
Sesuai perkataannya, Andini dan Kenzo kini bertemu di Taman Flaminggo.
"Benar, aku di beri kesempatan untuk menebus masa kelam itu. Aku kembali di kehidupan mu, Andini. Aku ingin melengkapi kebutuhan mu Andini, aku tidak tega jika suatu saat Naureen terus menanyakan keberadaan Daddy nya karna aku tak muncul di kehidupan kalian." Ucap Kenzo.
Andini hanya diam, pikirannya tidak fokus kepada Kenzo. Tapi perkataan Kenzo, ia mendengarnya dengan jelas.
"Aku akan berbicara dengan Papahmu." Ucap Kenzo yakin.
Sontak membuat Andini menatap langsung kepadanya," apa kau yakin?."
"Sangat, sangat yakin. Aku ingin menjelaskan semuanya sedetail mungkin, aku tidak ingin Naureen tersiksa hanya karna ingin terus berdua bersama ku." Ucap Kenzo.
"Kendalikan diri mu saat berhadapan langsung dengan Papahku, bicara dengan jelas. Biarkan Papahku menyerapnya terlebih dahulu perkata."
"Aku tahu, biarkan aku yang mengatur semuanya. Kau cukup diam, tidak usah ikut campur." Ucap Kenzo.
"Ouh iyah, aku hampir lupa memberi tahu mu. Lusa, aku akan mengajakmu dan Naureen menemui kedua orang tuaku." Ucap Kenzo.
Plak.
"Kau ini suka sekali memberi tahu dadakan, seharusnya kau mengatakannya dari jauh hari. Kebiasaan sekali!." Sentak Andini.
Kenzo hanya meringis kecil saat tangan nya di pukul keras oleh Andini, ternyata tenaga Andini badas juga.
"Aku baru mendapatkan info dari orang tuaku, mereka memajukan jadwal pulangnya. Memangnya kau kenapa? Apa kau grogi bertemu dengan calon mertua?." Goda Kenzo.
"Mulut mu bisa diam tidak, seenak nya saja mengatakan seperti itu. Calon mertua dari mana, memang kau siapa diriku? Ucap Andini sembari tersenyum remeh.
"Aku calon suami mu, jadi kau harus menuruti semua perkataan ku." Ucap Kenzo.
"Jaga mulut mu, aku tak menganggap mu seperti itu."
Kenzo tersenyum miring, entah apa yang di rencanakan oleh Kenzo. Pria ini susah di tebak!.
Andini melihat gerak gerik Kenzo yang mencurigakan membuat hatinya tak enak. "Apa yang di rencanakan oleh nya?."
"Kau mengapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku? Tanya Kenzo.
Andini hanya menggelengkan kepalanya, ia takut mendapatkan jebakan dari Kenzo.
"Apa kau masih bermain di dunia gelap mu?." Tanya Andini.
Kenzo yang mendengar itu tersenyum tipis," masih, tapi untuk beberapa hari ini aku jarang."
"Emm, apa kau tak mau berhenti dari dunia gelap? Sungguh aku khawatir jika musuhmu mengetahui Naureen, anakmu." Ucap Andini.
Kenzo tersenyum, ia menarik Andini supaya merebahkan kepalanya di dada bidangnya. Andini hanya bisa pasrah, jika menolak saja percuma.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin berhenti, tapi aku tidak bisa. Bisakah kau memberi ku waktu untuk memikirkannya? Tawar Kenzo sembari tangannya mengusap pucuk rambut Andini.
Andini mendongakkan kepalanya," aku akan membantu mu untuk keluar dari dunia gelap itu. Aku tidak ingin musuhmu melukai Naureen, aku takut." Ucap Andini.
"Sudah ku bilang, tenanglah. Dimana pun kalian berada, banyak pasang mata yang memata matai kalian. Berpuluh-puluh orang sudah ku tugaskan untuk menjaga dan mengawasi kalian berdua." Ucap Kenzo, ia masih betah mengusap usap pucuk rambut Andini.
"Aku tahu. Kemarin-kemarin saja kau memata mataiku dan Naureen kemanapun kami pergi." Ucap Andini.
Kenzo tersenyum, ia tahu maksud dari perkataan Andini. "Aku tidak ingin kehilangan jejak kalian untuk kedua kalinya, aku menyayangi kalian berdua melebihi nyawaku." Ucap Kenzo, setelah itu ia mencium kening Andini cukup lama.
Andini hanya memejamkan matanya mendapatkan perlakuan manis dari Kenzo, entah mengapa ia begitu suka.
"Lebih baik kita bicara sekarang, aku tidak ingin membuang-buang waktu." Ucap Kenzo.
Andini hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, mereka berdua pergi meninggalkan Taman Flaminggo yang menjadi saksi sikap manis Kenzo kepada Andini.
•
•
Kini mobil Kenzo sudah terparkir di depan rumah Andini. Penghuni yang berada di dalam mobil saling pandang, mereka menganggukkan kepalanya.
Kini telah di tentukan, Andini dan Kenzo akan membicarakan semuanya kepada orang tua Andini.
"Untuk terakhir kalinya aku bertanya seperti ini, apa kau yakin?."
"Andini." Panggil Surya kala melihat sang putri yang baru saja datang bersama seorang pria.
"Papah." Sahut Andini, ia mencium punggung tangan Surya.
"Selamat siang." Sapa Kenzo.
"Selamat siang, kamu yang kemarin bukan?." Tanya Surya.
"Benar, saya yang kemarin mengantarkan Andini. Saya kesini ingin membicarakan sesuatu kepada anda, Pak Surya." Jawab Kenzo.
Andini menelan salivanya untuk keberapa kalinya, ia merasa suasananya semakin dingin dan mencekam saat kedua pria yang mungkin berharga di mata dirinya dan juga Naureen berhadapan langsung.
"Membicarakan sesuatu? Kenzo menganggukkan kepalanya, ia menatap Andini yang sudah berkeringat dingin.
"Baiklah, mari ikut masuk." Titah Surya, Kenzo yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.
•
•
"To the point saja." Ucap Surya menatap Kenzo intens.
__ADS_1
Kenzo tersenyun tipis," saya kesini ingin menceritakan sesuatu. Apakah Pak Surya mau mendengarnya?."
"Tergantung jika cerita itu penting."
"Sangat penting, bahkan penting sekali. Kemarin anda menanyakan siapa saya? Saya Daddy Naureen. Saya lelaki 7 tahun yang lalu membuat anak anda, Andini melahirkan putri cantik, Naureen." Ucap Kenzo, ia sudah terima konsekuensinya apapun yang terjadi.
Surya yang mendengar itu semua, matanya sudah merah padam serta tangannya sudah terkepal. "Apakah anda pria baj!ngan itu?."
"Saya bukan pria baj!ngan, saya kemari ingin menceritakan semuanya. Niat saya sebenarnya kesini adalah mempertanggung jawabkan atas kesalahan saya." Ucap Kenzo.
Bugh.
"Papah." Teriak Andini.
Kenzo tersungkur di lantai, sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah. Ia hanya bisa diam, dirinya yang salah maka harus menerima semua nya.
"Dasar lelaki tidak tahu malu, anda dengan santai nya ingin bertanggung jawab setelah 7 tahun menghilang. Saya tidak akan memberikan izin kepada anda." Ucap Surya yang matanya sudah menatap tajam ke arah Kenzo.
Kenzo bangkit, ia menatap wajah Papah dari wanita yang dulu ia cumbui tapi kini wanita yang ia cintai.
"Saya akan tetap mempertanggung jawabkan, saya akan menikahi putri anda." Ucap Kenzo.
Surya semakin mengepalkan tangannya,ia berniat memukul kembali Kenzo tapi di halangi.
"Opah jangan." Teriak Naureen, ia berlari cepat menghampiri Kenzo.
"Naureen." Lirih Kenzo melihat putrinya.
"Opah, Naureen minta jangan pukul Daddy. Naureen tidak ingin kehilangan Daddy, Naureen sayang sama Daddy." Ucap Naureen di sela- sela tangisannya.
"Naureen." Surya tidak percaya yang di ucapkan cucunya, ia menatap nanar cucunya yang sudah terisak menangis.
"Naureen mohon Opah, Naureen sayang sama Daddy. Jangan apa-apa kan Daddy." Imbuh Naureen sembari memeluk erat tubuh Kenzo.
Surya hanya diam, ia masih tidak percaya melihat cucunya begitu sayang kepada lelaki yang jelas jelas sudah membuat Andini, Mommynya menderita.
Surya hanya mengehela nafas kasarnya, ia berlalu meninggalkan ketiga insan yang saat ini saling menguatkan.
"Daddy, apa Daddy baik baik saja? Tanya Naureen.
Kenzo tersenyum simpul," sayang, Daddy oke. Daddy juga menyayangi kamu."
Naureen kembali memeluk Kenzo erat, begitu juga Kenzo membalas tak kalah eratnya sembari menahan sakit di sudut bibirnya.
"Ken "
"Aku baik baik saja." Kenzo tersenyum simpul melihat Andini yang gemetar di tambah khwatir melihat dirinya.
__ADS_1
"Aku benar benar beruntung memiliki kalian, aku tidak akan melepaskan kalian. Andini, saya akan berjuang agar bisa menikahi kamu. Dan untuk kamu Naureen, Daddy sangat menyayangi kamu. Kalian berdua hidup saya, sampai kapanpun kalian akan ku.