
Ketrin hanya diam, menikmati kasih sayang yang diberikan oleh Kakak satu-satunya. Tanpa sang Kakak, mungkin dirinya tidak bisa hidup sendiri saat Papah dan Mamah pergi.
"Dek, maafkan Kakak. Semoga kamu tidak kecewa, entah bagaimana perasaan kamu saat kamu tahu jika Kakak bermain di duni gelap. I'm really sorry, Dek. Kakak sangat menyayangi mu, sampai kapanpun. Kakak bukan Kakak terbaik untuk kamu, tapi Kakak akan berusaha menjadi yang terbaik." Ucap Kenzo dalam hati.
☆☆☆
"Pokoknya Papah ga akan izinin lelaki baj!ngan itu menikahi kamu, Andin." Tegas Surya.
Andini hanya menunduk, ia tidak tahu harus berkata apapun. Memang benar yang dikatakan Papahnya, Kenzo lelaki baj!ngan. Tapi ia yakin bahwa Kenzo akan berubah, seiring berjalannya waktu.
"Kamu harusnya berfikir Andin, kamu hamil oleh lelaki itu. Ia begitu saja pergi setelah melakukan hal keji kepada kamu,
dan kamu bersedia dinikahi oleh pria seperti dia. Berfikir jelas Andini Kaneesha Putri!." Ucap Surya dengan sorot mata tajam.
"Pah, cukup. Kasihan Andin, kamu bicara baik baik. Jangan seperti ini, jangan membuat Andin mengingat masa lalu nya. Kamu yang tenang Pah." Ucap Sofia memberi ketenangan pada suaminya.
"Cukup Pah, aku memang tahu Kenzo lelaki seperti itu. Tapi lihat Naureen Pah, dia sangat menyayangi Kenzo. Dia ingin sosok Daddy yang menemaninya, ia bercerita kepada ku Pah. Ia iri kepada anak- anak lain yang memiliki Daddy tapi dirinya tidak. Setiap malam detik dan jam, Pah. Naureen menanyakan dimana Daddy nya? Kapan Daddy nya akan pulang. Sakit hati aku Pah mendengar Naureen bertanya seperti itu, coba berfikir di sisi yang lain Pah."
__ADS_1
"Naureen butuh Daddy, pah. Mau bagaimanapun aku membenci Kenzo, aku harus mementingkan perasaan Naureen. Aku tidak ingin Naureen bersedih terus Pah, aku tidak tega. Sakit Pah, sakit. Apa Papah merasakan yang aku rasakan? Jawab Pah. Jawab!." Andini terisak menangis tak kuat mengingat Naureen bersedih.
Surya dan Sofia hanya diam, ia begitu tak menyangka jika cucu nya begitu mendambakan seorang Daddy. Rasanya tak tega setelah mendengar semua keluhan Naureen yang di lontarkan oleh Andini.
"Terserah Papah dan Mamah, jika tidak merestui aku dan Kenzo. Aku akan tetap dengan pendirianku, aku mencoba untuk membuka pintu maaf untuk Kenzo Mah, Pah. Bantu aku, jangan buat aku bingung. Help me Pah, Mah." Andini menghapus air matanya, ia berlali meninggalkan ruang tamu yang di sana ada Surya dan Sofia.
Setelah kepergian Andini, Surya ambruk di sofa. Dirinya mengusap wajahnya dengan kasar, ia harus memikirkan perasaan Andini dan juga Naureen, cucunya. " Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan." Ucap Surya dalam hati.
Sofia merasa tak tega, ia mengusap punggung suaminya. Rasanya di kedua pihak mendapatkan sakit, dirinya juga tak terima jika Andini menikahi pria yang notabenenya orang yang sudah menodai putrinya. " Tolong beri jalan atas masalah ini."
•
•
"Pah, Mah maafkan Andini yang belum bisa menjadi anak yang baik untuk kalian. Andini tidak tega melihay Naureen yang terus menerus menanyakan keberadaan Daddynya, hingga kini Naureen sudah tahu. Aku ingin membuat Naureen bahagia, Pah, Mah." Ucap Andini dalam hati sembari menatap Naureen yang terlelap tidur di sebelahnya.
"I love you, Putri Mommy." Imbuhnya lagi.
__ADS_1
Tok. Tok.
Pintu kamar Andini di ketuk, Andini mengalihkan atensi nya. Ia menatap pintu kamarnya yang di ketuk," Masuk."
Terlihat Surya yang muncul dari balik pintu Andini. " Papah." Ucap Andini pelan.
Surya menghampiri Andini yang sedang dudik di tepi ranjang, ia duduk di pinggir Andini.
"Maafin aku Pah, aku belum bisa jadi anak yang baik untuk Papah." Ucap Andini sembari menunduk.
Surya memegangi kedua tangan putrinya, ia menatap lekat wajah putrinya yang terlihag sembab di bagian matanya.
"Papah yang seharusnya minta maaf sayang, maafin Papah yah. Papah ingin yang terbaik untuk kamu sayang, Papah ingin melihat kamu bahagia." Ucap Surya.
"Tapi Pah, aku melihat Naureen bahagia saja aku sudah bahagia Pah. Aku sedih saat melihat Naureen sedih Pah, aku merasakan yang putri aku rasakan Pah." Ucap Andini yang keukeuh dengan pendiriannya.
Surya hanya menghela nafasnya pelan," Papah tahu yang terbaik untuk kamu, kamu putri Papah. Untuk kali Papa.
__ADS_1