
Andini hanya tersenyum tipis, ia mengkode kepada Naureen untuk mendekati dirinya. Dengan pelan, Naureen turun dari pangkuan Kenzo. Ia melangkah cepat mendekati Andini.
Kenzo yang melihat itu, dengan perlahan beringsut berdiri. Ia menatap Naureen dan Andini yang begitu saling menyayangi, senyum terukir di sudut bibir Kenzo.
"Sampai kapanpun gw ga akan lepasin mereka berdua, gw akan memperjuangkan yang menjadi milik gw." Ucap Kenzo dalam hati.
"Sayang, Mommy ingin memberikan kejutan yang begitu istimewa untuk kamu. Mommy ingin mengatakan bahwa-"
Tiba tiba….
"Eughhh, arkhhh." Kenzo mengerang kesakitan, ia menatap sekeliling seperti berputar.
Andini yang melihat itu bergegas mendekati Kenzo, ia begitu panik saat Kenzo meremas kepalanya.
"Ken, what happen? Tanya Andini.
"Arkhhh, kepala saya pusing sekali Andini. Arkkhhh, Andin-"
Belum selesai Kenzo berkata, Kenzo sudah ambruk di pelukan Andini. Mungkin rasa pusing yang ia rasakan begitu berat, sehingga membuat Kenzo mengerang kesakitan.
Andini yang kini sedang menopang Kenzo merasa panik, ia harus mengabari dokter pribadinya.
"Sayang, tolong ambil ponsel Mommy di atas meja kerja Mommy." Titah Andini.
Naureen hanya menganggukkan kepalanya, ia bergegas menjalankan perintah yang diberikan oleh Mommy nya.
Andini dengan perlahan, membaringkan Kenzo di sofa. Ia menatap lamat lamat wajah Kenzo yang begitu pucat, tanpa ia sadari dirinya dengan berani mengelus wajah Kenzo.
"Kamu sakit Kenzo, tapi kamu menutupi itu. Kamu rela kemari hanya ingin mendengar jawaban dari saya, saya tahu kamu sangat sangat menyayangi Naureen." Gumam Andini lirih.
•
•
__ADS_1
Setelah mengabari dokter pribadinya, Andini menatap Naureen yang mungkin bingung dengan ini semua.
"Sayang, Mommy akan jelaskan setelah Om Ken sadar." Ucap Andini sembari mengelus pelan pipi mulus Naureen.
Naureen hanya menganggukkan kepalanya, walaupun ia begitu penasaran dengan semua ini. Dirinya ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Tidak lama, dokter pribadi Andini datang. Dengan telaten memeriksa keadaan Kenzo yang kini tidak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian….
"Bagaimana dok kondisinya? Tanya Andini setelah melihat dokter pribadinya selesai memeriksa Kenzo.
"Syukur lah, ia hanya masuk angin biasa. Mungkin ia juga sedang banyak pikiran, jadi pusing yang ia rasakan tidak seperti biasanya. Jadi mohon dijaga kesehatannya, ini resep obat yang harus di tebus." Jawab Dokter, sebut saja Dokter Siska.
Andini hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu Andini mengantarkan Dokter Siska keluar.
Kini di dalam ruangan hanya ada Naureen dan Kenzo yang belum sadarkan diri.
Tanpa di sadari oleh Naureen, Andini melihat itu semua. Ia tersenyum tipis, akankah Naureen menerima semua bila dirinya mengatakan nya sekarang.
"Apapun yang terjadi, aku harus kuat menghadapi. Karna aku yakin, semua yang terjadi atas ketentuan sang kuasa." Ucap Andini dalam hati.
☆☆☆☆
"Eughh." Suara ringisan membuat Andini dan Naureen yang sedang sibuk sendiri menatap langsung ke arah Kenzo.
Perlahan mata Kenzo, ia menatap sekitar yang ternyata ia masih berada di butik Andini. Netranya kembali melihat Naureen dan Andini yang melangkah menuju kemari.
Saat Kenzo ingin bangkit, Andini dengan cepat membantunya. Kenzo hanya tersenyum kecil melihat raut wajah Andini yang terpancar kekhawatiran dan kegelisahan.
"Apa kau mengkhawatirkan ku kembali?." Tanya Kenzo tiba -tiba.
"Haisshh, anda ini sangat percaya diri. Saya tidak mengkhawatirkan anda, saya hanya mengkhawatirkan tubuh anda." Jawab Andini ketus.
__ADS_1
Kenzo terkekeh kecil, rasanya seperti mimpi kembali. Ia bisa dekat kembali dengan gadis 7 tahun yang ia nodai tanpa belas kasih, tapi ia sangat berniat mempertanggung jawabkannya.
"Ehem, Mom, Om disini masih ada orang." Seru Naureen.
Kenzo adalah seorang yang melihat itu hanya tersenyum gemas, sudah beberapa hari ia tidak bertemu dengan Naureen. Rasa rindu ayah kepada anaknya memang tak bisa di remehkan, sangat kuatt!.
"Apa kau juga mengkhawatirkan Om, Naureen? Tanya Kenzo.
Wajahnya yang masih pucat tak mengalahkan ketampanannya, ia masih begitu tampan dalam keadaan sakit sekalipun.
"Huh, no Om. Aku tidak mengkhawatirkan Om. Justru sebaliknya, aku ingin mengatakan bahwa Om laki laki yang sangat jahat." Jawab Naureen yang kini matanya sudah berkaca kaca.
Kenzo mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti apa yang dikatakan Naureen. Kenzo dengan perlahan mendekati Naureen yang tak jauh dari dirinya.
Kini posisi Kenzo setengah berdiri, ia menangkup wajah Naureen yang matanya sudah berkaca kaca. Entah apa yang terjadi saat ia tak sadarkan diri, apakah ia pingsan seharian? Hingga tidak tahu apa yang terjadi.
"Haii ada apa? Mengapa Naureen mengatakan seperti itu? Tanya Kenzo.
"Om orang jahat, aku sangat membenci Om. Aku benci Om." Ucap Naureen yang kini tangisnya sudah pecah.
Kenzo yang melihat itu dengan cepat menarik Naureen ke dalam dekapannya, ini pertama kalinya ia merasakan pelukan hangat anaknya.
"Sttt, katakan yang sebenarnya? Mengapa tiba- tiba Naureen membenci Om? Tanya kembali Kenzo sembari mengelus elus pucuk rambut Naureen.
Tidak ada sahutan dari Naureen, hanya terdengat suara isakan. Kenzo menatap Andini yang kini sedang berdiri menatap dirinya dan juga Naureen tanpa ekspresi apapun.
menaikkan alisnya tanda menanyakan apa yang terjadi? Tapi Andini sama sekali tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, itu sangat membuat Kenzo bingung.
"Naureen, katakan mengapa tiba -tiba Naureen membenci Om? Tanya Kenzo
yang kini melepaskan pelukannya berniat menatap wajah Naureen.
Memerah dan sembab, itulah keadaan wajah Naureen sekarang. Naureen hanya terisak menangis.
__ADS_1