Semalam Dengan Mafia

Semalam Dengan Mafia
Penyekapan Andin Dan Naureen 2


__ADS_3

"Oke, sekarang kita temui dulu orang tua Andini, Mamah dan Ketrin. Supaya mereka tidak curiga." Ucap Hartawan yang di balas anggukkan oleh Kenzo.


Setelah itu, Kenzo dan Hartawan kembali menemui orang tua Andini dengan memasang wajah santai tanpa masalah.


"Om,Tante saya pamit dulu. Ada pekerjaaan yang perlu saya handle sendiri, soal Andini dan Naureen mereka benar akan bertemu dengan saya. Hampir saja saya lupa, saya juga sekalian menemui mereka." Ucap Kenzo yang di balas anggukkan oleh Surya dan Sofia.


"Mah, Kenzo pergi dulu. Mamah dan Papah lanjut bicara saja masalah ini, Kenzo ada urusan sebentar. Oh iya, Ketrin dimana Mah? Tanya Kenzo yang culingak -celinguk mencari keberadaan sang adik.


"Oh Ketrin, dia angkat telfon dari temannya. Nanti Mamah sampain aja, kamu hati-hati. Mamah tidak mau sesuatu terjadi kepada kamu, Kenzo." Ucap Rossa yang di balas senyuman kecil oleh Kenzo.


Setelah berpamitan dengan semua, Kenzo bergegas melajukan mobilnya menuju lokasi dimana Andini dan Naureen disekap oleh Ricky.


Di setiap perjalanannya, Kenzo tak berhenti berharap agar Andini dan Naureen selamat dan tidak di lukai oleh musuh bebuyutannya.


Kenzo merogoh ponselnya berniat menghubungi Rendy masalah ini, ia harus meminta bantuan kepada tangan kanannya.


"Halo Ren."


"Yoi Bos, ada apa? Kita jadi ringkus Ricky kan?


"Itu masalahnya, Ren. Andini dan Naureen di sekap Ricky, dia minta gue buat kesana sendiri."


"Hah? Mental tuh orang gede banget Bos. Apa yang anda mau lakuin sekarang Bos?


"Saya akan turutin semua kemauannya, sekarang kamu siapin anak buah. Tapi jangan terlalu banyak, cukup 15 aja. Papa saya tahu soal ini, dan dia kasih perlindungan ke saya lewat anak buah yang ngikuin saya dari jarak jauh."


"Oke, Bos. Anda hati-hati, saya tahu bos pasti bisa nanganin ini semua."


"Oke, Ren. Saya matiin, kamu doain saya."


"Pasti Bos, says doain bos SAMAWA sama Andini nanti."


"S!alan kamu, ini keadaan genting kamu malah doa kayak gtu. Tapi itu juga bermanfaat buat saya nanti."


Baru saja Rendy ingin membalasnya, telfon di matikan secara sepihak oleh Kenzo membuat sang empu disebrang sana hanya menghela nafasnya.


"Kebiasaan si Bos memang ga bisa di ubah." Gumam Rendy.




"Apa yang harus aku lakukan, kenapa aku mudah percaya seperti ini. Semoga semua baik-baik saja, Kenzo aku butuh kamu sekarang." Ucap Andini dalam hati.


Andini menatap sebelah,terlihat Naureen yang sudah menangis kecil. Rasanya tak tega melihat putrinya seperti ini, tapi ia harus tenang agar tidak membahayakan keselamatan putrinya.

__ADS_1


Jika saja dirinya tidak membawa Naureen, ia tidak peduli dengan keselamatannya. Ia bisa saja menghajar orang-orang ini di dalam mobil. Tapi kini, ia bersama dengan Naureen. Tidak mungkin jika dirinya melakukan ini, bisa-bisa ia membahayakan keselamatan Naureen.


><><><><>


"Selamat pagi, Ibu Andini kami diperintahkan oleh Pak Kenzo untuk menjemput Ibu dan putri ibu ke tempat yang di perintahkan Pak Kenzo." Ucap seoarang pria mirip seperti anak buah Kenzo.


"Selamat pagi, memang ada keperluan apa Pak Kenzo sampai menjemput saya? Beliau tidak memberitahu terlebih dahulu kepada saya." Tanya Andini yanh masih ragu-ragu dengan perkataan pria dihadapannya.


"Saya tidak berbohong, Bu. Apa ibu tidak percaya dengan saya? Saya hanya di perintahkan untuk menjemput ibu dan mengantarkan ibu ke tempat yang di perintahkan Pak Kenzo." Jawabnya.


Andini berfikir sebentar, kemudian ia mengiyakan ucapan pria tersebut. "Baiklah, tunggu sebentar. Saya siap-siap dulu." Ucap Andini yang di balas anggukkan oleh pria tersebut.


Selepas kepergian Andini, pria tersebut tersenyum tipis. Ia merogoh ponselnya berniat mengirimkan pesan kepada seseorang.


"Rencana awal berhasil, Bos."


Tidak lama, Andini sudah siap dan bergegas menaiki mobil bersama Naureen. Tidak ada rasa curiga kepada pria yang mengaku-ngaku anak buah Ke5 walaupun di awal ia merasa aneh, mengapa Kenzo tidak mengabari dirinya terlebih dahulu.


Di setiap perjalanan, Andini merasa asing dengan jalan yang di lewatinya. Dengan keberaniannya, dirinya bertanya.


"Ini kita mau kemana? Siapa sebenarnya kalian? Tanya Andini.


Kedua pria yang di diperintahkan oleh seseorang tertawa nyaring, ia menatap Andini remeh.


"Apa maksud kalian, jangan macam-macam yah. Atau saya teriak! Ancam Andini.


"Silahkan, kalau mau teriak kek apa kek. Lagian ga ada yang dengar juga, kalau kamu nekat lompat, nyawa anak lo jadi taruhannya." ancam baliknya.


Andini yang mendengar itu bungkam seketika, ia tidak mau keselamatan Naureen menjadi taruhannya.


"Aku harus memikirkan keselamatan Naureen, dan aku juga harus tenang. Aku ga boleh geabah mengambil keputusan." Ucap Andini dalam hati.


><><><><


"Pah, Ketrin kemana? Kok dia ga balik lagi? Tanya Rossa yang khawatir dengan putrinya.


"Sebentar Mah, Papah telfon dulu. Mamah sabar dulu." Jawab Hartawan.


Kini suasana di rumah Andini panas dingin, pembicaraan awal yang akan di bahas seakan tidak penting kembali.


Hartawan dengan cepat merogoh ponselnya di saku, ia berniat menelfon Ketrin untuk memastikan keadaannya.


"Halo, sayang? Kamu ada dimana?


"Halo Pah, maafin aku Pah. Aku ada keperluan sama teman-teman aku, jadi aku gak bisa temenin Papah dan Mamah. Aku tadi buru-buru jadi ga sempat pamitan sama Papah dan Mamah."

__ADS_1


"Syukurlah, Papah kira kamu kemana. Mamah kamu khawatir dengan kamu, kamu hati-hati."


"Iyh Pah, pasti. Aku tutup dulu ya, Pah."


"Iyh sayang."


Setelah itu, Hartawan mematikan sambungan telfonnya secara sepihak setelah mendapatkan kabar dari Ketrin.


"Gmna Pah? Apa kata Ketrin? Tanya Rossa.


"Ketrin bilang dia ada urusan dengan teman-temannya. Jadi dia ga bisa menemani kita, Ketrin juga sampai lupa untuk pamitan dengan kita, Mah. Karna dia buru-buru." Jawab Hartawan.


Rossa hanya mengangguk, rasa hatinya masih tidak tenang. Entah kenapa, apa mungkin ia terlalu berlebihan?.




Kini mobil yang membawa Andini dan Naureen sudah sampai di sebuah rumah tua yang lokasinya di tengah hutan.


"Apa yang akan di lakukan mereka? Tanya Andini dalam hati


Andini dan Naureen di bawa oleh dua pria tadi masuk ke dalam, ternyata di dalam sudah ada yang menunggunya.


"Bos, mereka datang." Ucap tangan kanannya.


"Oke, kita atur rencana berikutnya." Ucap nya yang ternyata Ricky Alexander.


"Baik Bos Alex." Ucap anak buah nya.


"Akhirnya permianan ini di mulai, Kenzo Axton Wirayudha. Kamu akan menyesal karena berhadapan dengan saya, kamu gak tahu saya." Ucap Ricky sembari tertawa kecil.


Andini dan Naureen di dudukkan di kursi yang berhadapan langsung dengan Ricky, Andini dengan sekuat tenaga agar tetap tenang.


"Andini Kaneesha Putri, wanita yang disayangi oleh Kenzo. Apa yang akan di lakukan Kenzo jika wanitanya bermain dengan pria lain? Tanya Ricky sembari tertawa kecil.


"Jaga mulut anda, saya bukan wanita murahan. Anda tidak punya sopan santun sekali,capa maksud anda menyekap saya seperti ini? Tanya Andini, dirinya dan juga Naureen di ikat di kursi yang ia duduki.


"Ini semua karena Kenzo, pria yang kamu cintai." Jawab Ricky.


"Apa maksud anda? Saya tidak mengerti sama sekali." Tanya Andini kembali.


"Sepertinya kamu gak usah tahu awal permasalahannya, karena semua itu gak berguna juga buat kamu." Jawab Ricky.


Tiba-tiba, anak buah nya Ricky datang dengan terburu-buru. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Ricky, membuat sang empu tertawa menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2