
Dokter Yosef melihat Aqila dari bawa sampai ujung rambut. Ia sangat terpesona melihat keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini. Entah mengapa matanya tidak ingin lepas menatap Aqila.
"Kenapa Dok? Qila mau keluar." Kata Aqila.
Aqila nampak ketakutan hingga tubuhnya sedikit gemetar. Dokter Yosef tidak ingin melihat gadisnya ketakutan saat di dekatnya, ia ingin membuat orang yang dia cintai merasa nyaman saat berada di dekatnya.
Dokter Yosef akhirnya mendapat ide agar Aqila tidak merasa ketakutan. Ia ingin Aqila memutuskan sendiri untuk tetap berada dalam ruangannya. Dokter Yosef memegang kepala berpura-pura ia merasa sakit, memang dari tadi kepalanya sedikit pusing karena kurang tidur. Namun rasa itu diajaknya untuk benar-benar menyempurnakan aksinya.
"Kamu takut sama saya Qil? Nih, silahkan keluar." Kata Dokter Yosef.
"Dokter kenapa?" Tanya Aqila.
"Hanya sakit kepala, mungkin karena kurang tidur." Jawab Dokter Yosef.
Gadis itu mengelus bagian kepala Dokter Yosef yang sakit. "Seorang Dokter juga bisa sakit ya?" Gumam Aqila.
"Dokter kan juga manusia neng." Jawab Dokter Yosef di selah ia merasakan sakitnya.
"Oh, bentar Dok. Qila panggilkan perawat." Kata Aqila
"Kepala saya tambah sakit kalau kamu panggil dok-dok terus. Saya istirahat aja disini, kalau kamu mau keluar silahkan." Kata Dokter Yosef.
Pria tersebut berjalan ke arah ranjang tempat pemeriksaan pasien. Ia berbaring di sana, tanpa menghiraukan Aqila yang nampak gelisah. Dokter Yosef sengaja tidak mau di panggilkan perawat maupun di berikan obat, karena ia ingin tetap bersama Aqila beberapa waktu ke depan.
Sebenarnya Aqila bingung harus tetap tinggal, atau memilih meninggalkan Dokter Yosef sendirian. Ia tau orang yang ada di hadapannya ini telah membuatnya berhutang budi.
Aqila menarik sebuah kursi yang ada di ruangan tersebut. Ia lalu duduk di samping Dokter Yosef berbaring.
Melihat Dokter Yosef masih menutup kepalanya dengan bantal membuat Aqila serba salah. "Abang Dokter, masih sangat sakit ya?" Tanya Aqila.
"Iya, kepala nih. Gak usah Abang Dokter juga kali. Abang aja atau sayang boleh, saya nggak keberatan." Jawab Dokter Yosef.
"Sini Qila pijitin sebentar." Ucap Aqila.
Saat tangan halus gadis itu mengenai dahinya. Hati Dokter Yosef merasa girang karena modusnya bisa membuat Aqila tetap tinggal. "Ternyata gadis ini perhatian juga." Kata Dokter Yosef dalam hati.
"Terimakasih." Kata Dokter Yosef.
"Udah lumayan?" Tanya Aqila.
"Ini masih sakit sedikit, sebentar lagi juga sembuh" Jawab Dokter Yosef.
Aqila bisa bernafas lega, namun kembali Dokter Yosef ingin mengerjai Aqila. Ia ingin tau seberapa berharga dirinya ddi hati gadis itu, apakah memang masih ada harapan untuknya.
Dokter Yosef kali ini benar-benar memegang kepalanya seperti sangat kesakitan. Kemudian ia melancarkan aksinya untuk tidak bergerak sedikitpun. Kali ini ia sengaja ingin melihat reaksi dari Aqila.
"Bang bangun, bangun. Gimana ini," gumam Aqila.
"Atau panggil perawat aja ya, nanti bisa gawat kalau Qila di tuduh membuat Dokter Yosef sakit." Kata Aqila bermonolog.
__ADS_1
Gadis itu mengipas Dokter Yosef dengan kertas. Melihat tidak ada pergerakkan, la mencoba menepuk-nepuk pipi Dokter muda tersebut. Tidak lupa Aqila mengoleskan minyak kayu putih di wajah dan telapak tangan Dokter Yosef.
Aqila tidak kehabisan akal, ia membuka sepatu dan melepas almamater Dokter Yosef. Saat Aqila melepas almamater tersebut, Dokter Yosef memeluk tubuh Aqila. "Jangan tinggalkan saya, Qil." Bisik Dokter Yosef.
Pria itu juga menyentuh lembut bibir Aqila, Dokter Yosef tidak tahan dengan keindahan benda merah merona milik Aqila. Ia secara menikmati benda itu dengan rasa nikmat, jiwa lelakinya seakan menutup logikanya bahwa mereka sedang berada di ruang kerja.
Dokter Yosef pun tidak menyadari lagi, bahwa ia sekarang masih dalam lingkungan rumah sakit. Dengan menggunakan almamater kebanggaannya. Saat Dokter Yosef sedang menikmati perpaduan saliva dengan wanita pujaannya, tiba-tiba Dokter dan dua asistennya masuk kedalam ruangan.
"Astaga, Dokter! Apa yang kalian lakukan di sini!" Kata Dokter Derwan yang tersulut emosi.
Mendengar suara Dokter Derwan, Yosef Rananta tidak melepaskan tanggung jawabnya pada Aqila. Dokter Yosef merangkul Aqila dan melepaskan almamaternya.
"Silahkan duduk dulu." Kata Dokter Derwan mengatur emosinya.
Dokter Derwan menutup pintu ruang kerja tersebut. Dua orang asisten dokter itu juga di suruh Dokter Derwan duduk. Dokter Yosef duduk dihadapan Dokter Derwan dan Aqila di sampingnya menahan air mata.
"Saya mengaku salah Dok, ini sepenuhnya salah saya. Saya akan bertanggung jawab dengan segala konsekuensinya." Kata Dokter Yosef.
"Kenapa kamu lakukan hal ini? Kamu tau kalau sampai ini terdengar oleh banyak orang, pekerjaanmu akan terancam. Profesi kita semua akan tercoreng." Kata Dokter Derwan.
"Saya meminta maaf Dok, ini kesalahan saya sepenuhnya." Jawab Dokter Yosef teguh.
Dokter Derwan menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Sebenarnya berat baginya untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Kalau tadi ia ndiri yang mengetahuinya, tentu tidak akan ada yang menjadi masalah. Namun bagaimana dengan kedua asistennya,bagaimana pun mereka adalah manusia yang suatu hari nanti bisa saja membuka aib Dokter Yosef.
Di sisi lain Dokter Derwan ingin melindungi Dokter Yosef. Ia sudah menganggap keluarga Dokter Yosef sebagai keluarganya sendiri, karena pada kenyataannya orang tua Mami Dina sangat berjasa dalam menyekolahkan Dokter Derwan.
Ia sengaja menggertak kedua asistennya, agar mereka tidak semaunya membuka mulut. Dokter Derwan juga menatap tajam Aqila yang berada di samping Dokter Yosef.
"Baik Dok, kami tidak akan menceritakan kepada siapapun." Jawab salah satu asisten Dokter Derwan.
"Untuk kalian berdua, nanti saya akan ke rumah orang tua mu untuk membicarakan hal ini." Kata Dokter Derwan.
"Terimakasih Dok, saya permisi dulu." Kata Dokter Yosef.
"Silahkan." Jawab Dokter Derwan.
Pria itu menggenggam erat tangan Aqila, lalu ia membawa Aqila keluar dari ruangan. Ia tidak lagi menghiraukan perkataan dokter seniornya tersebut.
Apapun resikonya Dokter Yosef akan menerima dengan ikhlas, termasuk jika harus di berhentikan secara tidak hormat dari profesi yang membesarkan namanya sampai sekarang. Kalaupun nanti orang tuannya sangat kecewa dengan dirinya, Dokter Yosef telah siap pergi dari rumah. Ia akan memulai hidup dari awal.
Namun sati yang tidak bisa ia lakukan adalah jika harus berpisah dengan Aqila, wanita yang ia cintai. Walaupun sebenarnya ia juga belum tau sampai kapan harus menunggu gadis itu bisa membuka hati bagi dirinya.
Beberapa mata yang berpapasan dengan meraka, memasang wajah yang penuh tanda tanya. Sampai akhirnya Dokter Yosef membukakan pintu mobil untuk Aqila.
"Masuklah." Kata Dokter Yosef.
Aqila menurut saja tanpa menjawab ucapan Dokter Yosef. Ia juga tidak berani memandang wajah pria yang bersamanya. Sedari tadi ia hanya membayangkan bagaimana kalau sampai Dokter Yosef benar-benar di pecat. Kalau hal itu terjadi, ia adalah orang yang pantas di salahkan.
__ADS_1
Melihat Aqila terus menunduk, Dokter Yosef ingin tertawa. Namun dirinya takut membuat Aqila tersinggung, "Begitu polosnya dirimu sayang, jika kamu mengkhawatirkan saya. Tentu masalah ini tidak akan berpengaruh apa pun bagi saya.
Karena jika mau, saya bisa saja duduk di kursi pemilik rumah sakit ini sekarang juga. Semua aset dan surat penting di rumah sakit ini saya yang bertanda tangan.
Saya hanya khawatir pada mu Qil, bagaimana kalau kita di minta bersama, karena kesalahan. Padahal sampai saat ini pun kamu belum membuka hati sedikitpun buat saya.
Kasihan sekali nasib seorang Yosef Rananta. Bahkan untuk menerima cinta seorang gadis saja, ia tidak mampu. Beri saya kesempatan Qil, kali ini saja." Batin Dokter Yosef.
"Bang, maafkan Qila." Kata Aqila sudah berlinang air mata.
Melihat Aqila sudah mencurahkan air matanya. Dokter Yosef ingin menghapus cairan bening itu dengan tangannya, namun tidak mungkin ia lakukan di tempat umum.
Dokter Yosef melajukan mobilnya pelan sampai di depan sebuah taman dalam kota mereka. Dokter Yosef memberhentikan mobilnya, ia menghapus air mata Aqila dengan kedua tangannya.
"Udah, nggak usah dipikirkan. Sekarang kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Dokter Yosef.
"Pulang aja." Jawab Aqila.
"Tapi berhenti dulu dong nangisnya. Kita makan dulu ya, habis itu abang antar pulang." Kata Dokter Yosef.
"Bagaimana kalau abang di pecat nanti?" Tanya Aqila pelan.
"Kalau di pecat ya jadi pengangguran toh neng." Jawab Dokter Yosef.
"Kasihan sekali, gara-gara Qila juga." Jawab Aqila.
"Tapi kalau sampai abang sampai di pecat, kamu harus tanggung jawab ya." Kata Dokter Yosef.
"Tanggung jawab apa?" Tanya Aqila dengan mata melebar.
"Yeah tanggung jawab jadi istri abang. Bantu abang jualan siomay keliling kota." Jawab Dokter Yosef santai.
"Hem, iya Qila ikut aja deh." Jawab Aqila.
Ia tidak mungkin membantah lagi. Kalau mau dan kalau dokter ini jahat pada dirinya, bisa saja ia memberikan penjelasan yang di buat guna keuntungan mereka. Aqila hanya seorang diri tanpa ada orang yang ia kenal saat kejadian.
"Hm, Qil gimana kalau Dokter Derwan meminta kita agar menikah karena mereka berpikir kita sudah melakukan hal di luar batas? Bagaimana menurut mu?" Tanya Dokter Yosef.
"Terserah abang aja." Jawab Aqila pasrah.
"Jangan gitu dong, abang rasa hal itulah yang akan di sampaikan Dokter Derwan nanti. Kalau kita menolak pernikahan, ada kemungkinan abang benar-benar di pecat Qil." Ujar Dokter Yosef.
"Memang kenapa begitu bang?" Tanya Aqila semakin takut.
"Kalau kita menikah, Papi Mami bisa menjelaskan bahwa kita sudah bertunangan sebelum kita melakukan hal tadi. Nah, bayangkan kalau kita tidak mau di minta menikah. Apa yang mau di sampaikan oleh Mami Papi?" Kata Dokter Yosef seolah sedang berpikir keras.
"Bagaimana baiknya aja deh, kasihan juga kalau abang sampai di pecat." Jawab Aqila.
"Terimakasih ya Qil kamu bersedia menyelamatkan saya. Tapi...," Ucap Dokter Yosef terhenti.
__ADS_1
"Tapi apa bang?" Tanya Aqila.