Semalam Dengan Mafia

Semalam Dengan Mafia
Pertemuan


__ADS_3

"Thank you sayang." Jawab Andini, ia berlalu keluar dari ruangannya.


"Lucu sekali wajah panik Mommy, fighting Mommy ku sayang." Gumam Naureen, ia kembali bermain dengan Laptopnya.


-


-


Suara high heels wanita terdengar menuruni tangga, Andini dengan kharisma nya menuruni tangga.


Ia berusaha menampilkan senyuman manisnya, sungguh jantung Andini berdetak kencang. Ia belum biasa melakukan hal ini, tapi ia akan berusaha.


"Selamat datang di butik Kaneesh' Shop, tadi salah satu karyawan saya memberi tahu bahwa ada pelanggan yang ingin langsung di layani oleh saya." Ucap Andini sambil tersenyum manis.


"Terima kasih, saya sebenarnya tidak masalah jika dilayani oleh karyawan anda. Tapi Kakak saya yang bersikeras ingin anda yang melayani." Ucap Ketrin.


"It's okay, saya akan melayani nona dengan pelayanan yang tidak akan mengecewakan." Ucap Andini.


Kenzo yang awalnya fokus kepada benda pipihnya seketika ia mendonggakkan kepalanya.


"Degh."


Apakah yang ia lihat sekarang adalah nyata, gadis yang ia rindukan dan inginkan ada di hadapannya. Begitu mudah sekali, ternyata dia yang menampakkan dirinya sendiri.


"Silahkan nona ingin seperti apa gaunnya?Tanya Andini sembari menampilkan senyuman manisnya.


Seketika Kenzo terhipnotis oleh senyuman Andini, apakah ia sedang mimpi. Senyumannya begitu manis, membuat Kenzo mengukir senyum tipis, setipisnya.


"Saya ingin gaun yang sederhana, dan tidak terlalu mencolok." Ucap Ketrin.


"Emm, baiklah. Mari ikut saya untuk melihat-lihat gaun yang cocok untuk anda." Ucap Andini menganggukkan kepalanya sembari mempersilahkan Ketrin berjalan terlebih dahulu.


"Ow iya, apa anda akan ikut juga? Kalau tidak, anda boleh menunggu di sana." Ucap Andini sembari menunjuk sofa yang sudah disediakan.


"Tidak, saya akan menunggu." Ucap Kenzo.


"Baiklah, mari nona saya temani anda." Ucap Andini, yang dibalas anggukkan oleh Ketrin.


"Sorot mata itu? Dan di yang, serta suara nya.Tidak asing bagi aku, siapa dia." Ucap Andini dalam hati, ia seperti mengenal suara dan sorot mata nya.


Kenzo duduk di sofa, pandangannya tidak pernah lepas dari Andini. Di dalam dirinya, ia begitu bahagia bisa bertemu dengan gadis yang sudah ia cari 6 tahun yang lalu.


《><><><><><><><><><><>》


"Bagaimana kalian semua sudah menemukan seorang gadis, apakah kalian mencarinya dengan benar? Tanya Kenzo, ia tersulut emosi saat mendengar bahwa semua Anak Buah nya tidak berhasil menemukan Andini.


"Sorry Bos, kami sudah mencarinya di penjuru negara.Tapi tidak ada gadis yang Bos cari." Ucap salah satu anak buahnya Kenzo.


"Ga becus, cari lagi. Tidak ditemukan, your life is at stake." Ucap Kenzo dingin, jika kata-kata keramat dirinya sudah keluar, tidak ada yang bisa melawannya.


"Kami laksanakan Bos Axton."Ucap anak buah nya kompak.


Kini kondisi Kenzo benar-bener sangat kacau, ia hanya menggunakan kemeja dengan 2 kancing atasnya terbuka. Dirinya sudah benar-benar bingung, ia harus mencari kemana lagi gadis itu.


"Dimana kau? Apa kau sengaja pergi." Gumam Kenzo, ia menjatuhkan badannya di sofa kebesarannya.


Sudah dari beberapa hari, Kenzo mengonsumsi alk*h*l karna pikirannya yang kacau. Sang tangan kanan, Rendy ia tidak bisa melarangnya. Bisa-bisa dirinya habis di tangan Kenzo, tidak ada yang berani melawan jika keadaan Kenzo yan sedang kacau.


Kini di salah satu tangannya memegangi sebotol anggur merah, ia sudah meminumnya hampir 3 botol tanpa henti.


"Gw tidak bisa hidup tanpanya, mengapa dia pergi? Kembalilah, tolong kembalilah." Racau Kenzo yang sudah mabuk berat.


"Lo kenapa bisa gini Bos?" Gw baru pertama kali lihat lo Bos begini karna wanita." Ucap Rendy yang melihat Kenzo sudah hilang kesadarannya.


》\><\><\><\><\>《

__ADS_1


Bertahun-tahun, Kenzo memikirkan gadis yang ia nodai 7 tahun yang lalu.Betapa menderitanya Aldebaran saat itu.


Hingga Ketrin sang adik juga sudah kewalahan, ia memang tidak tahu menahu soal kakaknya yang sudah mengambil keperawanan seorang gadis. Ia hanya di hadiahi pikiran kacau oleh sang kakak, Kenzo.


"Sebisa mungkin gw mendapatkan gadisku, dia tidak akan bisa dimiliki oleh siapapun kecuali gw." Ucap Kenzo dalam hati.


"Hidup gw juga menderita saat papa tahu kalau gw menodai seorang gadis." cUcap Kenzo di dalam hatinya.


《<><><><><><><><><><><》


"Plakk!!." Suara tamparan keras terdengar di ruangan yang hanya ada seorang pria yang sudah berumur dan seorang pria yang lebih muda.


"Pria apa kamu Kenzo, papa tidak mengajarkan kamu untuk menodai seorang gadis. Jika ia hamil, kamu harus bertanggung jawab. Di dalam kandungannya, pasti ada penerus dari Wirayudha."Ucap seorang pria yang sudah berumur, ia adalah Hartawan Wirayudha.


"Kenl tidak tahu Pah jika gadis itu masih perawan." Ucap Kenzo yang ingin membela dirinya sendiri.


"Kamu jangan berlagak bod*h Ken, kamu seorang pemimpin Mafia yang ditakuti di negara (I). Kamu bawa gadis itu ke hadapan papa, jika kamu tidak dapat menemukannya. Nama mafia kamu, akan Papa coreng." Ucap Hartawan.


"Jangan Pah, beri Ken waktu untuk menemukan gadis itu." Ucap Kenzo, sudut bibirnya sedikit berdar*h akibat tamparan keras yang dilayangkan oleh Hartawan.


"Papa akan beri kamu waktu,j angan sia-sia waktu itu. Jika kamu tidak menemukannya, ingat ucapan papa." Ancam Hartawan.


Kenzo hanya menganggukkan kepalanya, Mafia yang ia pimpin dibawah Mafia yang Hartawan pimpin. Jadi mudah jika Hartawan ingin menjatuhkan Mafia Ken.


Setelah ancaman yang dilayangkan oleh Hartawan, Kenzo tanpa henti mencari gadis itu. Sebenarnya tanpa di minta juga, Kenzo akan mencarinya.


》 \><\><\><\><\>《


Setengah jam sudah berlalu, kini Ketrin sudah selesai membeli gaun yang ia butuhkan.


"Terima kasih Kak, saya sangat puas dengan pelayanannya. Maaf saya lebih enak memanggil 'Kak'." Ucap Ketrin.


"Tidak apa-apa nona, Sama-sama Seringlah berbelanja disini dan jadilah pelanggan tetap butik Kanees' Shop." Ucap Andini sembari tersenyum manis.


"Pasti Kak, saya akan menjadi pelanggan tetap." Jawab Ketrin.


"Sudah? Tanya Kenzo.


"Sudah kak, bentar kak aku mau izin ke kamar mandi dulu." Jawab Ketrin.


"Maaf Kak, saya mau tanya kamar mandinya dmna yah? Tanya Ketrin.


"Ow iya sebentar, saya panggilkan dulu karyawan saya." Jawab Andini.


"Sinta, Sin." Panggil Andini.


"Iya mbak? Kenapa? Tanya Sinta yang menghampiri Andini.


"Tolong antarkan nona ini ke kamar mandi, saya belum tahu letak kamar mandinya." Bisik Andini sembari terkekeh kecil.


"Siap Mbak." Jawab Sinta sembari tersenyum kecil, ternyata Bosnya tidak sedingin ataupun sekejam yang ia pikirkan.


"Mari Nona saya tunjukkan." Ucap Sinta.


"Biarkan karyawan saya yang mengantarkan anda, saya permisi duluan." Ucap Andini.


"Iyh Kak, terima kasih." Jawab Ketrin yang dibalas anggukkan oleh Andini.


Bergegas Sinta menunjukkan arah menuju kamar mandi kepada Ketrin, kini tinggal Andini dan Kenzo. Sedangkan para karyawan sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.


Tanpa ingin berlama-lama, Andini beranjak pergi, ia akan kembali keruangannya karna masih banyak pekerjaan yang menunggunya.


"Saya permisi dulu." Ucap Andini sebelum pergi.


Tanpa ingin mendengar jawaban dari Kenzo, Andini bergegas melangkah menuju lantai atas. Tapi sebelum ia menaiki tangga, dirinya di tarik oleh sebuah tangan.

__ADS_1


Ia dibawa ke ruangan ganti yang kebetulan dekat dengan lantai atas, saat Andini melihat siapa yang menariknya ia seketika memasang wajah dingin.


"Maaf, ada keperluan apa? Tolong jaga sopan santun anda, saya disini yang bertanggung jawab." Ucap Andini.


"Hey nona, apakah aku boleh mengetahui namamu? Tanya Kenzo.


Andini tersenyum miring, ia tahu siapa pria yang berada di hadapannya.Ternyata ingatannya bisa sejeli ini, ia tidak akan pernah melupakannya.


Andini mendekatkan wajahnya ke wajah Kenzo, Kenzo yang melihat itu merasa bingung. Apa yang akan dilakukannya?


"Pria bej*t seperti ANDA, seharusnya tidak pantas berada di butik saya." Bisik Andini tepat di telinga Kenzo yang terdengar sangat dingin.


Kemudian Andini berniat pergi dari ruangan ganti, ia tidak ingin berlama dengan pria bajing*n ini.


《><><><><><><><》


"Aku seperti mengenal suara dan sorot matanya? Tapi siapa dia? Sorot matanya mirip sekali seperti Naureen." Ucap Andini.


Tiba-tiba ingatannya kembali ke 7 tahun yang lalu, disaat dirinya diambil kesuciannya oleh pria yang tidak ia kenali.


"Apakah ia? Jika benar aku tidak akan membiarkan dia masuk ke dalam hidupanku." Ucap Andini menampilkan sorot mata yang tajam.


"Nona, apa itu Kakak anda? Tanya Andini basa- basi.


"Ekh iya Mbak, dia Kakak saya." Jawab Ketrin tanpa rasa curiga.


"Kalau boleh tahu, siapa namanya? Maaf jika saya lancang." Tanya Andini.


"Nama Kakak saya, Kenzo."Jawab Ketrin kembali.


Andini hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti, ia sudah tahu siapa nama pria yang berani-berani nya menodai dirinya.


》\><\><\><《


Kenzo memojokkan tubuh Andini di dinding, ia tersenyum miring saat mendengar kata-kata Andini.


"Ternyata kau masih mengenali suaraku." Ucap Kenzo.


Andini hanya menatap tajam Kenzo, sungguh ia sangat membenci pria yang ada di hadapannya.


Tanpa ingin terus bersama Kenzo, bergegas Andini mendorong tubuh Kenzo supaya menjauh darinya.


"Jangan pernah muncul kembali di hadapan saya, ANDA seorang pria Baj*ngan." Ucap Andini penuh penekanan di setiap kata.


"Jangan pernah melarang, anakmu adalah anakku juga." Ucap Kenzo.


"Degh."


Andini cukup kaget mendengarnya, bagaimana bisa Kenzo tahu bahwa ia sudah memiliki anak. Segera Andini meneltralisirkan keterkejutannya.


"Plak."Sebuah tamparan di layangkan ke pipi Kenzo, Andini yang sudah kesal tidak bisa mengontrol emosinya.


"Anakku bukanlah anakmu, jangan berani-berani nya anda berkata seperti itu. Menurut saya, anda tidak pantas menjadi seorang ayah." Ucap Andini dengan tatapan tajamnya, ia buru-buru keluar dari ruangan ganti meninggalkan Kenzo sendirian disana.


"Gw ga pernah salah insting, gw bakal buktikan bahwa gw pantas menjadi ayah untuk anak gw." Gumam Kenzo, ia keluar dari ruangan ganti.


Setelah melihat Ketrin yang baru saja keluar dari kamar mandi, Kenzo mengajak sang adik untuk pergi langsung dari butik, akhirnya Kenzo dan Ketrin pergi meninggalkan butik Kanees' Shop.


****


Kini Andini berada di kamar mandi, ia berusaha menahan air mata yang akan keluar dari matanya.


Tapi Andini tidak bisa menahannya, akhirnya air mata yang ia tahan sedari tadi tumpah.


"Mengapa aku harus bertemu kembali dengan pria baj*ngan itu. Aku tidak ingin Naureen tahu siapa sosok ayahnya, aku tidak ingin membuat Naureen sedih." Ucap Andini di sela-sela tangisnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan 'dia' bertemu dengan Naureen. Tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan dan menganggu aku dan Naureen." Ucap Andini, ia buru-buru menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah.


__ADS_2