Satu Tahun Untuk Selamnya

Satu Tahun Untuk Selamnya
part 51


__ADS_3

Dafi menghampiri kinan dengan mmemasang wajah ceria agar kinan tidak merasa canggung bila dafi menghampiri nya dengan wajah kasihan.


"Ayo kinan aku antar" ajak dafi yang langsung menarik tangan kinan, 


"Eh mas, tidak usah, aku takut merepotkan" tolaknya.


"Tidak apa-apa, sekalian saja, antor ku dan kampus mu kan searah" 


"Baiklah" mereka pun pergi. 


Didalam mobil kinan yang biasanya sedikit cerewet kali ini ia nampak sangat pendiam, dafi pun enggan bertanya, karena ia tau apa yang sedang di fikirkan oleh kinan. 


Sampai di kampus, kinan turun dan berterimakasih dengan wajah lesu. 


Ia duduk di bangku taman kampus sebelum menuju kelas, ia duduk sambil memegang dadanya "Hatiku terasa sakit, seharusnya aku tidak boleh merasakan ini, tapi aku benar-benar merasa hatiku sangat kesakitan" batinnya,. ia menjatuhkan air mata begitu teringat kejadian saat danira mencium bibir rangga.


"Tidak, aku tidak boleh seperti ini, kemarin ia sangat baik padaku karena mba danira meninggalkannya, ayo kinan, kembali ke posisi mu lagi, kau tidak berhak cemburu, ingat kau hanya seorang pengganti" ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya penuh keyakinan. 


"Hai, kau menungguku yah?ucap sean sambil merangkul kinan. 


"Ah sean, kau mengagetkan ku" ucap nya sambil melepaskan rangkulan sean, "Jangan seperti ini, nanti orang lain bisa salah faham" ucapnya terdengar tidak nyaman


Sean pun melepaskan rangkulannya ia menundukan badannya, lalu berdiri tepat di hadapan kinan, "Kau nampak sedih, ada yang mengganggumu ? tanya sean lembut

__ADS_1


Kinan menatap sean, "Tidak, aku baik-baik saja" jawabnya ragu


Sean tersenyum, lalu menggenggam tangan kinan dan menariknya berjalan "Tanpa kamu bilang aku tau ada sesuatu yang menggangu mu, lebih baik kita bolos, ayo pergi bersama" ucapnya dengan nada ceria


"Eh sean, tidak mungkin" ucap kinan sambil menghentikan langkah nya dan melepaskan tangan sean. "Kita harus kuliah, aku tidak seperti mu yang bisa dengan tenang membolos" ucapnya 


"Sudah lah, kali ini kau harus mengalah pada prinsip mu, kau sudah cukup kelelahan dengan hidupmu, ayo kita bersenang-senang" ucap sean sambil tersenyum dan kembali menarik lembut tangan kinan, kinan yang sempat terdiam akhirnya menuruti sean, dan mereka pergi bersama. 


"Kita mau kemana sean? tanyanya


"Sudah, pakai saja dafety belt mu, nanti kau akan tau" jawab sean dengan tenang. 


"Baiklah"


"Sayang, kamu kenapa sih? dari tadi sikapmu sangat aneh" tanya danira kesal 


"Nira, apa yang kau lakukan tadi pagi? kenapa kau tiba-tiba masuk ke kamar ku ? bagaimana jika ada yang melihat? 


"Memangnya apa yang salah? aku sudah biasa melakukannya, kenapa kali ini kau sangat marah? kau sedang menjaga perasaan siapa ? tanya danira ketus


"Dengar, tidak ada perasaan yang aku jaga, tapi etika nya tidak benar nira, aku sudah menikah, lagi pula, kau sudah memutuskan hubungan kita dengan mudah, dan meninggalkan ku."


Danira tersenyum masam, "Jangan jadikan kemarahan dan ucapanku kemarin menjadi alasan, akui saja, kau mulai menyukai adiku kan?"

__ADS_1


Rangga terlihat kaget mendengar pertanyaan yang baru saja ditujukan untuk nya, rangga memalingkan wajahnya, "Jangan membuat spekulasi sendiri nira, jangan bicara sembarangan"


"Semabarangan? kalau begitu tatap mata ku sekarang, dan coba bilang kalau aku memang berkata sembarangan"


"Sudah lah, pulanglah, aku banyak pekerjaan" ucap rangga tanpa melihat danira.


"Rangga, sadarlah, aku danira, orang yang sangat kau cintai, kau tidak bisa bersikap seperti ini padaku hanya karna kinan sial itu !


"HENTIKAN UMPATAN MU YANG TIDAK BERDASAR ITU NIRA ! KINAN TIDAK SEPERTI YANG KAU BILANG DAN AKU HARAP KAU SADAR! KITA SUDAH PUTUS !!" ucap rangga dengan nada tinggi dan tatapan marah.


Danira menggelangkan kepala nya sambil menangis, "Tidak, saat ini kau sedang kacau, aku akan pergi, dan akh mohon, tarik kata-kata mu barusan, kita belum putus, dengar baik-baik, KITA BELUM PUTUS !" Ucap nya sambil mengambil tas miliknya dan pergi begitu saja.


Rangga terlihat sangat frustasi, ia memijat-mijat kepalanya sendiri sambil menatap pemandangan luar di balik kaca dari ruangan nya.


"Tuan muda, anda baik-baik saja?" tanya sandy pelan


"Entah lah" jawabnya lalu duduk di kursinya.


"Apa ada sesuatu yang anda ingin kan ?"


"Tidak, keluarlah, aku sedang ingin sendiri"


"Baik tuan muda"

__ADS_1


__ADS_2