami yang bantuin ngambil skripsi di rumah kamu. Ada Tante Eka di rumah kan?" Aqila memberi solusi.
"Ada sih Qil, Mama ada di rumah. Tapi apa tidak merepotkan Kak Arya?" Kata Tika sungkan.
"Tidak merepotkan kok." Sela Arya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Kak, Saya tunggu di sini." Kata Tika.
"Dimana berkas skripsinya Tik?" Tanya Qila.
"Di tas Tika yang ada di atas meja belajar." Jawab Tika.
"Kami pergi sebentar yaa, jangan khawatir." Kata Aqila.
Aqila dan Arya berjalan mendekati motor. Tidak lupa Arya membantu memasangkan helm kepada kekasihnya. Kemudian ia melajukan motornya, pelan dulu kemudian melaju kecepatan di atas rata-rata.
"Emang, sangat dekat Sayang dengan Tika?" Tanya Arya.
"Hem, iya Bang. Kami sudah sahabatan dari sekolah dasar. Bahkan kedua orang tua kami sudah sahabatan sebelum kami ada." Jelas Aqila.
"Wah, sahabat yang baik hati ya kekasihku ini." Goda Arya.
"Biasa aja Bang." Jawab Aqila malu.
Motor mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan cat warna tosca. Ketika mendengar suara motor, seorang wanita setengah baya namu tetap cantik menoleh dari pekarangan rumah.
Beliau adalah Tante Eka, Mamanya Tika. Melihat Aqila yang datang, Tante Eka langsung menyapa dengan senyum.
"Eh, ada Nak Aqila. Tapi kan Tika nya masih di kampus Nak." Kata Tante Eka.
"Maaf Tante kami tidak lama-lama. Kesini hanya untuk mengambil skripsi Tika yang tertinggal. Ia sudah menunggu sekarang mau bimbingan. Dosennya pun sudah menunggu di ruangan." Kata Aqila menjelaskan.
"Oh, iya Nak. Kata Tika di mana skripsinya?" Tanya Tante Eka.
"Didalam tas yang ada di atas meja belajar Tika Tante." Kata Aqila.
"Oh, iya sebentar ya Nak." Tante Eka sambil berlalu.
Tidak sampai hitungan menit, Mama sahabatnya itu telah kembali ke hadapan mereka. Sambil mengucapkan terimakasih Mamanya Tika memberikan berkas skripsi. Serta sekotak kue beliau berikan kepada Aqila.
"Terimakasih Tante." Kata Aqila.
"Sama-sama Nak, hati-hati yaa." Kata Tante Eka.
Kemudian Aqila kembali ke motor, di mana Arya sudah menunggu. Mereka dengan kecepatan tinggi kembali ke kampus menemui Tika. Setelah memberikan berkas kampus, kedua sahabat itu saling berpelukan. Kemudian saling melambaikan tangan.
Sedangkan Arya hanya menunggu di atas motor. Hari ini rencananya Arya akan mengajak Aqila menemainya mencari pekerjaan.
__ADS_1
Beberapa surat lamaran pekerjaan sudah di siapkan Arya dari rumah. Rencananya ia akan mendatangi beberapa kantor.
Matahari sudah memberikan sengatannya dengan maksimal. Seakan tidak pernah tau betapa menderita makhluk yang ada di kulit bumi karena dirinya.
Begitu juga dengan sepasang kekasih yang berada di atas tunggangan kuda besinya. Hanya butuh beberapa menit saja, mereka berdua sudah berada di depan sebuah kantor.
"Semoga berhasil ya Bang." Kata Qila memberi semangat.
"Iya Sayang." Jawab Arya.
Arya segera bergegas masuk kedalam ruangan manager. Sedangkan Aqila hanya menunggu di ruangan depan resepsionis.
Beberapa menit kemudian, Arya keluar dari ruangan dengan muka yang di tekuk. Aqila merasa kekasihnya belum beruntung. Namun, ia pura-pura tidak tau.
"Udah selesai Bang?" Tanya Aqila.
"Ayo sayang, kita ngobrolnya diluar saja." Kata Arya.
Arya menggandeng tangan Qila berbalik badan kearah pintu keluar. Mereka mencari tempat duduk yang nyaman untuk ngobrol. Sebelumnya Arya telah membeli makanan ringan dan dua botol air mineral. Mereka berdua duduk di bangku taman.
"Sayang, Abang belum di terima." Kata Arya.
"Abang sedih ya?" Tanya Qila kemudian.
"Ah, enggaklah. Kalau lamaran pekerjaan di tolak ngapain sedih. Kalau lamaran ku untuk kamu di tolak, itu baru sakit." Kata Arya.
"Abang bisa saja." Kata Aqila tersenyum.
"Hehe, Abang hanya bercanda." Jawab Arya.
Ia mencubit pipi Aqila yang merah merona. Sedangkan Aqila tinggal pasrah karena tidak bisa mengelak lagi.
Mereka berdua bermain lempar camilan dan menangkapnya menggunakan mulut. Setelah beberapa kali lemparan akhirnya pasangan kekasih tersebut beradu dan saling berpandangan.
"Abang, yuk kita antar ke kantor lain yuk surat lamarannya." Kata Aqila mengalihkan fokus.
"Ayo, bereskan semua jajanan kita." Kata Arya.
Mereka pergi lagi ke sebuah kantor yang ada di kota mereka. Melakukan hal yang sama, mengantar surat lamaran. Namun hal yang sama bahwa semua bagian sedang terisi penuh. Mereka berjanji akan menghubungi ketika ada posisi yang kosong.
"Gimana sayang? Hem, belum dapat juga." Kata Arya mengeluh.
__ADS_1
"Gini aja Bang, saudara sepupu Ayah ada yang memiliki perusahaan dan cabangnya ada di kota kita ini. Kalau Abang mau nanti Qila sampaikan sama Ayah, siapa tau beliau bisa bantu menanyakan kepada Om Arif." Kata Aqila.
"Nggak apa-apa sayang, kalau Ayah sayang bisa bantu. Biar nggak capek cari pekerjaan lain lagi." Kata Arya dengan wajah berbinar.