
Orang yang menabrak Kenzo, dengan perlahan mundur. Ia tidak berniat mendekati, melainkan ia berusaha masuk ke dalam mobilnya.
Kenzo yang melihat itu, bergegas bangkit. Ia menghampiri orang tersebut secara tertatih-tatih.
Hingga Kenzo yang sebenarnya sudah lemas hampir saja tidak bisa menopang berat badannnya. Hingga…
"Bruk"
Kenzo jatuh tepat di pelukan orang yang menabrak dirinya, senyum tipis di wajah Kenzo. Ia bisa secara dekat menatap wajah yang sungguh memenuhi pikirannya.
"Andini, saya menyayangi mu." Ucap Kenzo lirih, setelah itu ia tidak sadarkan diri di pelukan Andini.
Yap, orang yang menabrak Kenzo adalah Andini. Ia memang sudah berniat lembur hari ini, pikirannya yang kacau adalah alasannya.
Hingga saat ia mengemudi juga, dirinya tidak fokus berakibat menabrak orang yang ternyata Kenzo.
°°Pov Andini°°
Aku benar-benar tidak menyangka, orang yang aku pikirkan dengan mudah ada di hadapanku.
Wajahnya, dipenuhi dengan luka. Sungguh sangat mengerikan saat aku menatapnya, tapi aku tidak bisa kabur begitu saja meninggalkan dirinya.
Ia berjalan mendekatiku dengan tertatih-tatih, hingga aku melihat dirinya yang sudah tidak bisa menopang tubuhnya. Buru-buru aku berjalan cepat mendekatinya, kini ia ada di dekapanku dengan senyum tipis yang ia ukir sembari menahan sakit.
Hingga aku mematung, saat dirinya mengatakan itu. Aku bagaikan mimpi jika dirinya mengatakannya langsung di hadapanku. Rasa tidak percaya sebenarnya menyelimuti ku.
Setelah mengatakan itu, dirinya pingsan di dekapanku. Aku hanya bisa menopangnya, tubuhnya yang di penuhi luka membuat rasa ibaku muncul begitu saja.
"Mengapa kau muncul kembali di kehidupanku? Ucapku lirih sembari menatap iba kepada Kenzo.
__ADS_1
Karna tidak ada cara lagi, akhirnya aku memapahnya menuju mobilku. Aku berniat membawa dirinya ke rumah sakit terdekat, tidak mungkin jika aku membawa dirinya ke rumah. Bisa-bisa Papah dan Mamah mencercaku dengan banyak pertanyaan, aku bingung juga harus menjawab apa.
\><\><\><
Kini Kenzo sudah di dalam mobil, keadaannya masih tidak sadarkan diri membuat Andini khawatir.
"Apa yang terjadi dengan Kenzo? Apakah ia…." Pertanyaan yang muncul begitu saja di pikiran Andini.
Saat Andini berniat mengemudikan mobilnya, Kenzo meringis menandakan dirinya tersadar.
Buru-buru Andini menatap jok sebelah, ia melihat Kenzo membuka perlahan matanya. Kenzo refleks menatap sebelah dirinya, ia tersenyum kecil saat ia mengetahui Andini di sampingnya.
Bagaimana Andini mengemudi sendiri?Bukankah pagi tadi dirinya di antar Pak Ardi?. Yah, Andini memerintahkan Pak Ardi untuk pulang terlebih dahulu, ia tidak tega jiga supirnya harus menunggu dirinya hingga malam. Pak Ardi juga memiliki keluarga, pasti keluarganya menunggu.
Andini hanya memasang wajah datarnya, ia ingin mencerca banyak pertanyaan kepada Kenzo supaya dirinya tidak penasaran.
Untung saja, ia siap siaga membeli botol air mineral untuk di mobil. Andini dengan sigap memberikan sebotol air mineral untuk Kenzo, ia dengan hati-hati membantu minum.
Kenzo hanya diam, ia bingung ingin menjawab apa. Dirinya takut Andini semakin membencinya, ia tidak ingin itu terjadi. Entah mengapa ketakutannya tentang hal itu muncul, apakah ia benar-benar mencintai Andini?
"Aww." Ringis Kenzo
Andini dengan sengaja menekan luka memar Kenzo, ia melakukan itu karna Kenzo hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaannya.
"Aku bertanya, apa yang terjadi? Tanya Andini kembali yang kini mengubah gaya bahasanya sembari menatap intens wajah Kenzo yang terdapat luka memar.
"Tidak bisakah kau mengobatinya dengan benar, apakah kau tidak kasihan melihatku seperti ini? Tanya Kenzo.
"Tidak sama sekali, aku bertanya apa yang terjadi? Tapi kau malah diam saja." Jawab Andini santai.
__ADS_1
Kenzo hanya tersenyum kecil, ia dengan sigap memegang tangan Andini yang posisinya sedang mengobati dirinya. Mata mereka bertemu, hingga beberapa menit mereka saling bersitatap.
"Apakah kau mengkhawatirkan ku, Andini? Tanya Kenzo.
Andini hanya diam, ia juga bingung menjawab pertanyaan Kenzo. Sebenarnya ada rasa khawatir di dalam diri Andini saat melihat Kenzo terluka.
Kenzo hanya tersenyum simpul." Saya tahu kamu mengkhawatirkan saya, apakah benar? Hmmm." Ucap Kenzo, ia masih betah dengan posisi tangannya memegang erat tangan Andini.
"Anda terlalu percaya diri, saya tidak mengkhawatirkan anda." Elak Andini, ia dengan sigap menarik tangannya yang di genggam oleh Kenzo.
.
"Jika anda terus begini? Apakah Naureen akan terima. Sulit untuk di tebak jika Naureen tahu bahwa Daddy nya seorang pem-." Ucapan Andini terpotong kala Kenzo menempelkan jari telunjuknya di bibir Andini.
"Kamu belum mengetahui identitas saya, jangan pernah menilai saya dari luarnya. Naureen tetap anak saya, saya tidak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan milik saya kembali." Ucap Aldebaran.
"Terima kasih sudah mengobati lukaku, saya pergi dulu." Ucap Kenzo, ia berniat keluar dari mobil Andini. Karna ia tahu bahwa AB serta Rendy dan Angga menunggunya.
Entah dorongan apa yang membuat Andini dengan berani memegang tangan Kenzo saat sang empu berniat membuka pintu mobil.
Kenzo melirik Andini, ia menaikkan alisnya menanyakan Andini. "Jangan pernah terlibat dengan dunia seperti ini Kenzo, saya tidak tahu siapa kau sebenarnya. Untuk saat ini saya belum bisa memaafkanmu, tapi entah Naureen, apakah ia bisa memaafkanmu apa tidak? Itu semua tergantung sikapmu kepadanya." Ucap Andini, ia melepaskan tangannya.
Kenzo diam sejenak, setelah itu ia mengukir senyum kecil. Ia tahu maksud perkataan Andini, Kenzo berania diri nya yang sudah masuk ke dalam dunia gelap membuat dirinya susah untuk keluar. Karna ia tahu, jika dirinya keluar dari dunia gelap, siapa yang akan menjadi ketua Mafia Wolf.
"Saya tahu itu, jika urusan saya sudah selesai. Saya berjanji akan keluar. Maka dari itu, saya meminta kesempatan untuk menebus kesalahan saya. Tapi saya akan berjuang untuk Naureen, termasuk kamu Andini." Ucap Kenzo lirih, ia membuka pintu mobil berjalan entah kemana dengan tertatih-tatih membuat Kenzo sulit untuk berjalan.
Andini hanya menatap kepergian Kenzo, ia dibuat bingung kembali oleh kata-kata Kenzo. Perkataan Kenzo yang meminta kesempatan kepadanya terngiang-ngiang di pikirannya membuat Andini menghela nafasnya kasar.
"Mungkin aku harus membuat keputusannya, aku harus mengejar Kenzo." Gumam Andini.
__ADS_1
Ia keluar dari mobil, dirinya berlari guna mencari Kenzo. Sudah saatnya ia memutuskan semuanya, ia tidak ingin berlarut larut dalam keadaan seperti ini.