Semalam Dengan Mafia

Semalam Dengan Mafia
Rasa Nyaman


__ADS_3

"Masih ada waktu 15 menit, saya masuk sebentar." Ucap Andini, ia berlalu tanpa mendengar jawaban Kenzo.


"Sungguh sifatnya penuh teka teki, tapi gw suka." Gumam Kenzo sembari tersenyum tipis.


Di dalam ruangan, Andini memanggil Sinta untuk menghadap dirinya.


"Jadi gini Sin, saya minta tolong sama kamu lagi, saya ada urusan penting yang tidak bisa saya tinggalkan, tolong jaga butik selama saya keluar." Ucap Andini.


"Baik Mbak, pokoknya semua aman di saat Mbak keluar." Jawab Sinta.


"Saya sangat percaya sama kamu, kapan-kapan saya traktir kamu, tolong saat kita berdua kamu panggil saya 'Andini' saja, supaya kita lebih akrab." Ucap Andini sembari mengedipkan matanya sebelah.


"Apakah tidak sopan Mbak, saya merasa tidak enak." Ucap Sinta sembari tersenyum kikuk.


"Tidak, itu kemauan saya. Kamu tidak usah merasa begitu Sinta, saya lebih enak seperti itu." Ucap Andini.


"Yaudah saya pergi dulu,saya titip butik yah." Ucap Andini, ia beranjak dari kursinya.


"Iyh A-andini." Ucap Sinta.


Andini yang mendengar itu tersenyum simpul, ia bergegas keluar dari butik karna Kenzo yang sudah pasti menunggu dirinya.




"Silahkan tuan putri." Ucap Kenzo sembari membukkan pintu depan untuk Andini.


Andini hanya menatapnya datar, sebenarnya rasa benci masih ada di dirinya. Entah sampai kapan ia harus membenci pria yang ada hadapannya, sungguh membuat dirinya bingung.

__ADS_1


Setelah Andini masuk, Kenzo dengan cepat menyusul Andini bergegas ia melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Di dalam mobil, hanya ada keheningan. Tidak ada dari mereka berdua yang bersuara, Kenzo yang merasa canggung akhirnya memulai pembicaraannya.


"Andini, apakah tidak ada kesempatan untuk saya?" Tanya Kenzo.


Andini yang mendengar itu menatap Kenzo seketika, ia menatap manik mata Kenzo yang terlihat serius dengan ucapannya.


"Entahlah, saya belum memikirkannya. Begitu sak-,"


"Izinkan saya menebus rasa sakit itu." Ucap Kenzo, ia memotong perkataan Andini karna ia tahu apa yang akan dibicarakannya.


Andini merasa enggan untuk menjawab perkataan Kenzo, ia lebih memilih memalingkan wajahnya menatap jalan raya dari balik kaca yang di penuhi kendaraan.


Kenzo yang melihat itu, tidak melanjutkan pembicaraannya. Ia fokus kembali menyetir, dirasa hatinya tidak tenang jika ia belum mendapatkan kesempatan dari Andini.


"Entah apa yang harus aku lakukan, di satu sisi aku sedih melihat Naureen yang menanyakan keberadaan Daddy nya, tapi di satu sisi aku sangat membenci Kenzo karna masa lalu. Yang maha kuasa, berilah jawaban yang membuat aku dan Naureen bahagia." Ucap Andini dalam hati tanpa mengubah posisinya.


-


"Apakah tidak ada pembeli atau Coffe Shop tutup?." Ucap Andini.


"Saya sengaja membooking Coffe Shop ini, saya ingin menunjukkan sesuatu." Ucap Kenzo yang ternyata mendengar ucapan Andini.


Bergegas Kenzo menarik Andini untuk masuk ke dalam Coffe Shop, dan betapa terkejutnya Andini melihat desain Coffe Shop yang begitu indah.


"Wait,,,wait,,,,what are you doing. ?." Tanya Andini.


"Saya sengaja men' desain Coffe Shop ini, silahkan duduk." Jawab Kenzo sembari menarik kursi untuk Andini duduk.

__ADS_1


Tidak lama,beberapa pelayan datang sembari membawa beberapa makanan. Andini bingung atas perlakuan Kenzo kepadanya.


"Aldebaran,,saya minta to the point. Ada apa?" Tanya Andini sembari menatap serius Kenzo.


Kenzo yang melihat itu tersenyum kecil, sungguh wanita yang berada di hadapannya sangat menggemaskan dan juga menakutkan.


"Andini Kaneesha Putri, seorang wanita yang ada di hadapan saya. Saya ingin kamu memberi saya kesempatan untuk menebus kesalahan saya di masa lalu, apa kamu mau?." Tanya Aldebaran sembari menatap Andini lekat.


Andini diam sejenak, apa yang harus ia lakukan. Dirinya benar- benar bingung harus menjawab apa, ia belum bisa memaafkan pria yang ada di hadapannya, tapi di satu sisi ia mengingat Naureen.


"Apakah penting jika saya memberikan anda kesempatan Tanya Andini.


"Sangat penting,saya hanya ingin yang terbaik untuk Naureen. Jika anda masih membenci saya, psaya memaklumi itu tapi tolong fikirkan Naureen." Jawab Kenzo.


Andini beranjak dari kursi duduknya, ia berkata sesuatu yang membuat Kenzo mematung.


"Kenzo, saya memang membenci anda, sangat. Saya bisa saja memberi anda kesempatan demi Naureen, tapi entah mengapa rasanya anda belum pantas mendapatkannya,a nda belum layak. Apakah anda bisa berhadapan langsung dengan kedua orang tua saya? Jadi fikirkan matang matang saja. Berjuanglah, jika anda memang serius ingin memberikan kasih sayang kepada Naureen, buktikan. Saya permisi." Ucap Andini, ia berlalu pergi dari hadapan Kenzo.


Kenzo mematung beberapa menit, kemudian ia beranjak keluar mengejar Andini supaya tidak pergi dahulu. Rasa bersalah semakin menghantuinya, ia rasa saat ini benar benar serius.


-


Di luar Coffe Shop,Andini sedang menunggu taksi yang lewat. Sungguh menjengkelkan, disaat ia membutuhkannya tapi tidak ada yang melintas.


Bergegas Kenzo menghampiri Andini, tanpa berkata apapun ia memeluk Andini dari belakang. Sang empu yang di perlakukan seperti itu mematung, rasanya begitu hangat di dekap oleh Kenzo.


"Gak, gak jangan sampai terjadi. Aku sangat membencinya, rasa benci itu masih ada di dalam diri aku. Apa yang akan terjadi jika aku memberikan kesempatan kepada Kenzo?Apakah aku dan Naureen bisa hidup tenang?Sedangkan Kenzo seperti seorang pembun*h. Aku takut Kenzo memiliki musuh yang bisa kapan saja melukai aku dan juga Naureen." Ucap Andini dalam hati, pikirannya sedang beragument dengan hatinya. Entah apa yang harus ia lakukan, sudah lelah jika terus di pikirkan.


"I'm sorry Andini, maafkan saya. Saya benar benar serius dengan ucapan saya." Ucap Kenzo, ia mempererat pelukannya seperti tali sepatu.

__ADS_1


Rasa nyaman yang dirasakan Kenzo membuat ia enggan untuk melepaskan pelukannya, hatinya ingin selalu memeluk wanitanya ini.


"Apakah ini hanya nafsu gw yang begitu kuat?Atau malah sebaliknya gw jatuh cinta dengan Andini." Ucap Kenzo dalam.


__ADS_2