Semalam Dengan Mafia

Semalam Dengan Mafia
Salah Sasaran


__ADS_3

Jessika yang mendengar itupun tertawa kecil, sungguh sahabatnya yang satu ini pintar melawak. Mungkin jika memgikuti kontes jadi


Pelawak bisa saja menang. Dasar Neneng!


"Kayaknya lo perlu penjernihan otak, Neng. Lo mau tangan ini kena lo, hah? Tanya Andini seraya menatap wajah Neneng tajam.


"Ga lah Andini, lebih baik lo duduk manis di sini. Lihat tuh anak lo! Kasihan dia. Lo jadi Mamah jangan munculin sifat asli lo." Ucap Neneng sembari menatap Naureen yang terlihat wajah ketakutannya.


Andini menatap Nauree langsung yang berdiri menatap dirinya dengan wajah takut," sayang, Mommy hanya becanda. Kamu tidak usah dengarkan perkataan tante Jessika dan Neneng, yah." Ucap Andini sembari tersenyum manis kepada Naureen.


"Yes Mom, aku tahu itu. Tapi jangan galak-galak Mom. Aku takut, hihihi." Bisik Naureen di telinga Andini yang membuat sang empu tertawa kecil mendengarnya.


"Ga sayang, Mommy ga akan galak sama anak Mommy ini." Ucap Andini sembari mencubit gemas pipi Naureen.


Bergegas Andini dan Naureen duduk di kursi yang disedikaan di setiap mejanya. " Sorry Jes, Neng gue baru bisa kumpul sekarang sama lo." Ucap Andini.


"Santai aja, Andini. Gue tahu lo pasti banyak pekerjaan." Ucap Jessika seraya tersenyum manis.


Andini hanya tersenyun tipis, ia menatap Naureen yang sedang mendengarkan dirinya dan juga kedua sahabatnya berbicara.


"Sayang, kamu mau main permainan disana? Tanya Andini sembari menunjuk pemandian bola yang sudah di hias seperti rumah.


"Mau Mom, apa boleh? Tanya Naureen.


"Boleh dong sayang, yaudah sekarang kita kesana yah. Mommy beli tiket dulu untuk Naureen masuk yah." Ucap Andini yang di balas anggukkan oleh Naureen.


Setelah meminta izin kepada Jessika dan Neneng, Andin membawa Nauree ke tempat pembelian tiket untuk masuk kedalam rumah bola.

__ADS_1


"Sayang, Mommy tunggu di sana yah. Kamu senang-senang disini, iangat! Jangan kemana-mana yah." Ucap Andini yang dibalas anggukkan oleh Naureen.


Setelah merasa aman meninggalkan Naureen, Andini kembali ke meja yang di tempati dirinya dan juga kedua sahabatnya.


"Gimana sih Naureen, udah masuk dia? Tanya Jessika.


"Udh Jess, itu dia lagi senang main bola di sana." Jawab Andini sembari menunjuk Naureen yang sedang asik bermain bola bersama anak kecil lainnya.


"Syukur deh, sekarang gue mau tanya. Apa yang lo mau omongin sampai-sampai kita di suruh kesini sama lo? Tanya Jessika kembali.


"Gue mau kasih tahu sesuatu hal yang mungkin buat lo ga percaya. Tapi ini yakin kenyataan." Ucap Andini.


"Oke, sekarang lo pelan-pelan ceritain semuanya. Jangan ada yang lo potong-potong." Ucap Neneng yang ikut bicara.


"Oke, gue ceritain. Tapi lo pada jangan sampai pingsan yah, setelah dengar ceria gue." Ucap Andini yang di balas dengan anggukkan wajah penasaran Jessika dan Neneng.


Terlihat raut wajah serius, kesal bahkan lucu dari mereka bertiga. Entah ada yang pembicaraan yang serius, membuat darah tingginya naik bahkan membuat mereka tertawa.




Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul makan siang. Kenzo yang berniat berhenti dari bekerja nya untuk meneltralisirkan tenaganya kembali.


Sedangkan di tempat yang sama, Ketrin sudah sampai di perusahaan sang Kakak. Ia sengaja tidak memberitahu Kenzo bahwa dirinya ke perusahaan.


Banyak pasang mata yang melihatnya ramah, sinis bahkan tak suka. Karena sebagian di perusahaan ini tidak tahu siapa Ketrin. Kenzo sudah merekrut orang untuk mengganti pegawai yang bekerja dengannya karna masalah yang dahulu.

__ADS_1


Saat sampai di depan resepsionis, Ketrin berniat menanyakan ruangan direktur. Ia sebenarnya sudah tahu dimana tempatnya, tapi ia hanya ingin basa- basi saja kepada para pegawai.


"Permisi, saya mau tanya kalau ruangan Pak Kenzo di mana yah? Tanya Ketrin sembari menguji pekerja sang Kakak.


"Dengan siapa? Apa sudah membuat janji dengan Pak Kenzo? Tanya ramah sang resepsionis.


"Belum Mbak, tapi saya mengenali Pak Kenzo. Boleh saya tahu dimana tempatnya? Tanya Ketrin sekali lagi.


"Sebentar Mbak, saya hubungi dahulu Pak Kenzo. Takutnya Pak Kenzo sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun." Jawab sang Resepsionis.


Ketrin dengan sigap mencegah sang Resepsionis untuk menghubungi sang Kakak, bisa-bisa gagal rencananya untuk memberi kejutan kepada sang Kakak.


"Jangan Mbak, saya mau memberi kejutan kepada Pak Kenzo. Dia orang spesial untuk saya, jadi saya berniat memberi kejutan kepadanya." Ucap Ketrin.


Tak sengaja Riana sang BA perusahaan Kenzo mendengar perkataan Ketrin, membuat dirinya marah dan kesal.


Dengan gayanya yang angkuh, Riana menghampiri Ketrin dan langsung menjambak Ketrin dengan kuat membuat Ketrin merintih kesakitan.


"Aww, apa yang anda lakukan. Lepaskan! Ucap Ketrin sembari meringis sakit.


Semua pegawai yang bertugas di lantai bawah memperhatikan apa yang dilakuan Riana kepada Ketrin, ia tidak ingin ikut campur masalah Riana karna mereka tahu, bahwa Riana wanita Sang Bosnya. Tapi mereka tidak tahu, jika wanita yang sedang di perlakukan tidak baik oleh Riana adalah Adik dari Bosnya.


"Jadi lo wanita yang sudah merebut Pak Kenzo? Dengar yah. Lo itu ga lebih dari seekor kucing di jalanan, mana mungkin Pak Ken mau sama lo. Yang pantas itu gue." Ucap Riana semakin memperkuat jambakannya membuat Ketrin merintih kesakitan dan sesekali mengeluarkan air mata.


"Apa maksud anda, saya tidak tahu. Merebut, pantas maksudnya bagaimana? Tanya Ketrin yang berusaha melepas jambakan Riana.


Dengan kasar Riana melepaskan jambakannya, ia menatap tajam ke arah Ketrin yang meringis sakit karna ulahnya.

__ADS_1


"Lo itu ga pantas untuk Pak Kenzo, yang pantas itu gue tahu." Ucap Riana sembari menatap tajam Ketrin.


__ADS_2